, ,

Kompetisi Mencari Cara Penerapan Sawit Berkelanjutan buat Petani Swadaya, Apakah Itu ?

Pemerintah berencana mengeluarkan kebijakan moratorium sawit. Penerapan kebijakan ini menjadi momentum optimalisasi pemanfaatan lahan sawit. Guna menjawab tantangan itu, Serikat Petani Kelapa Sawit, Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) menyelenggarakan Sawit Challenge. Kata sawit disini kepanjangan darismallholder advancing with innovation and technology.

Kegiatan yang didukung U.S Agency for International Development (USAID) ini akan menghimpun inovasi sawit berkelanjutan, dengan target petani swadaya.

SAWIT Challenge ini sebuah kompetisi mengajak industri, organisasi, individu baik ilmu pengetahuan, wirusaha, keuangan hingga mahasiswa untuk berkarya dan berinovasi hingga bisa membantu petani kecil menghasilkan sawit berkelanjutan. “Dengan keuntungan jangka panjang dan kompetitif di pasar global serta meningkatkan kesejahteraan daerah,” kata Patrick Wilson, Deputy Mission Director, USAID Indonesia, di Jakarta, pekan lalu.

Dia mengatakan, upaya ini sebagai satu langkah menata kembali tata nilai bisnis sawit dalam negeri. Inovasi ini, katanya, diharapkan berdasarkan pengetahuan konteks masyarakat lokal.

Hasil kompetisi ini, katanya, diharapkan bisa mengurangi hambatan yang berlangsung selama ini, misal, akses keuangan, pengetahuan masyarakat minim baik soal kualitas bibit, pupuk, tenaga kerja dan teknologi. “Pemerintah harus hadir,” kata Enda Ginting, Asisten Deputi USAID Indonesia.

Tantangan dan hambatan inilah, katanya, yang menjadi ide bagi inovator dalam membantu petani kecil.

Mansuetus Darto, Koordinator SPKS menyebutkan, petani sulit mendapatkan sertifikat tanah hingga terhambat kebijakan perbankan. Begitu juga, banyak petani sawit tak memiliki hak sah atas hasil produksi.

Petani, katanya, sering terbentur persyaratan berkelanjutan kala menjual hasil panen ke perusahaan. Lewat SAWIT Challenge, katanya, harus ada solusi agar petani kecil mampu menunjukkan bukti produksi tanpa pengundulan tanah. Akses pasar, kata Darto, juga tantangan lain. ”Sekitar 30-40% panen petani lebih rendah dari perkebunan swasta dan pemerintah.”

Akses informasi juga hal penting dalam mendorong optimalisasi lahan masyarakat, seperti terkait harga, bibit, pupuk dengan real time dan dapat diakses petani sampai desa.

Darto mencontohkan, dalam memberikan informasi kepada petani juga tantangan. ”Kami biasa dengan video, mereka akan tertarik dengan audio dan visual,” katanya.

Adapun, tenggat waktu SAWIT Challenge pada 20 Juli 2016. Setelah mendapatkan 10 besar inovator terbaik akan dikirim ke lokasi Inovation Marketplace di Indonesia. Ide ini, katanya, akan presentasi di depan investor dan stakeholder untuk implementasi jangka panjang.

”Mereka akan mempromosikan solusi pada perusahaan, LSM, inovator lain dan jejaring lebih luas,” kata Darsono Hartono, Perwakilan SAWIT Challenge.

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , , ,