, ,

Malangnya…Anak Harimau Ini Berhari-hari Dalam Lubang Perangkap

Anak harimau Sumatera betina, terkena perangkap pemburu selama lima hari. Bersyukur, satwa berusia sekitar setahun ini berhasil diselamatkan hidup-hidup, di Desa Banua Tongah, Kecamatan Sosopan, Kabupaten Padang Lawas, Minggu (10/4/16).

Untuk cepat sampai ke lokasi, tim BKSDA mengambil jalur memotong dari Batang Onang, Padang Lawas Utara, Sumatera Utara. Anak harimau sudah lima hari dalam perangkap. Ia terjerembab dalam lubang buatan pemburu kerbau hutan, tak bisa melarikan diri. Kala warga ke kebun melihat, langsung menghubungi tetua adat, kemudian mengontak Seksi Wilayah VI BKSDA Sumut.

Suhut Helsaki, Kepala Seksi Wilayah VI BKSDA Sumut, Selasa (12/4/16), mengatakan, mereka mendapat informasi masyarakat melihat anak harimau masuk jeratan. Sesampai petugas di lokasi, harimau sudah lima terjebak. Ia terlihat lemas, kurang makan dan kurang cairan.

Setelah berhasil membawa keluar dari lubang dengan cara pembiusan, mereka dibantu sejumlah pihak dan warga, langsung pertolongan pertama. Harimau diberi inpus satu liter hingga malam hari. Sore hari, anak ini mulai mau makan. Rabu siang sudah bergerak lincah.

“Sementara waktu, harimau ini dititipkan di Aek Godang, di Yayasan Bodhicitta, ” kata Suhut.

Dari pantauan balai, di hutan Barumun, ada beberapa kawanan harimau, sehingga jika melahirkan anak harimau, maka dia sering lewat dilokasi. Ini juga berdasarkan survey yang dilakukan tim BKSDA Wilayah VI.

Apakah anak harimau ini akan dilepasliarkan? Suhut mengatakan, untuk pelepasliaran akan melihat kondisi kesehatan. Setelah benar-benar stabil dan sehat, akan rilis, melalui pertimbangan-pertimbangan berbagai pihak.

Dia mengatakan, di Padang Lawas, harimau turun ke lokasi karena ingin mencari makan dekat kebun warga. Lokasi temuan harimau berdekatan dengan Swaka Margasatwa Barumun. Namun, dia belum bisa memastikan anak harimau ke ladang warga karena habitat rusak atau murni ingin mencari makan. Untuk mengetahui, perlu penelitian mendalam.

Menurut dia, hutan Barumun masih cukup baik. Dia bersama warga masih sering melihat jejak harimau di tempat anak harimau terjerat.

Di lokasi temuan, sampai hari ketiga tampak jejak harimau dewasa diduga sang induk. Hari keempat jejak harimau tak terlihat lagi.

“Misi utama bagaimana satwa ini selamat. Soal induk mencari atau tidak, perlu diawasi. Biasa pengalaman sebelum-sebelumnya, harimau dewasa terlihat hingga satu minggu.”

Mengantisipasi induk harimau masuk perkampungan, dia mengimbau warga desa berhati-hati. Meskipun dari komunikasi masyarakat adat, mereka memiliki kearifan saling menghargai sesama makhluk hidup.

Mereka menganggap harimau kawan. Jika tak mengganggu, mereka tak akan pernah diganggu harimau. Menjaga kebersamaan inilah yang membuat daerah itu aman, hampir belum pernah konflik antara manusia dengan harimau.

“Kami pernah melepaskan harimau di hutan sana. Kami bilang, apakah harus dipindahkan harimau? Masyarakat bilang jangan, biarkan mereka hidup berdampingan dengan kami. Mereka tak akan mengganggu jika manusia tak menganggu mereka.”

Luas hutan Barumun 40.000 hektar, terletak di Padang Lawas, Padang Lawas Utara, sedikit di Tapanuli Selatan, dan di Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Penelitian mereka, peluang bertemu harimau sekitar 16%. Populasi belum diketahui karena masih survei mendalam.

Segera lepasliarkan

Rasyid Assaf Dongoran, Direktur SRI menyatakan melihat kondisi anak harimau ini, tim medis menganggap dalam satu bulan bisa betul-betul stabil.

SRI meyarankan, anak harimau segera dilepasliar, mengingat sang induk masih mencari jejak dan bau sang anak. Jika tidak, akan membahayakan warga kampung, dan memancing atau mempermudah pemburu mendapatkan sang induk.

“Ini harus dilepaskan. Induk akan cari. Satwa ini dianggap memiliki kemampuan mengadobsi, hingga berbahaya bagi masyarakat sekitar. Pemburu juga makin mudah menjalankan aksi.”

Lokasi jerat harimau, lima jam dari desa terdekat. “Jadi kami sarankan satu bulan kedepan, paling lama, anak harimau sudah dilepasliarkan di lokasi semula. Caranya bisa masukkan kandang kayu yang mudah dihancurkan induk jika bertemu anak. Untuk pemantauan, juga dipasang camera trap, hingga bisa mempelajari kehidupan mereka. Kami siap bantu BKSDA. ”

Fitri Noor CH, Fungsional PEH, BBKSDA Sumut, malah berkata lain. Dia bilang anak harimau rentan lepasliar usia setahun. Anak harimau belum mampu bersaing mencari makan dan bertahan di alam. Kalau dipaksakan, katanya, malah membahayakan harimau. Menurut dia, lebih bagus dahulu, hingga usia tiga tahun atau sudah siap kawin, baru lepasliar di hutan Barumun.

Saat ini, BBKSDA Sumut mempersiapkan hutan Barumun menjadi pengembangbiakan harimau Sumatera. Bentuknya tak dikandangkan seperti kebun binatang. Ia persis alam liar tetapi ada batas pengawasan. Terlebih harimau ini betina, jadi ada peluang dikawinkan berkembangbiak.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , ,