Menguji Tempat Evakuasi Tsunami Satu-satunya di Bali

Sebuah bangunan besar dengan 8 ruas anak tangga baru berdiri setahun. Dinamakan Tempat Evakuasi Sementara (TES) Tsunami berlokasi di Pulau Serangan, Denpasar. Satu-satunya bangunan permanen TES di Bali. Namun sehari-hari dioperasikan sebagai pasar tradisional di lantai dasarnya.

Bertepatan dengan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) pada 26 april 2017, simulasi evakuasi ini dilakukan di TES Serangan. Para pedagang dan pembeli yang beraktivitas seperti biasa dan melihat simulasi ini.

Dikisahkan petugas Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sedang berkegiatan seperti biasa. Tiba-tiba terjadi gempa bumi yang dirasakan oleh operator Pusdalops.

Setelah getaran selesai dirasakan, pimpinan regu mengecek keselamatan dan kondisi anggota, peralatan dan gedung mereka.

BMKG mengirim data informasi gempa yang terjadi kepada Pusdalops melalui SMS, telepon, dan fax. Telah terjadi gempa bumi dengan parameter sementara Magnitudo 8,8 SR pada 26 April 2017, pukul  09.54 WITA. Posisinya Garis Lintang 10.11 LS, Garis bujur 113.85 BT dan kedalaman 30 Km. Lokasi Barat Daya Denpasar, Bali. Berpotensi tsunami.

 

 

Karena berpotensi tsunami dilakukan aktivasi sirine erly warning system INA TEWS oleh koordinator piket dan didampingi operator IT. Data gempa dikaji sesuai dengan langkah-langkah standar prosedur pengambil keputusan.

Tugas berikutnya menyebarluaskankan peringatan atau arahan kepada masyarakat berisiko menggunakan moda komunikasi radio, telp, fax, dan internet. Di antaranya PMI, SAR, Korem, Polda, dan BPBD se-Bali.

Sesuai dengan SOP bahwa Peringatan Dini Tsunami (PDT) yang dikeluarkan oleh BMKG ada 4 tahap.Pertama, PDT 1 berisi informasi parameter awal disertai keterangan potensi tsunami untuk daerah mana saja dan dikeluarkan 5 menit setelah gempa terjadi.

Berikutnya PDT 2 berisi informasi update (perbaikan) parameter disertai estimasi waktu tiba gelombang di daerah potensi.Dikeluarkan 5 menit setelah PDT 1 (10 menit setelah kejadian gempa).

Dilanjutkan PDT 3 berisi informasi ketinggian gelombang tsunami yang tercatat oleh alat di laut (informasi akan dikeluarkan sekitar 1 jam setelah PD2).Terakhir,PDT 4 berisi berita pengakhiran peringatan tsunami (akan diinformasikan sekitar 1 jam) setelah PDT 3.

Ratusan peserta simulasi gempa bumi disertai tsunami di TES Serangan didominasi pelajar sekolah dasar dan SMP sekitar Serangan. Mereka dikomando untuk lari dari sekolah masing-masing ke lokasi TES. Menurut catatan pelaksana, misalnya SD 2 dan 3 tiba rata-rata 5 menit karena cukup dekat. Kemudian pelajar SMP 11 tiba dalam waktu 10 menit karena lebih jauh.

Ada dua lantai yang difungsikan untuk tempat evakuasi sementara yang diperkirakan bisa menampung 2000 orang. Ada dua jalur naik ke lantai atas yang bisa digunakan, pertama ruas anak-anak tangga yang cukup lebar agar tak berdesakan.

Di sayap gedung lain ada ramp, semacam jalan menanjak tanpa undakan yang bisa diakses pengguna kursi roda, namun melihat kemiringan dan jauhnya jarakn menuju lantai evakuasi, harus dibantu orang lain. Jalur ramp ini agaknya lebih cepat untuk mencapai lantai atas dibanding melewati anak-anak tangga yang cukup tinggi antar levelnya.

 

Pesisir pulau Serangan, Denpasar, Bali, dengan padatnya pemukiman terlihat dari gedung TES yang paling tinggi di kawasan ini. Foto: Luh De Suriyani

 

Sebuah helikopter SAR ikut serta dalam simulasi memberi bantuan minuman, logistik awal sebagai bantuan untuk warga yang tiba di TES.Helikopter oranye ini bisa mengakses lokasi dengan cepat.

Kepala BPBD Bali Dewa Made Indra usai simulasi di Serangan menyebut simulasi ini penting untuk menguji kesiapsiagaan petugas dan warga menghadapi bencana. “Melatih agar tenang, uji sistem peringatan dini, kalau sudah ada bencana tidak ada saling menyalahkan,” ujarnya.

Pemilihan lokasi TES di pulau Serangan yang sudah direklamasi dan terhubung daratannya dengan pulau Bali menurutnya karena risiko warga di sini lebih tinggi. “Mau evakuasi ke mana, warga tak bisa ke mana kan dikelilingi laut,” kata Indra terkait TES yang selesai dibangun pada 2016 dengan dana pusat oleh BNPB melalui Kementrian Pekerjaan Umum ini.

Evaluasi sementara dari simulasi ini di antaranya masih ada halangan dan pemandu evakuasi masih ada yang belum cekatan. Soal halangan ini menurut Indra tak boleh ada akses yang menghambat evakuasi. Misalnya dalam konteks TES di Serangan ini bangunan di lantai dasarnya difungsikan sebagai pasar sehingga ada barang-barang dagangan dan parkir kendaraan. “Gedung ini bukan pasar, fungsi satu-satunya sebagai evakuasi tsunami. Tapi silakan dimanfaatkan,” ujarnya.

Pengelola pasar dan Lurah Serangan yang mendengar diskusi Mongabay dengan Kepala BPBD menginterupsi. “Lahan ini memang pasar aslinya. Sekarang ada 17 kios dan 45 los,” Wayan Sugiarta. Soal halangan seperti pagar dan barang-barang pasar, ia punya alasan.

Bangunan bercat putih megah dengan tinggi sekitar 15 meter ini memang ditambahkan pagar besi oleh pengelola pasar agar sapi-sapi tak mudah masuk dan makan sayur-sayur dagangan. “Saya dikomplain pedagang,” lanjutnya. Bangunan asli TES tanpa pagar sama sekali agar akses evakuasi tak terhalang. Ia berharap pemerintah menyediakan biaya pemeliharaannya agar tak cepat rusak misalnya petugas.

Ikhwal lahan pasar tradisional lalu dibangun TES punya cerita sendiri. Lurah Serangan I Wayan Karma menjelaskan saat pemerintah pusat ingin mendirikan TES dan perlu lahan, ada dua opsi. Pertama lapangan Wayan Bulit yang saat ini digunakan sebagai tempat terbuka. Namun status tanah ini tanpa sertifikat. Opsi lain adalah lahan pasar yang sertifikatnya atas nama desa.

Tak heran warga tetap mengoperasikan sebagai pasar, bahkan ada pengelolanya, walau fungsi utama bangunan berpilar banyak ini tempat evakuasi. Yang memerlukan akses mudah, tak terhalang keramaian. Apa siasat untuk situasi seperti ini?

Serangan adalah salah satu lokasi dibangunnya TES di antara 9 unit TES di Indonesia yang berdiri di kawasan risiko bencana tsunami. Misalnya Aceh di Kecamatan Peukan Bada Kabupaten Aceh Besar, Sumatera Barat  dua unit di Koto Tengah Kota Padang, di Bengkulu di Kampung Melayu Kota Bengkulu dan Kabupaten Seluma.Kemudian Banten di Desa Muara, Kabupaten Lebak dan Desa Labuan, Kabupaten Pandeglang.Kawasan Nusa Tenggara Barat di Kecamatan Pamenangan, Lombok.

 

Sebuah papan informasi bagaimana bertindak jika terjadi peringatan sirine tsunami di salah satu sudut pulau Serangan, Denpasar, Bali. Foto: Luh De Suriyani

 

Simulasi penanganan tsunami memang dilakukan di TES Serangan. Namun sirine tsunami terdengar di sejumlah penjuru pesisir tempat Tsunami Early Warning System (TEWS) terpasang dan diujicobakan tiap 26 April.

Misalnya terdengar sekitar dua menit di pesisir Kedonganan, area kampung nelayan dan restoran-restoran ikan khas Jimbaran. Namun warga terlihat biasa saja, tak ada yang merespon sirine dengan menjauhi laut misalnya. Indra menyebut karena uji sirine rutin tiap bulan untuk memastikan sirine bekerja dan tidak ada kegiatan simulasi.

Pusdalops BPBD Bali dan para pihak terkait memperingati Hari Kesiapsiagaan Nasional ini juga mengajak simulasi di hotel, konsulat sejumlah negara, dan kantor BPBD tiap kabupaten/kota. Secara keseluruhan menurut data pelaksana, total peserta yg melaksanakan simulasi gempa bumi dan tsunami dalam rangka Hari Kesiapsiagaan Nasional (HKBN) Provinsi Bali sebanyak 8.592 orang. Ada yang melakukan simulasi pada sore hari.

Dari laporan Pusdalops BPBD disebutkan simulasi juga dilakukan di Konsulat Jenderal Australia,  diikuti oleh sebanyak 30 orang terdiri dari security dan karyawan konsulat. Konsulat Jenderal USA, diikuti oleh sebanyak 10 orang yg seluruhnya adalah karyawan konsulat.Konsulat Jenderal China, diikuti oleh sebanyak 2 orang karyawan konsulat. Konsulat Jenderal Jepang, diikuti oleh sebanyak 7 orang seluruhnya karyawan konsulat.

Hotel-hotel berbintang yakni The Patra Jasa Bali Resort & Villas, The Westin Resort Nusa Dua Bali, The Laguna Resort & Spa, Discovery Kartika Plaza, The St.Regis Bali Resort, Courtyard by Marriot Bali Nusa Dua, dan Grand Inna Kuta.

Selanjutnya The Jayakarta Bali Beach Resort, Bvlgari Hotel and Resort Bali, W Retreat and Spa Bali,  The Legian Bali, Peninsula Beach Resort, The Kuta Beach Heritage Hotel Bali, Sol Beach House Benoa Bali, Le Meridien Bali Jimbaran, Intercontinental Bali Resort, Hilton Bali Resort, Inaya Putri Bali, Conrad Bali, The Royal Beach Seminyak, Legian Beach Hotel, Amarterra Villas Bali Nusa Dua, Hard Rock Hotel, The Seminyak resort dan spa, Hotel Bali Tropic Resort & Spa.

Sementara untuk sekolah dilakukan juga oleh SD Sathya Sai Denpasar sebanyak 60 siswa dan 15 guru, serta Universitas Ngurah Rai Denpasar Bali, diikuti sebanyak 30 orang dari karyawan universitas.

Sementara panitia pelaksana pemantau simulasi tingkat provinsi sebanyak 53 orang terdiri dari Pegawai BPBD Provinsi Bali dan Pusdalops dan tim verifikasi kesiapsiagaan hotel, restoran dan jasa pariwisata lainnya. Dibantu BMKG, PMI, Forum Pengurangan Resiko Bencana dan TNI/POLRI.

Hal-hal yang dicatat dalam simulasi adalah kesiapan operator, koordinasi antar operator, pelaksanaan SOP, pelaksanaan evakuasi dan cara berkoordinasi dengan instansi terkait.

 

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , ,