,

Dalam Kardus! Anakan Julang Ini Diselundupkan ke Surabaya

Penyelundupan burung liar terus terjadi. Kali ini, tujuh anakan julang yang diselundupkan melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Sabtu (26/12/2015). Dari seluruh burung yang diamankan petugas Kepolisian Resor Pelabuhan Tanjung Perak itu, satu individu sudah mati.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, AKP Adrian Satrio mengatakan, barang bukti ditemukan dalam sebuah kardus yang diletakkan di bawah truk yang terparkir di Jalan Kalianget, Surabaya, kawasan Pelabuhan Tanjung Perak. “Sepertinya, pelaku melakukan transaksi dengan sistem ranjau, karena sengaja ditinggal di bawah truk untuk nantinya diambil oleh pemesan. Jadi, bukan tertinggal,” kata Adrian.

Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan dan mencari pelaku, penjual, maupun pembeli, karena saat barang bukti ditemukan belum diketahui siapa pemiliknya juga kapal yang mengangkutnya. “Satwa ini selanjutnya dititipkan ke Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur.”

Julang termasuk dalam anggota keluarga Bucerotidae. Sembilan jenis anggota itu tersebar di Sumatera dan Kalimantan, yaitu enggang klihingan, enggang jambul, julang jambul-hitam, julang emas, kangkareng hitam, kangkareng perut-putih, rangkong badak, rangkong gading, dan rangkong papan. Khusus Kalimantan, semua jenis tersebut dapat dilihat kecuali rangkong papan.

Sementara, empat jenis lainnya adalah julang sumba (Sumba), julang dan kangkareng sulawesi (Sulawesi), serta julang papua (Papua).

Maraknya perburuan anggota keluarga Bucerotidae ini memang dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem. Burung berparuh kuat ini dikenal sebagai burung penebar biji yang paling baik dan alami. Home range-nya cukup luas, sehingga penyebaran bijinya sangat membantu kelestarian hutan.

Ria Saryanthi dari Burung Indonesia menuturkan, julang maupun rangkong sangat bergantung pada habitatnya yaitu hutan dan tanaman berbuah. Rangkong hidup dengan memanfaatkan pohon-pohon yang tinggi untuk bersarang, sekaligus sebagai sumber makanan dari pohon yang berbuah. “Mereka ini kan pemakan buah, sehingga sangat bergantung pada hutan. Kebakaran dan pembabatan hutan berskala besar, disamping perburuan, merupakan ancaman nyata bagi kelangsungan hidup burung yang penting bagi alam ini,” jelas Ria.

Dari tujuh anakan julang yang diselundupkan, satu individu mati. Kesemua anakan ini dimasukkan dalam kardus saat ditemukan pihakk Kepolisian Tanjung Perak, Surabaya. Foto: Petrus Riski
Dari tujuh anakan julang yang diselundupkan, satu individu mati. Kesemua anakan ini dimasukkan dalam kardus saat ditemukan pihak Kepolisian Tanjung Perak, Surabaya. Foto: Petrus Riski

Diburu

Yokyok Hadiprakarsa dari Indonesia Hornbill Conservation Society (IHCS) juga menyayangkan penyelundupan julang tersebut. Terlebih, julang yang diselundupkan itu anakan yang diambil dari sarang. “Ini terlihat dari bulunya yang belum sempurna,” ujarnya, Selasa (29/12/2015).

Menurut Yoki, biasa disapa, anakan yang akan dijual itu, biasanya untuk dipelihara. Bicara peliharaan, arahnya pada estetik dan kebanggaan. Terlebih, keluarga rangkong berpostur besar. Kesannya gagah. “Padahal, hanya untuk gaya-gayaan saja. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan adanya indikasi untuk dipasok ke kebun binatang pribadi.”

Berdasarkan identifikasi foto dari enam anakan julang tersebut, Yoki menuturkan ada dua jenis. Yaitu lima anakan julang emas (Rhyticeros undulatus) yang umum ada di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Serta, satu anakan yang kemungkinan adalah julang jambul-hitam betina (Rhabdotorrhinus corrugatus) yang terlihat dari paruh kuningnya dengan kepala hitam. “Agak sedikit menyulitkan mengidentifikasinya, karena keenamnya anakan.”

Yoki memaparkan, harusnya, keluarga Bucerotidae hidup di hutan, sebagai habitatnya. Mereka akan menebar biji, meregenerasi pepohonan, tanpa diminta. Adanya julang, rangkong, atau enggang menunjukkan hutan tersebut sehat, karena ada pohon-pohon besar. “Mereka perlu pohon yang sehat, besar, dan kuat untuk sarangnya.”

Terkait penyelundupan rangkong dan jenis burung lainnya yang terus terjadi di Pelabuhan Tanjung Perak, Irma Hermawati dari Wildlife Crime Unit Wildlife Crimes Unit-Wildlife Conservation Society menyatakan, Surabaya bukan satu-satunya daerah merah penyelundupan satwa di Indonesia. “Bersama Jakarta, Bali, dan Batam, wilayah pelabuhan ini harus diperketat pengawasannya. Terutama untuk kapal penumpang.”

Sudah waktunya, Badan Konservasi Sumber Daya Alam dalam hal ini Unit Pelaksana Teknis (UPT) memiliki kantor resmi di wilayah kepabeanan, dalam bandara atau pelabuhan. Selama ini hanya pihak Bea Cukai dan Badan Karantina Hewan saja yang ada. “Harus dideteksi juga wilayah pengirimannya. Pastikan pula, penegakan hukum dilakukan kepada pelaku penyelundupan.”

Irma menuturkan, dari Surabaya, biasanya satwa akan disebar ke Jakarta, Semarang, dan bisa juga dikirim ke luar negri. Transportasi yang digunakan biasanya kereta api, bis, atau kapal laut yang memang dianggap aman untuk kegiatan terlarang itu. “Para pelaku akan terus memperbarui modus operandinya. Namun, bila ditelisik ada kesamaan dengan cara yang dilakukan para pengedar narkoba. Yang pasti, semua kasus hukum penyelundupan satwa liar dilindungi harus dituntaskan. Termasuk, berkas kakatua dalam botol yang hingga kini publik tidak tahu perkembangannya,” papar Irma.

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , , ,