, , ,

Beginilah Valentine ala Menteri Lingkungan Hidup…

Valentine hanya perayaan Hari Kasih Sayang kepada sesama manusia? Valentine identik dengan hal-hal negatif? Itu pandangan usang. Valentine ini bisa menjadi ajang memperkuat cinta kasih kepada alam dan lingkungan. Inilah yang dilakukan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, bersama para pegiat lingkungan. Mereka menanam “Pohon Rantau” di Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Cianjur, Jawa Barat pada Minggu (14/2/16).

Pohon Rantau menjadi simbol kepedulian masyarakat di luar negeri untuk mengadopsi pohon di tanah air. Ini kelanjutan Program Desa Sarongge di Kaki Gunung Gede Pangrango.

”Inisiatif ini sangat baik, tujuan utama mengedepankan hutan Indonesia untuk kemakmuran rakyat,” kata Siti.

Rakyat, katanya, harus memiliki kehormatan, tak ada lagi istilah desa ilegal. Untuk itu, perlu selaras antara petani dengan alam. “Ini tidak mudah, perlu pendampingan LSM, pemda dan Pusat.”

Adopsi rantau juga bertujuan mendorong, membimbing dan memberikan insentif kepada masyarakat sekitar Taman Nasional Gunung Gede. “Agar mereka menanam pohon dan memelihara lingkungan melalui agroforestry. Tak lagi masuk taman nasional.”

Di sini, petani mendapat ruang berusaha di sekitar hutan, salah satu lewat kemitraan. KLHK memberikan bantuan sarana dan prasarana menunjang operasional pertanian, seperti alat semprot (hand sprayer) dan pompa air kepada 11 kelompok tani di Pacet.

KLHK juga mengadopsi 100 pohon untuk desa. ”Jabar sering memelopori kegiatan lingkungan sejak 2000-an, semoga ini menjadi contoh agar adopsi pohon dikembangkan seluruh Indonesia,” katanya.

Lewat sosial media

Ketua Yayasan Green Indonesia, Tosca Santoso sekaligus pelopor Desa Sarongge dan rantau, menyebutkan, kali pertama kegiatan khusus rantau. Dia bekerja sama dengan Gerakan Kebaikan Indonesia (GKI), mengumpulkan adopter menghijaukan daerah sekitar taman nasional.

Ajakan adopsi lewat sosial media, seperti Facebook, Twitter dan lain-lain. Antusiasme masyarakat cukup tinggi. Terbukti, ada 1.000 pohon di Valentine. ”Target 1.000 tercapai 1.060 pohon, meski hari ini baru 600 ditanam.”

Katanya, 960 pohon dari warga Indonesia di dari luar negeri, 100 Siti Nurbaya. Tanaman buah-buahan seperti nangka, pete, alpukat, rambutan, mangga, dan lain-lain.

Bagaimana mekanisme pohon rantau? Setiap GKI memiliki wakil di masing-masing negara. Mereka mengumpulkan dana Rp100.000, satu pohon adopsi. Nanti, GKI menyalurkannya bersama YGI.

Hingga kini, lebih 20 negara berperan, antara lain, Inggris, Belgia, Belanda, Jerman, Swiss, Australia, Amerika, Tiongkok, dan Polandia. “Kegiatan ini akan berkelanjutan berdasarkan event, seperti Hari Bumi dan lain-lain,” ucap Santoso.

Peningkatan ekonomi

Warga menyambut baik aksi ini. Kepala Desa Sukatani, Udin Sanusi menyebutkan, 65% penduduk Desa Sukatani menanam sayur mayur. Sayangnya, 29% dari mereka di garis kemiskinan. ”Semoga ini mampu meningkatkan ekonomi dan mengembangkan sesuai potensi desa. Nanti, bisa mengarah pada desa wisata,” katanya.

Siti juga berharap, kegiatan ini menjadi kreasi antara reboisasi dan peningkatan ekonomi masyarakat. ”Ini dapat jadi model, hingga mampu mengentaskan kemiskinan.” Hingga, katanya, ada integrasi antara menjaga ekosistem dan ekonomi kerakyatan.

Tosca menambahkan, daerah ini berpotensi menjadi kampung internasional karena banyak masyarakat Indonesia di luar negeri menanam pohon di sini. ”Ini jadi ada kontak dan interaksi. Mereka bisa menjenguk dan melihat pohon. Terjadi diskusi dan pengembangan relasi antara satu dengan yang lain.”

Hasil tani pohon adopsi 100% buat kelompok tani. ”Masih ada 30 hektar untuk adopsi di sini. Mungkin lebih luas jika ada masyarakat menyumbangkan lahan untuk ditanami pohon adopsi.”

Lahan adopsi, yang diperuntukkan bagi tanaman-tanaman sumbangan dari berbagai pihak. Foto: Febriana Arum
Lahan adopsi, yang diperuntukkan bagi tanaman-tanaman sumbangan dari berbagai pihak. Foto: Febriana Arum
(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , ,