, , , , ,

Fokus Liputan: Bila Tambang Semen Gombong Datang, Air dan Karst Bakal Hilang (Bagian 1)

Hamparan hijau padi di sawah ditambah jejeran pepohonan jati di Perbukitan Karst Gombong, menyempurnakan keindahan ketika saya memasuki Desa Sikayu, Kebumen, Jawa Tengah, medio Februari lalu.

Arus air cukup deras mengalir jernih dari sungai dan saluran irigasi. Elang terbang berputar-putar. Suara kutilang dan burung gereja bersahutan.

Sore itu, Lapiyo, warga Desa Sikayu, sedang memberi makan nila, kakap dan gurame. Empat kolam ikan ini teraliri air tanpa henti dari sumber Kali Sirah, sungai bawah tanah Pegunungan Gombong.

“Saya baru pensiun dari tentara. Pulang ke desa untuk pelihara ikan, diganggu rencana pertambangan semen,” katanya memulai cerita.

Lapiyo pada 1980, merantau ke Lampung dari Desa Sikayu, Kebumen. Lalu jadi tentara di Jakarta. Dia sempat menjadi penjaga rumah Soeharto di Jalan Cendana. Pada 2000, tugas ke kampung. Sempat juga tugas di Yogyakarta.

Ketika pensiun, dia memilih menghabiskan waktu bersama anak istri di kampung, dan berernak ikan. Rumahnya, tepat di lereng pegunungan karst Gombong. Kekhawatiran datang ketika dia mendapatkan kabar dari tetangga bahwa pabrik dan pertambangan semen akan beroperasi di pegunungan karst. Selama ini, sumber air dari sana mengaliri kolam, mengisi tong air untuk mandi, masak dan minum.

“Selama ini, air gratis dan mengalir tiap hari. Kemarau tidak kekeringan, kok gunung mau di rusak? Apa tidak mikir ya?” kata Lapiyo.

Dia tak anti investasi tetapi harus sinergis, berkesinambungan dengan rakyat. Kalau investasitambang semen, sumber air rusak, suplai air mati, bahkan polusi udara. Terlebih, masyarakat Gombong mayoritas petani dan ternak ikan. Mereka bertopang pada air dari pegunungan karst.

Airmengalir cukup deras dari Kali Sirah untuk perikanan, pertanian dan kebutuhan sehari-hari warga. Foto: Tommy Apriando
Airmengalir cukup deras dari Kali Sirah untuk perikanan, pertanian dan kebutuhan sehari-hari warga. Foto: Tommy Apriando

Warga mapan dengan bertani. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Gombong juga pakai air dari sumber di pegunungan karst. Kemarau panjang, pemerintah daerah menggunaan air untuk mensuplai yang kekeringan.

“Pemerintah daerah dan pusat harus teliti, lihat dampak, khusus air. Tolong pikirkan, pegunungan karst mengandung air berlimpah.”

Saya mendatangi lokasi sumber-sumber air di Pegunungan Gombong. Air keluar dari mulut goa. Di pinggiran jalan desa, ratusan selang berbahan plastik dan pipa-pipa mengalirkan air ke tong penampungan. Ada juga langsung ke rumah warga. Setiap pagi, puluhan perempuan Desa Sikayu, Banyu Mudal, dan beberapa desa lain membawa pakaian kotor untuk dicuci di sungai.

“Ibu-ibu sudah tahu akan ada tambang semen di Gombong?” tanya saya.

“Tidak tahu,” jawab mereka serentak.

Mereka tak rela ada tambang yang akan merusak sumber air.

Beberapa sumber air juga untuk rekreasi warga sekitar ketika akhir pekan dan hari libur. Irigasi sawah warga juga tersuplai langsung sumber air yang mengalir dari sungai bawah tanah di Pegunungan Gombong.

Siti Hanifah, warga Desa Sikayu, sehari-hari berternak ikan. Sekitar dua tahun lalu, dia mulai gencar mencari dukungan sesama kaum perempuan untuk menolak tambang semen. Baginya, tambang berdampak pada air. Perempuan, paling merasakan dampak terlebih mayoritas warga desa petani dan peternak ikan.

Menurut Siti, perempuan ingin anak-anak mereka tumbuh sehat. Jika ada pabrik semen, sumber air bakal hilang, berganti polusi.

“Bagaimana anak bisa cerdas, jika terkena limbah debu dan air tidak ada?’ tanya Siti.

Tambang juga bisa menyebabkan manusia terkena penyakit ganguan pernapasan. “Kami tidak mau anak sakit. Kami mampu menyekolahkan, tapi mereka sakit karena polusi. Belum lagi pendapatan warga dari pertanian dan perikanan akan hilang.”

Memang, katanya, perusahaan janji menawarkan pekerjaan bagi warga terdampa. “Kami tak perlu. Kami sudah sejahtera dengan bertani. Setiap sore, petani memanen sayur di ladang. Jika kami ditawari pekerjaan, tak mungkin petani yang berpendidikan rendah merasakan. Ujung-ujungnya pendatang yang bekerja.

“Kami mutlak menolak, tambang akan membawa penyakit dan hilang air. Selama air ada, warga bisa mendapatkan penghasilan, walau lewat pertanian.”

Saya mengunjungi ladang pertanian warga di Desa Sikayu. Pagi dan sore hari, mereka memanen sayur di ladang. Ada bayam, terong, cabai, sawi, singkong sampai pepaya. Antarmereka saling bertukar hasil tani, dan beberapa dijual ke pasar.

Di rumah-rumah, warga memiliki kolam ikan. Air dari sumber mata air Pegunungan Gombong.

Sukini, juru kunci Mata Air Sendang Pelus bercerita. Air mengalir ke rumah warga dan sungai irigasi. Walaupun kemarau, air tetap melimpah dan jernih. Warga menjaga mata air dan menggunakan secara bijak. Warga juga punya tradisi potong kerbau sebagai bentuk syukur atas limpahan sumber air.

“Jika ditambang dan merusak sumber air, kami menolak. Air punya peran penting bagi warga desa di Gombong,” kata Sukini.

Air dari sumber air Jeblosan digunakan ratusan kepala keluarga. Foto: Tommy Apriando
Air dari sumber air Jeblosan digunakan ratusan kepala keluarga. Foto: Tommy Apriando

***

Kami memasuki Goa Paes. Lembab dan dingin. Air tampak menetes dari ujung stalatit goa. Beberapa kekelawar berterbangan di langit-langit goa. Menggunakan Global Positioning System (GPS), sesuai koordinat lokasi izin Semen Gombong, Goa Paes masuk dalam lokasi.

Bersama tim Indonesian Speleological Society (ISS), saya menelusuri lokasi izin Semen Gombong.

Goa ini berjarak sekitar 500 meter dari perkampungan warga. Dari mulut goa, pemandangan hijau sawah dan perkampungan warga terlihat indah.

Samtilar, Ketua Persatuan Rakyat Penyelamat Karst Gombong (Perpag) bercerita, tahun 1995, oleh Lurah Elani, warga Desa Sikayu berkumpul di Balai Desa Sikayu. Saat ini, ada tawaran perusahaan semen masuk dan meminta izin warga. Mayoritas warga tak mengiyakan, namun tak menolak. Ada juga menerima.

“Warga dulu tak tahu fungsi gunung dan karst. Warga dulu tahu itu gunung batu, tak bisa ditanami,” kata Samtilar.

Pada tahun sama, jelang beberapa bulan, ada sosialisasi oleh asisten bupati waktu itu. Dalam sosialisasi, mengatakan, bumi, air dan semua di bumi dikuasai negara. Berhenti disitu.

“Yang saya ketahui, isi utuh, semua untuk kesejahteraan rakyat. Warga tak ada berani menentang penguasa. Takut. Ketika warga bertanya, dampak pertambangan terhadap air, perusahaan dan pemerintah bilang kalau di tambang air tidak hilang, bahkan bertambah deras.”

Tahun itu pula terjadi negosiasi dengan perwakilan masyarakat. Ada tujuah tokoh masyarakat, termasuk saya. Ketika itu menjelang bulan puasa, warga kumpul di Balai Desa Sikayu. Perusahaan ingin membeli lahan warga. Saat itu, warga meminta Rp10.000 permeter. Perusahaan menawar Rp1.200 permeter. Tak ada kesepakatan. Menjelang mahgrib warga bubar. Tanpa ada negosiasi, lalu ada surat edaran, intinya perusahaan menawar dan membeli lahan warga Rp1.500 permeter persegi.

“Akhirnya melalui birokrasi di desa dan kecamatan, warga diintimidasi. Jika tidak menjual, berarti melawan pemerintah. Warga takut, mereka door to door mencari warga yang mau melepas lahan,” kata Samtilar.

Aparat desa, kecamatan dan kabupaten terlibat dalam pembebasan lahan warga. Warga diintimidasi dan diteror. Aparatur desa, membujuk pemilik tanah di kalangan keluarga, mengajak tetangga. Bahkan hingga kini masih ada rekan-rekan anggota Perpag diintimidasi.

“Jika tidak dijual lahan akan dibongkar tanpa dibayar.”

Mesin-mesin pompa menyedot air dari sumber air untuk disalurkan ke tong penyimpanan lalu di distribusikan ke warga. Foto: Tommy Apriando
Mesin-mesin pompa menyedot air dari sumber air untuk disalurkan ke tong penyimpanan lalu di distribusikan ke warga. Foto: Tommy Apriando

Samtilar memiliki lahan IUP Semen Gombong. Dia tak akan menjual, walaupun sudah banyak warga melepas lahan ke perusahaan. Dia tahu benar, pembebasan lahan dengan upaya paksa, teror dan intimidasi.

Rekan Samtilar, Meri, warga Desa Sikayu belum rela tanah terjual untuk pertambangan semen. “Jika bisa dibeli, saya akan beli. Akan saya gunakan untuk bertani,” katanya.

Menanjaki Pegunungan Gombong, Samtilar menjinjing jerigen dua liter teh hangat dan makanan. Sepanjang perjalanan, pepohonan bambu lebat, jati dan sayuran warga seperti singkong, cabai, jahe, temulawak, buah srikaya, kami jumpai.

“Kita sudah masuk IUP semen,” kata Rasyid Wisnu Aji, dari ISS Jawa Tengah.

Tanah masih basah, hujan baru turun. Tebing-tebing batu gamping persis di samping jalan setapak yang kami lalui. Sembari berjalan, kami menemui beberapa lubang ponor. Kami juga mendatangi beberapa goa yang tak masuk dalam dokumen Analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) Semen Gombong. Di dalam goa, masih dijumpai kekelawar berterbangan dan serangga. “Dalam dokumen Amdal mereka tak menyebutkan ada goa dan ponor,” kata Samtilar. Temuan ini akan dicatat dan disampaikan kepada para penilai Amdal.

Perpag sudah menyampaikan penolakan pertambangan Semen Gombong. Tahun 2015, dia mengumpulkan lebih 1.000 warga menandatangai petisi penolakan. Dia juga sudah bertemu anggota DPRD Kebumen Oktober 2015. Saat itu, jawaban akan dipelajari. Hingga kini belum ada tindaklanjut mereka.

“Ketemu DPRD Komisi B bidang pembangunan, jawabnya akan dipertimbangkan. Hingga sekarang tidak tahu apa hasil pertimbangan itu.”

Air irigasi menyuplai lahan pertanian warga di Gombong. Foto: Tommy Apriando
Air irigasi menyuplai lahan pertanian warga di Gombong. Foto: Tommy Apriando

Dengan berbagai upaya, Perpag bisa mengundang perhatian Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Siti Nurbaya. Pada Sabtu, 19 Desember 2015, Siti blusukan ke beberapa sumber mata air. Salah satu ke Kali Sirah. Bersama ratusan warga dan beberapa pelajar menyaksikan dan pendengarkan langsung pemanfaatan air bersih yang selama ini dimanfaatkan warga.

Siti berjanji meninjau kembali Amdal Semen Gombong di karst Gombong Selatan. Bahkan, akan menghentikan sementara izin penambang di sana.

“Saya akan meminta izin kepada Bapak Presiden (Joko Widodo), selama penyusunan aturan perlindungan ini dilakukan,” kata Siti terlihat dalam video dokumentasi Perpag.

Siti akan mengusulkan moratorium izin-izin di kawasan karst Jawa. “Sambil kita dalami kesuluruhan.”

Siti meninjau langsung ke karst dan mendengarkan keluhan warga. Ekosistem karst, kata Siti, harus dilindungi. Kawasan itu, sumber mata air untuk kehidupan masyarakat.

“Jadi kunci perlindungan. Yang paling penting, pengendalian. Ini harus diawasi, yang merusak harus kena sanksi. Itu akan diatur,” ucap Siti.

Untuk Amdal yang diajukan Semen Gombong, dia meminta warga dan semua pihak mengawasi proses sedang berjalan. Amdal masih tahap awal.

“Saya minta tolong, nggak boleh marah, nggak boleh anarkis, tidak boleh galak-galak. Sabar. Kita selesaikan bersama dengan bupati dan gubernur. Hadirnya saya dan bupati disini, itu artinya kita ini bersama rakyat,” kata Siti. (Bersambung)

Lapiyo menelusuri goa-goa di Gombong untuk membuktikan bahwa masih banyak air menetes dari dinding goa. Foto: Tommy Apriando
Lapiyo menelusuri goa-goa di Gombong untuk membuktikan bahwa masih banyak air menetes dari dinding goa. Foto: Tommy Apriando
(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , ,