Menjaga Hutan, Memanen Madu Sumbawa

 

Ada gula, ada semut. Kalau di hutan, pepatah ini bisa menjadi ada pepohonan hutan, ada madu. Warga bakal banyak memanen madu lebah kala hutan terjaga baik. Ini yang terjadi di hutan-hutan Sumbawa, seperti di KPH Puncak Ngengas Batulanteh, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Benda hitam pekat bergantung di satu pohon dengan tinggi sekitar 20 meter. Panjang sekitar 1,5 meter. Dari kejauhan kumpulan hitam itu tampak mengkilat sesekali karena gerakan-gerakan kecil dari ribuan binatang kecil. Itulah lebah Apis Dorsata alias lebah hutan.

Kala itu, ‘rumah’ lebah ini ditemukan keluarga Safaruddin, sejak masih gundukan kecil. Mereka menebang satu pohon kecil di sekitar situ dan meletakkan di bawah pohon yang menjadi rumah lebah. “Kayu potong ini tanda kalau sudah ada yang menemukan sarang lebah ini,” kata Safaruddin, di Batulanteh, September 2014.

Adab yang berkembang sejak lama, kala sudah ada patahan pohon, tak akan ada yang mengambil atau memindahkan. Kalaupun ada yang nekad, berisiko dijauhi warga dan mendapatkan cap bak maling.

Untuk mencapai lokasi ini, tidak mudah. Kami berjalan kaki, memasuki hutan di Gunung Batulanteh, Kecamatan Batulanteh, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Lokasi ini masuk hutan lindung di KPH Puncak Ngengas Batulanteh.

Jalan berbatu, naik turun. Melewati jurang dan menyeberangi sungai berair jernih. Sesekali merayap di tebing. Kurang lebih satu jam, barulah sampai ke pohon tempat madu membangun istana.

”Indikator kesehatan hutan ini dilihat dari produksi madu,” kata Julmansyah, Kepala Balai KPH Puncak Ngengas Batulanteh, Sumbawa, Juli lalu. Makin terjaga hutan, madu makin melimpah.

Setidaknya, madu Sumbawa ada dua jenis. Madu hutan dari lebah Apis dorsata dan madu budidaya (Trigona), dikenal dengan black honey.

Lebah Apis ini menyukai tempat bersarang di pohon tinggi, seperti binong. Sejak 1998, binong masuk daftar merah The International Union for Conservation of Nature (IUCN).

”Maka kita sedang budidaya bibit binong ini,” kata Jul, panggilan akrabnya.

Populasi pohon ini berkurang otomatis berpengaruh pada mata pencaharian masyarakat. Selain itu, perubahan iklim membuat produksi madu Sumbawa tak menentu buntut siklus bunga sebagai pakan lebah, berubah.

Melalui KPH, Jul yakin, masyarakat akan turut andil pengelolaan hutan hingga produktivitas kian meningkat.

Sahabuddin, Ketua Kelompok Sumber Alam KPH Puncak Ngengas Batulanteh mengatakan, pengelolaan madu hutan secara berkelanjutan, misal, pemanenan dengan diiris hingga telur lebah tak bercampur pada madu.

”Jika kami sisakan telur, bisa sampai dua kali panen, dengan jarak panen dua minggu,” katanya. Sistem berkelanjutan ini juga meningkatkan kualitas madu.

 

Kala lokasi lebah ditemukan, warga memberi ranting di bawah pohon sebagai penanda. Kalau sudah begitu, warga lain tak akan berani mengambil rumah lebah temuan. Foto: Sapariah Saturi/ Mongabay Indonesia

 

***

Produksi madu Sumbawa, sebagian besar madu hutan. Ia sudah dikenal lebih dulu. Sebelum ada KPH, sudah ada Jaringan Madu Hutan Sumbawa (JMHS), yang membantu mendampingi warga, dari produksi hingga pemasaran. Kehadiran KPH, makin memperluas pemasaran madu warga.

“Kita butuh dukungan lain agar manfaat KPH dirasakan langsung,” kata Julmansyah, juga fasilitator JMHS, Juli lalu.

JMHS terbentuk 2007. Jul, bercerita awal mula terbentuk JMHS. Kala itu, dia melihat, potensi madu Sumbawa besar tetapi pengelolaan masih tradisional dari produksi sampai pemasaran.

“Misal, kalau dulu, warga memeras madu mengunakan tangan. Ini kurang higienis dan berpengaruh pada kualitas madu,” katanya.

Pendampingan kepada warga dia lakukan sejak pindah dari Lombok dan menjadi pegawai negeri sipil di Sumbawa. Jul, lalu menghubungi beberapa rekan lain yang juga tertarik dengan madu.

“Ada workshop tentang madu di Sumbawa, lalu setelah itu terbentuk JMHS. Ini inisiasi bersama,” ujar dia, kala Mongabay ke Batulanteh, September 2014.

Sebelum 2007, katanya, nyaris tak ada mitra petani madu Sumbawa. Kala itu, para petani menjual madu ke toko-toko atau ke kantor-kantor. “Kasian juga. Lalu pengetahuan juga terbatas, masih pakai cara-cara tradisional dan cara peras tangan. Itu tidak higenis buat madu hutan.”

Sebelumnya, mereka juga patah arang dengan madu karena dinilai kurang ekonomis. Tahun 2007, harga madu petani Rp15.000-Rp20.000 per botol dengan isi sekitar 600 ml.

“Itulah kemudian ketika saya pindah dari Mataram ke Sumbawa, lalu inisiatif pribadi kumpulkan teman-teman yang saya tahu sebelumnya pernah bekerja di madu,” katanya.

Jul mengenalkan Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI) pada 2007 diikuti workshop di Sumbawa, Mei 2007. “Itulah awal JMHS muncul.”

Kini, JMHS setiap tahun berton-ton mengirim madu ke Jakarta. “Mengirim ke buyer kita di Jakarta. Di samping JMHS punya rumah madu yang jual outlet madu petani,” katanya.

Pada 2016, produksi madu JMHS mencapai 2,6 ton dengan rata-rata penjualan Rp37.897.291 per bulan.

 

Produksi madu hutan dari Batulanteh, Sumbawa. Foto: Sapariah Saturi/ Mongabay Indonesia

 

 

***

Pada Juli lalu, pemerintah NTB bersama KLHK dan Sumbawa menggelar Forum Bisnis Kehutanan Masyarakat di Kantor Bupati Sumbawa. Langkah ini memberikan akses modal kepada masayarakat melalui dana bergulir dari Badan Layanan Umum (BLU).

“BLU menyiapkan dana bergulir untuk mendukung pembiayaan usaha kehutanan,” kata Agus Isnantio, Kepala BLU Pusat P2H.

BLU mencari calon penerima dana bergulir, dengan identifikasi potensi usaha, penguatan lembaga, dan pendampingan bagi penyusunan proposal dan pelatihan keparalegalan.

Rufi’ie, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan Ditjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) KLHK mengatakan, potensi madu Sumbawa sangatlah besar karena banyak alternatif produk bisa dikembangkan.

Banyak potensi turunan produk madu belum berjalan optimal padahal pasar besar, seperti lem (propolis), lilin lebah (beeswax), dan racun lebah (bee venom).

Surya Dhinaya, Direktur PT Wira Usaha Lebah Kreasi, konsumen beeswax dalam jumlah besar. Selama ini, usaha yang berlokasi di Sanur, Bali ini kesulitan mendapatkan bahan baku beeswax, sedang permintaan sangat tinggi, terutama ekspor.

Perusahaan ini telah mengekspor hingga ke Amerika Serikat, Australia, Jepang dan Swiss. ”Produk kita lilin dan natural dari beeswax.”

Biasa, mereka perlu sekitar 100 kg per bulan, diperoleh dari Surabaya, Yogyakarta dan Riau. ”Kami tak tahu kalau ada potensi di Sumbawa, padahal lebih dekat,” katanya.

Surya mau membeli beeswax dari KPH Puncak Ngengas Batulanteh. Dia berharap, pasokan stabil dan memiliki standar kualitas premium, bersih, sudah tersaring, tidak terkontaminasi tanah dan ada anakan.

 

Madu budidaya, dari lebah Trigona di KPH Puncak Ngengas Batulanteh. Foto: Lusia Arumingtyas/ Mongabay Indonesia

 

Budidaya madu

KPH pun mendampingi warga di sentra pembelajaran budidaya lebah Trigona. Lebah ini sangat kecil dan tidak menyengat. Lebah ini mulai budidaya beberapa kelompok tani di Desa Pelat, Kecamatan Unter Iwes, sejak 2014.

Juraidin, salah satu anggota kelompok lebah Trigona mengatakan, hingga kini tantangan permodalan dalam stup lebah. Selama ini, pembuatan stup dengan gotong royong jika memiliki kayu berlebih.

Dalam satu kelompok budidaya, ada 171 stup. Harga stup bisa Rp40.000, untuk rumah budidaya dengan ukuran 3×3 meter Rp700.000.

Petani pun perlu rekayasa ekosistem di sekitar rumah budidaya. Biasa, ditanami belimbing, kaliandra, turi, kersen, lenturu, randu, mangga dan lain-lain.

Masa panen para petani bisa mencapai satu bulan sekali, dengan rata-rata 300 liter, seharga Rp100.000 per liter. Keunggulan produk black honey ini memiliki keterlacakan.

Setiap botol yang dibeli konsumen, akan tertera nomor kotak stup, tempat madu dipanen.

 

Proses penyaringan madu Trigona agar steril. Foto: Lusia Arumingtyas/ Mongabay Indonesia

 

 

 

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , ,