Menarik… Melihat Perubahan Bali Melalui Lukisan Keliki

Sebuah buku lukisan yang diluncurkan Juni lalu memperlihatkan wajah lingkungan pulau Bali melalui mata seniman lukis tradisi Keliki. Berjudul Bali, Preserving The Paradise berisi 24 karya I Wayan Ariana, anak muda 25 tahun. Ia melihat masa depan Bali suram jika tak berbenah.

Tak banyak pelukis bergaya tradisi Bali yang merekam situasi kontekstual di sekitarnya. Kebanyakan mengikuti gambar sesuai pakemnya. Misalnya seni lukis gaya Keliki, sebuah desa di Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar.

Melalui lukisannya, Ariana yang lebih akrab dipanggil Nano ini menyebut perubahan-perubahan ini sudah menimbulkan kesenjangan sosial. “Agar anak muda sadar dengan perubahan yang terjadi di sekitarnya,” katanya saat diskusi buku dan pameran di Kulidan Kitchen, sebuah ruang kreatif di Gianyar, Sabtu (23/07/14).

(baca : Dendang Sampah dan Sawah dari Bali Utara)

 

 

Ariana dalam bukunya bertutur di masa lalu Bali diperkenalkan ke dunia global oleh sejumlah seniman dan penulis Barat sebagai Pulau Surga dan Pulau Dewata. Kala itu pulau kecil seluas 0,29% wilayah Indonesia ini masih alami. Pemandangan sawah, gunung, laut, dan sungai yang indah berpadu mistis dari tradisi dan ritualnya. Namun jargon-jargon seperti island of paradise atau island of gods juga masih digunakan terutama dalam industri pariwisata.

Padahal alam Bali berubah. Ariana memulai dengan visualisasi jargon-jargon mooij itu dalam beberapa lukisannya. Misalnya gambar-gambar ritual, dewa, dan lanskap sawah yang alami.

Kemudian dilanjutkan dengan Bali saat ini. Kontras. Misalnya Dewi Sri simbol kesuburan makin terhimpit dengan alih fungsi lahan sawah jadi villa dan hotel. Warga makin terdesak untuk bersembahyang karena memerlukan lahan, ritual yang terkait tanah dan sawah makin kehilangan esensinya.

Beranjak ke kehidupan sehari-hari disimbolkan pasar tradisional yang terdesak supermarket, mall, dan minimarket. Perilaku juga berubah, dulu pasar tempat pertemuan kolektif tanpa kelas sosial sekarang sebaliknya. Binatang seperti anjing digambarkan mendapat tempat di pasar tradisional, sementara mall melarangnya.

Kemacetan digambarkan dengan bertumpuknya kendaraan di Bali Selatan. Kini dua simbol kebaikan dan keburukan yakni barong dan rangda juga berdesakkan di tengah macet. Perpaduan yang mudah diidentifikasi warga.

Kemudian kepanikan masalah sampah kini divisualisasikan dengan monyet-monyet yang membawa sampah plastik dari kemasan makanan dan minuman. Mereka memenuhi gambar pulau Bali dengan monyet yang bergelantungan di pohon melarikan sampah plastik.

Narasi Ariana menyatakan kebanyakan orang Bali masih memiliki kebiasaan buruk buang sampah sembarangan. Ketidakpeduliaan akan berdampak pada lingkungan dan kehidupan. “Monyet-monyet ini pegang sampah, jadi manusia lebih jelek dari binatang kalau buang sampah sembarangan,” urainya.

(baca : Melihat Bencana Ekologi Dalam Prangko, Begini Alternatif Kampanye di Bali)

 

Salah satu lukisan gaya tradisional Keliki karya I Wayan Ariana dalam pameran di Kulidan Kitchen, Gianyar, Bali pada akhir Juni 2017. Lukisan ini memperlihatkan para monyet membawa sampah menyimbolkan kekalahan manusia yang masih sembarangan membuang sampah. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

 

Rencana pengurugan Teluk benoa seluas 700-an hektar juga mendapat perhatian Ariana. Kenapa reklamasi? Ekskavator bercampur dengan gambar dewa-dewi, mitos, dan ritual. Di udara, pesawat terbang dan helikopter juga memenuhi langit, karena kepadatan di daratan. Saling berebut ruang. Sampai ada yang punya ide mengurug laut. Menurutnya lautan menjadi sumber penghidupan dan pangan. Lautan juga disucikan sebagai tempat penyucian seperti ritual Melasti (pembersihan diri dan bumi) dan Ngayut (menghanyutkan abu jenazah).

Ada juga tentang hutan dan mangrove. Tempat tinggal burung-burung terus berkurang. Konsep keseimbangan alam menurutnya sudah memudar. Saat musim hujan kebanjiran dan musim kemarau kekeringan. Hanya tersisa burung-burung yang diberi warna warni bertahan hidup entah sampai kapan.

Kekeringan digambarkan pohon-pohon yang marah. Pohon dan tumbuhan juga berjiwa seperti manusia. Kewajiban manusia memeliharanya. “Bali percaya tiap elemen punya atma (jiwa) seperti binatang dan tumbuhan. Bagaimana menjaga agar bisa hidup bersama,” seru pemuda yang membiayai pencetakan 100 lembar bukunya secara swadaya dan belum balik modal ini.

Diakhiri dengan refleksi sederhana, bisakah manusia hidup sederhana dan harmonis dengan alam. Ariana memberikan sejumlah solusi melalui karyanya. Pertama, berjudul Ingat Menyama (ingat kita bersaudara). Masyarakat hidup dulu menurutnya tanpa kesenjangan status sosial, komunal, namun sekarang individual.

Kedua, Igat Kala atau waktu. Jangan sampai ditelan waktu dan malaikat mengaku penyelamat tapi bertaring dan menghancurkan. Disimbolkan monster ketika Kala Rau siap menelan Bali sementara malaikat bertaring dan bertanduk hilir mudik di sekelilingnya.

Ketiga, sesuluh hidup. Melalui wayang sebagai simbol sifat manusia dan alam.

(baca : Merekam Krisis Air di Bali Melalui Film. Seperti Apakah?)

Seluruh karyanya dilukis dalam bingkai pulau Bali sebagai jembatan merah yang digunakan Ariana untuk memudahkan masyarakat membaca pesannya. Rata-rata ukuran lukisannya kurang dari 100 cm2. Cenderung kecil dibanding rata-rata ukuran lukisan standar. Namun pengerjaan masing-masing gambar menurut Ariana cukup lama, 1-2 bulan dengan rata-rata kerja 5 jam per hari.

Lukisan khas Keliki unik karena ukurannya kecil dan obyek detail. Sehingga memerlukan waktu lama membuatnya. Pertama kali dikembangkan oleh I Ketut Sana, petani setempat pada 1970-an. Biasanya mengambil tema gambar kehidupan sehari-hari masa itu seperti di pasar, sawah, mitologi cerita Hindu, dewa-dewi, dan lainnya.

Keliki salah satu jenis gaya lukis yang lahir di Bali. Ada juga gaya Batuan yang fokus dekoratif detail mistis dan magis. Kemudian kamasan yang identik dengan lukisan wayang di Klungkung.

 

I Wayan Ariana, yang akrab dipanggil Nano berdiri didepan lukisannya yang dipamerkan di Kulidan Kitchen, Gianyar, Bali pada akhir Juni 2017. Nano melukis bergaya tradisi Keliki yang merekam perubahan lingkungan Bali. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

 

I Wayan Ariana, adalah salah satu murid I Wayan Gama, pelukis Keliki yang mempelajari lukisan ini sejak kecil. Pada 2005, Gama mendirikan sekolah lukis untuk mengajak anak-anak dan remaja setempat menekuninya. Bersama 5 pelukis muda yang diajarinya termasuk Ariana mereka mengajar anak-anak setempat secara gratis. Terakhir pada 2016 disebut ada 25 siswa usia 8-20 tahun belajar di Sanggar dan studio I Wayan Gama Painting School ini.

I Wayan Ariana, anak muda 25 tahun dari Keliki, Tegalalang, Gianyar. Mulai belajar melukis sekitar 11 tahun, saat ini ia juga guru honorer di SDN 3 Taro setelah lulus S1 dari Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar.

Ia merasa ikut bertanggungjawab dengan masalah yang terjadi saat ini. “Saya melukis apa yang dalam pikiran, ini masalah yang terjadi. Selain melestarikan tradisi kita juga harus peduli,” katanya. Salah satu penyebab degradasi lingkungan juga korupsi. Ariana melukis seseorang yang rakus seperti raksasa mencekik petani.

 

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , ,