Kala Limbah dan Operasi Kapal Batubara PLTU Pacitan Ganggu Konservasi Penyu (Bagian 2)

Sepanjang pesisir pantai selatan Jawa dikenal menjadi habitat penyu bertelur. Mulai Pelabuhan Ratu (Sukabumi), Pantai Penyu (Cilacap), Pantai Samas (Bantul), Pantai Taman Kili-kili (Tranggalek), Pantai Taman Ria (Pacitan), Pantai Balekambang (Malang), hingga Pantai Puger (Banyuwangi).

Papang Wida Kristianto, pegiat lingkungan bermukim di Nglebeng, Panggul, Trenggalek, mengatakan, setidaknya ada dua tempat konservasi penyu di sekitar PLTU Pacitan. Di Pantai Taman Kili-kili, Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Trenggalek,  dan Pantai Taman Ria, Desa Hadiwarno, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan.

Kini laut selatan Trenggalek dan Pacitan menjadi jalur kapal tongkang pengangkut batubara untuk PLTU Pacitan.

“Aktivitas tongkang batubara mengancam lingkungan laut di Trenggalek, Pacitan dan sekitar, serta menganggu aktivitas nelayan,” katanya.

Baca juga: PLTU Pacitan Datang, Sumber Kehidupan Nelayan Teluk Kondang Nyaris Hilang (Bagian 1)

Dalam catatan dia, beberapa kali kapal tongkang terbakar, terdampar, atau tenggelam. Batubara yang diangkut lalu mencemari laut. Acap kali pula jaring nelayan tersangkut kapal-kapal itu.

Pada 2011, nelayan Prigi, Trenggalek protes karena kapal tongkang batubara merusak jaring nelayan. Pada 2014,  kapal tongkang batubara terseret ombak di Pantai Taman Kili-kili, juga di Joketro, Trenggalek.

Tahun sama, nelayan Pantai Prigi, kembali protes karena ada kapal tongkang miring. Muatan batubara mengancam mencemari lautan. Lalu 2015, kapal tongkang batubara terbakar dan terguling di Pantai Pelang, Trenggalek dan Pantai Kunir, Pacitan.

Data Profauna menyebut dari tujuh jenis penyu di dunia, enam di Indonesia. Keenam jenis itu adalah penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu pipih (Natator depressus) dan penyu tempayan (Caretta caretta). Semua penyu ini dilindungi UU.

Saya mengunjungi konservasi penyu Taman Kili-kili bersama Papang,  Jumat siang, 7 Oktober. Kantor konservasi sudah tutup. Kami ke rumah, Ari Gunawan, Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas Konservasi Penyu Taman Kili-kili.

Ada tiga jenis penyu bertelur di Pantai Taman Kili-kili. Mereka adalah penyu hijau, penyu sisik , dan penyu abu-abu. Nelayan pernah menjumpai penyu belimbing berukuran besar. Kini, tak ada lagi.

Kata Ari, musim bertelur penyu ada pada Februari dan Agustus. Puncaknya Juni hingga Juli.

“Mereka bertelur di sepanjang Pantai Kili-kili. Saat air pasang, banyak penyu yang naik untuk bertelur. Kalau siang air laut pasang, saya pastikan malam ada penyu naik,” ucap Ari.

Batubara untuk PLTU Pacitan dari Kalimantan dan Sumatera. Batubara diangkut ke Jawa dengan kapal tongkang melewati rute Kalimantan atau Sumatera. Lalu menuju laut Jawa, ke timur, melewati selat Bali, menuju samudera Indonesia.

Kapal selanjutnya menyusuri laut pesisir selatan Jawa, antara lain memasuki Trenggalek,  sebelum sampai Pacitan.

Konservasi Penyu Taman Ria. Foto: Nuswantoro
Konservasi Penyu Taman Ria. Foto: Nuswantoro

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebutkan, mencukupi kebutuhan batubara 2,3 juta ton per tahun bagi PLTU Pacitan, setidaknya ada 20-30 trip kapal tongkang sebulan.

Kapal tongkang berkapasitas 12.000 DWT (Dead Weight Ton), dengan kapal penarik (vessel) berkapasitas 20 DWT.  Kapal itu lalu lalang di area penyu yang akan naik ke pantai pesisir selatan Pacitan dan Trenggalek.

“Saat banyak tongkang batubara sandar di sekitar Pantai Kili-kili pengaruh besar. Penyu naik sedikit.”

Membandingkan data tahun lalu dan sekarang, pada 2015 jumlah penyu bertelur sekitar 20 di Pantai Taman Kili-kili. Pada 2016, penyu naik hampir 60. Tahun 2016, tukik dilepas 1.500, tahun lalu hanya 600.

“Tahun lalu sekitar Pantai Kili-kili masih dipakai kapal tongkang batubara untuk buang anchor,” kata Papang.

Akibatnya, jumlah naik bertelur di pantai sedikit. Saat itu, bahkan menganggu aktivitas nelayan, karena menutup jalan perahu nelayan melaut. Karena mengganggu nelayan, kapal tongkang sempat dilarang di Pantai Prigi.

Gangguan atas konservasi penyu Taman Kili-kili, bukan hanya dari hilir mudik kapal tongkang, pengangkut batubara untuk suplai PLTU juga limbah dan tumpahan batubara.

Seperti kejadian Januari 2015, sebuah kapal tongkang bermuatan 9.000 ton batubara terbakar dan terguling di Pantai Pelang kala akan mengirim batubara ke PLTU Pacitan.

Tumpahan lalu mencemari lautan. Jarak Pantai Pelang ke Pantai Taman Kili-kili sekitar 1,5 kilometer.

“Tukik kita mati banyak. Itu luar biasa. Karena kita masih pakai air laut ya. Pernah diuji di laboratorium Universitas Brawijaya, Malang. Memang air laut tercemar,” kata Ari. Kala itu, ada mahasiswa Universitas Brawijaya, magang di konservasi penyu Taman Kili-kili melakukan uji laboratorium.

Kawasan konservasi yang dibangun sejak 2012 ini sekitar sembilan kilometer dari PLTU Pacitan, arah barat.

Saya menemui Yanto, pengurus konservasi penyu di Pantai Taman Ria, Pacitan. Ratusan tukik tengah dipisahkan satu persatu, sebelum dilepasliarkan ke laut. Ada bak berpasir tempat telur penyu menetas, ada pula bak dihuni dua penyu.

“Yang ini punggung pecah terkena baling-baling,” katanya. Tak sampai hati, saya urung mengambil gambar penyu dengan cangkang koyak itu.

PT Pembangkit Jawa Bali Unit Bisnis Jasa Operation & Maintenance, pengelola PLTU Pacitan pernah bekerjasama dengan konservasi pantai Taman Ria melepasliarkan penyu, seperti Agustus 2016, sekitar 800 tukik dilepas ke laut.

pltu-pacitan2-yanto-memunguti-tukik-di-konservasi-penyu-pantai-taman-ria-pacitanYanto memunguti tukik di konservasi penyu Pantai Taman Ria. Foto: Nuswantoro

***

Wuwu itu tampak kusam dan berdebu. Panjang sekitar satu meter, terbuat dari anyaman bambu. Bentuk mirip alat musik perkusi, djembe dengan tengah berlubang.  Ini alat pencari ikan yang biasa dipakai Jemingan,  warga Sumberejo, Pacitan, Jawa Tengah.

Kini, wuwu sudah lama menganggur. Begitupun jaring ikan, yang teronggok di pojok ruangan.

Jemingan seorang petani. Dulu, kala senggang, dia sering mencari ikan dan udang di Sungai Bawur. Sejak ada PLTU, tidak lagi.

“Kalau mau cari lauk buat makan ya ke sungai, menjala ikan atau udang,” katanya. “Sekarang belanja ke warung.” Belanja ke warung, berarti pengeluaran tambahan bagi keluarga dia.

Sungai Bawur, mengalir dari utara, meliuk-liuk hingga bermuara di Teluk Kondang,  bagian selatan. Sebagian orang menyebut Teluk Bawur.

Sungai melewati Sukorejo, Bonjong, Kedung Pring, dan Bawur. Saat kemarau air sungai surut, kadang kering. Kala hujan, sungai penuh air, jika laut pasang permukaan air Sungai Bawur naik.

Dulu mudah bagi Jemingan, dan warga sekitar Sungai Bawur mendapat impun dan umung. Kini ikan-ikan pergi dari sungai.

Impun adalah anak ikan. Kecil seperti teri, sering bergerombol. Di banyak tempat impun berharga mahal. Impun banyak di muara dan sungai dekat laut. Sedang umung adalah udang kecil, juga banyak di sungai atau muara.

Wuwu milih Jemingan, yang kini sudah tak terpakai lagi setelah ikan-ikan kecil di sungai menghilang. Foto: Nuswantoro
Wuwu milih Jemingan, yang kini sudah tak terpakai lagi setelah ikan-ikan kecil di sungai menghilang. Foto: Nuswantoro

Saya bertemu Kadeni saat mendekat ke PLTU dari arah muara. Dia baru pulang menengok sawah. Katanya, ikan laut yang bertelur di sungai tak berani naik lagi.

“Ikan ke sungai waktu air pasang. Sekarang sudah tidak ada. Tidak berani. Impun tidak ada. Lele juga hilang,” katanya.

Kadeni juga bercerita tentang apa yang dilihat dengan polusi dari PLTU Pacitan.

“Di bukit sebelah sana itu seperti kabut.” “Setiap hari. Kalau langit terang nanti kelihatan. Beberapa hari lalu sampai tower di sana itu tidak kelihatan.”

Saat saya ke sana, cuaca mendung, sesekali hujan rintik.

Dia menunjuk ke tower Saluran Udara Tegangan Tinggi (Sutet) di atas bukit. Posisi lebih tinggi dari bangunan PLTU. Kawat-kawat listrik tegangan tinggi menggelantung dari arah pembangkit menuju puncak bukit. Tersambung sepanjang 35,65 kilometer menuju Gardu Induk Pacitan Baru, dan 84,8 kilometer menuju Gardu Induk Wonogiri.

Polusi yang menyerupai kabut seperti diceritakan Kadeni itu bukan keluar dari cerobong, tetapi dari arah bawah. Dekat pembuangan sisa batubara yang dibakar. Warna kecoklatan. Katanya, debu itu mudah larut saat diguyur hujan.

“Tidak berpengaruh ke tanaman?” pancing saya.

“Ke tanaman, ke lingkungan jelas berpengaruh. Tapi bagaimana ya, orang sini hanya sabar,” katanya.

Sesabar-sabarnya warga, ada batas juga. Belakangan, pada pertengahan Oktober, sejumlah warga mengadukan polusi PLTU Pacitan, hingga berlanjut pertemuan di Kantor Desa Sumberejo. (Bersambung)

PLTU Pacitan tampak dari kejauhan. Foto: Nuswantoro
PLTU Pacitan tampak dari kejauhan. Foto: Nuswantoro
Jaring ikan Jemingan, yang kini banyak nganggur setelah ikan-ikan dan udang kecil di sungai berkurang drastis setelah ada PLTU. Foto: Nuswantoro
Jaring ikan Jemingan, yang kini banyak nganggur setelah ikan-ikan dan udang kecil di sungai berkurang drastis setelah ada PLTU. Foto: Nuswantoro
(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , , , , , ,