Daerah Tangkapan Air Rusak, Krisis Air Menjadi Ancaman Kota Jayapura

Pertambahan jumlah penduduk di Kota Jayapura yang mendorong permukiman yang berdampak pada Cagar Alam Cyclops sebagai Daerah Tangkapan Air di wilayah hulu. Foto: INFIS

Setiap tahun krisis air bersih harus dihadapi oleh warga yang menetap di kota dan kabupaten Jayapura. Para pelanggan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) pun harus bersedia mendapat giliran jatah air, rata-rata 14 jam per hari, karena debit air tidak memungkinkan untuk mengalir sepanjang waktu.

Padahal terdapat sekitar 35 ribu pelanggan sambungan rumah yang harus dilayani oleh PDAM, -instansi pemerintah yang diberikan kewenangan dalam pengelolaan air bagi masyarakat. Pertambahan penduduk dan kerusakan daerah hulu, akibat perubahan bentang lahan menjadi masalah dalam kontinuitas, kuantitas dan kualitas pasokan air.

“Krisis air saat ini karena daerah tangkapan di hulu kondisinya rusak,” kata Jarwadi, manager Humas PDAM Jayapura ketika diwawancarai Mongabay Indonesia (18/10).

“Penurunan debit air terjadi dari 895 liter per detik menjadi 483 liter per detik. Pada musim kemarau kapasitas air turun rata-rata 46 persen, dan ini bisa lebih turun lagi. Kalau pada saat musim hujan justru terjadi peningkatan kekeruhan air,” jelasnya lebih lanjut.

 

Rusaknya Daerah Tangkapan Air

Berdasarkan data laporan Gerakan Penyelamatan Danau Sentani, Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia (2014), luas Daerah Tangkapan Air (DTA) di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sentani semakin hari semakin berkurang. Lahan kritis di DAS Sentani adalah 14.847 hektar atau 19,04 persen dari luas total DAS Sentani sekitar 77.967 hektar.

Diperkirakan dari sekitar 35 sungai yang mengelilingi Cagar Alam Cyclops, -26 sungai bermuara ke Danau Sentani, 9 ke Samudera Pasifik, saat ini terdapat 11-13 sungai yang telah kering.

Salah satunya adalah Kamp Wolker, sungai yang dianggap salah satu sungai terbesar yang saat ini kondisinya memprihatinkan. Ketika musim kemarau aliran sungai ini kering, sebaliknya ketika musim penghujan terjadi banjir, erosi dan terlihat kotor.

“Padahal 15 tahun lalu ketika hutan-hutan di sekitar Cyclops masih utuh, sungai Kamp Wolker masih cenderung baik. Saya sering ajak anak-anak saya berenang di sungai ini,” ungkap Daawia Suhartawan, dosen Universitas Cendrawasih, yang juga warga kota menjelaskan.

Pengurangan DTA ini disebabkan karena banyaknya penduduk lokal maupun pendatang yang merubah fungsi kawasan Cagar Alam Cyclops menjadi area pertanian dan pemukiman penduduk. Juga karena telah terjadi penebangan pohon dan penambangan galian C, serta peningkatan populasi penduduk.

Bertambahnya lahan kritis sangat berpengaruh terhadap Danau Sentani. Dalam kondisi DAS seperti ini, maka sedimen yang masuk ke dalam danau semakin besar, air larian permukaan (run off) tinggi, serta banjir akan segera terjadi pada saat curah hujan cukup tinggi. Selain itu pada musim kemarau beberapa sungai yang dulu mengalir sepanjang tahun sekarang menjadi kering.

 

Aktivitas galian C di kaki pegunungan Cyclops difoto dari udara. Foto: INFIS

 

Laporan ini juga menyebut Danau Sentani dapat menjadi sumber potensial pemasok sumber air baku untuk penyuplai air bersih bagi pembangunan dan kehidupan masyarakat di Kota dan Kabupaten Jayapura. Namun pemanfaatan sumber air danau perlu mempertimbangkan volume dan tinggi air agar pemanfaatannya tidak sampai mengganggu neraca air.

Hendra Mauri, Sekretaris Pusat Studi Lingkungan Universitas Cendrawasih membenarkan pernyataan berkurangnya debit air dari pegunungan Cyclops.

“Ketika kawasan dibuka bagian bawah saja sangat berpengaruh terhadap debit air. Apalagi begitu cagar alam dibuka, pasti sangat berdampak ke masyarakat yang ada di kabupaten dan kota Jayapura. Cyclops sebagai cagar alam kondisinya sangat terganggu,” ujar Hendra.

Ia menegaskan bahwa peran Cyclops sangat penting menjaga suplai air bersih bagi masyarakat di kabupaten dan kota Jayapura. Dia menyebut krisis air juga disebabkan oleh bertambahnya jumlah penduduk dan disaat bersamaan intake atau tempat pengambilan air milik PDAM berkurang.

 

Dari Persoalan Infrastruktur hingga Rencana Pengembangan

Selain persoalan utama yang terjadi di hulu, PDAM Jayapura juga menghadapi persoalan yang ada di hilir. Seperti terjadi penurunan tekanan air karena infrastruktur yang sudah tua, -sejak era kolonial Belanda, tingginya pencurian air, pelanggan yang belum seluruhnya memakai meter, dan juga kesadaran pelanggan yang kurang.

“Juga karena terjadi peningkatan penduduk secara drastis terutama di Kota Jayapura. Hitungan kasar saja, kapal masuk pelabuhan seminggu tiga kali dan 100 orang yang masuk menetap mencari kerja. Kondisi seperti ini sangat membutuhkan air,” jelas Jarwadi.

Untuk memperbaiki daerah tangkapan air dia menyebut telah melakukan kerjasama dengan para pemuka masyarakat untuk menanami wilayah di bagian hulu.

“Kami sudah sering membuat penyuluhan atau sosialisasi ke masyarakat sampai ke tingkat RT/RW. Juga kerjasama dengan Polres baik kota dan kabupaten, serta bermitra dengan LSM lingkungan,” ungkap Jarwadi. Namun, tak jarang jelasnya, oknum-oknum masyarakat tak bertanggungjawab mencabuti kembali bibit tanaman yang telah ditanami tersebut.

Dia menyebut pihaknya sedang merencanakan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) lewat pemanfaatan air Danau Sentani sebesar 1.100 liter per detik untuk menangani daerah selatan Jayapura. Adapun sumber air di daerah Ormu sebesar 200 liter per detik diproyeksikan untuk daerah di utara Kota Jayapura.

Tak kalah pentingnya adalah menyambut pelaksanaan PON (Pekan Olahraga Nasional) 2020 yang akan berlangsung di Jayapura. Kegiatan nasional tersebut juga membutuhkan air bersih yang sangat banyak untuk menjamu delegasi dari seluruh provinsi di Indonesia.

“Saat PON nanti sangat membutuhkan air. Kalau hanya mengharapkan [aliran air] dari Cyclops tidak akan cukup. Jadi Danau Sentani akan diolah dan airnya dimanfaatkan untuk melayani delegasi PON.”