Empat Jenis Katak Baru Ditemukan di Sumatera

 

Amir Hamidy saat menunjukkan koleksi spesimen katak yang ada di Laboratorium Herpetologi, Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Cibinong. Foto: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia

 

Penemuan empat jenis katak baru di Sumatera oleh peneliti Indonesia dan Amerika baru-baru ini telah menambah keanekaragaman jenis herpet di Indonesia. Sekitar 450 jenis katak di Indonesia yang masuk dalam bangsa Anura, 11% diantaranya mewakili seluruh jenis Anura di dunia. Empat jenis katak yang baru ditemukan di Sumatera ini mewakili marga Philautus dari Suku Rhacophoridae yang disebut juga “Katak Pohon Asia Selatan.” Suku ini, termasuk suku yang tersebar luas di dunia.

Marga Philautus memiliki keunikan tersendiri. Jenis-jenis dari marga ini tidak saja ditemukan di Indonesia namun juga di Asia Tenggara. Perawakan yang kecil, menempati habitat di dataran rendah dan tinggi, dan mampu hidup dimana kebutuhan air tidak terlalu banyak, inilah kelebihan marga ini.

Strategi pekembangbiakannya juga cukup berbeda dengan yang lain, yaitu dalam bentuk pembuahan telur secara langsung atau direct development. Telurnya besar dan diletakkan di atas tanah atau dalam celah batang pohon. Berudu yang tumbuh dalam telur telah berbentuk katak kecil dengan empat kaki serta ekor. Segera, sesudah proses perkembangan selesai, katak kecil akan menetas melalui selaput telur.

 

Baca: Sigale-gale, Marga dan Jenis Kodok Baru di Sumatera

 

Adanya jenis baru yang ditemukan di Sumatera ini, salah satunya dikarenakan pengaruh ketinggian yang membatasi di antara jenis yang lain. Sumatera yang memiliki banyak pegunungan dan ditambah jenis-jenis ini hidup pada ketinggian diatas 1.000 m dpl (meter diatas permukaan laut), menyebabkan terjadinya isolasi.

“Faktanya, jenis ini hanya mampu hidup pada pegunungan yang tinggi, saat katak harus berada di dataran yang lebih rendah, suhunya rendah, mereka tidak mampu hidup. Sehingga, tidak ada koneksi antarjenis yang lain dan menyebabkan adaptasi, mempengaruhi genetik katak di dalam tubuhnya dan menyebabkan terbentuknya jenis baru,” ucap Amir Hamidy, Kepala Laboratorium Herpetologi Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi LIPI, sekaligus rekan penulis studi tentang jenis baru katak ini dalam jurnal Herpetological Monographs setebal 45 halaman. Laporan ilmiah yang dirilis Agustus 2017 ini berjudul “A Taxonomic Revision of the Philautus (Anura: Rhacophoridae) of Sumatra with the Description of Four New Species.”

Empat jenis katak baru tersebut adalah Philautus amabilis, Philautus polymorphus, Philautus thamyridion, dan Philautus ventrimaculatus. Penamaan masing-masing jenis ini berdasarkan keunikan dari morfologinya.

“Perbedaan masing-masing jenis berdasarkan morfologi, pola warna yang bervariasi, formulasi jari kaki dan tangan. Adanya suara yang khas diantara jenis-jenis tersebut membuat perbedaan pada keempat jenis katak ini,” kata Amir, awal pekan ini.

 

Philautus amabilis. Sumber: Herpetological Monographs, 31(1):70-113

Philautus amabilis

Jenis ini ditemukan di beberapa daerah di Sumatera, yaitu di Bur Ni Telong-Aceh, Gunung Marapi-Sumatera Barat, dan Gunung Sibuatan-Sumatera Utara diketinggian 1.587 hingga 1.977 m dpl. Jenis ini memiliki warna coklat terang pada bagian punggung, garis gelap bagian lengan, paha, tarsus, dan luar jari.

Nama amabilis berarti “cantik” dari bahasa latin dikarenakan deskripsi dari jenis ini yang begitu indah.

Rumus selaput kaki: I2–2+ II2–3.25III2–3.25IV3.25–2+V.

 

 

Philautus polymorphus. Sumber: Herpetological Monographs, 31(1):70-113

Philautus polymorphus

Jenis ini ditemukan di Gunung Patah-Sumatera Selatan, Bukit Kaba, Gunung Kambing, Gunung Daun-Bengkulu, Gunung Kerinci, Danau Tujuh- Jambi, Ngarip, Danau Ranau- Lampung, Gunung Marapi- Sumatera Barat, Gunung Dempo, dan Gunung Pesagi- Sumatera Selatan. Tepatnya, diketinggian 1.337 hingga 2.037 m dpl.

Nama polymorphus yang berarti “banyak” dikarenakan banyaknya variasi warna dan corak jenis ini. Namun, ada beberapa variasi khas yaitu garis pada bagian atas tubuh yang bisa tipis hingga lebar. Jenis ini juga memiliki tonjolan berbentuk kerucut pada bagian kelopak mata.

Rumus selaput kaki: I2–2.25II23+III2–3+IV3–2V.

 

 

Philautus thamyridion. Sumber: Herpetological Monographs, 31(1):70-113

Philautus thamyridion

Jenis ini ditemukan di Gunung Pesawaran, Ngarip, Danau Ranau-Lampung, Bukit Kaba, Gunung Daun, Gunung Kambing-Bengkulu, Gunung Dempo, Gunung Patah, dan Gunung Pesagi-Sumatera Selatan diketinggian 911 hingga 1.867 m dpl. Jenis ini memiliki warna coklat di seluruh tubuh, namun lebih terang pada bagian sisi tubuh. Ada tonjolan pada area kelopak mata, punggung dan kaki.

Nama thamyridion, berasal dari “Thamyris” Bahasa Yunani yang berarti seorang musisi yang dihukum karena kesombongannya. Jenis ini memiliki suara yang keras diantara tiga jenis lainnya.

Rumus selaput kaki: I2–2.5II2+–3.25III2.5–3.75IV3.25–2V.

 

 

Philautus ventrimaculatus. Sumber: Herpetological Monographs, 31(1):70-113

 Philautus ventrimaculatus

Jenis ini ditemukan di Gunung Dempo, Gunung Patah- Sumatera Selatan, Gunung Kerinci, dan Danau Tujuh-Jambi diketinggian 1.549 hingga 2433 m dpl. Tubuhnya memiki variasi warna hijau dan coklat dengan corak spot bagian perut.

Nama ventrimaculatus diambil dari kata “venter” yang berarti perut dan “macula” karena ada pola-pola warna di perutnya.

Rumus selaput kaki: I2-2.5II2–3+III2–3.5IV3.5–2V.

 

Konservasi katak

Ancaman katak di Indonesia saati ini adalah hilangnya habitat dan eksploitasi katak untuk dikonsumsi. Hutan di Sumatera sudah banyak dijadikan perkebunan. Jenis-jenis katak yang hidup di dataran rendah akan semakin cepat punah akibat perubahan habitat, sedangkan katak untuk dikonsumsi, saat ini Indonesia menjadi pengekspor terbesar di dunia sebanyak 4.000 ton katak/tahun.

“Kecepatan kepunahan jenis lebih cepat ketimbang penemuan jenis baru di hutan-hutan Sumatera. Begitu juga dengan ekspor katak, bila satu plastik ukuran 1 kg terdapat 22 individu, jika dikalkulasikan dengan 4.000 ton sama saja dengan 88 juta individu/tahun yang diambil dari alam,” jelas Amir.

Kita perlu belajar dari India dan Bangladesh yang awalnya juga menjadi sebagai negara pengekspor katak. Namun, akibat dari habisnya katak di alam menyebabkan penyakit demam berdarah dan malaria meningkat dan penyembuhan dari penyakit ini menghabiskan dana yang besar. “Akhirnya, kedua negara ini menghentikan ekspor katak,” ujar Amir.

Bagaimana dengan kegiatan konservasi katak? Menurut Amir, saat ini telah banyak dilakukan oleh para peneliti, mahasiswa hingga orang awam yang memiliki kesenangan meneliti katak. Sudah lebih dari 200 jenis amfibi dilakukan keterbaruan status konservasi termasuk di organisasi international yang didedikasikan untuk konservasi sumber daya alam IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources). Salah satunya yaitu jenis Leptophyrne cruentata yang telah masuk dalam jenis Kritis atau Critically Endangered.

 

Peta persebaran Philautus di Sumatera. Sumber: Herpetological Monographs, 31(1):70-113

 

Adanya wadah bernama Perhimpunan Herpetologi Indonesia (PHI) yang anggotanya terdiri dari 300 an orang juga menjadi cara dalam melindungi amfibi di Indonesia. Anggota ini terdiri dari akedemisi, lembaga penelitian, dan hobiies. “PHI membuat kegiatan workshop untuk update status konservasi, festival, pelatihan identifikasi lapangan kepada mahasiswa, dan acara kongres herpetologi dua tahuna di Indonesia yang akan dilakukan November ini,” terangnya.

Perihal pengurangan konsumsi katak yang diekspor, menurut Amir, pemerintah harus mengontrol kuota pemanenan di alam dengan mencatat jumlah individu setiap hasil yang akan diekspor ke luar negeri. Dengan begitu, peneliti dan pemerhati katak dapat mengetahui populasinya di alam.

“Masyarakat harus memahami peran katak di alam yaitu dapat mengurangi hama. Berudunya memakan jentik nyamuk dan katak dewasa memakan belalang yang dapat merusak hasil pertanian atau perkebunan. Peran katak yang penting di alam sudah dirasakan oleh India dan Bangladesh. Saya berharap, Indonesia mulai memahami fungsi katak dalam ekosistem lingkungan ini,” tandasnya.

 

Referensi

Djoko T. Iskandar. 1998. Amfibi Jawa dan Bali. Bogor: Puslitbang Biologi-LIPI.

Mirza D. Kusrini. 2013. Panduan Bergambar Identifikasi Amfibi Jawa Barat. Fakultas Kehutanan IPB dan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati.