,

Haerudin R. Sadjudin, Memang Ahlinya Badak

Haerudin R. Sadjudin memang pakarnya badak. Lelaki yang kerap disapa Mang Eeng ini, sudah 40 tahun menghabiskan usianya untuk meneliti badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dan badak jawa (Rhinoceros sondaicus). Perjalanan waktu yang tidak singkat ini membuatnya fasih betul akan permasalahan badak yang terjadi di Indonesia.

Badak sumatera, problem yang dihadapi saat ini adalah populasinya yang terpencar di Gunung Leuser, Bukit Barisan Selatan, Way Kambas, dan Kutai Barat (Kalimantan Timur). Diperkirakan, saat ini hanya ada 100 individu. Kondisi ini kian mengkhawatirkan dengan luasan habitatnya yang berkurang akibat konversi hutan dan perambahan.

Di tengah cerita miris itu, muncul secercah harapan. Satu individu badak yang diberi nama Andatu, lahir pada 23 Juni 2012 di Suaka Rhino Sumatera/Sumatran Rhino Sanctuary (SRS), Taman Nasional Way Kambas, Lampung.

Andatu lahir dari pasangan Ratu (ibu) dan Andalas (ayah) yang telah ditunggu sejak SRS dibangun 1997. Bagi masyarakat dunia, kelahiran ini merupakan keajaiban yang sudah dinanti sejak 120 tahun silam. Kabar terbaru, Harapan, yang berada di Cincinnati Zoo, Amerika Serikat, telah pulang ke Indonesia, Minggu (1/11/15) dan saat ini berada di SRS.

Bagaimana dengan badak jawa? Menurut Haerudin, populasinya yang hanya ada di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Banten, diperkirakan sekitar 60 individu. Padahal, dahulu badak jawa tersebar di Bengal, Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Semenanjung Malaysia, Jawa, dan Sumatera.

Meski langka dan terancam punah, nasib badak jawa pun di ujung tanduk. Survei habitat baru di sekitar TNUK terus dilakukan, terkait ketersediaan pakan, kubangan, kemanan, dan risiko pemindahan. Tujuannya, agar mamalia besar ini dapat bertambah populasinya dan selamat dari kepunahan.

Berikut petikan wawancara Mongabay Indonesia dengan Haerudin R. Sadjudin yang menjabat Program Manajer Yayasan Badak Indonesia (YABI), sebagai refleksi Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2015 yang diperingati setiap tahun pada 5 November.

Andalas, badak jantan yang merupakan ayah Andatu di SRS, TN Way Kambas. Foto: Haerudin R. Sadjudin
Andalas, badak jantan yang merupakan ayah Andatu di SRS, TN Way Kambas. Foto: Haerudin R. Sadjudin

Mongabay: Kondisi badak sumatera dan badak jawa yang berdasarkan status IUCN adalah Kritis (Critically Endangered/CR). Apakah sudah ada prediksi sebelumnya berdasarkan populasinya yang menurun?

Haerudin: Tahun 1995 telah dibentuk Rhino Protection Unit di Bengkulu yang berikutnya pada 1996 dibentuk lagi di Way Kambas, Kerinci Seblat, dan Bukit Barisan Selatan. Tujuannya adalah melindungi kehidupan badak jangan sampai punah di Indonesia. Ini sebagaimana yang terjadi dengan badak jawa di Vietnam, dinyatakan punah pada 2010, serta badak sumatera di Sabah, Malaysia yang dinyatakan punah juga.

Satu-satunya cara perlindungan adalah dengan membentuk RPU ini yang juga sebagai kesempatan terbaik. Bila mengandalkan jagawana atau polisi kehutanan, sangatlah sulit. Karena itu, kita harus saling membantu baik LSM, pemerintah, peneliti, dan segala pihak.

Dengan RPU ini populasi badak bisa dipantau, baik kelahiran hingga menekan perburuan liar. Modal berharga kita saat ini adalah menyelamatkan populasi badak. Ingat, dari 5 jenis badak yang ada di dunia, 2 jenis ada di Indonesia yaitu badak sumatera dan badak jawa.

Mongabay: Apa yang menyebabkan kehidupan badak di Indonesia terancam?

Haerudin: Di sumatera, pembukaan perkebunan sawit dan hutan tanaman industri membuat habitat badak sumatera terus menyempit. Di luar kawasan konservasi, selain penyempitan habitat, adalah adanya perburuan. Namun begitu, badak tersisa yang berada di kawasan konservasi pun terus diintai pemburu.

Di Jawa, dahulunya badak jawa menyebar dari Sumatera hingga ke Jawa Barat dan Jawa Tengah. Perkebunan jati, kina, dan teh telah menyempitkan habitat badak ini. Sementara, yang berada di luar kawasan konservasi, lagi-lagi habis dihajar pemburu.

Bukan cerita bila dahulunya daerah Tangerang dan Bekasi merupakan wilayah persebaran badak. Pun di Jakarta, ada daerah bernama Rawa Badak. Sementara di Bogor ada wilayah namanya Kedung Badak, dan Kandang Badak di Gunung Pangrango yang memang tempat persebaran badak.

Andatu, badak sumatera usia 3 tahun yang lahir di SRS Way Kambas, Lampung. Foto: Haerudin R. Sadjudin
Andatu, badak sumatera usia 3 tahun yang lahir di SRS Way Kambas, Lampung. Foto: Haerudin R. Sadjudin

Mongabay: Pemerintah bercita-cita meningkatkan 10 persen populasi spesies terancam punah yang salah satunya badak jawa. Apa yang harus dilakukan?

Haerudin: Untuk badak jawa yang hanya ada di Ujung Kulon, hal yang harus dilakukan adalah perlindungan menyeluruh. Perkuat patroli dan sosialisasi kepada seluruh masyarakat, lokal maupun nasional.

Untuk perluasan habitat, ada baiknya pembinaan habitat yang telah ada seperti di kawasan Gunung Honje dimaksimalkan dahulu. Tanamlah pohon pakan badak. Mimpi berikutnya adalah mencari habitat kedua. Namun, untuk mewujudkan habitat kedua akan serasa sulit bila semua kekuatan tidak saling mendukung baik pemerintah, LSM, maupun penyandang dana. Regulasi, pendanaan, pembinaan habitat, perlindungan, pakan, kubangan, air dan keamanan harus dipersiapkan semua. Bila tidak terpenuhi, kita akan ngobrol terus setiap tahun.

Terkait perburuan, secara kasat mata tidak terlihat namun tinggi. Perburuan ini terjadi karena adanya pesanan, modus lama. Para pemburu yang sudah berhenti, mengatakan pada saya, bila ada orang yang memesan dan siap membiayai, perburuan akan dilakukan.

Mongabay: Terkait badak sumatera yang keberadaannya terpencar di Taman Nasional Gunung Leuser, Bukit Barisan Selatan, Way Kambas, dan Kutai Barat, bagaimana harusnya?

Haerudin: Untuk badak yang berada di kawasan konservasi dengan habitatnya yang ideal, tindakan yang harus dilakukan adalah pengamanan. Di Bukit Barisan Selatan ada sekitar 100 ribu hektar sebagai habitat idealnya dari luasan 368 ribu hektar. Di way kambas, dari luasan 125 ribu hektar, sekitar 60 ribu hektar merupakan habitat yang baik untuk badak.

Habitat ini yang harus diamankan, sebagai rumah perlindungannya. Bila ada satu atau dua individu yang masih berada di luar kawasan, masukkan saja ke wilayah yang memang pasti habitatnya. Ini lebih realistis.

Termasuk, badak sumatera di Kutai Barat yang berada di luar kawasan konservasi. Untuk kasus ini, buatlah hutan lindung di wilayah bekas PT. Kelian Equatorial Mining. Namun, yang paling mendesak adalah badak-badak tersebut yang jumlahnya delapan individu harus dikumpulkan dan buatlah RPU.

Survei dan monitoring terkait persebaran badak yang dilakukan Mang Eeng muda bersama tim. Foto: Dok. Haerudin R. Sadjudin
Survei dan monitoring terkait persebaran badak yang dilakukan Mang Eeng muda bersama tim. Foto: Dok. Haerudin R. Sadjudin

Mongabay: Mengenai penangkaran, apakah hal yang dilakukan SRS bisa menyelamatkan badak dari kepunahan? Tentunya selain yang ada di hutan itu sendiri.

Haerudin: Dari pembelajaran, saat badak dibagikan ke berbagai kebun binatang di luar negeri, saya sudah menuliskan ke berbagai media, kenapa badak tersebut tidak disatukan saja. Sebagaimana di Way Kambas yang semi in situ. Namun, saat itu pihak luar beralasan ingin mengembangkan di kebun binatang sebagai wilayah konservasi ex situ.

Kini lihat, dalam perjalanannya dari 1996 hingga 2015 ini, kita telah berhasil mengetahui seluk-beluk badak sumatera.  Mulai estrus, kehamilan, perilaku, hingga penyakit. Hanya kita yang mengerti itu semua. Hanya kita yang memiliki bahan genetik mulai dari sperma, darah, kulit, dan rambut. Pihak luar yang ingin meneliti DNA harus ke Indonesia. Ini  sebagai pembelajaran pertama.

Pembelajaran kedua, kelahiran Andatu yang kini sudah tiga tahun merupakan prestasi luar biasa. Semuanya pengalaman ini, bisa digunakan sebagai dasar-dasar konservasi badak di hutan liar nantinya.

Tentu saja, keberhasilan ini harus ditunjang dengan laboratorium yang memadai untuk perkembangan penelitian. Termasuk penyediaan bank sperma. Kita harus optimis.

Mongabay: Aksi nyata yang harus dilakukan?

Haerudin: Kita harus melakukan aksi perlindungan badak, bukan sekadar bangga. Pemerintah harus punya orang kuat dan mengerti akan badak. Kepala Taman Nasional yang di wilayahnya ada badak seperti Ujung Kulon, Way Kambas, Bukit Barisan Selatan, dan Gunung Leuser, harus memiliki komitmen untuk melindungi badak. Termasuk BKSDA yang berada di Kutai Barat, karena badak tersebut berada di luar kawasan konservasi.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) harus menempatkan orang yang tepat. Karena, terlepas dari itu semua, apapun yang dilakukan LSM dan sebesar apapun dananya, bila orang dipemerintahan tidak fokus, harapan penyelamatan akan sirna.

Mang Eeng (kanan) bersama Widodo S. Ramono, Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia, saat kampanye penyelamatan badak sumatera dan badak jawa pada peringatan Hari Badak Sedunia 2015. Foto: Rahmadi Rahmad
Mang Eeng (kanan, berkacamata) bersama Widodo S. Ramono, Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia, saat kampanye penyelamatan badak sumatera dan badak jawa pada peringatan Hari Badak Sedunia 2015. Foto: Rahmadi Rahmad

Mongabay: Apa fungsi penting badak dalam ekosistem, mengingat badak tidak ada predatornya?

Haerudin:  Badak bisa menebarkan biji tanaman di wilayah jelajahnya seperti ficus, dan kedondong hutan yang  terlihat dari kotorannya yang tumbuh. Di SRS, makanan badak diperoleh juga di hutan dari berbagai jenis tumbuhan. Uniknya, kotoran badak yang kami masukkan polybag, tumbuh menjadi pohon sekitar 20 jenis.

Berdasarkan penelitian dan pengalaman, saya mengikuti pergerakan badak jawa dari satu tempat ke tempat lainnya hingga 3 bulan lamanya. Untuk badak betina per individu, wilayah jelajahnya 9 – 12 kilometer persegi yang bergantung dengan keadaannya. Sementara jantan, 15-20 km persegi yang jalur jelajahnya bisa berbentu persegi, oval, maupun memanjang. Ini dari segi luasannya.

Untuk jauhnya,dalam sehari, badak jantan bisa berjalan hingga 15 km per hari bila tidak berkubang, makan, atau minum. Hanya berjalan.

Mongabay: Hal spesial yang Anda temui saat mengikuti pergerakan badak sumatera dan badak jawa?

Haerudin:  Penciuman badak itu luar biasa. Ia bisa membedakan bau yang belum pernah dikenali sebelumnya. Sebenarnya, badak itu melihat, hanya tidak bisa membedakan apa yang dilihatnya apakah binatang, pohon, atau manusia.

Bila badak bertemu dengan manusia untuk pertama kalinya, maka ia tidak bisa membedakan apa yang dilihatnya. Namun, ketika angin berhembus dan bau manusia tercium, badak akan mengenali bau tersebut. Ini yang membuat badak lari atau menyerang manusia.

Yang sering terjadi adalah badak yang lari. Namun, ada beberapa individu badak yang menyerang. Ini terlihat dari jejaknya dan daerah jelajahnya.

Selama di Ujung Kulon, saya sudah 31 kali langsung bertemu badak. Waktu di sungai, saya juga sempat diserang yang menyebabkan perahu hancur. Bila diingat, kadang geli juga karena saya pernah nyangkut di pohon randu. Bahkan, ada juga teman yang saking paniknya manjat pohon sambil membawa dayungan perahu.

Mang Eeng saat kampanye penyelamatan badak sumatera dan badak jawa pada peringatan Hari Badak Sedunia 2015. Foto: Rahmadi Rahmad
Mang Eeng saat kampanye penyelamatan badak sumatera dan badak jawa pada peringatan Hari Badak Sedunia 2015 di Jakarta. Foto: Rahmadi Rahmad
(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , ,