, ,

Beginilah Kolaborasi Penanganan Paus Terdampar di Bali 

Dua paus ditemukan terdampar mati pada hari yang sama di perairan berbeda di Klungkung, Bali, pekan lalu. Satu berukuran besar yaitu sperm whale (Physeter macrocephalus) terdampar di pesisir Klungkung daratan dan melon-headed whale (Peponocephala electra) di Pulau Nusa Penida. Satu dikubur dan ditonton ribuan orang, satunya dikubur dalam senyap.

Ribuan warga berbondong melihat paus sperma sepanjang lebih 16 meter di perairan Klungkung pada 14 Maret sejak dini hari. Mereka menonton paus jantan mati ini sejak pagi sampai dini hari sampai berhasil dikubur.

Polisi menutup jalan menuju pantai sehingga warga berjalan kaki lebih dari satu kilometer. Perempatan jalan bypass areal Kabupaten Klungkung ini sebagian penuh parkir kendaraan. Anak-anak dan remaja turut berduyun melihat paus sperma yang ditemukan sudah mati oleh nelayan ini.

Apa yang membuat warga begitu histeria menuju Pantai Batu Tumpeng, areal surfing dengan arus kuat dan ombak tinggi ini? Ada sejumlah alasan disampaikan warga. “Saya lihat di facebook, wah (pausnya) besar sekali. Mau ikut foto,” seru sejumlah siswa yang berlari tergopoh menuju pantai.

Warga lain menyebut ini ulam ageng, bahasa Bali halus untuk ikan raksasa. Dianggap sesuatu yang harus dihormati dengan menghaturkan canang (sesajen bunga). Ada juga yang berniat mengambil minyak dan dagingnya yang diyakini berkhasiat.

Seekor paus sperma jantan sepanjang lebih 16 meter yang terdampat dan mati di perairan Klungkung, Bali pada 14 Maret dini hari. Foto : Luh De Suriyani
Seekor paus sperma jantan sepanjang lebih 16 meter yang terdampat dan mati di perairan Klungkung, Bali pada 14 Maret dini hari. Foto : Luh De Suriyani

Warga yang datang sebelum tim evakuasi memang sempat ada yang naik ke badan paus untuk berfoto dan dibagi ke media sosialnya. Lainnya foto di depan bangkai. Hal ini bisa dilakukan saat air surut, bangkai paus masih di pinggir.

Para pihak yang memimpin evakuasi seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL), Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), dan lainnya menghalau warga menjauh dari bangkai paus. Hanya ada gurat-gurat luka di tubuh paus, tak terlihat ada yang terpotong. Bangkai belum berbau, petanda baru mati.

Seekor paus sperma jantan sepanjang lebih 16 meter yang terdampat dan mati di perairan Klungkung, Bali pada 14 Maret dini hari. Paus ini dievakuasi kemudian dikubur di pantai tersebut. Foto : Luh De Suriyani
Seekor paus sperma jantan sepanjang lebih 16 meter yang terdampat dan mati di perairan Klungkung, Bali pada 14 Maret dini hari. Paus ini dievakuasi kemudian dikubur di pantai tersebut. Foto : Luh De Suriyani

Pada siang, air sudah pasang dan badan paus sudah terendam sebagian. Evakuasi untuk rencana penguburan dilakukan sejak siang dengan dua mobil pengerek berkekuatan 10 ton tiap unitnya. Selama beberapa jam tak berhasil memindahkan bangkai ini.

Beberapa pegiat LSM pesisir dan laut juga berdatangan. Mereka berdiskusi dengan tim evakuasi. Keputusannya bangkai paus akan dikubur hari itu juga dengan mengganti mobil derek dengan alat berat ekskavator. Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta mendampingi evakuasi ini sampai dini hari.

“Pukul 02.00 akhirnya evakuasi dan penguburan ikan paus (ulam agung) selesai dilakukan,” tulis Suwirta dalam akun facebooknya. Ia berterima kasih pada semua pihak yang membantu proses ini.

Proses penguburan seekor paus sperma jantan yang terdampar dan mati di perairan Klungkung, Bali pada 14 Maret dini hari. Foto : Bupati Nyoman Suwirta
Proses penguburan seekor paus sperma jantan yang terdampar dan mati di perairan Klungkung, Bali pada 14 Maret dini hari. Foto : Bupati Nyoman Suwirta

Sementara di Nusa Penida yang terdampar adalah paus kepala semangka atau melon headed whale hampir 2,5 meter yang mulai membusuk. Kedua hewan laut besar ini berada di jalur migrasi berdekatan, area Selat Lombok dan Kawasan Konservasi Perairan Nusa Penida yang diidentifikasi menjadi daerah keanekaragaman hayati laut yang tinggi.

“Dikubur saja, mungkin nanti kerangkanya bisa digali untuk dimuseumkan,” kata I Wayan Sumertha Kepala Resor BKSDA Seksi Wilayah II. Menurutnya ini salah satu protap penemuan paus mati terdampar.

I Made Jaya Ratha, Koordinator Program The Coral Reef Alliance Indonesia yang terlihat di lokasi mengatakan penyebab kematian belum diketahui karena tim tidak melakukan bedah bangkai karena kondisi lapangan dan berbagai keterbatasan lainnya.

“Kalau melihat ukuran yang kemarin 16 meter lebih, paus ini sudah cukup tua (laporan yang pernah ditemukan maksimal 18 meter). Jadi ada kemungkinan kejadian alami. Tapi kita tidak bisa pastikan karena ada banyak penyebab lainnya termasuk ocean noise yang mengganggu sistem navigasi mereka,” ujar Jaya yang juga pelatih penanganan mamalia laut terdampar ini.

Dari diskusi dengan rekan-rekannya untuk ukuran ini lebih banyak ditemukan di daerah dingin. Jantan dewasa ukuran ini biasanya hidup single (tanpa kelompok) bermigrasi ke daerah tropis untuk kawin.

Paus kepala semangka atau melon headed whale yang terdampar di pantai Nusa Penida, Bali. Foto : whalestranding Indonesia
Paus kepala semangka atau melon headed whale yang terdampar di pantai Nusa Penida, Bali. Foto : whalestranding Indonesia

Terkait dengan rute migrasi, perairan Bali merupakan habitat yang penting buat mamalia laut (paus, lumba-lumba dan dugong). Indikasinya hampir setiap tahun selalu ada yang dilaporkan terdampar di Bali. Jaya mengingat tahun ini saja sudah ada 5 laporan kejadian terdampar. Januari di Buleleng dan  Sanur, Februari di Canggu-Kuta, dan terakhir di Batu Tumpeng dan Nusa Penida, Klungkung.

Marthen Welly dari Coral Triangle Center menyebut perairan Bali ini memang jalur migrasi penting. Selain dikubur perlu mengambil sampel paus ini seperti sedikit kulit dan isi perut untuk menjadi basis data bersama.

Jaya menambahkan di Bali sudah terbentuk jejaring penanganan mamalia laut terdampar yang mulai aktif lagi didorong sejak tahun 2013 melalui pelatihan penanganan mamalia laut terdampar dan  BPSPL ditunjuk sebagai koordinator jaringannya. Dinas Kelautan dan Perikanan Bali sebagai kordinator logistik dan BKSDA Bali untuk koordinator lapangan.

Anggota Jejaring ini meliputi dinas kelautan yang ada di kabupaten termasuk juga instansi terkait lainnya seperti TNI AL, Polair, LSM dan Perguruan tinggi. Seiring makin banyaknya pelatihan yang dilakukan di wilayah pesisir di Bali, jejaring yang terbentuk ini pun melibatkan lebih banyak pihak termasuk nelayan, pelaku wisata, komunitas surfing, BPBD, SAR, dan lainnya.

Panduan mamalia terdampar

Sebuah komunitas jaringan penyelamat mamalia sejak 2013 berupaya merangkum peristiwa terkait mamalia terdampar di Indonesia. Mereka juga membuat materi edukasi untuk warga. Dalam website  whalestrandingindonesia.com ada sejumlah panduan bagi warga apa yang harus dilakukan saat menemukan mamalia terdampar baik hidup atau mati. Ada juga formulir yang bisa diisi dengan rangkuman foto, lokasi, jenis, kondisi saat ditemukan, dan lainnya.

Misalnya jika menemukan terdampar hidup, warga atau tim evakuasi diminta tidak menyentuh mata, sirip, dan lubang nafas. Tidak menuangkan air ke lubang nafas, memastikan basah dengan menggali pasir sekitarnya dan diisi air, jika sulit menutup sebagian badan dengan handuk basah, dan mengurangi terpaan matahari langsung.

Lalu menghindari kerumunan orang terlalu dekat agar hewan tidak stres kemudian membopong dalam tandu ke perairan bebas agar bisa kembali berenang.

Infografis cara penanganan mamalia laut terdampar. Sumber : whales stranding
Infografis cara penanganan mamalia laut terdampar. Sumber : whales stranding

Sementara untuk penghancuran bangkai disebutkan bisa dengan sejumlah cara dan resikonya. Misal dibakar tapi rangkanya rusak. Mengubur di titik atas pasang surut laut dan beberapa bulan kemudian rangkanya bisa dimanfaatkan. Atau ditenggelamkan dengan metode khusus agar rangka bisa ditemukan.

Walaupun nama domain website ini hanya mengandung kata paus (whale), website ini mendokumentasikan kejadian-kejadian terdampar yang melibatkan paus, lumba-lumba dan duyung di Indonesia. Dari database di website terbaca ada ada 267 laporan soal mamalia terdampar di seluruh Indonesia.

Infografis cara penanganan mamalia laut terdampar. Sumber : whales stranding
Infografis cara penanganan mamalia laut terdampar. Sumber : whales stranding

Koordinator Whale Stranding Indonesia Putu Liza Kusuma Mustika menyatakan sudah banyak terlihat kegunaan data ini karena pemerintah, LSM, universitas dan para pihak lain semakin menyadari pentingnya isu stranding ini dengan melihat trend dan lokasi stranding.

“Website kami telah membantu para pengambil keputusan untuk membuat lebih banyak pelatihan dan rapat-rapat koordinasi untuk memperkuat jejaring penanganan mamalia laut yang terdampar di Indonesia. Bali menjadi catatan khusus karena tim Bali sudah cukup cepat dalam meresponse kejadian-kejadian terdampar,” jelasnya.

Tentang analisis kedua paus terdampar di Bali, tim Whale Stranding tidak melakukan nekropsi (bedah mayat hewan), sehingga tidak dapat menelusuri mengapa paus sperma tersebut terdampar di Klungkung. Liza berharap jejaring penanganan mamalia laut yang terdampar di Bali sudah lebih terkoordinir dan lebih lengkap fasilitasnya sehingga dapat melakukan nekropsi untuk hewan-hewan yang berukuran besar.

“Kami sudah pernah melakukan nekropsi untuk beberapa kasus, terakhir bayi paus Bryde’s yang terdampar di Batu Bolong, Canggu 2 Februari lalu. Untuk kasus itu, dugaan kami adalah bahwa dia terpisah dari induknya saat baru lahir, sehingga dia kelaparan dan mati karena kekurangan tenaga,” ungkap Liza.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , ,