Ini Kode Perilaku Wisata Laut yang Bertanggungjawab

 

Perusakan terumbu karang karena aktivitas wisatawan bukan hal baru di Bali. Kasus terakhir yang dilaporkan adalah rusaknya koral secara masif di sekitar 6 titik lokasi penambatan pontoon di Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali pada Juli lalu.

Gede Lama, Koordinator Komunitas Penyelam Lembongan (KPL) mengatakan sedikitnya ada 6 ponton di Mangrove Point, kawasan konservasi yang harusnya steril dari aktivitas jangkar atau menambatkan kapal. Tiap perusahaan pemilik kapal memiliki ponton sendiri, dan tiap usaha lebih dari satu kapal. Ia tak mempermasalahkan ponton, namun dampaknya pada karang.

(baca : Waspadai Aktivitas Wisata Ini yang Merusak Terumbu Karang di Bali. Apa Itu?)

Bagaimana mencegah kerusakan pada karang dan satwa laut saat kegiatan wisata? WWF Indonesia memperkenalkan Seri Aktivitas Bahari yang Bertanggung Jawab (Best Environmental Equitable Practices/BEEP) penyelaman, snorkeling, memancing rekreasi, jet skiing, parasailing pada sejumlah anak muda aawal September lalu.

Sejumlah anak muda yang tertarik pada upaya pelestarian laut menghadiri workshop ini dan berbagi pengalaman. Misalnya seorang pemuda dari Buleleng mempersoalkan aktivitas spearfishing yang kurang tepat sehingga merusak karang.

Ada juga Dina yang heran dengan perilaku wisatawan dan pengusaha kapal laut di Labuan Bajo yang membuang sampah di laut. “Busa sabun cuci piring dan sampah dibuang sembarangan,” katanya.

Ayu Ginanjar, Responsible Marine Ecotourism Officer WWF Indonesia memaparkan sejumlah kode perilaku yang bisa menjadi panduan untuk wisatawan dan pengusaha wisata air.

(baca : Miris.. Perusakan Karang Akibat Ponton Kapal Wisata di KKP Nusa Penida)

WWF membagi tiga prinsip keberlanjutan yang harus jadi dasar. Pertama, bertanggung Jawab terhadap lingkungan. Merupakan prinsip yang mendorong pelaku kepariwisataan semaksimal mungkin mengurangi dampak negatif dari rangkaian aktivitas wisata yang dilakukannya. Diikuti dengan praktik meningkatkan kualitas lingkungan baik melalui sejumlah cara seperti daur ulang limbah, memanfaatkan energi terbarukan, mengontrol penggunaan air, meminimalisir emisi gas rumah kaca, dan melindungi ekosistem di alam.

Kedua, bertanggung jawab terhadap sosial budaya. Merupakan prinsip yang bertujuan mempromosikan nilai sosial dan budaya masyarakat lokal, dan melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan kepariwisataan.

Ketiga, bertanggung jawab terhadap pengelolaan bisnis berkelanjutan. Merupakan prinsip yang menekankan perlunya pengelolaan bisnis secara cermat, tak semata memberi keuntungan pada pemegang kapital terbesar tapi juga pelaku bisnis lain yang berada di lokasi tujuan wisata, dalam hal ini masyarakat lokal.

 

Foto-foto dokumentasi tim monitoring pada Juli 2017 yang memperlihatkan kerusakan parah terumbu karang akibat aktivitas wisata oleh sejumlah kapal di kawasan konservasi perairan Nusa Penida, Bali. Foto: Arsip CTC/Mongabay Indonesia

 

Interaksi dalam laut berpeluang menyebabkan kerusakan. Para penyelam yang terlalu dekat dengan terumbu karang bisa saja menyebabkan patahnya karang tertentu, dan penggemar jet skiing dengan kecepatan tinggi bisa menyebabkan stres pada spesies tertentu atau bahkan menganggu pihak lain yang beraktivitas di sekitarnya.

Contoh lainnya adalah maraknya kegiatan memancing untuk hobi telah membuat populasi beberapa jenis ikan dan spesies lainnya di beberapa daerah pemancingan di dunia seperti Kepulauan Hawaii dan Karibia menurun drastis. Ini disebabkan karena para pemancing hobi memiliki target spesifik mengenai jenis ikan yang ditangkap dan berkompetisi untuk mendapatkan ikan terbesar dalam setiap pemancingan.

Ikan-ikan yang dipertandingkan sering kali ikan yang memiliki fungsi penting dalam ekosistem seperti; kakap, kerapu, serta ikan kakatua. Padahal menurunnya populasi ikan-ikan ini bisa menimbulkan dampak yang merugikan bagi ekosistem terumbu karang secara keseluruhan.

Peningkatan kekeruhan air dan gangguan terhadap habitat di dasar laut akibat banyaknya jumlah orang yang turun ke air. Penyelam dan snorkeler yang tidak berpengalaman dan kurang bertanggung jawab bisa menghancurkan karang ataupun organisme di sekitarnya. Selain itu substrat yang teraduk dan terangkat memperkeruh kolom air dan bisa menutupi dan mematikan koloni karang dan pada akhirnya mempengaruhi ekosistem terumbu secara keseluruhan.

(baca : Inilah Hukuman Berat yang Membuat Jera Perusak Terumbu Karang di Bali. Seperti Apa?)

 

Aktivitas penyelaman sebagai salah satu wisata utama di Desa Tulamben, Kubu, Karangasem, Bali. Foto : Reef Check Indonesia

 

Panduan untuk wisatawan

Pilihlah operator wisata yang menerapkan prinsip-prinsip kelestarian. Ini bisa Anda ketahui dari media promosi mereka, dan fasilitas yang mereka tawarkan seperti. Sejumlah hal yang bisa digali adalah, apakah operator melakukan pengenalan mengenai lingkungan dan ekosistem yang akan dikunjungi.

Menekankan dan melaksanakan pelatihan kontrol daya apung (buoyancy), serta menerapkan larangan untuk menyentuh atau menginjak satwa atau karang. Apakah menggunakan penambat kapal secara bertanggung jawab.

Apakah operator secara aktif mendukung dan terlibat dalam kegiatan konservasi dan taman nasional. Pastikan bahwa operator wisata anda memiliki peralatan yang memadai untuk kegiatan penyelaman dan snorkeling.

Pastikan bahwa operator wisata Anda memiliki peralatan yang memadai pertolongan pertama pada kecelakaan. Pemimpin penyelaman (dive leader) memiliki keahlian dan pengalaman yang memadai dan minimal memiliki sertifikat selam tingkat dive master.

 

Panduan Penyelaman

Pilihlah titik masuk (entry) dan keluar (exit) dari air secara cermat untuk menghindari daerah karang dan keselamatan penyelaman. Jaga posisi Anda tetap sejajar (horizontal) dengan air ketika berada didekat atau diatas karang. Idealnya Anda berada minimal 50 cm dari dasar substrat.

Jangan menyentuh karang dan satwa laut. Selain bisa membuat Anda terluka, karang dan sebagian besar satwa laut merupakan hewan yang sangat rentan terhadap sentuhan. “Jangan menggunakan sarung tangan, secara psikologis merasa aman dan bisa menyentuh karang,” ingat Ayu.

Jaga jarak aman Anda dengan karang ataupun satwa laut yang mungkin Anda temui. Jaga kayuhan fins dan gerakan badan Anda untuk menghindari kontak yang tidak disengaja dengan karang dan menaikan substrat dasar ke kolom air.

Jangan berdiri dan/atau beristirahat pada dasar laut atau pada karang. Tidak mendekati atau mengganggu satwa yang akan naik ke permukaan air, terutama untuk satwa yang akan mengambil nafas (penyu, ular, dan mamalia laut).

 

Anemon menjadi salah satu obyek wisata bawah laut para penyelam. Foto : Wisuda

 

Berikutnya menghindari mengejar, mengganggu atau menunggangi satwa. Jangan berpegangan pada karang pada saat safety stop, aturlah daya apung (buoyancy) anda.

Bagi fotografer bawah air, ingatlah keselamatan satwa dan diri Anda jauh lebih penting dari pada foto Anda. Penyelam harus memiliki keahlian dalam mengambil gambar dan video di dalam air. Peralatan fotografi bawah air yang tidak praktis akan berpengaruh pada daya apung (buoyancy). Anda akan semakin mudah menyentuh dan merusak satwa atau organisme laut lain saat berkonsentrasi untuk mendapatkan potret yang sempurna.

Bila melakukan penyelaman pada malam hari, HINDARI menyentuh atau membangunkan satwa yang sedang tidur. Waspada juga terhadap satwa nokturnal yang sedang mencari makan pada malam hari (seperti belut laut).

Dilarang keras untuk membuang sampah di lokasi wisata. Buang semua sampah yang Anda hasilkan pada tempat yang tersedia, bila tidak ada, simpan dan bawa kembali sampah Anda. Jangan mengambil apapun dari alam atau membeli satwa dan produk turunannya untuk dikoleksi sebagai cinderamata.

 

Panduan operator wisatawan

Informasikan kebijakan untuk “tidak menyentuh” apapun bagi para penyelam dan snorkeler. Kebijakan ini dapat diperkuat dengan mendorong penggunaan rompi pelampung untuk para perenang yang tidak berpengalaman serta saran untuk tidak menggunakan sarung tangan bagi para penyelam.

Berikan pengarahan mengenai kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan laut. Informasikan kepada tamu Anda mengenai pentingnya dan rentannya ekosistem pesisir dan terumbu karang serta dampak negatif yang dihasilkan dari kegiatan snorkeling dan penyelaman yang tidak bertanggung jawab.

Memahami lokasi wisata yang dipilih, terutama jika termasuk dalam kawasan konservasi. Pahami dan patuhi aturan-aturan yang berlaku di lokasi kegiatan, termasuk zona dimana kegiatan wisata boleh atau tidak boleh dilakukan.

 

Potensi wisata bawah laut Kabupaten Berau. Foto: WWF-Indonesia/Cipto A Gunawan

 

Hormati budaya dan kearifan lokal masyarakat di sekitar lokasi. Hal ini bervariasi, mulai dari cara berpakaian hingga larangan akan kunjungan ke lokasi-lokasi tertentu.

Kemudian pastikan pengemudi kapal penyelaman memahami penggunaan jangkar secara baik dan bertanggung jawab. Beritahu pemerintah lokal tentang gangguan atau kerusakan lingkungan yang teramati di lokasi kegiatan.

Sebanyak 7 seri BEEP bisa diunduh melalui tautan berikut: BEEP – Seri Aktivitas Bahari yang Bertanggung Jawab. BEEP – Seri Jejak Ekologis. BEEP – Seri Interaksi Sosial dan Kepatuhan Terhadap Hukum dan Peraturan.

BEEP – Berinteraksi dengan Satwa Laut. BEEP – Operasional Kapal Rekreasi yang Bertanggung Jawab. BEEP – Seri Jejak Ekologis Panduan Pengembangan Akomodasi Wisata Ramah Lingkungan dan BEEP – Seri Panduan Praktis Pemasangan Alat Tambat Apung.

 

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , ,