Perbincangan Tentang Kemacetan Kota Bandung. Apa Solusinya?

Permasalahan kemacetan seperti sesuatu yang sudah melekat bagi penduduk di perkotaan. Kerugian dari segi waktu tentu telah menjadi risiko. Dampak lainnya adalah pemborosan energi, polusi udara, tingkat stres bertambah dan terganggunya sejumlah fasilitas publik.

Transportasi memang menjadi hal penting dalam perkembangan sebuah kota. Apalagi Kota Bandung yang merupakan ibukota Jawa Barat. Menurut data Badan Pusat Statistik Kota Bandung, pada tahun 2011 jumlah penduduk kota kembang tersebut sekitar  2.424.957 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1.01%/tahun. Ditambah kepadatan penduduk mencapai 14.429 jiwa/ kilometer persegi.

Berdasarkan data yang dihimpun Mongabay, Kota Bandung kualitas udaranya saat ini sudah sangat mengkhawatirkan, lebih dari 70 % udara tercemar emisi polusi industri, gas buang kendaraan bermotor dan lain sebagainya. Efek dari emisi gas buang kendaraan dapat membahayakan kesehatan dan juga merusak lingkungan.

Saat ini, setidaknya ada sekitar 1,25 juta kendaraan bermotor yang setiap harinya lalu – lalang di Kota Bandung, yang kurang lebih terdiri dari 900 ribuan motor dan 300 ribuan mobil pribadi.

Kecenderungan laju pertumbuhan kendaraan lebih cepat ketimbang pertumbuhan jalan. Panjang jalan di Kota Bandung sekitar 1.236,48 kilometer. Jelas saja bila dengan jumlah kendaraan sebanyak itu sering terjadi kemacetan di hampir semua titik jalan. Untuk lahan parkir resmi tersedia di 400 ruas jalan dan 100 di gedung.

Kepala bidang Lalu Lintas dan Parkir Dinas Perhubungan Kota Bandung, Agung Purnomo,melalui stafnya Santi Prianti, mengungkapkan volume kendaraan pribadi masih mendominasi jalanan di kota Bandung yang mencapai 80% dan tranportrasi umum hanya 20%.

“Kota Bandung memiliki magnet tersendiri. Banyak warga kota lain yang bekerja di Bandung. Ditambah dengan Bandung sebagai tujuan destinasi wisata, penumpukan jumlah kendaraan bertambah setiap akhir pekan,” kata Santi saat ditemui di kantor Dishub, Jalan Soekarno Hatta No.205, Kota Bandung, Jumat (02/12/2016).

Sejumlah orang berkumpul dan bermain di Taman Alun-Alun, Bandung, Jawa Barat. Keberadaan ruang publik yang dibuat oleh Pemkot Bandung menjadi daya tarik tersendiri bagi warga mengunjungi taman tersebut. Meskipun taman tersebut berlapis rumput sintesis. Foto : Donny Iqbal
Sejumlah orang berkumpul dan bermain di Taman Alun-Alun, Bandung, Jawa Barat. Keberadaan ruang publik yang dibuat oleh Pemkot Bandung menjadi daya tarik tersendiri bagi warga mengunjungi taman tersebut. Meskipun taman tersebut berlapis rumput sintesis. Foto : Donny Iqbal

Santi menerangkan, Peraturan Walikota (Perwal) No.1175 tahun 2015, mengatur rencana induk transportasi Kota Bandung. Dalam Perwal tersebut memuat tata kelola rute serta perencanaan sistem transportasiyang didalamnya ada sistem berbasis angkutan jalan, berbasis rel, areal trafik dan menjemen parkir.

Pemerintah Kota Bandung telah merencanakan transportasi massal berupa cabel car, metro kapsul dan yang baru dilelang adalah proyek pembangunan sarana Light Rail Transit (LRT).

Dia menuturkan, didalam masterplan LRT, rencananya akan dibuka 12 jalur. Namun, baru 2 koridor yang baru telah memenuhi prastudi kelayakan. Rute koridor pertama adalah Babakan Siliwangi – Leuwipanjang dengan jarak 10 kilometer dan rute kedua Cimindi – Gedebage dengan jarak 20 km.

“Harapan kami di tahun 2017 mendatang sudah mulai tahap implementasi pembangunan. Untuk mengurai kemacetan transportasi massal perlu terintegrasi dengan seluruh jaringan. Kalau baru satu rute masih kurang signifikan, tapi kalau rutenya sudah lebih dari satu baru akan mulai terasa,” paparnya.

Pengembangan proyek transportasi massal berbasis rel, sambung santi, memerlukan dana yang tidak sedikit. Anggaran untuk penyediaan insfrakstruktur dan pembangunan prasarana tidak mencukupi bila hanya mengandalkan dari APBD. Oleh karena, target pembangunan LRT akan dibantu oleh APBN sesuai pepres LRT Bandung Raya.

Bandung Kota Percontohan

Mengusung jargon “Bandung Juara”, Kota Bandung dibawah kepemimpinan Ridwan Kamil, di tahun 2016 mendapat berbagai penghargaan, diantaranya Kota terbaik overall, Kota terbaik infrastruktur, Kota terbaik pariwisata, Kota terbaik investasi dan Kota terbaik ekonomi di koridor Jawa.

Selain itu Kota Bandung juga masuk kedalam 10 kota percontohan dunia oleh Unesco (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) sebagai kota yang bisa menyeimbangkan pembangunan di tiga aspek, yakni infrastruktur, budaya dan kemanusiaan.

Dikutip dari bandung.go.id, indeks Kebahagiaan Kota Bandung tahun 2015 sebesar 70,60% pada skala 0 – 100. Indeks kebahagiaan merupakan rata-rata dari angka indeks yang dimiliki oleh setiap individu di Kota Bandung pada tahun 2015. Semakin tinggi nilai indeks menunjukkan tingkat kehidupan yang semakin bahagia, demikian pula sebaliknya, semakin rendah nilai indeks maka penduduk semakin tidak bahagia.

Sejumlah orang berkumpul dan bermain di Taman Alun-Alun, Bandung, Jawa Barat. Keberadaan ruang publik yang dibuat oleh Pemkot Bandung menjadi daya tarik tersendiri bagi warga mengunjungi taman tersebut. Meskipun taman tersebut berlapis rumput sintesis. Foto : Donny Iqbal
Sejumlah orang berkumpul dan bermain di Taman Alun-Alun, Bandung, Jawa Barat. Keberadaan ruang publik yang dibuat oleh Pemkot Bandung menjadi daya tarik tersendiri bagi warga mengunjungi taman tersebut. Meskipun taman tersebut berlapis rumput sintesis. Foto : Donny Iqbal

Berbagai inovasi pun coba terus dikembangkan oleh Ridwan, salah satunya adalah merevitalisasi taman – taman yang ada di kota Bandung menjadi lebih tertata dan menarik. Taman tematik dihadirkan guna menambah ruang – ruang publik sekaligus ruang hijau bagi warga Bandung. Tetapi data dari Dinas Pertamanan Dan Pemakaman (Distamkan) Kota Bandung menunjukan Ruang Terbuka Hijau (RTH) masih berada pada angka 12,30% naik 15% dari tahun 2015.

Menurut Wahana Lingkungan Hidup Jabar, revitaslisai taman yang ada saat ini, bukan termasuk kepada kategori RTH tetapi ruang terbuka non Hijau. Karena di lapangan, taman – taman itu pohon dan tanahnya lebih sedikit, malah banyak tanah yang keras (tanah yang tidak menyerap air).

Tercatat setidaknya ada 300.000 pohon di Kota Bandung. Menurut hasil penelitian, 1 pohon menghasilkan 1,2 kg oksigen sekaligus menyerap karbondioksida (CO2) sebesar 14 kg/uahun dari polusi udara yang dihasilkan dari industri maupun kendaraan bermotor.

 

Meningkatkan Ruang Publik

Dilain waktu, perusahaan jaringan transportasi daring uber mendukung peralihan dari menggunakan kendaraan pribadi ke transportasi umum. John Colombo, Head of Policy and Government Relations Uber Indonesia, mengatakan 74,4 % dari 25,7 juta perjalanan harian di Jabodetabek dilakukan dengan kendaraan pribadi.

Pihaknya mencatat selain menimbulkan pencememaran udara,kemacetan yang ditimbulkan dari kendaraan pribadi yang masih banyak menyebabkan kerugian produktivitas senilai Rp.65 triliun/ tahun.

Uber membuat teknologi baru bernama carpooling (nebeng) atau ride sharing. Aplikasi ini dapat secara instan mencocokkan warga yang ingin melakukan perjalanan ke tujuan yang sama dalam waktu yang bersamaan. Para penumpang dapat berbagi perjalanan dan biayanya sehingga tidak melulu menggunakan kendaraan pribadi.

Selama tujuh bulan pertama di tahun 2016, secara global uberPOOL telah mengurangi emisi karbon sebanyak 55.560 ton dan menghemat bahan bakar sebanyak 23 juta liter.

“Konsep yang kami tawarkan sederhana, mengajak masyarakat untuk membayangkan kotanya banyak ruang terbuka dengan sedikit ruang parkir karena berkurangnya volume kendaraan pribadi. Padahal penggunaan mobil pribadi sendiri lebih banyak berada di garasi ketimbang di jalan,” kata Jhon.

John berujar, uber mendukung program pemerintah untuk meningkatkan minat masyarakat menggunakan kendaraan umum. Sekarang ini, di banyak kota besar, sepertiga lahan digunakan sebagai lahan parkir.

John Colombo (kiri), Head of Policy and Government Relations Uber Indonesia, bersantai di lahan parkir yang telah diubah menjadi ruang publik, di Jalan Taman Sari, Bandung, Jabar. Aplikasi ride-sharing yang diluncurkan uber untuk mengatajak masyarakat tidak melulu menggunakan kendaraan pribadi. Foto : Donny Iqbal
John Colombo (kiri), Head of Policy and Government Relations Uber Indonesia, bersantai di lahan parkir yang telah diubah menjadi ruang publik, di Jalan Taman Sari, Bandung, Jabar. Aplikasi ride-sharing yang diluncurkan uber untuk mengatajak masyarakat tidak melulu menggunakan kendaraan pribadi. Foto : Donny Iqbal

Untuk menciptakan lebih banyak ruang, sambungnya, uber meluncurkan program UberKEBUN. Tujuanya agar luasan lahan – lahan parkir bisa dikurangi dan dimanfaatkan untuk ruang publik, arti kebun sendiri adalah taman – taman pop – up.

Kemudian disetiap perjalanan menggunakan UberKEBUN, Uber menyumbangkan Rp5.000 untuk program My Baby Tree dari WWF Indonesia. Donasi tersebut akan digunakan untuk menanam pohon di wilayah-wilayah yang membutuhkan di Indonesia.

Gemar Menanam

Novi Anaktototy, Online and Fundraising Officer WWF Indonesia, mengatakan Indonesiamerupakan negara yang memiliki hutan tropis terluas ketiga di dunia. Namun, hampir setengah dari hutan Indonesia sudah terdegradasi akibat deforestasi yang marak terjadi.

Program My Baby Tree sendiri telah berjalan sejak tahun 2008 dan sudah menanam pohon di sejumlah kawasan hutan seluas 1.016,3 hektar termasuk di kawasan Muara Gembong, Jawa Barat.

“Dengan banyaknya kemitraan yang terjalin termasuk dengan uber. Semoga hutan Indonesia bisa lestari kembali seiring tumbuhnya kesadaran masyarakat. Sebab pertumbuhan penduduk serta banyaknya polusi yang mencemari udara mesti diimbangi dengan banyaknya juga pohon – pohon,” imbuhnya saat dihubungi Mongabay melalui sambungan telepon.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , ,