, ,

Kebakaran Hutan Hancurkan Perekonomian Warga di Pulau Misool Raja Ampat

Ratusan hektar hutan, yang sebagian besar merupakan kebun warga di Pulau Misool tepatnya di sekitar Kampung Limalas Timur dan Barat, Distrik Misool Timur, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, terbakar sejak sebulan lalu.

Berbagai upaya pemadaman yang dilakukan warga belum bisa memadamkan api secara keseluruhan. Akibatnya, kabut asap masih menyelimuti pulau ini sampai sekarang ini. Untungnya, kobaran api tidak sampai ke pemukiman warga yang berpenduduk cukup padat.

Ketika Mongabay berkunjung ke kampung pesisir ini, Rabu (21/10/2015) di kejauhan memang sudah terlihat asap menutupi hampir sebagian besar pulau, yang terlihat seperti kabut.

Frans Manggombrab, salah seorang warga, menemani saya memasuki kawasan hutan yang sebagian telah habis terbakar. Jaraknya tak sampai 1 km dari pemukiman warga. Terlihat hampir semua tanaman sagu yang mendominasi kawasan tersebut telah hitam habis terbakar.

“Ini berhasil kami padamkan sekitar dua minggu lalu. Sisa pembakaran yang beterbangan bahkan sempat sampai ke pemukiman,” ungkap Frans, sambil terus menuntun masuk ke bagian hutan yang lebih dalam lagi.

Hawa di kawasan tersebut memang masih terasa panas. Hampir tak ada tanda-tanda kehidupan, selain suara gagak di kejauhan.

Menurut Frans, hingga saat ini belum ada kepastian penyebab kebakaran ini.

“Diperkirakan akibat pergesekan kayu yang panas dan memercikkan api. Suhu udara di Misool Timur memang sangat terik dan sedang dalam musim kemarau panjang. Tapi bisa jadi memang sengaja dibakar.”

Untuk mengatasi kebakaran, warga Limalas dan sekitarnya melakukan upaya gotong royong, dengan cara mengangkut air dari sumber air terdekat atau dari pemukiman, diangkut dalam jerigen.

“Tapi tidak semua bisa dipadamkan karena semakin meluas, jadi kita biarkan saja terbakar dan mati sendiri nanti.”

Menurut Frans, kebakaran hutan ini mengancam perekonomian dan penghidupan masyarakat Liamalas dan sekitarnya, yang selama ini mengantungkan hidupnya dari sektor pertanian.

“Mungkin sekitar 80 persen penduduk di sini hidup dari kebun di hutan, kalau semua terbakar tidak tahu bagaimana lagi nanti ke depannya,” ungkapnya.

Tidak hanya menghabiskan kebun sagu, ratusan pohon Merbau miliki petuanan yang diperkirakan bernilai ratusan juta ini hangus terbakar. Beberapa di antaranya bahkan telah berumur ratusan tahun.

“Ini yang membuat hati saya bersedih sekali. Ketika saya tanya ke orang dari dinas kehutanan, katanya pertumbuhan pohon ini dalam setahun paling bisa tumbuh 1 cm. Butuh waktu puluhan tahun atau malah mungkin ratusan tahun agar pohon ini bisa tumbuh besar lagi,” ungkap Martin Fallon, pewaris petuanan Fallon, salah satu marga pemilik hak tanah ulayat di Misool.

Sebagian besar pohon yang terbakar di di Pulau Misool, Raja ampat, Papua Barat telah berumur ratusan tahun. Kondisi tanah yang bebatuan membuat tanaman butuh waktu yang lama tumbuh besar tumbuh. Foto : Wahyu Chandra
Sebagian besar pohon yang terbakar di di Pulau Misool, Raja ampat, Papua Barat telah berumur ratusan tahun. Kondisi tanah yang bebatuan membuat tanaman butuh waktu yang lama tumbuh besar tumbuh. Foto : Wahyu Chandra

Pohon Merbau sendiri dianggap sejenis pohon kelas satu yang umumnya banyak dijual ke luar daerah, bahkan lintas provinsi. Harganya sekitar Rp 2 juta/kubik.

“Kita punya ratusan pohon semuanya hilang,” keluhnya.

Kebun sagu milik Martin juga tergolong luas, membentang sekitar 1 km selebar 50 meter dari pesisir ke dalam hutan. Ia memperkirakan hampir seluruh pohon sagu miliknya habis terbakar.

Sagu sendiri dihitung per rumpun pohon, dimana satu rumpun terdiri dari 5-10 pohon. Dalam satu pohon sagu terbagi lagi menjadi 10-15 tumang. Ada tumang kecil dan juga besar. Satu tumang kecil dijual dengan harga Rp 70 ribu, sementara tumang besar seharga Rp 150 ribu.

“Di sekitar jalan raya ini saja ada sekitar 270 rumpun, belum yang bagian dalam lagi. Sebagian besar habis terbakar, mungkin tinggal 1 persen saja yang tersisa sekarang,” ungkapnya.

Kebakaran hutan ini bukan pertama kali terjadi di Limalas, namun selama ini hanya dalam skala kecil, tidak sampai mencapai ratusan hektar seperti sekarang.

“Dulu juga sempat terbakar dan sebabnya karena gesekan kayu, cuma bisa cepat dipadamkan. Sekarang memang suhu udara panas sekali sehingga api cepat membakar semua kita punya hutan,” jelas Martin.

Martin menyayangkan belum adanya upaya dan perhatian dari pemerintah dalam memadamkan kobaran api tersebut, meski telah disampaikan ke pihak Pemda Raja Ampat.

“Belum ada perhatian sama sekali, semua warga yang padamkan.”

Cagar alam ikut terbakar

Menurut Yohanes Matubongs, Project Leader Misool-Kofiau The Nature Conservancy (TNC) Raja Ampat, kebakaran ini diperkirakan telah menjalar hingga 16 km ke bagian dalam, termasuk hutan cagar alam yang ada di wilayah tersebut.

Luas cagar alam yang berada di Pulau Misool ini sekitar 28.000 hektar, yang melingkupi seluruh dataran rendah dan perbukitan di Pulau Misool, dengan sekitar 13 kampung yang mengitarinya.

Yohannes menyesalkan terjadinya kebakaran karena kondisi tanah dan bebatuan Misool yang sangat sulit untuk pertumbuhan tanaman, sehingga butuh waktu yang lama hingga seluruh tanaman yang terbakar bisa tumbuh.

“Hutan di Misool ini selain kars juga merupakan hutan jarang, dimana butuh waktu yang lama untuk pertumbuhan sebuah pohon. Entah berapa lama pohon-pohon yang terbakar itu bisa tumbuh kembali,” katanya.

Tak kalah mengkhawatirkannya dampak dari kebakaran ini adalah potensi hilangnya satwa endemik di Misool ini, sebagai keterwakilan dari spesies di tanah Papua besar, dengan segala keunikannya.

Pada Mei 2015 lalu misalnya, di Misool ini telah ditemukan empat spesies burung Cendrawasih khas tanah Papua besar di Misool, seperti cendrawasih kuning-kecil (Paradise minor), cendrawasih raja (Cicinnurus regius), cendrawasih belah-rotan (Cicinnurus magnifucus) dan cendrawasih mati kawat (Seleucidis melanoleuca).

“Dulunya kan orang tahunya cuma ada Paradise minor, tapi ternyata keempat-empatnya ada di Misool ini.”

Burung-burung yang kehilangan habitat di Pulau Misool, Raja ampat, Papua Barat, akhirnya terbang ke wilayah pemukiman warga untuk mencari minuman, yang justru dijerat untuk diperdagangkan. Foto : Wahyu Chandra
Burung-burung yang kehilangan habitat di Pulau Misool, Raja ampat, Papua Barat, akhirnya terbang ke wilayah pemukiman warga untuk mencari minuman, yang justru dijerat untuk diperdagangkan. Foto : Wahyu Chandra

Spesies lain yang banyak ditemukan adalah beragam jenis burung nuri, kakatua dan kura-kura dada putih. Karena kondisi yang panas dan sumber air yang kurang, burung-burung ini kemudian banyak terbang ke pemukiman warga.

Sayangnya, burung-burung ini ditangkap dengan cara dijerat. Sebagian besar hasi tangkapan kemudian dijual ke karyawan perusahaan PT Yellu Mutiara.

Daerah subur

Kampung Limalas, sendiri adalah salah satu kampung di Raja Ampat yang didiami masyarakat dari berbagai suku dan marga. Dominan penduduk berdiam di kampung berasal dari suku besar Matbat, dengan enam marga utama antara lain Fallon, Fadimpo, Fam, Mjam, Moom dan Melui.

Tidak hanya berkebun sagu, masyarakat di daerah ini umumnya merupakan petani penghasil kopra, kakao, beraneka macam sayuran dan pisang.

“Tanah di sini subur. Di musim hujan kita bisa berharap dari tanaman jangka panjang, sementara di musim kering seperti sekarang kita bisa berharap pada tanaman sayuran jangka pendek,” ujar Martin.

Limalas bahkan dikenal sebagai daerah penyuplai utama bagi para karyawan PT Yellu Mutiara, sebuah perusahaan mutiara terbesar di Raja Ampat, yang berada tak jauh dari daerah tersebut.

Sementara untuk kopra sendiri, dalam sebulan daerah ini mampu menghasilkan kopra hingga 15 ton, yang kemudian dijual ke Bitung, Sulawesi Utara, melalui beberapa orang pengumpul yang ada di kampung tersebut.

“Kini sebagian besar kelapa juga habis terbakar, padahal tanaman ini juga sumber penghasilan utama warga di daerah ini,” tambah Martin.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , , , , , , , ,