Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Cerita fitur

Ketika Warga Gugat Pemerintah Karena Lamban Tangani Bencana Sumatera

Irfan Maulana 4 Jun 2026

Sang ‘Ikan Hari Kiamat’: Tubuh Sepanjang 11 Meter, Mangsa Sebesar Kuku Jari

Akhyari Hananto 4 Jun 2026

Ketika Permintaan Bambu Flores Tinggi, Bagaimana Jaga Keberlanjutan di Alam?

Ebed de Rosary 4 Jun 2026
Cerita fitur

Ketika Ekosistem Gambut Makin Kritis

Irfan Maulana 3 Jun 2026

Menyoal Skor “Hijau’ Alamtri Resources

Anggita Raissa 3 Jun 2026

Minim Penelitian, Kelinci Belang Sumatera Antara Ada dan Tiada

Agustinus Wijayanto 3 Jun 2026
Semua berita

Berita utama

Ketika Warga Gugat Pemerintah Karena Lamban Tangani Bencana Sumatera

Ketika Ekosistem Gambut Makin Kritis

Irfan Maulana 3 Jun 2026

Kebun Sawit Sekitar Meratus Ancam Lukisan Prasejarah

Rendy Tisna 3 Jun 2026

Puluhan Raflesia Bermekaran di Kepulauan Anambas

Yogi E Sahputra 2 Jun 2026

Banjir Lumpur Campur Batubara Sengsarakan Warga Tapin Selatan

Riyad Dafhi Rizki 2 Jun 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Dua perempuan Desa Paremas menjemur kerupuk cangkang kepiting. Di belakang mereka tampak hutan mangrove yang cukup lebat yang menjadi rumah bagi kepiting yang dijual ke kota. Limbah cangkang kepiting itu kini diolah menjadi kerupuk. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Lebah Madu dan Pilar Alam yang Rapuh

Sengatan Lebah Madu dan Harapan Baru Terapi Kanker

Nuswantoro 25 Mei 2026

Lebah dan Tawon, Kenali Ciri Utama Perbedaannya

Nuswantoro 5 Des 2024

Madu Kelulut dan Kelestarian Hutan Leuser

Junaidi Hanafiah 13 Okt 2021

Studi: Ada Kesamaan Interaksi Lebah Madu dengan Kehidupan Sosial Manusia

Rahmadi Rahmad 18 Des 2020

Lebah madu bukan sekadar produsen komoditas, melainkan pilar penting yang menjaga stabilitas ekosistem dan ketahanan pangan global, namun keberadaan makhluk kecil yang cerdas ini kini berada di titik persimpangan yang krusial akibat perubahan iklim global, alih fungsi lahan oleh industri ekstraktif, dan polusi teknologi yang perlahan mengikis ruang hidup mereka hingga memperpendek umur lebah serta […]

Lebah Madu dan Pilar Alam yang Rapuh series

Lebih spesial

Perempuan adat Boti (Taela Sae, Muke Benu, Seo Neolaka, Kuma Neolaka) sedang membawa hasil panen berupa jagung, kacang tunis, sorgum, dan sayur-sayuran segar. Foto: Mario Sara/ Mongabay Indonesia
7 cerita

Cerita dari Y. Eva Tan Fellows

9 cerita

Ikan-Ikan dari Era Pra-Sejarah di Perairan Nusantara

0 cerita

Satwa Papua: Benteng Terakhir Hutan Purba

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Dua perempuan Desa Paremas menjemur kerupuk cangkang kepiting. Di belakang mereka tampak hutan mangrove yang cukup lebat yang menjadi rumah bagi kepiting yang dijual ke kota. Limbah cangkang kepiting itu kini diolah menjadi kerupuk. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia

Cerita di Bulan Mei, dari Danau Batur sampai Teluk Weda

Kadek Dian Dwiyanti H.* 28 Mei 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk

Niko Wicaksana 22 Apr 2026

Kontes Burung Kicau, Sunyikan Hutan Indonesia

Rizky Maulana Yanuar, Sandy Watt 25 Feb 2026

Mewaspadai Perdagangan Kucing Kuwuk di Platform Online

Falahi Mubarok 26 Okt 2025

Kenali Owa Jawa Melalui Suara

Rahmadi Rahmad 23 Okt 2025

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025
}

Pantau terus berita terbaru kami celana pendek

King Cobra, Predator Puncak yang Memangsa Sesama Ular Berbisa

Akhyari Hananto 4 Jun 2026

Di antara ribuan spesies ular yang hidup di muka bumi, king cobra (Ophiophagus hannah) menempati posisi yang benar-benar berbeda. Bukan hanya karena tubuhnya yang bisa mencapai 5,5 meter, menjadikannya ular berbisa terpanjang di dunia, tetapi karena satu kebiasaan yang nyaris tak dimiliki ular lain: ia berburu dan memakan ular berbisa lainnya.

Perilaku ini disebut ophiophagy, dan king cobra adalah salah satu contoh paling ekstrem dari adaptasi tersebut. Mangsanya bukan sembarang ular. Ia secara rutin memburu krait (Bungarus sp.) dan kobra sejati (Naja sp.), dua kelompok ular dengan bisa neurotoksik paling mematikan di Asia. Selain keduanya, ular beludak Russell (Daboia russelii), ular tikus, hingga biawak kecil juga sesekali masuk dalam daftarnya, meski lebih bersifat oportunistik. Penelitian menunjukkan bahwa king cobra memiliki ketahanan terhadap racun neurotoksik dari mangsanya sendiri, sebuah adaptasi evolusi yang membuatnya nyaris tak tertandingi di habitatnya.

Meski namanya mengandung kata “kobra,” king cobra bukan bagian dari genus Naja yang mencakup kobra India maupun kobra Mesir. Ia adalah satu-satunya anggota genus Ophiophagus, sebuah nama Latin yang secara harfiah berarti “pemakan ular.” Tudungnya lebih sempit, tubuhnya jauh lebih besar, dan pola makannya jauh lebih terspesialisasi dibanding kobra mana pun.

Dalam berburu, king cobra mengandalkan penglihatan tajam dan organ Jacobson di langit-langit mulutnya untuk menganalisis partikel kimia yang ditangkap lidah bercabangnya. Dengan cara ini, ia bisa melacak keberadaan mangsa dengan akurasi tinggi sebelum menyerang dengan kecepatan luar biasa. Satu gigitan bisa menyuntikkan hingga 7 mililiter racun, mengandung neurotoksin yang melumpuhkan sistem saraf serta kardiotoksin yang menyerang jantung, cukup untuk membunuh seekor gajah dewasa atau dua puluh manusia sekaligus. Saat merasa terancam, ia mampu mengangkat sepertiga tubuhnya sambil melebarkan tudung dan mendesis keras. Pertunjukan intimidasi ini sering kali cukup mengusir ancaman tanpa perlu satu pun gigitan.

Namun predator seperkasa ini pun tidak kebal dari tekanan manusia. Deforestasi menyusutkan habitat berburunya, sementara perburuan ilegal terus berlangsung untuk keperluan kulit, pengobatan tradisional, dan pertunjukan ular. Konflik dengan manusia semakin sering terjadi seiring menyempitnya ruang hidup king cobra, dan banyak yang akhirnya dibunuh karena dianggap berbahaya. Padahal, sebagai pengendali populasi ular berbisa lain, kehadiran king cobra justru menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis.

Saat ini IUCN mengkategorikannya sebagai spesies Rentan (Vulnerable), sebuah peringatan bahwa tanpa langkah konservasi yang lebih serius, predator puncak dunia ular ini bisa lenyap jauh lebih cepat dari yang kita bayangkan.

Cinenen Pisang, Burung Mungil Penjahit Daun yang Akrab di Pekarangan Kita

Akhyari Hananto 4 Jun 2026

Tubuhnya hanya sekitar 10 hingga 11 sentimeter, namun gerakannya tak pernah diam. Ia melompat dari ranting ke ranting, sesekali menyelipkan kepala ke dalam batang bambu untuk mencari makan, lalu muncul kembali seolah tak terjadi apa-apa. Saat tidur, tubuhnya menggulung membulat seperti bola pingpong. Inilah cinenen pisang (Orthotomus sutortus), salah satu burung paling familiar di pekarangan rumah kita, namun justru paling jarang mendapat perhatian.

Nama Inggrisnya, Common Tailorbird, bukan tanpa alasan. Burung ini membangun sarang dengan cara menjahit lembaran daun menggunakan serat alami dan jaring laba-laba, sebuah teknik yang membuat para pengamat burung berdecak kagum. Afinna Aninnas, peneliti dari Kelompok Pengamat Burung Zoothera Andromedae Universitas Brawijaya, bahkan menyebut teknik konstruksi sarang cinenen pisang bisa menjadi inspirasi bagi manusia dalam merancang struktur bangunan.

Secara penampilan, cinenen pisang memadukan warna hijau zaitun di punggung dan sayap, putih keabu-abuan di bagian bawah tubuh, serta mahkota merah karat yang menjadi ciri khasnya. Paruhnya sedikit panjang dan meruncing, sangat pas untuk menangkap serangga kecil seperti ulat, jangkrik, dan telur semut. Kicauannya nyaring dan variatif, sehingga keberadaannya mudah dideteksi bahkan tanpa melihat langsung.

Cinenen pisang tersebar luas di Pulau Jawa dan berbagai negara Asia, mulai dari India, Sri Lanka, Myanmar, Thailand, hingga Kamboja. Habitatnya beragam: pekarangan rumah, sawah, semak belukar, hingga hutan produksi. Justru karena terlalu umum itulah, burung ini kerap luput dari agenda riset. “Populasinya masih banyak, sehingga kurang menarik perhatian para peneliti,” kata Afinna. Padahal menurutnya, perilaku burung ini, terutama respons terhadap berbagai intervensi di habitat yang berbeda, masih sangat layak untuk dikaji lebih dalam.

Status konservasi cinenen pisang memang belum masuk kategori dilindungi. Namun itu bukan jaminan keamanannya. Burung ini cukup diminati kalangan kicau mania, sehingga perburuan tetap terjadi, termasuk oleh anak-anak di desa yang menjadikannya sasaran di waktu luang. Jika perburuan berlangsung masif tanpa kontrol, penurunan populasi bukan hal yang mustahil.

Penyitaan besar-besaran di Pelabuhan Bakauheni pada Oktober 2024 yang menyita lebih dari 6.500 burung liar membuktikan bahwa cinenen pisang termasuk salah satu spesies yang paling banyak diperdagangkan. Dari total 121.689 burung kicau Sumatera yang disita antara 2021 dan 2023, sebagian besar adalah prenjak dan cinenen pisang. Burung yang selama ini kita anggap “biasa” itu, ternyata sedang menghadapi tekanan yang tidak biasa.

Apodora papuana: Raksasa Senyap yang Menjaga Hutan Papua

Akhyari Hananto 3 Jun 2026

Di lantai hutan hujan Papua, di antara dedaunan lembap dan akar-akar yang meliuk, seekor predator bergerak tanpa suara. Panjangnya bisa mencapai lebih dari empat meter, tubuhnya tebal dan berkilau dalam nuansa hijau keabu-abuan yang menyatu sempurna dengan lingkungan sekitarnya. Ini bukan buaya, bukan biawak. Ini piton zaitun papua, Apodora papuana, satu-satunya spesies dalam genusnya.

Nama “zaitun” bukan sekadar julukan. Warna dominan tubuhnya memang menyerupai buah atau minyak zaitun, hijau keabu-abuan hingga cokelat kehijauan gelap. Yang lebih mengejutkan, ular ini disebut mampu mengubah warnanya, dari hijau zaitun ke kuning, bahkan ke nuansa hitam, kadang memperlihatkan dua warna sekaligus. Perubahan ini diyakini terkait kondisi stres atau agitasi, semacam bahasa tubuh yang diungkapkan lewat pigmen kulit.

Seperti kebanyakan piton, Apodora papuana dilengkapi lubang sensor panas di sekitar mulutnya, adaptasi yang membuatnya menjadi pemburu nokturnal yang sangat efisien. Dalam kegelapan total, ia bisa mendeteksi keberadaan mangsa berdarah panas, lalu menyergap dengan serangan cepat dan lilitan yang tak memberi kesempatan.

Menurut Hari Suroto, peneliti dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan BRIN, spesies ini tersebar di Papua dan Papua Nugini, mendiami dataran rendah hingga ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Hutan hujan tropis adalah habitatnya yang ideal, menyediakan iklim lembap, dedaunan lebat sebagai kamuflase, dan berlimpahnya mangsa. Beberapa pulau lepas pantai seperti Misool, Biak, Yapen, dan Numfor juga menjadi wilayah sebarannya.

Dalam rantai ekosistem, peran piton ini jauh lebih besar dari yang terlihat. Ia mengendalikan populasi hewan pengerat dan marsupial kecil, menjaga keseimbangan rantai makanan. Lebih dari itu, karena ular memiliki daerah jelajah yang lebih luas dari mangsanya, benih-benih yang ikut tertelan bersama hewan pengerat akan tersebar jauh lebih luas melalui ekskresi. Deepti Beri dan Soumyadeep Bhaumik dari The George Institute menyebut ular sebagai “insinyur ekosistem” yang berkontribusi pada penyebaran benih dan kelangsungan keanekaragaman hayati.

Metabolisme Apodora papuana yang lambat membuatnya bisa bertahan berminggu hingga berbulan hanya dari satu kali makan besar. Ia tidak agresif terhadap manusia kecuali terprovokasi. Dalam daftar merah IUCN, statusnya saat ini masih “Least Concern” atau risiko rendah.

Namun status itu bukan jaminan keamanan jangka panjang. Deforestasi untuk perkebunan, pertambangan, dan permukiman terus menggerus hutan Papua. Perdagangan hewan peliharaan eksotis menambah tekanan tersendiri. Para peneliti mengingatkan bahwa penurunan populasi piton zaitun bisa menjadi sinyal awal dari ancaman lingkungan yang lebih besar, termasuk dampak perubahan iklim yang mulai mengubah keseimbangan ekosistem hutan tropis.

Ketika piton zaitun menghilang dari hutan Papua, yang hilang bukan hanya satu spesies. Yang hilang adalah bagian dari sistem yang menopang kehidupan hutan itu sendiri.

Tujuh Gajah Mati, Satu Kawasan Dibiarkan Hancur

Akhyari Hananto 3 Jun 2026

Pada 29 April 2026, dua ekor gajah Sumatera ditemukan mati di Bentang Alam Seblat, Bengkulu. Tidak jauh dari lokasi, konsorsium pemantau menemukan kantung-kantung berisi racun yang digantung di batang kayu, diduga sengaja dipasang untuk membasmi gajah yang dianggap mengganggu kebun sawit.

Ini bukan kejadian pertama. Sejak 2018, sedikitnya tujuh gajah telah mati di kawasan yang sama. Ada yang diracun, ada yang ditembak, ada yang kakinya berlubang karena jebakan paku. Harimau Sumatera pun ikut ditemukan mati di dalam area konsesi perusahaan.

Merespons kasus ini, Menteri Kehutanan Raja Juli Anton menyatakan akan mencabut izin usaha pemanfaatan hutan (PBPH) dua perusahaan yang beroperasi di kawasan itu: PT Bentara Arga Timber (BAT) dan PT Anugerah Pratama Inspirasi (API). Keduanya sebelumnya telah dibekukan pada 2025 dengan kewajiban restorasi ekosistem, namun alih-alih memulihkan hutan, justru ditemukan indikasi pembalakan liar dan penanaman sawit ilegal di dalam kawasan yang seharusnya dipulihkan.

“Tidak hanya sampai sanksi administratif, pencabutan, tapi sampai ke pidana,” kata Raja dalam konferensi pers, 7 Mei 2026.

Bagi para pegiat konservasi, pernyataan itu terdengar familiar. Egi Ade Saputra, Direktur Eksekutif Yayasan Genesis Bengkulu, menilai langkah pemerintah sangat terlambat. “Kita melihat ini suatu yang harus dibuktikan dalam bentuk dikeluarkan dan dipublikasi SK pencabutan,” ujarnya.

Analisis citra satelit Landsat 8 yang dilakukan Genesis pada periode Februari hingga April 2026 menunjukkan bukaan lahan masih terus terjadi di dalam kawasan konsesi. Februari saja tercatat 307 titik bukaan seluas lebih dari 2.000 hektar. Dalam dua tahun terakhir, Bentang Seblat kehilangan sekitar 6.800 hektar tutupan hutan.

Wishnu Sukmantoro dari Forum Konservasi Gajah Indonesia menegaskan bahwa masalahnya sudah melampaui soal izin. Dari total 112.000 hektar kawasan hutan Bentang Seblat, lebih dari 30.000 hektar sudah rusak. Kantong habitat gajah yang dulu empat kini tinggal tiga, dan salah satunya sudah hilang sepenuhnya karena berubah menjadi kebun sawit. “Tantangan terbesar konservasi gajah Sumatera hari ini bukan hanya penyelamatan individu gajah, tetapi menjaga konektivitas lanskap,” katanya.

Gajah Sumatera kini berstatus critically endangered menurut IUCN. Dari 42 kantong habitat yang pernah ada, hanya 21 yang tersisa.

Konsorsium Bentang Alam Seblat mendorong perubahan status kawasan menjadi suaka margasatwa agar tidak ada lagi izin konsesi baru yang masuk, termasuk dari pihak-pihak lain yang disebut tengah mengincar kawasan tersebut. Ali Akbar dari Kanopi Hijau Indonesia khawatir pencabutan izin dua perusahaan ini hanya akan berujung pergantian pemain, bukan perbaikan nyata.

Tujuh gajah mati dalam delapan tahun, dan kawasan itu terus dibiarkan hancur dari dalam. Ia adalah hasil dari tata kelola hutan yang lemah, pengawasan yang terpusat dan tidak efektif, serta kegagalan sistemik dalam memisahkan kawasan habitat satwa dari kepentingan bisnis. Selama status hukum kawasan itu tidak berubah dan penegakan pidana tidak benar-benar dijalankan, pertanyaannya bukan apakah gajah berikutnya akan mati, melainkan kapan.

Ketika Tikus Membawa Lebih dari Sekadar Kotoran

Akhyari Hananto 3 Jun 2026

Kapal pesiar MV Hondius berangkat dari Ushuaia, Argentina, menuju Antarktika pada awal April 2026 dengan membawa ratusan penumpang dan, tanpa disadari siapa pun, sebuah wabah. Tiga penumpang meninggal dalam rentang kurang dari sebulan, semuanya akibat hantavirus. WHO menyatakan kejadian itu sebagai wabah resmi pada 4 Mei 2026, dengan total 11 kasus terkonfirmasi.

Kapal itu tidak pernah singgah di Indonesia. Namun alarm yang berbunyi di Eropa dan Amerika Selatan seharusnya juga terdengar di sini.

Sebab Indonesia, menurut sebuah kajian yang terbit di jurnal PLOS Neglected Tropical Diseases pada Maret 2026, adalah negara dengan prevalensi hantavirus tertinggi di Asia Tenggara. Angkanya mencapai 17,49 persen pada populasi mamalia kecil, jauh di atas Singapura yang berada di posisi kedua dengan 10,53 persen. Studi metaanalisis yang dipimpin Zixiao Guo dari Hainan Medical University itu merupakan tinjauan sistematis pertama yang mencakup seluruh kawasan Asia Tenggara.

Data dari Kementerian Kesehatan RI memperkuat kekhawatiran itu. Sepanjang 2024 hingga Mei 2026, tercatat 256 suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi tipe HFRS (Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome), tersebar dari DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, hingga Nusa Tenggara Timur. Tren konfirmasinya naik tajam: 1 kasus pada 2024, 17 kasus pada 2025.

Hantavirus tidak menyebar seperti COVID-19. Tidak ada penularan lewat udara dari manusia ke manusia, setidaknya untuk varian yang beredar di Asia. Virus ini menular melalui kontak dengan tikus atau celurut, lewat gigitan, atau lebih sering lagi, lewat menghirup partikel kering dari urine, feses, dan air liur hewan yang terinfeksi. Risiko meningkat saat seseorang membersihkan gudang lama, rumah kosong, atau ruangan lembap yang jarang dijamah.

Spesies utama yang menjadi vektor di Asia Tenggara sudah sangat familiar: tikus got (Rattus norvegicus), tikus rumah (R. rattus), tikus wirok (Bandicota indica), dan celurut rumah (Suncus murinus). Keempatnya hidup di sekitar permukiman, pasar, gudang, dan lahan pertanian, tepat di tempat manusia beraktivitas setiap hari.

Hera Nirwati, Guru Besar Mikrobiologi Universitas Gadjah Mada, mengingatkan agar kotoran tikus tidak disapu dalam keadaan kering karena partikel virus bisa beterbangan ke udara. “Basahi terlebih dahulu dengan disinfektan sebelum dibersihkan,” ujarnya. Penggunaan sarung tangan dan masker saat membersihkan area yang diduga terpapar kotoran tikus juga sangat dianjurkan.

Hingga kini belum ada obat khusus untuk hantavirus. Penanganan bersifat suportif, dan penanganan dini menjadi penentu utama keselamatan pasien. Varian yang beredar di Indonesia memiliki tingkat kematian 5-15 persen, lebih rendah dari varian Andes di Amerika Selatan yang mencapai 50-60 persen. Tapi angka 5-15 persen bukanlah angka yang patut diabaikan.

Wabah di atas kapal pesiar itu mengingatkan bahwa penyakit zoonosis bisa muncul di mana saja, termasuk di lingkungan yang tampak bersih dan teratur. Di Indonesia, dengan kepadatan penduduk, iklim lembap, dan populasi tikus yang besar, ancaman itu justru lebih dekat dari yang kita bayangkan, dan sering kali bersembunyi di sudut gudang yang jarang dibersihkan.

Peperomia pellucida: Si “Gulma” Pekarangan yang Kini Diperebutkan Industri Herbal

Akhyari Hananto 3 Jun 2026

Di sela-sela pot bunga, di pinggir parit, atau menempel diam-diam di tembok lembab, tumbuhan kecil bertangkai transparan ini sudah lama dicabut dan dibuang begitu saja. Petani menyebutnya hama. Padahal, dunia sains menyebutnya sesuatu yang lain: kandidat superfood yang patut diperhitungkan.

Namanya bermacam-macam tergantung dari mana asalnya. Sirih cina, sirih bumi, ketumpang air. Nama latinnya satu: Peperomia pellucida. Tumbuhan herbal yang berasal dari Amerika tropis ini kini tumbuh liar hampir di seluruh wilayah Indonesia, terutama di tempat-tempat lembab saat musim hujan.

Tingginya hanya sekitar 15 hingga 45 sentimeter, dengan daun berbentuk menyerupai daun sirih namun lebih kecil, lebih tebal, dan bertekstur lunak. Batangnya berwarna cerah, berair, dan sedikit transparan seperti kaca. Sekilas tampak seperti tanaman tak berguna. Tapi kandungannya justru mengejutkan.

Menurut Septiana Kurniasari, dosen Farmasi Universitas Islam Madura, Peperomia pellucida mengandung minyak esensial, flavonoid, saponin, tanin, dan triterpenoid. Kombinasi senyawa ini memberikan potensi yang cukup luas, mulai dari antibakteri, antiseptik, hingga antimikroba. “Dari kandungan itu, sirih cina memiliki potensi untuk menghambat pertumbuhan bakteri,” ujarnya.

Secara tradisional, tumbuhan ini sudah lama digunakan untuk mengatasi bisul, jerawat, radang kulit, sakit kepala, demam, dan gangguan ginjal. Penelitian lebih lanjut menunjukkan potensinya sebagai obat asam urat, penyembuh luka, antihipertensi, bahkan antikanker.

Relevansinya kian kuat di tengah tren 2025-2026 yang mendorong kembali ke pangan lokal dan herbal alami sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan. Di berbagai platform belanja daring, bibit sirih cina kini sudah diperjualbelikan, dengan harga per kilogram yang bisa mencapai lebih dari Rp75.000.

Nissa Wargadipura, pendiri Pesantren Ekologi Ath Thaariq di Garut, sudah lama mengenal tumbuhan ini sebagai bahan pangan harian. Ia menyebutnya masuk kategori wildfood sekaligus superfood. “Mungkin di kalangan petani dianggap gulma. Kenapa? Bisa jadi rantai pengetahuan lokal tentang ini sudah hampir terputus,” katanya. Menurutnya, seluruh bagian tumbuhan, mulai dari akar, batang, daun, hingga buahnya, bisa dikonsumsi. Bisa dijadikan lalapan, bahan pecel, campuran bakwan, atau diseduh seperti teh.

Di saat industri suplemen dan wellness global terus memburu bahan-bahan bioaktif baru, Peperomia pellucida adalah pengingat bahwa potensi besar kadang tumbuh begitu saja di halaman belakang rumah, menunggu untuk tidak lagi dianggap hama.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.