, ,

Begini Nasib Orang Rimba Pasca Terusir dari Kebun Sawit

Awal Juni 2016, terjadi penyerangan dan penganiayaan kepada Orang Rimba, oleh satpam maupun karyawan PT. Bahana Karya Semesta (BKS) Devisi VI di Kecamatan Pauh, Sarolangun, Jambi. Kini, Orang Rimba, mengungsi, dan tanpa tahu entah mau kemana.

Mereka mengungsi karena salah satu isi perjanjian sepihak melibatkan Jenang yang mengaku perwakilan Orang Rimba menyetujui poin pelarangan Orang Rimba kembali membangun pemukiman di perkebunan maupun mengambil brondolan sawit untuk selamanya.

Sebanyak 150 orang kelompok Temenggung Menyurau mengungsi di rumah singgah Warsi di Terab dan tak tahu entah mau ke mana.

Menti Ngelambo, mengatakan, meraka tak menerima isi perjanjian damai melalui kesepakatan adat yang tak melibatkan Orang Rimba. Terutama poin terakhir, mengharuskan mereka pergi dari areal perusahaan. “Kami bolum setuju pado hasil kesepakatan iyoy, kerno kami hopi diajak berunding. Cuman tiba-tiba dibori surat nio (kesepakatan),” katanya.

Jarak antara tempat pengungsian dan lokasi kejadian sekitar 10 kilometer. Mereka akan bertahan di pengungsian sampai ada penyelesaian adat ulang melibatkan mereka dalam musyawarah. “Tergantung kemauan perusahaan kapan musyawarah adat akan dgelar kembali. Kami meminta secepatnya, karena anak-anak dan perempuan masih trauma. Ada sebagian memilih ke Bukit Dua Belas karena jauh dari lokasi,” kata Ngelambo.

Kelompok Melimun, sebanyak lima bubung (keluarga) memilih mengungsi ke Selentik, Lubuk Jering. Temenggung Melimun menyebutkan alasan mengungsi ke daerah itu karena jauh dari konsesi perusahaan. “Kami merasa aman, kalau jauh dari perusahaan. Anak-anak dan perempuan semua ketakutan,” katanya.

Selama di pengungsian, Orang Rimba mendapatkan makanan sehari-hari dari lembaga pendamping KKI Warsi. “Kalau terlalu lama di sini, bagaimana kami mau mencari makan,” kata Ngelambo.

Barang-barang Orang Rimba yang tersisa di sudungan mereka yang tertinggal. Foto: Dok Warsi
Barang-barang Orang Rimba yang tersisa di sudungan mereka yang tertinggal. Foto: Dok Warsi

Warsi layangkan surat ke Komnas HAM

Manajer Program Pemberdayaan Warsi Robert Aritonang mengatakan sudah melayangkan surat ke Komnas HAM untuk penyelidikan mendalam terkait dugaan pelanggaran HAM oleh perusahaan.

Warsi, katanya,  sebagai pendamping Orang Rimba memohon Komnas HAM menyelidiki dugaan pelanggaran HAM BKS terhadap Orang Rimba. “Kami mengharapkan prioritas dan dorongan kuat negara melindungi hak hidup warga yang sangat rentan seperti Orang Rimba di Jambi. Kami bersedia membantu Komnas HAM dalam penyelidikan kasus pembakaran dan penganiayaan ini”,katanya melalui surat tertulis kepada ke Komnas HAM.

Dampak pembakaran rumah dan harta benda serta penganiayaan menyebabkan trauma mendalam bagi Orang Rimba.  Warsi meminta perusahaan secepatnya musyawarah adat kembali melibatkan Orang Rimba.

Pada 1 Juni lalu, satpam dibantu karyawan BKS, anak usaha Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART) Tbk,   melakukan penyerangan hingga dua Orang Rimba luka-luka ditusuk menggunakan senjata tajam dan dirawat di rumah sakit Sarolangun. Hunian terpal, kendaraan dan bungkusan pakaian Orang Rimba juga dibakar.

Bekas pondok Orang Rimba yang terbakar, menimbulkan trauma bagi Orang Rimba terutama anak dan perempuan. Foto: Dok Warsi
Bekas pondok Orang Rimba yang terbakar, menimbulkan trauma bagi Orang Rimba terutama anak dan perempuan. Foto: Dok Warsi
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , ,