Menghitung Burung Pemangsa Migrasi, Bagaimana Caranya?

 

Sikep-madu asia. Foto: Budi Hermawan/Be Wildlife Photography

 

Setiap tahun, sekitar awal Agustus, ketika Bumi belahan utara memasuki musim dingin, burung pemangsa akan melakukan melakukan perjalanan jauh ke Bumi bagian selatan. Tujuannya, mencari makanan dikarenakan di wilayah asalnya, seperti China, Jepang, dan Siberia, sumber pakannya mulai sulit didapat. Pola adaptasi ini yang dinamakan migrasi.

Indonesia merupakan wilayah yang menjadi jalur migrasi. Berdasarkan booklet Birdlife International Indonesia Program, ada dua jalur yang digunakan burung pemangsa saat menjalankan ritual tahunannya, Eastern Inland Corridor dan Pacific Corridor.

Eastern Inland Corridor dimulai dari kawasan Siberia menuju China bagian timur ke arah semenanjung Malaysia, termasuk Tanjung Tuan di Semenanjung Malaysia bagian selatan, lalu masuk ke Indonesia melewati Selat Malaka ke Sumatera. Sementara Pacific Corridor dibagi dua yaitu Coastal Pacific Corridor dan Oceanic Pacific Corridor.

Coastal Pacific Corridor adalah jalur yang dimulai dari Siberia ke arah China, lalu ke Beijing, Thailand, Vietnam, dan masuk ke Indonesia melalui Sumatera. Sedangkan Oceanic Pacific Corridor, bermula dari Siberia ke Pulau Kuril dan Pulau Shakalin di bagian Timur Rusia, lalu ke China bagian selatan, semenanjung Korea, kepulauan Jepang, Taiwan, Filipina dan masuk ke Indonesia melalui Pulau Kalimantan dan Sulawesi.

Saat migrasi, jumlah burung pemangsa yang menghiasi angkasa akan begitu banyak. Pertanyaan muncul, bagaimanakah caranya menghitung jumlah raptor pengembara tersebut?

Keith L. Beinsten dan kolega dalan tulisannya Migration Counts and Monitoring serta Erica H. Dunn dan rekan dalam jurnal berjudul Recommended Methods for Population Monitoring at Raptor-migration Watchsites memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.

 

Sikep-madu asia, jenis raptor yang mengembara setiap tahunnya. Foto: Khaleb Yordan

 

Erica mengatakan, setiap pencatat burung migrasi harus menyadari bahwa akan ada pengaruh cuaca, jumlah burung, dan kemampuan pengamat. Faktor lain yang mempengaruhi pengamatan adalah ketinggian burung terbang dan jumlah individu saat bermigrasi. Agar dapat terpantau dengan baik, pengamat disarankan memantaunya saat masa migrasi, bukan puncak migrasi. “Lokasi pengamatan juga harus diperhatikan, seperti lebih tinggi dari sekitar, tidak terlalu sempit, dan mudah dijangkau.”

Keith menambahkan, bukit maupun pegunungan yang bisa melihat ke arah 180 derajat, atau daerah riparian yang memiliki kekayaan satwa sebagai salah satu pakan burung pemangsa, dapat dijadikan lokasi pengamatan. Waktu mulai dan panjang periode hitungan harian harus ditetapkan, untuk memaksimalkan cakupan spesies sasaran. Minimum 6 jam, atau 8-9 jam sehari. “Perhitungan jenis dan jumlah burung sebaiknya dilakukan selama masa migrasi, hal ini dilakukan bila ingin mendeteksi tren populasi burung bermigrasi. Jumlah burung dalam satu kelompok, bisa mencapai ratusan individu.”

Pengamat harus bisa mengidentifikasi jenis yang dilihat, apakah jenis elang, elang alap, alap-alap, atau jenis yang tidak ada di buku panduan. Bila jumlah individu terlalu tinggi atau jauh, gunakan taksiran jumlah seperti kelompok kecil dengan ukuran yang diperkirakan bukan individu. Misalnya, dalam satu kelompok terdiri 5-10 individu, pengamat tinggal menghitung ada berapa kelompok.

“Total perkiraan jumlah individu adalah jumlah individu dalam satu kelompok dikalikan banyaknya kelompok, ditambah beberapa individu tersisa yang tidak masuk kelompok tersebut,” tulis Keith.

Bila perkiraan tidak tepat, pengamat bisa menulis rentang jumlah individu, seperti 100 sampai 150 individu. Penggunaan alat hand counter sangat membantu dalam hal ini. Saat jumlahnya banyak, bisa didokumentasikan dengan kamera dahulu lalu dihitung.

Penggunaan binoculars dan monocular sangat penting dalam identifikasi dan penghitungan. Binoculars dengan pembesaran 8x sampai 10x dianggap terbaik, meski ukuran 7x juga bisa digunakan. Monocular dengan pembesaran 15x sampai 20x sudah representatif.

Distorsi gelombang panas dan getaran tripod sering kali mengganggu penggunaan teleskop dengan perbesaran lebih tinggi. Saat mengamati burung pemangsa bermigrasi, pengamat harus lebih sering melihat secara horizontal atau vertikal ke cakrawala karena kemungkinan burung tidak melintasi lokasi pengamatan.

“Informasi mengenai cuaca, suhu sekitar, asap, dan tekanan barometrik penting dikumpulkan untuk studi jangka panjang migrasi burung pemangsa ini, atau untuk keperluan status populasi regionalnya,” tulis Keith dalam laporannya.

 

Lokasi pengamatan burung pemangsa saat migrasi di Watu Goyang, Jogjakarta, Foto: Kiryono/Bionic

 

Jejak pengembara

Di Indonesia, kegiatan pengamatan burung migrasi sudah dilakukan sejak tahun 90-an di wilayah Puncak, Bogor. Saat itu, pengamat burung dari Indonesia, Inggris, dan Jepang, yaitu Rudyanto, Adrian Long, dan Kazuo Koyama tidak sengaja melihat sekelompok elang melintasi jalur Puncak. Hingga kini, lokasi tersebut digunakan pengamat burung dari Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) untuk memonitoring migrasinya burung pemangsa.

“Pengamatan burung pemangsa di Bukit Paralayang, Puncak, Bogor, kami lakukan pagi hingga sore hari. Sekitar 1.000 individu terpantau jelas. Jenisnya elang-alap cina, elang-alap nipon, dan sikep-madu asia yang dalam satu kelompok terlihat hingga ratusan individu. Mereka terbang mengikuti arah angin dan thermal,” ungkap Rudyanto, yang melakukan pemantauan bersama pengamat burung dari Jakarta pada Sabtu, 21 Oktober l2017.

Rudy menambahkan, pengamatan migrasi tidak hanya di Puncak. Di waktu yang sama juga dilakukan oleh pengamat dari Be Wildlife Photography, Bandring, Bicons di seputaran Gunung Batu, Bandung; Paguyuban Pengamat Burung Jogja di Watu Goyang, Jogjakarta; pengamat burung Satwa Bali, Kokokan, juga Himabio Udayana di Gunung Sega, Bali.

Ferry Hasundungan, Biodiversity Conservation Specialist Burung Indonesia, dalam pengamatannya pada 28 Oktober 2017, melaporkan bahwa beberapa jenis raptor kemungkinan datang lebih awal. Sebagian bermigrasi dengan tujuan wilayah Indonesia, lainnya hanya transit. “Memasuki Maret, mereka bergerak kembali ke tempat asalnya,” ujarnya.

Sebelumnya, dalam Jurnal The Asian Raptor Research & Conservation Network (ARRCN) 2015, Asman Adi Purwanto dkk telah merangkum perjalanan burung pemangsa bermigrasi dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali, Maluku, Sunda kecil, dan Papua, mulai 2010 hingga 2011.

Menurut Asman, sebanyak 25 jenis burung terpantau dengan individu yang paling banyak adalah dari jenis elang-alap cina (Accipiter soloensis) yaitu 78.4%, yang diikuti sikep-madu asia, dan elang-alap jepang.

Sementara jenis lain yang sangat jarang terlihat namun terpau adalah baza hitam (Aviceda leuphotes), elang-ular jari-pendek (Circaetus gallicus), elang-rawa katak (Circus aeruginosus), elang-rawa timur (Circus spilonotus), elang-alap shikra (Accipiter badius), elang-alap besra (Accipiter virgatus), elang sayap-coklat (Butastur liventer), elang buteo (Buteo buteo), rajawali totol (Aquila clanga), rajawali ekor-baji (Aquila audax), elang wetiwel (Hieraaetus pennatus), alap-alap erasia (Falco tinnunculus), dan alap-alap walet (Falco subbuteo).