,

Ditemukan Mati, Nasib Kelam Gajah Sumatera Belum Berakhir

Jumat, 19 Februari 2016, satu individu gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) jantan berumur sekitar 17 tahun, ditemukan mati keracunan di kebun masyarakat di Desa Karang Ampar, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh.

Gajah bergading 20 sentimeter tersebut, roboh di dekat rumah masyarakat. Dari mulut dan anusnya keluar darah. Masyarakat meyakini, gajah tersebut mati karena memakan pupuk yang dipakai oleh masyarakat untuk perkebunan mereka.

“Beberapa malam sebelumnya kawanan gajah memasuki areal perkebunan kami, kawanan gajah yang berjumlah puluhan tersebut merusak tanaman milik warga seperti pisang, kelapa, pinang dan lainnya,” sebut Sulaiman, warga Karang Ampar, Sabtu (20/02/2016).

Sulaiman mengatakan, dirinya tidak yakin gajah tersebut sengaja diracun warga, karena masyarakat tidak akan berani mengganggu gajah. “Warga di sini yakin, binatang bertubuh besar dan berbelalai tersebut memiliki naluri kuat untuk mengenali manusia yang membunuh gajah.”

Sulaiman menambahkan, puluhan hektar kebun masyarakat telah dirusak oleh kawanan gajah. “Sudah bertahun kami gagal panen,” ujarnya.

Gajah ini diduga mati karena memakan pupuk. Penyidikan masih terus dilakukan oleh BKSDA Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah
Gajah ini diduga mati karena memakan pupuk. Penyidikan masih terus dilakukan oleh BKSDA Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah

Kepala Desa Karang Ampar, Saleh Kadri mengatakan, areal kebun masyarakat di daerahnya memang sering didatangi gajah liar yang jumlahnya mencapai 40 individu. “Kelompok gajah tersebut sering merusak kebun dan rumah masyarakat. Lima rumah warga juga dirusak pada kejadian 19 Februari 2015, yang menyebabkan masyarakat harus mengungsi.”

Saleh menuturkan, konflik antara gajah dengan manusia di Karang Ampar memang telah terjadi beberapa tahun lalu. Masyarakat pun sudah kewalahan mengatasinya. “Kami telah berkali melaporkan masalah ini ke pemerintah daerah dan aparat terkait, namun belum pernah ada tim yang turun untuk menggiring kawanan gajah ini,” sambung Saleh Kadri.

Senada, Mashuri, warga Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Aceh Tengah, mengatakan, konflik gajah dengan manusia di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, memang terjadi beberapa tahun belakangan. Sebelumnya, tidak pernah terjadi karena tempat yang dilalui oleh gajah masih alami. “Saat ini, banyak dibuka perkebunan yang merupakan daerah lintasan gajah. Kita tidak bisa menyalahkan gajah karena kita telah menguasai daerah mereka,” ungkap Mashuri.

Koridor

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh, Genman Suhefti Hasibuan menyebutkan, gajah jantan yang mati di Kecamatan Ketol merupakan gajah pertama yang mati ditahun 2016, sementara pada 2014 ada 10 individu yang mati dan di 2015 sekitar 9 individu yang mati. “Saat ditemukan, gading gajah tersebut masih utuh, kemungkinan besar karena memakan racun.”

Genman mengatakan, hingga saat ini dirinya belum bisa memastikan gajah tersebut sengaja diracun atau memakan pupuk milik masyarakat. “Kita belum bisa memastikan jenis racun yang dimakan karena tim BKSDA baru selesai melakukan nekropsi dan harus diuji di laboratorium.”

Genman juga menambahkan, hingga saat ini belum ditemukan solusi kongkrit untuk menangani konflik antara gajah dengan manusia. “Selama ini terkesan gajah yang turun ke permukiman dan mengganggu masyarakat, padahal, gajah dan manusia membutuhkan lahan yang sama, yang landai, inilah yang memunculkan konflik.”

Diperkirakan, jumlah gajah di Aceh antara 450 – 500 individu yang tersebar di 20 kabupaten/kota di Aceh. “Salah satu solusi untuk memitigasi konflik gajah dengan manusia adalah dengan mendirikan Conservation Response Unit (CRU) di daerah yang rawankonflik,” paparnya.

Rumah masyarakat yang dirusak gajah. Foto: Junaidi Hanafiah
Rumah warga Desa Karang Ampar yang dirusak gajah. Foto: Junaidi Hanafiah

Project Leader WWF Indonesia-Aceh, Dede Suhendra menyebutkan, pembukaan areal hutan untuk perkebunan yang terus terjadi di Aceh, merupakan salah satu penyebab semakin terancamnya populasi gajah.

“Pembukaan lahan perkebunan yang merusak koridor atau jalur lintasan gajah telah membuat konflik antara gajah dengan manusia terus terjadi hingga menimbulkan korban, baik masyarakat maupun gajah. Selain itu, kegiatan illegal logging di hutan juga memperparah kondisi habitat gajah.”

WWF Indonesia Program Aceh telah memberikan pemahaman kepada masyarakat bagaimana mengatasi konflik dengan gajah di beberapa tempat melalui pelatihan dan pendampingan. “Jika dilihat dari data konflik yang terjadi pada 2014 dan 2015, jumlah gajah yang mati menurun. Untuk itu, kita harus memberikan apresiasi kepada semua pihak yang telah bekerja keras menyelesaikan konflik ini,” papar Dede.

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , ,