Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Kisah Garangan yang Gagal Membasmi Hama Tikus di Perkebunan Tebu

Akhyari Hananto 10 Jul 2026
Cerita fitur

Jejak Penyelundupan Siamang dari Sumatera ke Luar Negeri [2]

Junaidi Hanafiah 10 Jul 2026
Cerita fitur

Tambang Emas Ilegal Jambi Jarah Hutan Warisan Dunia

Teguh Suprayitno 10 Jul 2026
Cerita fitur

Ketika Konservasi Negara Kerap Tabrak Wilayah Adat

Christ J Belseran 9 Jul 2026

Bagaimana Nasib Ikan Kecil Endemik Indonesia?

M Ambari 9 Jul 2026
Cerita fitur

Orangutan dari Rehabilitasi Melahirkan di Alam Liar

Ayat S Karokaro 9 Jul 2026
Semua berita

Berita utama

Jejak Penyelundupan Siamang dari Sumatera ke Luar Negeri [2]

Tambang Emas Ilegal Jambi Jarah Hutan Warisan Dunia

Teguh Suprayitno 10 Jul 2026

Ketika Konservasi Negara Kerap Tabrak Wilayah Adat

Christ J Belseran 9 Jul 2026

Orangutan dari Rehabilitasi Melahirkan di Alam Liar

Ayat S Karokaro 9 Jul 2026

Bisnis Karbon Ajang Cuci Dosa Korporasi Perusak Alam?

Irfan Maulana 8 Jul 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Nestapa Burung Berkicau Nusantara

Upaya Menyelamatkan Burung Kicau dari Kepunahan

Eko Widianto 20 Mar 2026

Nasib Burung Kicau, Jadi Incaran Perburuan di Alam Liar

Petrus Riski 4 Okt 2025

Studi: Seperti Manusia, Ternyata Burung Kicau Memiliki Selera Lagu yang Berbeda

Abhishyant Kidangoor 30 Apr 2025

Burung-Burung Kicau yang Masih Terus Diburu dan Diperdagangkan Ilegal

Keith Anthony S. Fabro 4 Des 2024

Krisis keanekaragaman hayati Indonesia tersingkap erat melalui lensa jurnalisme investigasi dan konservasi. Di balik pesona suara dan tingginya minat masyarakat terhadap kontes burung, terdapat sisi gelap berupa masifnya perburuan liar, penyelundupan antarpulau seperti jalur Sumatra ke Jawa, hingga pemanfaatan platform digital untuk perdagangan ilegal. Seluruh laporan memotret urgensi penyelamatan satwa, pentingnya pemanfaatan data dalam memantau […]

Nestapa Burung Berkicau Nusantara series

Lebih spesial

9 cerita

Ancaman Nyata El Nino Godzilla

12 cerita

Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra

10 cerita

Lebah Madu dan Pilar Alam yang Rapuh

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Dari Jejak Tambang Ilegal hingga Upaya Warga Lestarikan Hutan

Karen Anastasia Surbakti* 30 Jun 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Niko Wicaksana 23 Mei 2026

Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk

Niko Wicaksana 22 Apr 2026

Kontes Burung Kicau, Sunyikan Hutan Indonesia

Rizky Maulana Yanuar, Sandy Watt 25 Feb 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Tawa Kera Besar Bantu Ungkap Asal-usul Bahasa Manusia

Editor 10 Jul 2026

Penelitian terbaru mengungkap bahwa manusia dan kera besar memiliki pola tawa yang sangat mirip. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan menghasilkan tawa ritmis bukanlah ciri khas manusia semata, melainkan telah diwariskan dari nenek moyang bersama sekitar 15 juta tahun lalu. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Commonications Biology pada Juni 2026 ini memberi petunjuk baru tentang bagaimana kemampuan vokal manusia, termasuk bahasa, berevolusi.

Baik manusia maupun kera besar seperti orangutan, gorila, bonobo, dan simpanse menghasilkan tawa melalui siklus napas pendek yang memicu getaran pita suara. Pola tersebut membentuk ritme vokal khas, seperti “ha-ha-ha”, dengan struktur waktu yang serupa di seluruh spesies. Selain sebagai ekspresi emosi, tawa juga berfungsi memperkuat ikatan sosial dan dapat menular kepada individu lain.

Menurut tim peneliti dari Universitas Warwick, Inggris, mempelajari perilaku kera besar merupakan salah satu cara terbaik untuk memahami asal-usul kemampuan vokal manusia. Berbeda dengan bentuk tubuh yang dapat ditelusuri melalui fosil, evolusi suara dan bahasa tidak meninggalkan jejak fisik sehingga perilaku vokal kera besar menjadi petunjuk penting untuk merekonstruksi kemampuan komunikasi nenek moyang manusia.

Tim peneliti berpandangan, perilaku tawa kera besar merupakan fosil dalam bentuk lain. Tawa bukan hanya luapan emosi spontan. Tawa merupakan jejak biologis yang menyimpan rahasia asal-usul bahasa manusia.

Untuk menguji hipotesis tersebut, peneliti menganalisis rekaman tawa empat orangutan, dua gorila, tiga bonobo, empat simpanse, dan empat anak manusia berusia enam bulan hingga tujuh tahun. Hasil analisis menunjukkan seluruh spesies memiliki interval ritmis yang relatif konsisten, memperkuat dugaan bahwa pola dasar tawa diwarisi dari nenek moyang bersama sekitar 15 juta tahun lalu.

Penelitian ini juga membedakan dua jenis tawa, yakni tawa karena digelitik dan tawa saat bermain. Tawa menggelitik memiliki ritme paling stabil dan dianggap sebagai bentuk dasar koordinasi pernapasan-vokal yang diwariskan secara evolusioner, sedangkan tawa saat bermain lebih dinamis karena dipengaruhi interaksi sosial.

Meski memiliki ritme dasar yang sama, manusia menunjukkan kemampuan vokal yang lebih kompleks. Seiring evolusi, tawa manusia menjadi lebih cepat, lebih bervariasi, dan dapat dikendalikan sesuai konteks, sementara kera besar umumnya tertawa secara spontan. Kemampuan mengontrol vokalisasi ini diyakini menjadi salah satu fondasi penting bagi perkembangan bahasa manusia. Peneliti juga menemukan bahwa simpanse dan bonobo, yang secara genetik lebih dekat dengan manusia, memiliki ritme tawa lebih cepat dibanding gorila atau orangutan.

Kera besar merupakan kerabat terdekat manusia dalam keluarga Hominidae yang mencakup orangutan, gorila, simpanse, bonobo, dan manusia. Di Indonesia, orangutan menjadi satu-satunya kera besar yang hidup alami, terdiri atas orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus), orangutan sumatera (Pongo abelii), dan orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis). Ketiganya berstatus Kritis (Critically Endangered) menurut IUCN akibat hilangnya habitat. Selain memperkaya pemahaman tentang evolusi manusia, penelitian ini juga menegaskan pentingnya melindungi kera besar sebagai bagian dari warisan evolusi dan keanekaragaman hayati.

Foto utama: Penelitian menunjukkan bahwa pola tawa kera besar seperti gorilla memiliki kesamaan dengan manusia. Foto: Rhett Butler/Mongabay.

 

Dari Elang Jawa hingga Burung Hantu, Masa Depan Raptor Indonesia Kian Rentan

Editor 10 Jul 2026

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keragaman burung pemangsa (raptor) tertinggi di dunia. Kelompok ini mencakup elang, alap-alap, rajawali, hingga burung hantu yang berperan penting sebagai predator puncak dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Selain menjadi habitat bagi banyak spesies menetap (resident), Indonesia juga menjadi jalur migrasi dan wilayah persinggahan penting bagi raptor dari Asia Timur dan Asia Utara, seperti Siberia, Mongolia, Jepang, Korea, Taiwan, dan Tiongkok. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan turut mendorong tingginya tingkat endemisitas, menghasilkan sejumlah spesies unik yang hanya ditemukan di wilayah tertentu.

Tedi Setiadi, Sekretaris Jenderal Raptor Indonesia (RAIN), menjelaskan bahwa raptor di Indonesia terbagi ke dalam tiga ordo utama, yakni Accipitriformes, Falconiformes, dan Strigiformes. Dua ordo pertama merupakan burung pemangsa yang aktif siang hari (diurnal), sementara Strigiformes atau burung hantu aktif malam hari (nokturnal).

Perkembangan penelitian raptor di Indonesia mengalami kemajuan signifikan dalam tiga dekade terakhir. Pada awal abad ke-20, kajian masih terbatas pada pencatatan spesimen dan klasifikasi taksonomi oleh para naturalis Eropa. Memasuki pertengahan 1980-an, penelitian mulai menghubungkan keberadaan raptor dengan kondisi habitat serta dampak fragmentasi hutan.

Titik balik terjadi pada 1990-an ketika kondisi kritis elang jawa (Nisaetus bartelsi) mendapat perhatian luas. Sejak saat itu, elang jawa menjadi spesies raptor yang paling banyak diteliti di Indonesia dan menjadi fondasi berkembangnya riset terhadap spesies lain. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian ilmiah juga meningkat terhadap elang flores (Nisaetus floris), yang menghadapi ancaman konservasi serupa.

Meski penelitian terus berkembang, status konservasi banyak raptor belum menunjukkan perubahan berarti. Elang jawa, misalnya, masih berstatus Genting (Endangered) secara global. Ancaman utama berasal dari hilangnya habitat akibat deforestasi dan fragmentasi hutan, perubahan iklim yang semakin memengaruhi kondisi ekologis, serta berbagai aktivitas manusia yang meningkatkan tekanan terhadap populasi burung pemangsa. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian saja tidak cukup tanpa perlindungan habitat dan kebijakan konservasi yang efektif.

Teknologi kini turut mendukung upaya konservasi. Jika sebelumnya pemantauan hanya mengandalkan radio telemetri, dalam beberapa tahun terakhir para peneliti mulai menggunakan GPS transmitter untuk melacak pergerakan individu, terutama raptor hasil rehabilitasi yang dilepasliarkan kembali ke alam. Teknologi ini memberikan data yang lebih rinci mengenai pola jelajah, pemanfaatan habitat, dan tingkat keberhasilan pelepasliaran sehingga mendukung penyusunan strategi konservasi yang lebih baik.

Ancaman lain yang kian mengkhawatirkan adalah perdagangan ilegal yang kini bergeser dari pasar burung ke marketplace dan media sosial, sehingga lebih sulit diawasi. Tingginya permintaan satwa eksotis memperparah kondisi ini, padahal hampir seluruh spesies elang di Indonesia berstatus dilindungi dan hanya boleh dimiliki oleh lembaga konservasi resmi.

Berbagai upaya konservasi dilakukan melalui perlindungan hukum, melalui penyusunan strategi dan rencana aksi konservasi (SRAK), pemantauan sarang, rehabilitasi satwa sitaan, penangkaran, hingga pelepasliaran ke alam. Pemerintah, BKSDA, balai taman nasional, peneliti, organisasi masyarakat, serta komunitas pengamat burung turut berkolaborasi memperkuat perlindungan raptor. Ke depan, tantangan utamanya adalah memperluas partisipasi publik agar upaya konservasi dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Foto utama: Seekor elang jawa remaja di TN Bromo Tengger Semeru. Foto: Heru Cahyono.

 

Ilmuwan Gaza yang Meneliti Pari Manta dari Zona Perang

Editor 9 Jul 2026

Mohammed Abu Daya adalah seorang ahli ekologi laut asal Gaza. Penelitiannya berfokus pada pari spinetail devil ray, atau dikenal juga sebagai giant devil ray, spesies yang berstatus Kritis (Critically Endangered/CR) dan bermigrasi melintasi Laut Mediterania hingga perairan sekitarnya. Hanya sedikit ilmuwan yang mengkhususkan diri pada satwa ini, dan lebih sedikit lagi yang menelitinya dari Gaza, yang perairannya bagian dari jalur migrasi spesies tersebut.

Sebelum perang, Abu Daya mengajar di sejumlah universitas Palestina dan bekerja di Pusat Penelitian Nasional Gaza. Dia rutin melaut bersama para nelayan, mengukur pari spinetail devil ray (Mobula mobular) yang dibawa ke darat, memantau pasar ikan, serta mengumpulkan data mengenai spesies yang lebih sering diteliti di kawasan Mediterania bagian barat. Penelitiannya membantu menunjukkan bahwa perairan Gaza merupakan bagian penting dari wilayah jelajah satwa migran yang terancam ini.

Bahkan sebelum perang, tekanan terhadap ekosistem laut Gaza sudah sangat berat. Pembatasan yang diberlakukan Israel membatasi area penangkapan ikan. Stok ikan terus menurun. Kemiskinan dan tingginya biaya bahan bakar memaksa masyarakat menangkap apa pun yang dapat diperoleh di dekat pantai. Pada 2013, ketika sekelompok besar pari setan mendekati pesisir Gaza, ratusan ekor berhasil ditangkap nelayan. Abu Daya tidak semata-mata melihat peristiwa itu sebagai kegagalan konservasi. Dia berusaha memahami penyebabnya, mulai dari minimnya sistem konservasi lokal hingga tekanan hidup yang dihadapi masyarakat yang sangat sedikit memiliki pilihan.

Lalu perang berkecamuk. Abu Daya kehilangan rumah, kantor, dan akses rutin ke laut. Universitas, perpustakaan, kapal nelayan, lokasi pendaratan ikan, hingga infrastruktur pelabuhan hancur. Dia telah beberapa kali mengungsi dan kini hidup, seperti banyak warga Gaza lainnya, dengan akses yang sangat terbatas terhadap pangan, air bersih, listrik, dan internet.

Namun, dia terus bekerja.

Pada 2025, di tengah perang, Abu Daya menjadi salah satu penulis studi mengenai pola migrasi pari setan sirip ekor di Laut Mediterania. Salah satu individu yang pernah ia pasangi penanda di lepas pantai Gaza bersama nelayan setempat, tercatat berenang hingga Spanyol sebelum kembali ke Laut Levant. Temuan tersebut memperkuat bukti bahwa spesies ini melakukan migrasi jarak jauh berulang, sekaligus menegaskan pentingnya perairan Mediterania timur bagi kelangsungan hidupnya.

Ketekunannya luar biasa. Terputus dari laboratorium, mahasiswa, dan laut yang menjadi objek penelitiannya, dia tetap menganalisis data dari sebuah tenda pengungsian. Ketika memungkinkan, dia mengikuti konferensi secara daring, berkolaborasi dengan rekan-rekan di luar negeri, dan menyelesaikan naskah ilmiah di tengah keseharian yang dipenuhi perjuangan memperoleh air dan makanan.

Perang juga menghancurkan pondasi yang memungkinkan ilmu pengetahuan berkembang. Institusi, lokasi penelitian, arsip, peralatan, dan ruang kelas musnah. Kehidupan para ilmuwan pun terputus, bersama pengetahuan yang mungkin tak akan pernah bisa dipulihkan dalam bentuk yang sama. Padahal, konservasi bergantung pada mereka: ilmuwan lokal yang memahami pesisir, nelayan yang mengingat spesies apa saja yang pernah mendarat, dan para mahasiswa yang seharusnya dapat melanjutkan penelitian tersebut.

Catatan: Artikel ini diambil dari shorts mongabay.com berjudul “The Gaza scientist still tracking manta rays from a war zone.”  Wawancara lengkap dengan Mohammed Abu Daya ada disini.

Foto Utama: Mohammed Abu Daya, kanan, mengumpulkan data spinetail devil ray di Gaza tahun 2015. Foto: Dok. Mohammed Abu Daya dan Giuseppe Notarbartolo di Sciara.

 

Mengapa Ular Kobra Dijuluki Ular Sendok?

Editor 8 Jul 2026

Ular kobra merupakan jenis ular berbisa dari Suku Elapidae. Ular ini disebut juga ular sendok, karena ia dapat menegakkan sekaligus memipihkan lehernya hingga melengkung seperti sendok. Bentuk seperti sendok ini akan ia tampilkan saat merasa terganggu atau terintimidasi dengan kehadiran musuh.

Di Indonesia terdapat dua jenis kobra yaitu kobra jawa (Naja sputarix) dan kobra sumatera (Naja sumatrana). Kobra sumatera persebarannya hanya di Sumatera dan Kalimantan.

Kobra jawa tersebar di Jawa, Bali, Lombok, Komodo, Rinca, Sumbawa, dan Flores. Jenis ini menyukai bentang alam berupa hutan terbuka, savana, persawahan, hingga pekarangan. Ukuran tubuhnya, rata-rata sekitar 1,3-1,8 meter. Saat bertelur, sang betina dapat menghasilkan 10-20 butir yang akan menetas 3-4 bulan. Biasanya, telu-telur tersebut diletakkan di lubang tanah atau di daun kering lembab.

Hampir semua jenis ular, termasuk induk kobra pada periode tertentu, akan meninggalkan telur-telurnya, hingga menetas sendiri. Begitu menetas, anakan kobra ini segera menyebar. Biasanya, telur akan menetas saat awal musim penghujan, yang merupakan siklus alami.

Kobra akan melumpuhkan mangsa dengan cara menggigit dan menyuntikkan bisa (venom) melalui taringnya. Racun ini dapat melumpuhkan saraf dan otot mangsanya hanya dalam hitungan menit. Mangsanya adalah tikus, kadal, katak dan ular.

Kobra jawa sangat agresif, sedikit gangguan langsung membuat postur waspada yaitu menegakkan kepala dan mengembangkan tudung. Jenis ini aktif siang maupun malam hari dan dapat menyemburkan racun sejauh dua meter.

Memahami karakter ular

Harus kita pahami, ular merupakan satwa melata (reptilia) yang sangat umum di sekitar kita. Sejauh ini, belum ada cara sederhana untuk mengenali ular berbisa maupun tidak. Beberapa jenis ular tidak berbisa bahkan memiliki penampakan morfologi sebagaimana ular berbisa. Begitu pula sebaliknya.

Namun, ada beberapa jenis ular berbisa tinggi atau sangat berbahaya yang dapat dikenali dari ciri khusus. Sebut saja dari ukuran, warna tubuh, pola, perilaku, atau bunyi-bunyian tertentu yang dikeluarkan saat posisinya terancam.

Umumnya, ular tidak dengan sengaja menyerang atau mematuk manusia. Pada kebanyakan kasus, gigitan ular merupakan reaksi atas kehadiran manusia yang dianggap sebagai ancaman.

Sebagian besar kejadian, ular akan menghindar atau diam bila bertemu manusia. Apabila terpaksa, biasanya ular memberi peringatan terlebih dahulu melalui suara, menaikkan badan, mengembangkan leher, atau menyemprotkan racun.

Jaga kebersihan

Untuk menghindari agar ular tidak masuk rumah kita, maka kebersihan rumah dan sekitar harus selalu dilakukan. Jangan biarkan sampah bekas makanan yang dapat mengundang tikus menumpuk di rumah, karena tikus mangsanya ular. Hindari juga tumpukan barang-barang bekas di dalam rumah dan bersihkan pekarangan dari timbunan daun kering ataupun material.

Bersihkan juga lantai dengan aroma menyegat karena ular sangan membanci benci bau tajam. Penting diingat, bila menemukan ular kobra di rumah, jangan tangani sendiri. Laporkan ke ahlinya atau juga petugas berwenang (Dinas Pemadam Kebakaran) yang memiliki pengetahuan menangani ular.

Jika terjadi kasus gigitan ular kobra, penanganannya dapat mengikuti petunjuk dari WHO (World Health Organization) tentang Managemen Kasus Gigitan Ular. Saat ini, antibisa kobra jawa sudah ada di Indonesia. Masyarakat dapat memastikan ketersediaannya di rumah sakit terdekat.

Foto utama: Ular kobra yang agresif dan bisa menyemburkan racun hingga dua meter. Foto: Rhett Butler/Mongabay.

 

Lebah dan Tawon Pernah Memiliki Garis Keturunan yang Sama

Editor 7 Jul 2026

Apakah lebah dan tawon berbeda?

Mengutip Paleontological Research Institution, awalnya mereka memiliki leluhur yang sama, namun berpisah sejak 120 juta tahun silam. Lebah hingga kini masih setia mencari madu bunga, sementara tawon tetap sebagai serangga pemburu sebagaimana leluhurnya yang karnivora.

Paling mudah membedakan tawon dan lebah dengan cara melihat fikik keduanya. Lebah penampakannya agak bulat dan berbulu sedangkan tawon langsing dan tidak berbulu.

John Capinera (2008), mewakili tim dari Universitas Florida, Amerika, dalam Encyclopedia of Entomology, menjelaskan bahwa lebah tidak seperti serangga herbivora. Ia hanya makan serbuk sari. Perubahan pola makan yang terjadi pada leluhur lebah itu diikuti evolusi rambut tubuh, juga kaki belakang atau permukaan perut ventral yang membawa serbuk sari dalam jumlah besar.

Nasib lebah lebih baik dibandingkan tawon. Ketika ada lebah terperangkap maka ia dibiarkan terbang, sementara ketika kejadian yang sama terjadi pada tawon, ia akan diburu. Padahal, keduanya sama-sama penting bagi ekosistem alam.

Berdasarkan survei di 46 negara, tawon mendapatkan pandangan negatif meski memiliki manfaat ekologis di Bumi. Tawon diposisikan lebih bawah dibandingkan lalat. Sementara posisi lebah, mendapat tingkat emosi tertinggi mengalahkan kupu-kupu.

Hal lain adalah perbedaan bentuk tubuh lebah dan tawon berkaitan dengan kebiasaan makan mereka. Jenis tawon jaket kuning dengan bentuk aerodinmis dan pingging berisi, sangat sesuai menangkap serangga atau terbang cepat mengambil makanan dari koloni yang lain.

Sementara lebah madu tidak perlu memiliki kemampuan terbang tinggi. Hal paling dibutuhkan adalah terbang dari satu bunga ke bunga lain. Bentuk perutnya yang bulat dan berambut sangat sesuai dengan karakter bunga yang disinggahi karena membantu penyerbukan.

Lebah banyak makan nektar atau cairan manis dari bunga yang dihinggapinya, termasuk juga serbuk sari. Sedangkan tawon mencari serangga dan laba-laba kecil sebagai pakannya, meski ia juga mengisap nektar ataupun kandungan gula dari buah-buahan. Inilah mengapa, tawon bersifat omnivora.

Meski begitu, sebuah penelitian menunjukkan ada perilaku kanibal pada tawon jenis Isodontia harmandi yang merupakan jenis soliter. Bayi tawon ini bisa memangsa serangga lain. Bagaimana caranya? Tawon soliter yang dikenal sebagai tawon parasit akan meletakkan telurnya pada tubuh serangga lain, sehingga ketika telurnya menetas maka bayi tersebut hidup dengan memakan daging serangga yang ditumpanginya.

Terkait sengatan, keduanya memang menyengat. Kita juga tidak ada yang mau disengat. Uniknya, hanya lebah dan tawon betina yang mampu menyengat dan tidak semua memiliki sengat.

Biasanya, lebah hanya menyengat sekali, sedangkan tawon bisa beberapa kali. Jika lebah menyengat kulit Anda maka sengatannya akan tertinggal dan lebah penyengat itu mati. Saat menyengat, lebah maupun tawon menyuntikkan racun yang merupakan campuran kimia kompleks. Racun menghancurkan daging dan sel darah, meningkatkan aliran darah, dan mengacaukan sistem saraf. Satu jenis tawon yang sering kita dengar namanya adalah tawon vespa atau tawon endas (Vespa affinis), karena sengatannya bisa menyebabkan kematian.

Secara umum dapat dikatakan, lebah (bee) menghasilkan madu sementara tawon (wasp) merupakan predator bersifat parasitoid tanpa menghasilkan madu. Lebah menyengat untuk mempertahankan diri dari gangguan sementara sengatan tawon sebagai alat berburu mangsa. Tawon merupakan hewan teritorial sehingga jika kita masuk wilayahnya dianggap ancaman.

Foto utama: Lebah di peternakan Bandung Bee Sanctuary (BBS), Kota Bandung, Jawa Barat. Foto: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia.

 

Ikan Buntal di Belitung Ini Membuka Jejak Sungai Purba yang Hilang Sejak Zaman Es

Akhyari Hananto 30 Jun 2026

Suhandi mendayung sampannya menerobos rapatnya tumbuhan rasau di Tebat Rasau, rawa luas di Desa Lintang, Kabupaten Belitung Timur. Saat memeriksa bubunya, satu ikan menarik perhatian: ikan buntal yang langsung menggembung ketika dipegang. “Ini dia yang kita cari-cari, aman dipegang dan dikonsumsi karena tidak beracun seperti ikan buntal umumnya,” katanya.

Bagi Suhandi dan masyarakat Desa Lintang, ikan ini sudah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, dimasak untuk konsumsi pribadi, kulitnya yang kasar dipakai untuk mengamplas sampan. Tapi bagi para ilmuwan, ikan buntal air tawar ini menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar: bukti biologis tentang sungai purba yang pernah membentang jutaan tahun lalu, menghubungkan Belitung dengan Kalimantan jauh sebelum kedua wilayah ini terpisah oleh laut.

Menurut jurnal Keim dkk. (2021), ikan buntal air tawar dari genus Pao tersebar dari lembah Sungai Mekong di Indochina hingga Sumatera. Di perairan air tawar Indonesia bagian barat, ada empat spesies yang teridentifikasi: P. bergii di Kalimantan Barat, P. hilgendorfii di Kalimantan Timur, P. leiurus dari Thailand hingga Jawa, dan P. palembangensis di anak-anak Sungai Musi, Palembang. Dari keempatnya, hanya P. bergii dan P. hilgendorfii yang tidak beracun dan aman dikonsumsi.

Yang mengejutkan, spesies di Tebat Rasau justru lebih mirip dengan P. hilgendorfii dari Kalimantan Timur, bukan dengan P. bergii dari Kalimantan Barat yang secara geografis jauh lebih dekat ke Belitung. “Ikan buntal air tawar di Tebat Rasau memiliki morfologi dan etologi pemangsa yang sangat mirip dengan spesies Kalimantan Timur, P. hilgendorfii,” tulis jurnal tersebut. Kemiripan ini terlihat dari bentuk tubuh memanjang hingga bulat telur, posisi mata, serta sifat predator yang agresif, sesuatu yang juga pernah dicatat Nieuwenhuis pada 1900 berdasarkan informasi dari orang Dayak tentang P. hilgendorfii.

Di Tebat Rasau, ikan buntal ini hampir tidak punya predator selain manusia. Nasidi, Ketua Komunitas Adat Tebat Rasau, menyebut bahwa saat membedah perut ikan toman dan gabus, predator utama di rawa ini, mereka belum pernah menemukan ikan buntal di dalamnya. Justru sebaliknya, ikan buntal yang berani memangsa anak-anak ikan toman dan gabus, bersembunyi di antara kumpai sambil menunggu mangsa lewat. “Terdengar tenang, tapi ia perenang cepat, serta agresif saat memangsa,” kata Nasidi.

Pertanyaan yang muncul kemudian: mengapa spesies di Belitung lebih dekat dengan kerabatnya di Kalimantan Timur daripada Kalimantan Barat yang lebih dekat secara geografis? Jawabannya ada di sejarah geologi Pleistosen. Saat permukaan laut jauh lebih rendah, terdapat dua sistem sungai purba besar di Sundaland. Sistem sungai timur mencakup sebagian besar sungai di Kalimantan, sementara sistem sungai barat mencakup Sumatera hingga Mekong, tanpa menyentuh Kalimantan. Tebat Rasau, menurut penelitian ini, adalah bagian yang tersisa dari sistem sungai timur tersebut, yang menjelaskan mengapa ikan buntalnya lebih dekat secara biologis dengan Kalimantan Timur.

Sebagian besar jejak sungai purba ini sudah tenggelam di bawah Laut Jawa sejak akhir Zaman Es, sekitar 11.000 hingga 10.000 SM. Tebat Rasau adalah salah satu sisa yang masih bertahan, ditetapkan sebagai Geosite Belitong UNESCO Global Geopark sejak 2021.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.