Pak Lim & Raptor Club Indonesia: Mengapa Indonesia Tak Berdaya Lindungi Burung Predator?

Facebook146Twitter38LinkedIn0Google+0Email

Proses penangkaran burung Serak Jawa (Tyto alba). Foto: Raptor Club Indonesia

Awal Agustus 2012, Lim Wen Sin dan dua rekannya, Josafat Agung Sulistyo (Jose), bendahara dan Trainner RCI, serta Ignasius Kendal (Yayasan Hijau Yogyakarta) menerima Mongabay Indonesia. Pria yang akrab dipanggil Pak Lim ini adalah Kepala Konservasi Alam, Raptor Club Indonesia (RCI). Dilahirkan di Yogyakarta, 18 Maret 1977. Lulusan Fakultas Biologi, Atmajaya Yogyakarta tahun 2002 ini sudah melakukan penelitian terkait dengan “Keanekaragman anggota Lepidoptera kupu-kupu” di Kebun Raya Kebun Binatang, Gembiraloka, Yogyakarta. Tahun 2002 – 2008, Pak Lim juga bagian dari Yayasan Kutilang Yogyakarta. Pada 3 Juni 2009, Pak Lim bergabung dengan Raptor Club Indonesia. Raptor Club Indonesia (RCI) merupakan organisasi beranggotakan para penggemar burung pemangsa yang ikut prihatin pada nasib burung pemangsa di tanah air. Adapun sekretariat RCI, di Jalan Kaliurang km 5, Gg.Pangkur no 2 Jogjakarta.

Lim Wen Sin, salah satu dedengkot Raptor Club Indonesia yang terus berupaya menyelamatkan hidup burung-burung predator di Indonesia. Foto: Tommy Apriando

Mongabay.co.id : Apa yang melatarbelakangi dibentuknya Raptor Club Indonesia (RCI) ?

Pak Lim: Mendirikan RCI ini berangkat dari keperhatian dan kesadaran bahwa memelihara burung pemangsa itu adalah salah dan ingin memperbaiki diri. Seharusnya, semua burung pemangsa di Indonesia ini dilindungi. Karena status burung pemangsa ini milik negara. Saya bergabung dengan RCI, karena kami yakin, apabila ada seratus orang yang melakukan pemeliharaan burung pemangsa, maka lama-kelamaan raptor di Indonesia ini akan punah.

Mongabay.co.id : Bagaimana dengan keberadaan Burung Pemangsa di Indonesia ?

Pak Lim: Di Indonesia dapat dikatakan luar biasa, ada 78 jenis burung pemangsa yang telah tercatat di Nusantara. Itu berarti, bumi Indonesia menjadi tempat hidup bagi 25% dari total jumlah jenis burung pemangsa di dunia. Dari jumlah tersebut, ada 15 jenis raptor dengan predikat endemik yang berarti hanya dapat dijumpai secara alami di Indonesia. Artinya, sekitar 20% burung pemangsa dunia ada Indonesia.

Elang hitam. Foto: Raptor Club Indonesia

Mongabay.co.id : Apa saja yang anda lakukan bersama Raptor Club Indonesia?

Pak Lim : Dari awal terbentuk RCI, belum begitu banyak yang kami lakukan. Namun, kegiatan rutin kami diantaranya, melakukan pelatihan burung pemangsa dengan menggunakan metode Falconry, melakukan MoU dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Daerah Instimewa Yogyakarta, sudah empat kali melakukan pelepasliaran, pertama, Pelepasliaran Elang Jawa; Spizaetus bartelsi – “Sylvi” (25 April 2009), kedua, pelepasliaran Elang – Alap Nipon; Accipiter gularis (04 Januari 2011), ketiga, pelepasliaran Elang – Alap Jambul; Accipiter trivirgatus (15 September 2011),  dan terakhir pelepasliaran Elang – Alap Jambul; Accipiter trivirgatus (02 Februari 2012). Selain itu, kami melakukan Implantasi microchip pada burung pemangsa sejak tahun 2010 sampai saat ini. Pengamatan burung pemangsa dan pemetaan sarang serak jawa, Tyto alba javanica, sejak tahun 2009 serta Partisipasi The Third International Festival of Falconry, pada tahun 2011 kemarin.

Ke depan, langkah Raptor Club Indonesia dengan “falconry konservasi dan edukasi”-nya ditunjukkan pada, pendirian raptor center berbasis falconry untuk rehabilitasi burung pemangsa, riset penangkaran ex situ bagi burung pemangsa, pendirian bank DNA untuk burung pemangsa Indonesia, implantasi dan penandaan burung pemangsa ex situ, re-introduksi Tyto alba javanica dan nestbox di lahan pertanian, kunjungan edukasi untuk siswa sekolah dasar hingga menengah dan pemantauan kawasan – kawasan penting bagi burung pemangsa.

Mongabay.co.id: Bisakah anda jelaskan terkait dengan sejarah Falconry?

Pak Lim: Penjelasannya panjang, namun sejarahnya Falconry adalah suatu bentuk olah-raga kuno di mana falconer (sebutan untuk orang yang melakukan falconry) melakukan kegiatan berburu binatang liar menggunakan bantuan burung pemangsa. Maksud dari perburuan disini adalah perburuan dengan menggunakan asas alamiah, di mana burung pemangsa yang digunakan sebagai teman berburu dan mangsa yang diburu merupakan hubungan antara pemangsa dan mangsa yang ada di habitat mereka.

Pelepasliaran, salah satu aktivitas Raptor Club Indonesia. Foto: Raptor Club Indonesia

Mongabay.co.id: Bagaimana metode yang digunakan oleh RCI sekarang ini ?

Pak Lim: Terkait dengan penggunaan falconry sekarang, RCI melihatnya dari lima metode

1.    Hunting/ pure falconry (Murni untuk berburu). Metode ini menjadikan burung pemangsa sebagai partner berburu, maka pemilihan burung pun tidak bisa dilakukan dengan serta merta dan harus dilakukan dengan berbagai pertimbangan antara lain, tipe lingkungan berburu, mangsa apa yang tersedia, dan lain-lain.

2.    Ex-situ Breeding (pengembangbiakan secara buatan). Breeding atau pengembangbiakkan buatan ini untuk meregenerasi burung pemangsa.

3.    Rehab and Release Program (program rehabilitasi dan pelepasliaran). Di dalam kegiatan ini, fungsi falconry adalah sebagai metode yang dipergunakan untuk melakukan proses rehabilitasi burung pemangsa liar yang kategorinya dapat dilepasliarkan kembali.

4.    Education (Edukasi). Kegiatan ini sifatnya melengkapi falconry, yang terdiri dari pengenalan burung pemangsa kepada masyarakat, demo terbang, dll.

5.    Pest control (Penggunaan falconry untuk pemberantasan hama). Kegiatan falconry dapat juga digunakan untuk melakukan pemberantasan hama karena falconry menggunakan asas alamiah.

Mongabay.co.id: Apa ancaman terbesar terhadap populasi Burung Pemangsa di Indonesia ?

Pak Lim: Ini menjadi ironis, ketika jumlah jenis yang besar tersebut juga setara dengan besarnya ancaman yang ada. Ancaman terhadap burung pemangsa sebenarnya sama dengan satwa liar lainnya, mulai dari tingginya perburuan, perubahan iklim, dan kerusakan habitat. Anda bisa lihat, karena ulah “Pesulap Limbad” yang menggunakan burung hantu, di Jakarta, lebih dari 70 ekor burung hantu di perjualbelikan. Ini ancaman nyata. Dampak dari Harry Potter, di Eropa, banyak orang yang ingin membeli burung hantu. Ini fatal.

Proses evakuasi burung hantu. Foto: Raptor Club Indonesia

Mongabay.co.id: Apa kekurangan pemerintah dalam penanganan Raptor di Indonesia ?

Pak Lim: Sebenarnya terkait dengan kekurangan dalam hal ini tidak hanya di sektor burung pemangsa, namun di semua satwa liar. Yang sangat terlihat adalah komitmen pemerintah yang masih kurang dan sering berubah-ubah dalam penanganan burung pemangsa ataupun satwa liar. Harus ingat bahwa penyelamatan satwa bukan sekedar seremonial, dengan dana sekian selesai. Namun, pemerintah harus melakukan pengubahan pola pikir masyarakat bangsa ini untuk peduli terhadap satwa di negara ini, selama itu tidak dilakukan, maka kepunahan satwa apalagi burung pemangsa tinggal menunggu waktu.

Mongabay.co.id : Apa pesan anda terhadap para pemilihara, pelaku jual beli Raptor di Indonesia ?

Pak Lim: Kepada para pemelihara atau pelaku jual beli burung pemangsa di seluruh Indonesia, jangan membeli lagi burung pemangsa, jangan melakukan jual beli, karena akan mengancam kepunahan. Jangan merawatnya dengan menggunakan standar manusia, akan tetapi standar burung pemangsa. Burung pemangsa bukan hewan peliharaan. Mereka berbeda.

Pelepasliaran elang alap jambul. Foto: Raptor Club Indonesia

Mongabay.co.id : Apa harapan anda terhadap pemerintah, dalam penanganan Burung Pemangsa kedepannya ?

Pak Lim: Harapan kita agar pemerintah mau bekerjasama melakukan penangkaran, karena pada prinsipnya, melakukan penangkaran pastilah membutuhkan keterlibatan semua pihak termasuk pemerintah, dalam hal ini Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di DIY, yang menurut kami sudah istimewa dan cukup baik merespon kegiatan RCI. Selain itu, kami ingin Indonesia menjadi pemimpin dalam segala hal terkait dengan burung pemangsa, kecuali dalah hal jual beli, pemerintah tidak boleh lakukan, namun melarang. Kita paling kaya untuk keanekargaman burung pemangsa, kenapa kita tidak bisa punya kekuatan (power) di sektor itu, namun yang kita lihat saat ini malah pada sektor perdagangannya di pasar.

Elang brontok. Foto: Raptor Club Indonesia

Comments