Belajar dari Pearlie, Paus Sperma Kerdil Betina yang Mati Terluka

Dwarf sperm whale atau paus sperma kerdil betina ini terlihat mirip dengan gambar karakter Pearl, anak perempuan Tuan Crabs di serial kartun Spongebob. Kepalanya besar dengan mulut kecil. Gigi-giginya juga kecil tapi tajam.

Mata Pearlie, sebut saja demikian, masih terbuka saat menyerah dan mati usai ditemukan terdampar di perairan Pantai Matahari Terbit, Sanur pada Senin (23/1) pagi 09.30 WITA. Paus remaja bermata sayu ini sempat berusaha dipulihkan di sebuah keramba tengah laut.

Sekitar 10.45 WITA dievakuasi dari pantai setelah tak berhasil dikembalikan ke laut oleh sejumlah penjaga pantai. Tubuhnya penuh luka dan goretan. Beberapa luka dalam seperti gigitan hiu. Dalam perjalanan menuju lokasi rehabilitasi yang berjarak sekitar 5 km, paus ini disebut mengeluarkan cairan coklat kemerahan dari anus dan alat kelamin. Pearlie berukuran panjang 2,25 meter ini hanya bertahan sekitar 15 menit di keramba milik Akame di Pantai Mertasari, Sanur.

Namun kematiannya meninggalkan pengetahuan. Dari proses morfometrik, pengukuran tiap detail bagian tubuhnya, calon ilmuwan menambah perspektif bagaimana megafauna ini hidup di lautan. Setelah morfometrik, Pearlie juga dinekropsi untuk berusaha mengidentifikasi kemungkinan penyebab kematiannya dari perubahan organ dalam.

Sejumlah mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana juga mendapat pengalaman mengamati paus dan memeriksa sampelnya. Mereka bekerja sama menggotong tubuh Pearlie dari kendaraan ke ruang laboratorium patologi. Diperlukan enam orang untuk mengangkat sampai ke meja pemeriksaan.

Bagian dokumentasi memotret dan merekam sebagian prosesnya. Nekropsi dipimpin Maulid Dio Suhendro, dokter hewan yang kini kuliah S2 Fakultas Kedokteran Hewan di Universitas Udayana.

Diawali dengan melakukan morfometri atau pengukuran, setidaknya ada 20 jenis pertanyaaan yang harus dijawab dengan mengukur tiap detail bagian tubuh Pearlie. Misal panjang dari moncong ke ujung ekor, panjang moncong ke mata, ke telinga, lebar dorsal sirip, panjang dari ujung ekor ke pusar, dan lainnya. Proses ini sampai satu jam.

Dio, dokter hewan sedang memimpin identifikasi dan nekropsi untuk mencatat detail ukuran dan menganalisis penyebab kematian paus sperma kerdil yang terdampar dan mati di perairan Pantai Matahari Terbit, Sanur pada Senin (23/01/2017). Foto Luh De Suriyani
Dio, dokter hewan sedang memimpin identifikasi dan nekropsi untuk mencatat detail ukuran dan menganalisis penyebab kematian paus sperma kerdil yang terdampar dan mati di perairan Pantai Matahari Terbit, Sanur pada Senin (23/01/2017). Foto Luh De Suriyani

Dio membuka laptopnya untuk lebih detail bisa memastikan tahapan, prosedur, dan mempelajari karakteristik Pearlie sekaligus memandu adik-adik kelasnya. Hal yang menarik misalnya bagaimana sejumlah mahasiswa berusaha mengecek jenis kelamin paus ini. Mereka harus meraba ke dalam urogenital dan menebak-nebak sebelum disepakati.

Urogenital adalah suatu sistem organ dalam tubuh yang berkaitan dengan sistem urin/kencing dan sistem genital/reproduksi. Organ urogenital mamalia jantan dapat dilihat secara langsung. Tapi pada kelompok cetacea  (paus dan lumba-lumba) alat kelamin berada di dalam tubuhnya.

Demikian juga ketika ada mahasiswa mencari telinga. Perlu beberapa menit sampai menemukan titik kecil dekat mata.

“Kalau paus sudah terluka pasti balik, jika dikembalikan ke laut kurang tepat juga saat terluka. Rehab dulu sampai kembali fungsi normalnya,” ujar Dio. Gigitan di sejumlah tubuh Pearlie diduganya dari jenis cookie cutter shark. Ada juga gesekan koral, karang dan lainnya yang memperparah kondisinya. Pearlie dikubur di Turtle Conservation and Education Center (TCEC) Serangan, tempat Dio dan sejumlah rekannya merawat penyu-penyu.

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana turut melakukan nekropsi untuk mempelajari dan mendapat pengetahuan dari Pearlie, paus sperma kerdil yang terdampar dan mati di perairan Pantai Matahari Terbit, Sanur pada Senin (23/01/2017). Foto Luh De Suriyani
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana turut melakukan nekropsi untuk mempelajari dan mendapat pengetahuan dari Pearlie, paus sperma kerdil yang terdampar dan mati di perairan Pantai Matahari Terbit, Sanur pada Senin (23/01/2017). Foto Luh De Suriyani

Menurut data Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar, paus ini masuk famili Kogidae,  spesies Kogia Sima. Pada tahun 2015, paus jenis ini pernah terdampar sebanyak 3 ekor di perairan dangkal sekitar jalan tol Tanjung Benoa. Habitat diketahui di seluruh dunia dengan kondisi perairan tropis.

Pekan lalu, di Lombok Timur ada 2 paus ditemukan mati dan terdampar di pesisir Lombok Timur. Pada 12 Januari seekor paus sperma dan pada 16 Januari paus biru.

Putu Liza, seorang peneliti paus dan lumba-lumba dari Bali yang sekolah dan mukim di Australia, melalui blognya, putuliza.blogspot.co.id menyebutkan penyebab patologis perlu dibuktikan dengan nekropsi. Misal, studi analisisnya adalah peristiwa 48 paus pemandu sirip pendek (Globicephala macrorhynchus) yang terdampar di Pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur pada Oktober 2012. Sebagian besar mati.

Nekropsi di bagian kepala dan telinga dapat melihat indikasi perdarahan dalam (haemorrhage) akibat sonar atau kegiatan seismik (Cox et al. 2006; Yang et al. 2008) dan kemungkinan parasit (Morimitsu et al. 1987). Nekropsi di bagian pencernaan dapat mengungkapkan adanya benda asing (seperti sampah plastik). Nekropsi organ dalam lain seperti ginjal, hati dan kelenjar limfatik dapat mengungkapkan emboli akut (acute embolism) yang bisa menjadi indikasi dampak kegiatan seismic atau sonar (Jepson et al. 2003).

Paus ini roman mukanya mirip karakter kartun Spongebob bernama Pearl, si paus sperma remaja betina anak Tuan Crabs. Paus sperma kerdil ini terdampar dan mati di perairan Pantai Matahari Terbit, Sanur pada Senin (23/01/2017). Foto Luh De Suriyani
Paus ini roman mukanya mirip karakter kartun Spongebob bernama Pearl, si paus sperma remaja betina anak Tuan Crabs. Paus sperma kerdil ini terdampar dan mati di perairan Pantai Matahari Terbit, Sanur pada Senin (23/01/2017). Foto Luh De Suriyani

Perempuan peneliti wisata bahari ini menyebut beberapa sebab patologis (seperti benda asing dan parasit) hanya akan mempengaruhi beberapa ekor paus pemandu dalam satu kelompok, tidak seluruh kawanan. Namun karena paus pemandu (seperti halnya paus bergigi, Odontocetes) biasa bergerombol, maka jika satu hewan sakit dan terdampar (terutama pimpinannya), maka yang lain pun juga terdampar.

Namun demikian, perdarahan internal atau emboli akut dapat disebabkan oleh sonar buatan manusia, sehingga mempengaruhi lebih banyak hewan di dalam kawanan. Gempa bumi dapat juga menyebabkan paus disorientasi dan terdampar (Kirschvink 2000).

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , ,