,

Stanting, Penyakit yang Patut Diwaspadai Akibat Lingkungan Hidup Rusak

Jika lingkungan hidup di Indonesia terus mengalami kerusakan, baik hutan, lahan gambut, daerah aliran sungai, dan ditambah buruknya sanitasi perkotaan, dikhawatirkan generasi mendatang akan menderita stunting atau stanting. Maksudnya?

Indonesia akan dipenuhi manusia yang riskan menderita berbagai penyakit dan kecerdasan yang rendah. Sehingga, tidak produktif atau kalau bersaing di sektor tenaga kerja. “Bahkan mereka sulit membedakan benar dan salah, sehingga manusia Indonesia akan banyak berada di penjara,” kata Ahmad Syafiq, peneliti kesehatan dari Universitas Indonesia, dalam sebuah kegiatan gizi anak yang digelar Dinas Kesehatan Sumatera Selatan di Palembang, Senin (21/12/2015).

Apa itu stanting? Menurut Syafiq, stanting merupakan anak pendek atau pertumbuhan anak yang lamban akibat kekurangan gizi dan lingkungan yang tidak sehat.

Pada 2013, berdasarkan survei Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan Indonesia, sekitar 9,2 dari 24,5 juta anak yang berusia di bawah lima tahun menderita stanting. Satu dari tiga anak Indonesia memiliki panjang atau tinggi badan di bawah standar seusianya.

Guna mencegah anak menjadi stanting maka harus berperilaku hidup sehat sejak anak dalam kandungan hingga berusia dua tahun atau 1.000 hari. Tentunya, berupa asupan bergizi seimbang dan cukup zat besi.

Kenapa orangtua tidak mampu memberi asupan bergizi dan hidup sehat pada anaknya? “Banyak yang menjawabnya terkait dengan kemiskinan. Itu salah satu faktor. Tapi lingkungan yang sehat dan perilaku hidup sehat juga memengaruhinya,” kata Syafiq.

Syafiq tidak menepis jika kemiskinan dan buruknya lingkungan, termasuk rendahnya kualitas udara dan air, juga disebabkan oleh kerusakan hutan, lahan gambut dan aliran daerah sungai, sebagai akibat aktivitas penambangan, perkebunan, perambahan, membuat anak stanting.

“Saya tidak membantah jika ada yang berkesimpulan salah satu penyebab banyaknya anak stanting di Indonesia sebagai akibat kerusakan lingkungan hidup di Indonesia, ” ujarnya.

Kegiatan tersebut juga menghadirkan Agustin Kusumaryadi, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dan Ati Nurbaiti Hadimadja dari Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI).

Sungai Musi, sebagai pusat dari anak-anak sungai mengalami beragam masalah. Dari pencemaran dampak sampah, pendangkalan sampai polusi zat kimia seperti amoniak. Foto: Taufik Wijaya

Hilangnya budaya air

Setelah puluhan abad sukses mengelola dirinya sebagai kota air, kini Palembang memiliki persoalan dengan air. Sebab anak-anak Sungai Musi dan rawa yang ada di Palembang, kini posisinya bukan lagi sebagai sumber air bersih dan transportasi bagi masyarakat, justru  menjadi sumber persoalan.

“Anak sungai di Palembang saat ini menjadi sumber penyakit dan persoalan, yang paling rentan terkeda dampak buruknya adalah anak dan kaum perempuan,” kata Yenni Izi dari Women Crisis Centre (WCC).

“Air yang ada pada anak-anak Sungai Musi berwarna hitam dan berbau, yang tentu saja dipenuhi miliaran kuman. Jika musim penghujan, airnya tidak dapat digunakan, sebab dipenuhi sampah dan menimbulkan banjir,” katanya.

“Keluarga yang miskin terpaksa menggunakan air berkualitas buruk tersebut. Akibatnya, mereka rentan terserang berbagai penyakit, dan bila menimpa anak-anak akan menurunkan kekebalan tubuh,” katanya.

Sebenarnya, kata Yenni, budaya air di Palembang sudah tidak ada lagi. Pembangunan di masa pemerintahan Indonesia, jelas-jelas telah mengubah perilaku masyarakat Palembang terhadap air.

Kondisi yang lebih tragis, terjadi pada di wilayah yang setiap tahun mengalami kebakaran hutan dan lahan gambut. Misalnya di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Selain kualitas air yang menurun akibat limbah industri perkebunan, mereka kerap terkena paparan kabut asap. “Para ibu dan anak jelas merupakan kelompok yang paling utama terkena dampaknya,” jelas Yenni.

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , , ,