Ki Hujan Menyebar Luas Ancam Tanaman Lain di Karst Maros

Tegakan Spathodea mendominasi di Pattunuang, TN Bantimurung-Bulusaraung. Foto: Kamajaya Saghir/Mongabay-Indonesia

 

 

“Ada alien dalam kawasan.” Begitulah pesan Indra Pradana, pegawai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) beberapa bulan lalu.

Indra lalu mengirimkan sebuah foto drone, memperlihatkan lansekap pepohonan. “Yang bunganya orange, itu mi aliennya,” katanya.

Ternyata si alien itu Spathodea campanulata (kembang kecrut atau sebutan lain Ki Hujan). Ia tanaman pendatang dengan habitat asli di Afrika. Tanaman ini tumbuh pada wilayah beriklim tropis, mudah beradaptasi. Ia dapat tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian 1000 mdpl.

Sekilas, kecrut tanaman cantik. Bunga berwarna cerah, dan mekar sepanjang tahun.

Bagaimana tanaman ini masuk ke Indonesia, khusus Sulawesi Selatan? “Tidak begitu jelas. Hanya spesies ini banyak ditemukan (dekat) bangunan-bangunan peninggalan Belanda, seperti Malino, Bantaeng, Manado dan beberapa tempat lain,” kata Nasri, peneliti di Laboratoriun Koservasi Sumber Daya Hayati dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Universitas Hasanuddin.

Khusus di TN Babul, sekitar 1975 penglola kawasan–waktu itu Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Sulsel I-menanam kecrut untuk reboisasi pembatas kawasan.

“Karena bunga cantik dan warna menarik. Mencolok, memudahkan dilihat dari kejauhan hingga tepat untuk pembatas.”

Nasri meneliti keberadaan Spathodea 1999-2017. Dia tercengang, menyaksikan Spathodea masif dalam kawasan, pertumbuhan sangat cepat hingga mulai menghambat tanaman lain.

Dalam sebuah seminar, beberapa orang tak meyakini bila Spathodea mulai invasif, tetapi dia sudah melihat sendiri. “Di TN Babul, Spathodea harus dimusnahkan,” katanya.

 

Bunga kecrut, asli Afrika, yang meluas di TN Bantimurung. Foto: Kamajaya Saghir/Mongabay-Indonesia

 

 

Mengenal Spathodea

Kembang kecrut adalah jenis bunga yang bisa menjulang hingga 23 meter. Daun berwarna hijau dan menyirip ganjil. Helaian daun berbentuk bulat telur memanjang dengan tepian rata, panjang 5-13 sentimeter dan lebar 2,5-5 sentimeter.

Bunga tanaman ini merah jingga. Bunga menutup rapat, ketika mekar membelah sepanjang antara 4-7 sentimeter. Katup bunga berbentuk perahu, berwarna coklat. Ketika, katup ini pecah, biji bisa terbang tertiup angin.

Setiap bunga dapat menghasilkan antara 500-1.000 biji. Satu pohon dewasa Spathodea menghasilkan 25 buah.

Selain, tingginya peroduksi bunga, tanaman ini dapat berkembang melalui akar dan ranting. Bahkan di beberapa tebing karst dan pohon tumbang, anakan dapat tumbuh.

Laporan penyusunan rencana pemulihan ekosistem TN Babul 2016, dinyatakan kerapatan dan kecepatan tumbuh Spathodea jadikan beberapa spesies kunci lain terdesak. Salah satu, tanaman jenis Ficus, makanan utama Macaca maura (monyet sulawesi) dan julang Sulawesi.

 

Buah dan biji bunga kecrut. Foto: Kamajaya Saghir/Mongabay Indonesia

 

Di TN Babul seluas 20.000 hektar, di antara tebing dan gundukan batuan, ada 704 jenis tumbuhan. Ada 43 jenis Ficus merupakan spesies kunci, 116 jenis anggrek alam, enam dari ratusan dilindungi. Yakni, ebony (Diospyros celebica), palem (Livistona chinensis, Livistona sp), anggrek alam (Ascocentrum miniatum, Dendrobium macrophillum, dan Phalaenopsis amboinensis).

Banyaknya jenis tanaman ini, berhubungan ekosistem kawasan keseluruhan dan keterkaitan antara satu spesies dan spesies lain. Dia contohkan, monyet Sulawesi, bergantung dan jadikan ficus makanan utama.

Artinya, jika persediaan makanan utama di alam seperti Ficus berkurang, akan mengganggu spesies lain. Di TN Babul, Spathodea mulai mengganggu terutama di Pantunuang Karaenta. Ironisnya, wilayah ini jelajah utama monyet Sulawesi.

Spathodea menginvasi kawasan dengan kemampuan sangat radikal,” tulis laporan itu.

Adaptasi Spathodea tinggi. Ada dimana-dimana. Di bawah tegakan pohon indukan, hingga jarak ratusan meter dari tegakan. “Kami menemukan ada Spathodea, diameter sudah 115 sentimeter,” kata Usman, Ketua Tim Pendataan pemulihan ekosistem TN Babul.

Bagaimana menaklukan pendatang bandel ini? “Kami masih berkoordinasi dengan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Apa langkah akan dilakukan,” katanya.

“Mungkinkah akan ditebang?” kata saya.

“Tidak semudah itu. Pemusnahaan tanaman, harus memperhitungkan ekologi utuh. Tak serta merta,” kata Usman.

Sejauh ini, mereka belum menemukan metode paling cocok untuk memusnahkan spesies ini Spathodea. Kalaupun injeksi dengan pestisida, spesies ini tetap tumbuh. “Bagaimanapun kita akan mencari jalan,” kata Nasri.

 

Tanaman kecrut, mudah sekali tumbuh. Foto: Kamajaya Saghir/Mongabay Indonesia

 

Foto udara tim Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, memperlihatkan pohon kecrut tumbuh meluas, dengan bunga merah.