Om Utu, Petani Organik yang juga Maestro Musik Bambu Sangihe

Agustinus Sasundu, petani organik yang juga maestro musik bambu asal Sangihe, Sulawesi Utara. Foto: Ica Wulansari/Mongabay Indonesia

Perawakannya kecil, namun pria berusia 67 tahun, masih tampak gesit. Namanya Agustinus Sasundu atau biasa disebut Om Utu, begitu dia disebut  oleh kaum muda. Dibalik sikap ramah dan kesederhanannya, pria kelahiran Lenganeng, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara ini memiliki keteladan, yang telah banyak diganjar dengan ragam penghargaan.

Atas perhatiannya terhadap inovasi berbahan baku bambu lokal, ia mendapat penghargaan dari Pemda Kepulauan Sangihe untuk pengembangan seni dan budaya (2005), selanjutnya Citra Kehati Award tahun 2015 untuk inovasi lingkungan. Terakhir, ayah 3 orang anak dan 4 orang cucu ini diganjar anugerah penghargaan sebagai maestro seni tradisi 2016 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam upayanya mempertahankan musik bambu khas Sangihe.

Baca juga: Agustinus Sasundu, Mengkonservasi Bambu dengan Musik

Agustinus konsisten dalam melestarikan musik bambu sejak tahun 1969. Saat itu, ia mencoba berinovasi meraut bambu tutul yang tumbuh subur di Lenganeng, tempatnya tinggal. Namun nahas, Agustinus terluka saat itu sehingga tangannya harus mendapatkan operasi sebanyak 18 jahitan.

Tetapi luka tersebut tidak menghentikan ia untuk membuat alat musik bambu. Tekadnya bulat. Menurutnya, berbagai kekayaan alam harusnya bisa dimanfaatkan, termasuk untuk membuat alat musik dan berkesenian.

Ditanya latar belakang mengapa ia menerjuni alat musik bambu, Agustinus menyebut bakat bermusik sudah mendarah daging sejak nenek moyang orang-orang Sangihe, namun peralatan musik awalnya sangat sederhana.

Dia pun lalu tertantang untuk mengembangkan alat musik dari berbagai bahan lokal yang ada. Apalagi di Sangihe dikenal tradisi Masamper, yaitu lomba antar desa untuk menunjukkan keahlian mereka dalam bermusik.

Agustinus Sasundu saat memainkan Konosola (alat musik bambu) yang dibuatnya. Foto: Ica Wulansari/Mongabay Indonesia

 

Pada tahun 1972, Agustinus pun lalu mendirikan grup musik bambu di Tabukan Utara setelah menciptakan aransemen musik bambu. Alat musik bambu yang diciptakan, diantaranya alat musik tiup berupa seruling, klarinet, trombon, saksofon, dan terompet. Semuanya dari bahan baku bambu.

Dia pun tidak pelit dalam berbagi ilmu. Kerapkali kali dia mendatangi kampung-kampung hanya untuk membagikan ilmu membuat dan menyetel alat musik bambu.

Untuk para anak muda, Agustinus membagikan pengetahuannya bermusik dengan mengajari anak-anak muda untuk berlatih bersama. Apalagi saat itu, dia menjadi guru honorer di sebuah sekolah menengah di Sangihe.

“Bagi saya yang teristimewa, meski 90 persen warga [waktu itu] buta huruf, tapi mereka mampu memainkan orkestra musik bambu,” jelasnya mengenang bangga.

Saat ini, ia memimpin Grup Welengang Pontolawokang Sawang Jauh yang sering diundang dalam berbagai acara nasional. Mereka pun pernah tampil dalam Perayaan Natal Nasional yang dihadiri Presiden Joko Widodo di Papua.

Tidak hanya maestro musik bambu, Agustinus sebenarnya seorang petani. Awalnya dia bertani dengan menggunakan bahan kimia, namun beberapa tahun belakangan ini ia bertani secara organik.

“Saya mendapat penyuluhan dari kelompok tani lestari untuk menggunakan Pupuk Organik Hayati (POH), apalagi pupuknya hingga saat ini dapat diperoleh secara gratis,” jelasnya.

Agustinus pun lalu coba menekuni pertanian organik. Menurutnya, dengan bertani organik struktur tanah akan menjadi lebih baik dan tidak ada hama.

Dalam analisisnya untuk tanaman hortikultura seperti cabai dan mentimun, dengan penggunaan 4 botol POH, sudah cukup untuk menyirami 500 batang cabai.

Hasilnya, dalam satu kali panen cabai, panen dapat mencapai 15 kilogram dengan waktu panen selama 2 bulan. Modal untuk bertani organik untuk 500 batang cabai membutuhkan Rp500.000 yang diperuntukkan untuk membayar upah orang bekerja membersihkan lahan untuk penanaman awal.

“Sayangnya harga untuk cabai organik masih dianggap sama dengan cabai non organik di tingkat pedagang,” ujarnya.

Menurutnya minimnya pengetahuan pembeli dan harga pasar di Pasar Towo’e, ibukota Kabupaten Tahuna, membuat belum ada perbedaan harga yang lebih tinggi untuk cabai organik.

Tetapi menurutnya, filosofi bekerja bukan saja untuk mencari uang semata, namun juga untuk berdedikasi mengembangkan pengetahuan dan kebaikan. Bersama dengan Martha Macpal istrinya, Agustinus menikmati hari tuanya dengan bertani organik, serta mengaransemen musik dan mengembangkan inovasi alat musik bambu yang dicintainya.