Banjir, Antropogenik, dan Demokrasi

  “Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu.”   Begitu kutipan bait terakhir puisi karangan sastrawan terkemuka Indonesia, Sapardi Joko Damono, berjudul “Hujan Bulan Juni.” Juni, bulan yang identik dengan kemarau. Tanah kering kerontang dan pohon meranggas. Hingga, hujan turun pada Juni adalah suatu … Lanjutkan membaca Banjir, Antropogenik, dan Demokrasi