Gelatik, Sempurnanya Gerakan Burung Pada Pesawat Udara

 

Pengantar Redaksi: Mongabay Indonesia bekerja sama dengan Burung Indonesia menghadirkan kembali wallpaper digital bulanan mengenai keragaman jenis burung liar di Indonesia. Edisi April 2017 ini, kami menginformasikan lagi kondisi gelatik jawa yang terus diburu untuk dijadikan peliharaan.

Penting untuk diketahui, Indonesia merupakan pemilik 1.769 jenis burung liar dari sekitar 10.000 jenis burung yang ada di dunia. Mengenal jenis-jenis burung, yang bermanfaat besar bagi lingkungan, merupakan cara bijak kita mencintai sekaligus menghargai ragam hayati yang terbentang hebat di Nusantara.

  

Gelatik jawa (Lonchura oryzivora) adalah burung endemis Pulau Jawa, Bali, dan Madura. Siapa sangka, kemampuan adaptasinya yang baik, membuatnya hidup di berbagai penjuru bumi. Java Sparrow telah menyebar luas, di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, sebagian Maluku, hingga Asia Tenggara dan Australia.

Nama gelatik, nyatanya diabadikan pada Pesawat Terbang Wilga alias Pesawat Gelatik. Mengapa disebut gelatik? Adanya persamaan tubuh pesawat yang imut serta kelincahannya dalam hal short-takeoff-and-landing membuatnya disebut Pesawat Gelatik. Sebagaimana sifat gelatik yang memiliki kemampuan terbang cepat dan berpindah, begitu pula pesawat buatan Polandia yang diproduksi sejak 1962 ini diciptakan.

Bahkan, Indonesia sekitar tahun 1966, telah merakit Pesawat Gelatik atas lisensi PZL 104 Wilga, Polandia. Pesawat ini, termasuk pilot mampu mengangkut empat penumpang, pada masanya itu. Hingga sekarang, seribu unit Wilga telah diproduksi dalam berbagai tipe, yang mendapuknya sebagai pesawat favorit. Di Polandia, sangat ideal digunakan untuk kegiatan terjun parasut serta tur penerbangan.

 

Wilga, Pesawat Gelatik yang memiliki kemampuan terbang sebagaimana Lonchura oryzivora. Foto: Wikipedia/Przemyslaw “Blueshade” Idzkiewicz/cc-by-sa 2.5 license

 

Secara umum, gelatik jawa sering bermain di lahan pertanian, pekarangan rumah, juga di hutan bakau dan pesisir pantai. Musim berbiaknya dimulai Februari hingga Agustus. Sarangnya sebagai rumah, berasal dari rumput-rumput kering, yang dibangun di bawah atap bangunan atau rongga pohon.

Namun, meski ia dekat dengan lingkungan kehidupan manusia, akan tetapi keterancaman hidupnya juga tinggi. Fisiknya yang menarik, suara yang unik, dan kesaktiannya bermanuver saat terbang, membuat “orang-orang tidak bertanggung jawab” ingin menangkapnya sebagai peliharaan.

Akibat popularitas gelatik jawa sebagai burung peliharaan menanjak berimbas pada meningkatnya perburuan karena tingginya permintaan pasar. Ini yang menyebabkan menurunnya populasi gelatik jawa di alam. Sejak 1994 hingga kini, International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) menetapkan statusnya Rentan (Vulnerable/VU) terhadap kepunahan.

Sejak kapan perburuan ini berlangsung? Diperkirakan, penangkapan gelatik jawa untuk memenuhi kebutuhan pasar burung peliharaan, domestik maupun internasional, sudah terjadi sejak lama. Puncaknya, pada dekade 1960-an hingga 1970-an. Kebiasannya berhimpun di satu pohon, menyebabkan rentan ditangkap secara massal.

Di kalangan petani, gelatik pun masih sering dianggap sebagai hama pertanian karena kerap memakan tanaman padi. Sekali lagi, gelatik diajdikan objek penangkapan. Selain itu, kompetisi secara ekologis dengan burung gereja (Passer montanus) diperkirakan menjadi salah satu alasan mengapa populasinya juga menurun.

Saat ini, populasi global burung dari suku Estrildidae ini diperkirakan berkisar 1.500 – 7.000 individu dewasa. Satu hal yang mudah dikenali dari cirinya adalah ukuran tubuhnya sekitar 16 cm dengan bercak putih jelas di pipi. Suara nyaringnya yang sering terdengar adalah “tik” yang tajam atau “tup” yang lembut.

Silakan unduh, wallpaper keren edisi April 2017 ini untuk gadget dan komputer Anda. Klik tautan ini.

 

 

 

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , ,