Forensik Ala Detektif akan Dilakukan untuk Perangi Perburuan Badak di India

 

 

Hanya diperlukan sampel cula badak 20 miligram untuk dapat menuntut pemburu badak. Sampel cula badak tersebut digunakan untuk mengintentifikasi pola DNA badak yang unik, semacam sidik jari. Tujuannya, mengejar penjahat yang terlibat dalam perburuan dan perdagangan cula badak.

Teknik ini mirip dengan forensik yang dilakukan detektif di serial televisi. Pola ini dikembangkan dan diimplementasikan oleh para peneliti di Afrika Selatan, yang dalam waktu dekat akan digunakan di India, yaitu negara bagian Assam sebagai yang pertama melakukannya.

Saat ini, Afrika Selatan adalah episentrum dari perburuan badak yang dipicu oleh meningkatkan permintaan cula di Asia Timur, sebagai simbol status sosial maupaun bahan obat tradisional.

Terhitung, dari 2007 hingga 2015, perburuan badak di Afrika Selatan meningkat hampir 90 kali lipat. Pada 2007, “hanya” 13 badak yang terbunuh, namun pada 2015, melonjak hingga 1.165 individu yang dibantai untuk diambil culanya, berdasarkan data United Nations Environment Program (UNEP).

 

Ranger di taman nasional di Afrika Selatan tengah mengumpulkan bukti untuk dilakukan forensik dari tempat kejadian pembunuhan satwa liar. Sumber: VGL

 

Sebagai perbandingan, perburuan badak asia hanya terjadi dalam skala yang jauh lebih kecil. Di negara bagian Assam, India, tempat mayoritas badak bercula satu (Rhinoceros unicornis) hidup, perburuan meningkat antara 1980-an hingga 1990-an. Puncaknya pada 1992, ketika 49 badak dibunuh, sebelum akhirnya menurun drastis di awal 2000-an. Namun, baru-baru ini, jumlah badak yang dibunuh meningkat, yaitu 22 individu mati di Assam pada 2016. Meskipun pertumbuhan populasinya stabil, akan tetapi perburuan merupakan ancaman yang selalu ada.

Sementara itu, badak jawa dan badak sumatera yang terancam punah, populasinya terancam karena beberapa hal. Meskipun perburuan sangat jarang terjadi, namun kematian prematur badak-badak tersebut memberikan dampak yang dahsyat bagi populasinya keseluruhan.

Untuk menjaga kematian badak turun dan memastikan para pelaku kejahatan mendapatkan hukuman, para ahli konservasi dan penegak hukum perlu berbagai macam cara untuk melakukannya. Profiling DNA, adalah salah satu cara yang terbukti ampuh.

 

Sampel DNA badak tengah diteliti di laboratorium genetika hewan, Universitas Pretoria. Sumber: VGL

 

Rhino DNA Index System (RhODIS) diciptakan di University of Pretoria’s Veterinary Genetics Laboratory (VGL) pada 2010. Sejak itu, tim RhODIS telah mempersiapkan lebih dari 200 laporan forensik, dan berhasil membawa 6 kasus besar ke pengadilan. Termasuk Xuan Hoang, warga Vietnam yang dituntut 10 tahun penjara setelah tertangkap tangan membawa cula bada di bagasinya, di bandara Johannesberg, Afrika Selatan.

Dan yang lebih penting, database RhODIS ini berperan krusial dalam mengindentifikasi asal mula cula-cula badak yang ditemukan/disita. Misalnya, cula badak yang ditemukan di bagasi warga vietnam tersebut, berhasil diindentifikasi dari Taman Nasional Kruger, Afrika Selatan, setelah dianalisa dengan RhODIS.

RhODIS juga telah memperluas database untuk badak-badak di Kenya, Malawi, Namibia, Zambia, Zimbabwe, Botswana, Uganda, dan Afrika Selatan. Universitas Pretoria adalah pemegang hak database tersebut yang telah memuat informasi 30 ribu individu badak afrika yang hidup maupun mati. Bahkan juga, menyimpan data-data senjata dan pakaian tersangka pemburu yang akan dikaitkan dengan berbagai kasus perburuan tertentu.

 

Badak sumatera yang berada di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Foto: Rhett Butler

 

Para peneliti kini juga bekerja untuk membuat database serupa untuk badak-bada asia. “Kami sudah menggunakan alat pengidentifikasi DNA RhODIS untuk badak-badak india, dan sampelnya kami dapatkan dari berbagai kebun binatang di Eropa” kata Cindy Harper, dari Veterinary Genetics Laboratory (VGL) University of Pretoria, Afrika Selatan.

Cindy juga menambahkan bahwa database badak asia ini perlu diperluas untuk juga memuat data DNA badak-badak sumatera dan jawa, yang hingga kini belum ada sampelnya.

 

Badak ini berada di Taman Nasional Kazirangan, Assam. Foto: Lip Kee/Flickr CC-BY-SA.

 

Hingga sekarang, tim RhODIS sudah memberikan pelatihan kepada lebih 400 aparat penegak hukum dan juga para pegiat konsevasi dari Afrika dan negara-nagara di luar Afrika.

RhODIS memang belum diuji coba pada populasi badak asia, sehingga memang masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Tapi, para peneliti dan politisi India telah menyatakan akan menggunakan RhODIS tahun ini.

Jika sistem ini terbukti bermanfaat bagi pelestarian badak di India, RhODIS bisa digunakan juga untuk melindungi semua spesies badak di Asia. Jika Afrika Selatan menjadi pemain pertama di Afrika dalam pemanfaatan RhODIS, India adalah yang pertama di Asia. (Diterjemahkan oleh: Akhyari Hananto)

 

Sumber Tulisan:

Giovanni Ortolini. Fighting rhino poaching in India, CSI-Style. Mongabay.com

 

 

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , ,