Wisata Pesisir, Potensi Terpendam di Gorontalo Utara

Kawasan pesisir di Indonesia, selama ini selalu identik dengan kawasan yang tertinggal dan menjadi tempat tinggal masyarakat miskin. Pandangan tersebut juga melekat pada Desa Langge di Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo. Desa pesisir itu, sebelum 2016 adalah sebuah desa yang menyandang predikat tersebut.

Kepala Desa Langge Ato Ali mengakui kalau desa yang dipimpinnya tidak memiliki perbedaan dengan desa pesisir lain di Gorontalo, bahkan di Indonesia. Selain penduduk yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan, di desanya sebelum 2016, banyak warga yang menyandang predikat sebagai warga miskin.

“Tapi itu dulu, begitu masuk 2017, masa depan mulai terlihat di desa ini,” ucap dia saat bertemu Mongabay Indonesia di Langge, pekan lalu.

 

 

Yang dimaksud masa depan, kata Ato, adalah saat difungsikannya kawasan hutan bakau (mangrove) menjadi kawasan wisata yang bisa diakses oleh masyarakat umum. Setelah mangrove di Langge menjadi kawasan wisata, sejak saat itu penghasilan masyarakat sekitar mulai berubah.

“Ada banyak pengunjung yang berdatangan ke sini. Jumlahnya sampai ribuan orang secara keseluruhan. Kita juga kaget bisa sebanyak itu,” ungkap dia.

Ato menceritakan, awal mula perubahan di desanya, terjadi setelah Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerja sama dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD), sebuah lembaga yang ada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), melaksanakan program Coastal Community Development Project (CCDP) atau Proyek Pembangunan Masyarakat Pesisir (PPMP).

Program yang salah satunya berlangsung di Desa Langge tersebut, mulai berlangsung sejak 2013. Program tersebut, kata dia, fokus melaksanakan pembangunan di wilayah pesisir dan mengangkan semua potensi perekonomian yang ada di dalamnya.

“Kebetulan, Langge ini ada banyak potensi juga. Maka, mereka memilih desa kami ini sebagai tempat pembangunan,” ujar dia.

 

Pesona Hutan Bakau

Salah satu potensi yang ada di Langge, adalah kawasan hutan bakau yang luas dan menjadi yang terluas di Gorontalo Utara. Sebelum 2017, kawasan seluas 10 hektare itu selalu menjadi bulan-bulanan warga yang berasal dari luar Desa Langge. Pohon mangrove yang ada di hutan pesisir tersebut, selalu diambil dan dijadikan bahan bakar.

“Itu terjadi sebelum 2017. Akhirnya, di awal 2017 kita mulai membangun kawasan mangrove menjadi kawasan wisata,” jelas dia.

 

Pengunjunag di kawasan wisata hutan bakau Langge, Kecamatan Anggrek, Gorontalo Utara, Gorontalo, pertengahan Agustus 2017. Sejak hutan bakau tersebut menjadi tempat wisata, perekonomian nelayan dan warga Desa Langge menjadi lebih baik. Foto : M Ambari/Mongabay Indonesia

 

Dipilihnya pariwisata, menurut Ato, tidak lain karena didasarkan pada pertimbangan bahwa itu akan menghasilkan nilai ekonomi alias uang. Sebelumnya, kata dia, warga terbiasa mengambil batang mangrove dan menjualnya dengan nilai ekonomi yang cukup bagus. Namun, jika dilarang aktivitas tersebut, nilai ekonomi akan hilang seketika.

“Makanya, saat dilarang, warga mempertanyakan apa manfaat jika menjadi kawasan wisata? Karena justru pemasukan (uang) akan hilang. Maka, dibuatlah tracking mangrove untuk bisa menarik wisatawan,” tutur dia.

Untuk bisa membangun kawasan wisata mangrove lengkap dengan jalur pejalan kaki, Ato menyebut, Pemerintah Desa menggulirkan dana pembangunan dan didukung penuh oleh CCPD IFAD. Berkat dukungan tersebut, dana pembangunan menjadi dibagi dua dan itu meringankan Pemerintah Desa.

Setelah pembangunan selesai dilaksanakan, kawasan wisata yang dinamakan Mangrove in Love itu bisa terlihat indah karena jalur pejalan kakinya dibangun membentuk ikon hati atau love dalam bahasa Inggris. Keindahan tersebut, terutama bisa dinikmati jika dilihat dari atas atau menggunakan kamera drone.

Thomas Gabriel, petugas jaga di pintu masuk kawasan Mangrove in Love, menjelaskan, jalur pejalan kaki yang bisa disusuri oleh wisatawan panjangnya mencapai 180 meter. Selain itu, terdapat juga tambatan perahu sepanjang 120 meter yang membentang lurus dan berfungsi sebagai pintu masuk menuju lokasi.

Saat Mongabay Indonesia menyusuri jalur pejalan kaki, pemandangan yang tampak di kanan dan kiri jalur adalah hutan bakau yang lebat. Udara yang segar langsung terasa begitu kaki menjejaki jalur tersebut. Di sela-sela hutan bakau, terlihat ada delapan kotak penangkaran berukuran 4×4 meter kepiting bakau.

Keindahan yang terlihat nyata di depan mata itu, semakin lengkap karena di ujung jalur pejalan kaki, atau yang juga menjadi jalur pintu masuk menuju lokasi, terdapat sejumlah kios yang menjual kerajinan dan penganan khas Gorontalo. Di bangunan tersebut, terdapat juga toilet umum dan juga tempat ibadah.

 

Pengunjung di kawasan wisata hutan bakau Langge, Kecamatan Anggrek, Gorontalo Utara, Gorontalo, pertengahan Agustus 2017. Kawasasn wisata hutan bakau Langge atau Mangrove in Love karena jalan setapak didalamnya dibuat dengan bentuk cinta. Foto : Humas Ditjen PRL KKP/Mongabay Indonesia

 

Selain wisata mangrove, konsep serupa juga dibangun di Desa Dunu, Kecamatan Monano, Gorontalo Utara. Di sana, terdapat pengembangan wisata bahari yang berlokasi di Pantai Tanjung Penyu. Sesuai namanya, di lokasi tersebut terdapat konservasi penyu yang digagas oleh sekelompok warga di desa tersebut.

Sebagai kawasan wisata bahari, Pantai Tanjung Penyu menawarkan keindahan wisata pantai bagi para pengunjung yang datang. Dengan pantai berpasir putih dan berlatar langit berwarna biru terang, siapapun yang datang akan terkesan dan merasa nyaman.

 

Rumput Laut

Selain fokus mengembangkangkan wisata bahari di Desa Langge dan Desa Dunu, program CCDP IFAD di Gorontalo Utara juga fokus mengembangkan kreativitas masyarakat yang ada di kedua desa tersebut. Di Langge contohnya, warga juga diinisiasi untuk mengembangkan kemampuannya dalam industri penangkapan ikan, budidaya ikan, dan pengolahan.

Tenaga Pendamping Desa Langge Nurcahya, menjelaskan, di Langge terdapat delapan kelompok yang terbagi dua, mandiri dan masih merangkak. Masing-masing kelompok tersebut terdiri dari empat dan saat ini terus bergerak mengembangkan dirinya masing-masing.

“Empat kelompok sudah maju, dan empat lagi belum berhasil, masih terus dibina. Yang tidak berkembang itu, adalah dua kelompok penangkapan dan dua kelompok budidaya,” papar dia.

 

Kawasan wisata hutan bakau Langge, Kecamatan Anggrek, Gorontalo Utara, Gorontalo. Foto : Humas Ditjen PRL KKP/Mongabay Indonesia

 

Di antara yang belum berkembang itu, menurut Nurcahya, adalah kelompok budidaya yang menanam rumput laut. Kelompok tersebut, selalu menemui kegagalan saat akan panen, dan itu terjadi berulang. Penyebabnya, kata dia, hingga kini masih terus dicari dan dipelajari.

“Mungkin karena perairannya sudah tercemar. Sekarang mereka menanam rumput laut enis spinosom yang tahan dengan segala cuaca. Memang berhasil, tapi harganya juga murah di pasaran. Jadi kelompok ini masih belum berhasil secara ekonomi,” ungkap dia.

Asap Tahar, salah satu pembudidaya rumput laut Desa Langge, mengakui kalau menanam rumput laut di perairan Langge saat ini sudah tidak bagus. Kondisi tersebut jauh berbeda saat dirinya menggeluti usaha yang sama di periode 2001 hingga 2003. Saat itu, rumput laut bisa hidup sampai 45 hari.

“Namun sekarang, tak sampai sebulan, rumput laut harus sudah dipanen. Saya bingung kenapa (air) laut di sini jadi berubah. Jika lewat dari sebulan tidak dipanen, rumput laut akan mati,” jelas dia.

Sementara itu, Hamsah Usman yang juga menggeluti usaha budidaya rumput laut bersama kelompok, mengakui kalau menanam rumput laut untuk saat ini tidak sebagus dulu. Saat ini, dalam setahun, waktu produksi maksimal hanya bisa dilakukan selama enam bulan saja.

“Kalau dulu, musim itu bisa setahun. Sekarang sudah tidak bisa, enam bulan saja. Karena itu, warga juga mulai tinggalkan usaha ini. Hanya kelompok saja yang masih bertahan. Kalaupun diganti dengan Spinosom, harga jualna juga murah. Tidak menguntungkan,” tutur dia.

Baik Hamsah, Asap, maupun warga lain, kegagalan yang terjadi dalam usaha budidaya rumput laut, diharapkan bisa segera dipecahkan. Hal itu, karena warga setempat dalam keseharian sangat bergantung pada ekonomi pesisir.

 

Pembangunan Berkelanjutan

Bupati Gorontalo Utara Indra Yasin mengatakan, wilayahnya saat ini menyandang predikat garis pantai terpanjang di Provinsi Gorontalo. Dari bentang pantai tersebut, terdapat 78 desa pesisir yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan.

Untuk bisa bersaing dengan desa non pesisir yang memiliki keberagaman profesi, Indra menyebut, pihaknya harus melakukan berbagai inovasi dan memberi banyak pelatihan kepada masyarakatnya. Menurut dia, program yang dilaksanakan CCDP IFAD menjadi program yang tepat, karena dilaksanakan di kawasan pesisir yang memerlukan keterampilan.

“Perlu dilaksanakan pembangunan berkelanjutan untuk bisa mengentaskan keterbelakangan yang ada di desa pesisir. Karena itu, kita bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi ternama di Indoensia untuk melaksanakan pembangunan di pesisir,” jelas dia.

 

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , ,