Merananya Kondisi Hutan Desa Kalawa Pasca Kebakaran Lahan dan Hutan Hebat di Kalteng


Kapal kayu bermotor atau cess biasa orang lokal menyebutnya, bergerak perlahan menyusuri aliran Sungai Kahayan yang lebar. Sesekali terlihat beberapa cess yang digunakan oleh warga lain saling hilir mudik. Cess yang kami tumpangi berbelok memasuki aliran sungai kecil. Pepohonan mulai tampak berdiri kokoh, tanda akan masuk ke Hutan Desa Kalawa.

Luas hutan desa tersebut 16 ribu hektar. Ia melingkupi wilayah tiga desa dan satu Kelurahan. Diantaranya Kelurahan Kalawa, Desa Gohong, Buntoi dan Mantaren I di Kecamatan Kahayan Hulu, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng. Keberadaan hutan desa ini penting karena menjadi batas (buffer zone) TN Sebangau yang dipisahkan oleh kanal primer blok C eks proyek PLG (Proyek Pertanian Lahan Gambut) satu juta hektar peninggalan Orde Baru yang gagal.

Namun vegetasi yang rapat tersebut tak berlangsung lama. Setibanya kami di aliran kanal primer blok C eks PLG, kerusakan hutan tampak jelas terlihat. Pohon-pohon mati tak berdaun tersebar di sepanjang aliran kanal.

Pun batang-batang pohon berwarna hitam, tanda habis terbakar, berserakan. Nyaris seperti hutan mati. Meski di beberapa bagian, beberapa pohon sudah mulai tumbuh kembali. Namun tetap saja kerusakan hutan lebih mendominasi pandangan mata. Situasi pada bulan Juni 2016 ini, kontras dengan kondisi hutan Desa Kalawa, tahun 2013 lalu. Kala itu, kondisi hutan masih terjaga dengan baik.

“Dulu di belakang kita ini banyak pohon besar. Sekarang bisa dilihat sendiri, pohon sudah habis terbakar. Memang pernah terbakar tahun 2007 lalu, tapi tak terlalu parah.  Tahun 2015 kebakarannya parah.  Hampir merata,” jelas Andos, perwakilan Badan Perwakilan Desa (BPD) Gohong yang ikut serta dalam rombongan.

Lebih lanjut Andos menyebutkan warga tak bisa berbuat banyak karena lokasi kebakaran sulit dijangkau. Kanal yang digunakan menuju hutan desa pun alirannya kering. Sehingga warga tak bisa masuk ke areal yang terbakar. Sementara jika memaksakan untuk berjalan kaki menuju lokasi terbakar pun juga tak memungkinkan. Sebab lokasinya sangat jauh. Ditambah waktu itu kabut asap terasa sangat pekat.

Yanto Adam, Kepala Desa Gohong mengatakan, pihaknya telah membuat dua sekat kanal di aliran Sungai Hantupa pada awal bulan Mei.   Satu sekat kanal permanen, satu lagi sekat spill way. Pembuatan sekat kanal dibantu oleh Pokker SHK (Kelompok Kerja Sistem Hutan Kerakyatan), LSM yang peduli dengan pengelolaan hutan kemasyarakatan.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam menjaga hutan desa, katanya karena wilayah dekat hutan desa merupakan daerah open access. Banyak orang luar masuk mengambil kayu, atau bahkan berburu trenggiling. Biasanya orang dari luar desa menggunakan kanal primer eks PLG untuk masuk ke hutan desa. Dia mengaku pihaknya tetap menjalankan patroli hutan.

“Ilegal logging, pencurian satwa liar masih ada.  Kemarin ada yang tertangkap bawa 80 ekor trenggiling.  Itu baru yang ketahuan. Belum lagi yang tak ketahuan,” katanya.

Tabat desain spillway (buka tutup) yang dibuat untuk pengaturan tata air di lahan gambut. Gambar diambil di lokasi penelitian CIMTROP-Unpar. Foto: Ridzki R. Sigit

Perlu Pengaturan Hidrologis di Lahan Gambut

Oeban Hadjo, Direktur Eksekutif Pokker SHK saat dijumpai menyebutkan tahun 2014 hutan desa Kalawa juga terbakar tapi tak separah tahun 2015. El Nino membuat kebakaran hutan di tahun 2015 menjadi sangat parah. 

Menurutnya, saat pihaknya melakuan pemetaan lahan yang terbakar pada bulan April lalu, total keseluruhan kebakaran cukup besar. Lebih 22 ribu hektar lahan terbakar di empat desa, dengan luas hutan desa yang terbakar sekitar 6.800 hektar atau 42 persen dari luas hutan desa yang ada.

Selain itu, Desa Garung yang lokasinya dekat dengan hutan desa Kalawa juga habis terbakar. Total 3.576,8 hektar lahan desa itu terbakar, terdiri dari 902 hektar kebun masyarakat, 430 hektar hutan sekunder dan 2.244,8 hektar hutan lindung.

“Penyebab kebakaran pastinya kami tidak ketahui.  Api dari mana kita juga tak tahu, tapi disana itu banyak orang yang datang mencari ikan. Mungkin mereka membuat pondok, atau buang puntung rokok.  Kemungkinan juga berasal dari perburuan liar trenggiling.  Kalau hutan terbakar, trenggiling akan keluar dan gampang untuk dipukul. Sudah bisa ditangkap.  Api dari tenggara pasti terus merembet, angin ke utara terus,” katanya. 

“Pasca kebakaran, kami keliling melakukan diskusi dengan kepala handil  dan masyarakat yang terkena dampak akibat kebakaran. Sekarang yang tersisa tinggal kebun-kebun tua.  Yang ditanam di tahun 2008-2009 habis. Tanaman karet dan kayu lain juga habis.”

Kerusakan ekosistem di areal hutan desa menurutnya tak bisa dilepaskan dari dampak proyek PLG satu juta hektar. Seandainya tutupan hutan masih terjaga dan ekosistem gambut tak rusak seperti sekarang, tentu kebakaran tak akan terjadi.

Peta Kedalaman Gambut Kawasan Gambut.  Sumber: Rencana Induk Rehabilitasi dan Revitalisasi Kawasan Eks Proyek PLG Kalteng. Bapenas 2009. Klik pada gambar untuk memperbesar.

Menurutnya fokus prioritas adalah melakukan perbaikan hidrologi di blok C eks PLG. Selain pembuatan tabat di kanal primer, maka di areal hutan desa Kalawa, setidaknya dibutuhkan penabatan setidaknya di 30 handil (sungai kecil). Tabat kanal, selain berfungsi untuk membasahi kembali lahan gambut, nantinya bisa digunakan sebagai embung untuk cadangan air kala musim kemarau tiba, atau dimanfaatkan warga lokal untuk kolam ikan. Bagi Oeban, perencanaan antisipasi kebakaran penting, setidaknya hal itu bisa dilakukan hingga akhir tahun ini.

Saat ini memang belum dilakukan penanaman kembali di lokasi hutan yang terbakar. Oeban mengatakan, prinsip di gambut sebenarnya meskipun dibiarkan pun, dia akan tumbuh sendiri. Meski akan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa menghutankan kembali areal tersebut.

“Sangat percuma jika sekarang kita melakukan proses penanaman [kalau nanti kebakar lagi].  Yang harus dilakukan adalah perbaikan saluran hidrologis di handil dan kanal-kanal.  Salah satunya adalah dengan melakukan tabat, agar debit air bisa dikontrol. Jadi meggunakan sistem spill way,”ujarnya.

Demikian pula, menurutnya, sebagai antisipasi kebakaran penting melakukan pembuatan sumur bor yang dipadukan dengan lokasi demplot-demplot bibit. “Pelatihan pembuatan sumur bor sebenarnya sudah diselenggarakan oleh BRG (Badan Restorasi Gambut),” ujarnya.

Oeban pun menyebutkan pentingnya peran dari Pemerintah. Bukan hanya dalam memperbaiki ekosistem di hutan Desa Kalawa saja, namun dalam kesatuan ekologi di lahan gambut. Khususnya untuk melakukan perbaikan hidrologi di blok C eks PLG.

“Perbaikan hidrologis perlu dilakukan bersama-sama pemerintah. Kami sudah ada rencana program sosialisasi bersama BRG. Juga di anggota handil perlu persiapan juga, pelatihan penanganan kebakaran, termasuk antisipasi dimana tabat, dimana sumur bor, titik rawan kebakaran dan juga antisipasi kebakaran yang terjadi,” tandasnya.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , ,