Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Bahayakan Warga dan Ekosistem, Benahi Penanganan Bahan Peledak Sisa PD II di Papua

Asrida Elisabeth 11 Jun 2026

Rutinitas Dapur yang Mengubah Pola Konsumsi

A. Nur Ismi 11 Jun 2026
Cerita fitur

Industri Ekstraktif Kian Masif, Ambisi Konservasi Laut Hanya Ilusi?

Ahmad H Ramdhani 11 Jun 2026
Cerita fitur

Kala Marapi Kembali Erupsi, Bagaimana Para Petani Beradaptasi?

Novia Harlina 10 Jun 2026

Bawa Penyakit dan Kikis Genetik, Bahaya Kawin Silang Kucing Hutan dengan Kucing Domestik

Christopel Paino 10 Jun 2026
Cerita fitur

Ketika Risiko Lingkungan, Sosial dan Bencana Bayangi Proyek PLTA Mentarang

Ms Ardan 10 Jun 2026
Semua berita

Berita utama

Industri Ekstraktif Kian Masif, Ambisi Konservasi Laut Hanya Ilusi?

Kala Marapi Kembali Erupsi, Bagaimana Para Petani Beradaptasi?

Novia Harlina 10 Jun 2026

Ketika Risiko Lingkungan, Sosial dan Bencana Bayangi Proyek PLTA Mentarang

Ms Ardan 10 Jun 2026
Lanskap Danau Tamblingan, Kabupaten Buleleng, Bali dikelilingi Alas Mertajati. Hutan ini memiliki luas 1.336 hektar. Foto: I Gusti Ayu Septiari/Mongabay Indonesia.

Cerita Generasi Muda Adat Dalem Tamblingan Jaga Alas Mertajati

I Gusti Ayu Septiari 10 Jun 2026

Ahli Geologi Soroti Pengajuan Izin Lingkungan Baru Tambang Dairi

Sri Wahyuni 9 Jun 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Dua perempuan Desa Paremas menjemur kerupuk cangkang kepiting. Di belakang mereka tampak hutan mangrove yang cukup lebat yang menjadi rumah bagi kepiting yang dijual ke kota. Limbah cangkang kepiting itu kini diolah menjadi kerupuk. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Hidup di Kandang Perawatan, Kisah Sedih Owa di Sumatera Selatan

Nopri Ismi 30 Mei 2026

Menjaga Semantung untuk Kelestarian Siamang di Bukit Lumut Balai

Nopri Ismi 28 Mei 2026

Owa Siamang dan Kelestarian Hutan Bukit Lumut Balai

Nopri Ismi 26 Mei 2026

Alunan suara lantang yang menggema dari puncak-puncak kanopi adalah kidung kehidupan bagi siamang, sang penjaga sejati yang merawat keasrian rimba Sumatra. Namun, melodi alam ini kian terancam sunyi oleh kepungan perburuan, jerat perdagangan lintas negara, dan kepedihan hidup di balik jeruji besi. Melalui peran penting mereka dalam menjaga keseimbangan hutan lewat penyebaran benih, perlindungan terhadap […]

Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra series

Lebih spesial

10 cerita

Lebah Madu dan Pilar Alam yang Rapuh

Perempuan adat Boti (Taela Sae, Muke Benu, Seo Neolaka, Kuma Neolaka) sedang membawa hasil panen berupa jagung, kacang tunis, sorgum, dan sayur-sayuran segar. Foto: Mario Sara/ Mongabay Indonesia
8 cerita

Cerita dari Y. Eva Tan Fellows

9 cerita

Ikan-Ikan dari Era Pra-Sejarah di Perairan Nusantara

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Dua perempuan Desa Paremas menjemur kerupuk cangkang kepiting. Di belakang mereka tampak hutan mangrove yang cukup lebat yang menjadi rumah bagi kepiting yang dijual ke kota. Limbah cangkang kepiting itu kini diolah menjadi kerupuk. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia

Cerita di Bulan Mei, dari Danau Batur sampai Teluk Weda

Kadek Dian Dwiyanti H.* 28 Mei 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Niko Wicaksana 23 Mei 2026

Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk

Niko Wicaksana 22 Apr 2026

Kontes Burung Kicau, Sunyikan Hutan Indonesia

Rizky Maulana Yanuar, Sandy Watt 25 Feb 2026

Mewaspadai Perdagangan Kucing Kuwuk di Platform Online

Falahi Mubarok 26 Okt 2025

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025
}

Pantau terus berita terbaru kami celana pendek

Satu-satunya di Dunia: Laut Alor Bisa Mendingin 10 Derajat dalam Sejam, dan Ikannya Pingsan

Akhyari Hananto 10 Jun 2026

Akhir Oktober 2025, warga pesisir Alor, Nusa Tenggara Timur, ramai-ramai turun ke laut dengan tangan kosong, tombak, dan serokan. Bukan untuk menyelam atau memancing. Tapi untuk memungut ikan yang mengambang pingsan di permukaan air. Seorang warga bahkan berhasil membawa pulang lebih dari 150 kilogram ikan dalam satu kejadian.

Yang membuat ikan-ikan itu pingsan bukan racun, bukan jaring, dan bukan ulah manusia. Melainkan air yang tiba-tiba menjadi sangat dingin.

Perairan Alor Kecil, di Selat Mulut Kumbang antara Pulau Alor Kecil dan Pulau Kepa, menyimpan fenomena oseanografi yang hingga kini hanya tercatat di satu tempat di seluruh dunia. Beberapa publikasi ilmiah peer-reviewed mengonfirmasi hal ini. Jurnal Regional Studies in Marine Science menyebutnya secara eksplisit: tidak ada wilayah tropis lain di Bumi yang memiliki suhu permukaan laut sedingin ini. Fenomena itu disebut extreme upwelling event (EUE), atau yang oleh Anindya Wirasatriya, Guru Besar Oseanografi Universitas Diponegoro yang memimpin riset ini, dijuluki ALaDin, singkatan dari air laut dingin.

Dalam upwelling biasa, air dingin dari kedalaman naik ke permukaan dan menurunkan suhu sekitar dua derajat Celsius. Di Alor, penurunannya bisa mencapai 10 derajat Celsius hanya dalam waktu sekitar satu jam. Suhu permukaan laut yang normalnya sekitar 28 derajat Celsius di perairan tropis bisa anjlok hingga sekitar 12 derajat Celsius. Perubahan suhu yang begitu drastis dan mendadak inilah yang membuat ikan-ikan kehilangan kesadaran. “Hampir mustahil di perairan tropis suhu permukaan laut dapat mencapai 12°C,” kata Anindya.

Mekanismenya dikendalikan oleh pasang surut, bukan angin seperti upwelling pada umumnya. Di bawah Selat Mulut Kumbang, tersembunyi sebuah cekungan dengan kedalaman lebih dari 300 meter antara Pulau Pura dan Kecamatan Alor Barat Daya. Pada kedalaman 270 meter, suhu air hanya 8 derajat Celsius. Ada celah sempit yang menghubungkan cekungan dalam itu langsung ke selat. Ketika arus pasang bergerak dari selatan ke utara dengan magnitudo lebih dari 2,2 meter, massa air dingin dari cekungan itu terdorong naik melalui celah dan membanjiri selat. Ketika surut, air dingin itu kembali tersedot keluar.

Hasilnya: suhu permukaan laut di Selat Mulut Kumbang naik turun drastis dua kali sehari, mengikuti ritme pasang surut semi-diurnal. Di luar selat, penurunan suhu yang terdeteksi hanya sekitar tiga hingga empat derajat Celsius. Fenomena ini hanya terjadi sepanjang Agustus hingga November, mengikuti pengaruh monsun. EUE berlangsung hanya sekitar satu jam setiap kejadian, tapi dampaknya pada biota laut di selat itu langsung dan dramatis.

Achmad Sahri, peneliti BRIN yang terlibat dalam kajian ini, menyebut EUE di Alor sebagai peristiwa pertama jenis ini yang tercatat di dunia. Riset ini melibatkan kolaborasi antara Universitas Diponegoro, BRIN, beberapa universitas Indonesia, dan mitra internasional dari Amerika Serikat, Jepang, dan Thailand.

Bagi warga Alor, fenomena yang membingungkan para oseanografer dunia itu punya nama yang lebih sederhana: berkah. Setiap kali air surut jauh dan ikan-ikan mulai mengambang, mereka tahu apa yang harus dilakukan. Turun ke laut, ambil sebanyak mungkin, bagikan ke tetangga, jual sisanya ke tengkulak.

Senyulong, Buaya Pemalu yang Habitatnya Menghilang dan Kini Terpaksa Mendekati Manusia

Akhyari Hananto 10 Jun 2026

Di antara semua buaya yang hidup di Indonesia, senyulong adalah yang paling tidak ingin ditemukan. Ia bersembunyi di rawa gambut, sungai pedalaman berwarna hitam seperti teh, dan hutan banjir yang jarang dijamah manusia. Para peneliti harus menempuh perjalanan berjam-jam menyusuri lumpur dan saluran sempit hanya untuk mendekati habitatnya. Kadang hasilnya nihil. “Mereka satwa cryptic yang tidak mau ditemukan,” kata Kyle Shaney, penulis utama penilaian Daftar Merah IUCN untuk senyulong.

Tapi kini, senyulong semakin sering muncul di tempat yang seharusnya tidak ia datangi. Dan itu bukan pertanda baik.

Senyulong (Tomistoma schlegelii) adalah reptil yang sulit dikategorikan. Moncongnya runcing seperti gharial, tapi pangkalnya melebar seperti buaya. Karena penampilannya yang membingungkan itu, ia sempat mendapat julukan kurang enak: false gharial, gharial palsu. Perjalanan taksonominya pun tidak biasa. Awalnya dimasukkan ke keluarga Crocodylidae berdasarkan morfologi, lalu dipindahkan ke Gavialidae pada 2007 setelah analisis molekular membuktikan kekerabatan genetiknya yang lebih dekat ke gharial. “Setahu saya, ia merupakan satu-satunya buaya yang sempat berpindah penempatan keluarganya,” kata Herdhanu Jayanto, ilmuwan konservasi dari Yayasan Konklusi.

Ekologinya pun masih banyak yang belum dipahami. Herdhanu dan tim pada 2022 menempuh perjalanan 10 jam ke hulu Sungai Air Hitam di Taman Nasional Berbak-Sembilang, Jambi, untuk memasang GPS pada sembilan ekor senyulong berukuran 3,9 hingga 4,7 meter. Data yang terkumpul hingga 2025 menunjukkan ruang jelajah satu individu mencapai 380,4 hektar, dengan satu individu lain teramati berpindah sejauh 8,7 kilometer dari lokasi tangkapnya. Studi ini, kata Herdhanu, adalah satu-satunya studi ruang jelajah untuk senyulong dewasa jantan dan betina yang pernah dilakukan.

Ancaman terhadap spesies ini nyata dan berlapis. Dari 2002 hingga 2024, Indonesia kehilangan 11 juta hektar hutan primer basah. Lima provinsi dengan kehilangan tutupan pohon terbesar, yaitu Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Timur, adalah jantung habitat senyulong. Sebelum 1950, senyulong diperkirakan tersebar di Kalimantan, Sumatera, Jawa, Semenanjung Malaysia, dan mungkin hingga daratan Asia. Kini hanya tersisa di Sumatera, Kalimantan, dan Semenanjung Malaysia, dengan populasi diperkirakan kurang dari 24 ribu ekor. Status IUCN-nya naik dari Rentan pada 2014 menjadi Genting pada 2024.

Senyulong sebenarnya cukup adaptif. Mereka dilaporkan bisa hidup di habitat sawit dan lahan terdegradasi. Tapi ada batas toleransinya. Ketika hutan terus berkurang dan ketersediaan mangsa menyusut, senyulong terpaksa bergerak keluar dari zona nyaman mereka. Tren serangan dan konflik dengan manusia semakin meningkat, meski sebagian besar serangan buaya di Indonesia berasal dari buaya muara.

“Senyulong mungkin bukan sedang menyerang, namun bertahan,” tulis laporan yang mengkaji konflik ini.

Buaya yang selama ini paling menghindari manusia kini semakin sering muncul di dekat permukiman dan area pemancingan. Bukan karena perangainya berubah, melainkan karena ruang hidupnya terus menyempit hingga tidak ada pilihan lain yang tersisa.

Bagaimana Burung Kecil yang Tak Bisa Terbang Ini Bisa Bertahan di Pulau Paling Terpencil di Dunia?

Akhyari Hananto 10 Jun 2026

Pertanyaannya sederhana tapi jawabannya tidak: bagaimana seekor burung yang tidak bisa terbang bisa menghuni pulau yang muncul dari dasar laut dan berjarak ribuan kilometer dari benua mana pun?

Pulau itu bernama Inaccessible Island, bagian dari gugusan kepulauan Tristan da Cunha di Samudra Atlantik Selatan. Tebing-tebingnya nyaris vertikal, ombaknya ganas, dan medannya begitu ekstrem sehingga hampir tidak pernah ada manusia yang berhasil menginjakkan kaki di sana. Di balik benteng alam itu hidup ribuan burung kecil seberat bola pingpong yang tidak bisa terbang: Mandar Inaccessible (Atlantisia rogersi), pemegang rekor sebagai burung tak bisa terbang terkecil di dunia.

Selama satu abad, keberadaan mereka memicu paradoks yang membingungkan para ilmuwan. Jawabannya akhirnya datang dari riset DNA yang dipimpin ahli biologi evolusi Martin Stervander, dipublikasikan di jurnal Molecular Phylogenetics and Evolution. Riset ini mematahkan teori lama yang dicetuskan ornitologis Percy Lowe pada 1920-an, yang berspekulasi bahwa nenek moyang burung ini berjalan kaki melintasi jembatan darat purba. Data geologi membuktikan sebaliknya: Inaccessible Island adalah gunung berapi yang muncul dari laut tiga hingga enam juta tahun lalu dan tidak pernah menyatu dengan benua mana pun.

Yang sebenarnya terjadi jauh lebih dramatis. Sekitar 1,5 juta tahun lalu, sekelompok burung yang saat itu masih bisa terbang tersapu badai atau angin barat kencang di Atlantik Selatan, terbawa sejauh 3.500 kilometer dari Amerika Selatan. Dari sekian banyak yang tersapu, sebagian besar kemungkinan mati di lautan. Segelintir yang beruntung mendarat di satu-satunya titik daratan di tengah samudra luas itu. Para ilmuwan menyebut fenomena ini sweepstakes dispersal, penyebaran undian, karena peluangnya sangat kecil tapi dampaknya permanen.

Analisis filogenetik juga meluruskan kesalahpahaman tentang asal-usul mereka. Meski pulau ini secara geografis lebih dekat ke Afrika, kerabat terdekat Mandar Inaccessible justru adalah spesies yang berhabitat di Amerika, yaitu Dot-winged Crake dan Black Rail.

Setelah mendarat, jawaban atas pertanyaan kedua mulai terbentuk: mengapa mereka kehilangan kemampuan terbang? Inaccessible Island menawarkan kondisi yang hampir sempurna. Makanan berlimpah berupa cacing, ngengat, dan biji-bijian. Vegetasi lebat untuk bersembunyi. Dan yang paling penting, tidak ada predator sama sekali, tidak ada tikus, kucing, atau mamalia pemangsa. Dalam kondisi seperti ini, mempertahankan kemampuan terbang hanya membuang energi. Seleksi alam bekerja dengan prinsip efisiensi: sayap mengerdil, bulu menjadi lebih halus, kaki menjadi lebih kekar. Fenomena ini dikenal sebagai Sindrom Pulau, dan Mandar Inaccessible adalah salah satu contohnya yang paling ekstrem.

Kini populasinya mencapai sekitar 5.600 individu, sangat padat untuk pulau seluas 7,4 kilometer persegi. Mereka hidup sepenuhnya di atas tanah, gesit dan penuh rasa ingin tahu, bahkan sering mendekati manusia karena tidak memiliki insting takut terhadap predator.

Tapi isolasi yang selama ini melindungi mereka adalah pedang bermata dua. Di Gough Island, pulau tetangga dalam gugusan yang sama, burung serupa hampir punah akibat tikus yang terbawa kapal manusia. Selama Inaccessible Island tetap tidak terjamah oleh spesies invasif, Mandar Inaccessible akan terus bertahan sebagai penghuni tunggal pulau terpencilnya. Satu tikus yang salah mendarat bisa mengakhiri 1,5 juta tahun sejarah evolusi dalam waktu yang sangat singkat.

Ular Endemik Sulawesi Ini Pertama Dicatat Seabad Lalu, dan Sejak Itu Nyaris Tak Ada yang Menelitinya

Akhyari Hananto 9 Jun 2026

Tengah malam, di tepi sungai berbatu di Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Muh. Imam Ramdani mendapati sosok ramping berwarna cokelat kekuningan melata perlahan sekitar sepuluh meter dari aliran air. Ia segera tahu ini bukan ular biasa. “Setahu saya, dokumentasi visual ular ini di internet hampir tidak ada. Hanya tercatat di buku lapangan, itu pun terbit tahun 2005,” ujarnya.

Ular yang ia temukan adalah Lycodon stormi, atau ular cecak sulawesi, reptil endemik yang selama ini hanya tercatat keberadaannya di Sulawesi Utara dan kawasan Lore Lindu. Temuan Imam di Morowali menambah catatan distribusi spesies ini ke wilayah yang sebelumnya tidak pernah terdokumentasi.

Malam berikutnya, satu individu lain terpantau menyeberangi sungai selebar tiga hingga lima meter. Dari dua individu yang ditemui, Imam mencatat perbedaan corak tubuh yang menarik: satu berwarna cokelat polos, satu lagi lebih kontras. Variasi warna ini ternyata bukan hal baru dalam kelompok Lycodon, dan justru menjadi salah satu sumber kerancuan identifikasi ilmiah yang belum sepenuhnya terpecahkan.

Perilaku ular ini juga menarik diamati. Ketika disentuh, ia mencoba menggigit lalu kabur. Jika disentuh lagi, ia mengulangi respons yang sama. Tapi setelah beberapa kali, strateginya berubah: tubuhnya melingkar dan kepala disembunyikan di bawah badan. “Perilaku ini bentuk adaptasi untuk mengurangi risiko serangan predator,” kata Imam. Meski terkesan agresif saat diganggu, ular ini tidak berbisa dan tidak berbahaya bagi manusia. Mangsanya adalah kadal, katak, serangga, dan ular berukuran lebih kecil.

Secara ilmiah, Lycodon stormi adalah teka-teki yang belum selesai. Amir Hamidy, Profesor Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, menyebut informasi ilmiah tentang spesies ini masih sangat terbatas. Ular ini pertama kali dideskripsikan lebih dari seabad lalu, tapi belum pernah ada evaluasi ulang yang menyeluruh. Belum pernah pula dilakukan sekuensing molekular untuk membandingkan populasi di berbagai wilayah.

“Karena nokturnal, yang mempelajari kelompok ini tidak banyak,” kata Amir. Status taksonominya pun masih menggantung. Nama ilmiahnya valid, tapi apakah ia benar-benar spesies tersendiri atau bagian dari kelompok lain, masih menunggu kajian molekuler, ekologi, dan morfologi yang lebih lengkap. “Bisa jadi nanti valid sebagai spesies sendiri, bisa juga disinonimkan dengan spesies lain.”

Sementara pertanyaan ilmiah itu menunggu jawaban, habitatnya sudah menghadapi tekanan nyata. Imam menemukan ular ini di area hutan sekunder yang berbatasan langsung dengan bekas tambang nikel. Ia melihat bekas sedimentasi dari pengerukan tanah di hulu sungai, yang berpotensi mengganggu aliran air tempat ular ini ditemukan. Habitat yang hari ini tampak aman bisa berubah fungsi jika tekanan industri meningkat.

Seekor ular endemik yang hampir tidak ada fotonya di internet, status taksonominya belum tuntas, habitatnya terancam industri, dan peneliti yang fokus padanya bisa dihitung dengan jari. Lycodon stormi adalah gambaran sempurna dari kekayaan biodiversitas Sulawesi yang masih menunggu untuk benar-benar dipahami, sebelum terlambat untuk dilindungi.

Sebelum Ada Manusia, Ada Ular 15 Meter yang Merajai Rawa-rawa

Akhyari Hananto 9 Jun 2026

Empat puluh tujuh juta tahun lalu, di rawa-rawa dangkal yang kini menjadi bagian dari Gujarat, India, seekor predator sepanjang 15 meter bergerak lambat di antara vegetasi lebat. Ia tidak mengejar mangsa. Ia menunggu. Tubuhnya yang sebesar dan sepanjang bus kota melingkar diam di tepi air, sabar, sampai seekor kura-kura purba atau buaya primitif mendekat cukup dekat untuk diserang. Tidak ada predator lain yang berani mengusiknya. Di dunia itu, ia adalah puncak dari segalanya.

Ular itu kini diberi nama Vasuki indicus, diambil dari mitologi Hindu di mana Vasuki adalah raja ular legendaris yang melilit leher Dewa Siwa. Sebuah nama yang terasa tepat untuk predator yang ukurannya membuat ular sanca kembang terbesar yang hidup hari ini tampak kerdil.

Kisah penemuannya sendiri dimulai dengan kesalahan identifikasi. Pada 2005, para peneliti di Tambang Lignit Panandhro, Gujarat, menemukan tulang-belulang besar yang awalnya mereka kira milik buaya purba. Ukurannya terlalu masif untuk ular mana pun yang mereka kenal. Setelah pemeriksaan ulang yang teliti, mereka menyadari bahwa di depan mereka ada 27 ruas tulang belakang dari seekor ular raksasa yang belum pernah tercatat sebelumnya.

Penelitian yang dipimpin Debajit Datta dan Sunil Bajpai dari Indian Institute of Technology Roorkee, dipublikasikan di jurnal Scientific Reports, menghitung estimasi ukuran tubuh berdasarkan lebar ruas tulang belakang yang mencapai 62,7 milimeter. Dengan metode perhitungan allometrik, panjang tubuh Vasuki diestimasi antara 10,9 hingga 15,2 meter. Sebagai perbandingan, ular sanca kembang terbesar yang pernah tercatat di penangkaran jarang menyentuh 8 meter.

Vasuki berasal dari keluarga punah Madtsoiidae, dengan tubuh yang silindris, lebar, dan sangat kekar. Ia bukan ular yang gesit. Para ahli menyimpulkan ia adalah predator penyergap yang bergerak lambat, mengandalkan kesabaran dan kekuatan fisik murni. Senjata utamanya bukan bisa, melainkan belitan. Mangsanya beragam: kura-kura purba, buaya primitif, hingga mamalia awal yang melintas di tepian air.

Penemuan ini segera memicu perbandingan dengan Titanoboa cerrejonensis, ular raksasa yang ditemukan di Kolombia dan hidup sekitar 13 juta tahun sebelum Vasuki, dengan panjang diperkirakan 13 hingga 14 meter. Keduanya kini dianggap sebagai dua ular terbesar yang pernah diketahui sains. Keberadaan mereka di dua benua berbeda mencerminkan persebaran keluarga Madtsoiidae yang pernah mendominasi superbenua Gondwana, sebelum benua-benua itu berpisah dan bergerak ke posisinya saat ini.

Tapi Vasuki bukan sekadar rekor paleontologi. Ia adalah bukti biologis tentang kondisi iklim masa lalu. Ular adalah hewan berdarah dingin yang pertumbuhannya sangat bergantung pada suhu lingkungan. Keberadaan ular sebesar Vasuki hanya mungkin jika suhu lingkungan sangat hangat. Estimasi menunjukkan India pada masa Eosen memiliki suhu rata-rata tahunan sekitar 28 derajat Celcius, gambaran dunia tropis yang jauh lebih panas dari kondisi saat ini. Fosil Vasuki dengan demikian berfungsi sebagai termometer biologis yang memvalidasi model iklim purba, sekaligus memberi konteks penting bagi upaya memahami bagaimana pemanasan global masa kini akan mempengaruhi keanekaragaman hayati di masa depan.

“Masih banyak hal yang belum kita ketahui tentang Vasuki,” kata Datta. “Kita belum paham detail tentang struktur ototnya, atau komposisi diet spesifiknya.”

Peneliti Jepang Mengecat Sapi dengan Pola Zebra, dan Ternyata Berhasil Mengusir Lalat

Akhyari Hananto 9 Jun 2026

Tomoki Kojima naik ke panggung dengan tenang, lalu membuka jaketnya untuk memperlihatkan kemeja bermotif zebra. Dua rekannya maju membawa papan bergambar lalat dan berpura-pura menyerangnya. Penonton tertawa. Tapi di balik adegan kocak itu, ada penelitian yang benar-benar bisa mengubah cara peternak sapi menghadapi salah satu masalah paling mahal di industri peternakan global.

Kojima dan timnya dari Organisasi Penelitian Pertanian dan Pangan Nasional Jepang baru saja menerima Ig Nobel 2025 kategori biologi, penghargaan satir yang diberikan setiap tahun untuk penelitian yang terdengar konyol tapi pada akhirnya mendorong pemikiran serius. Temuannya: mengecat sapi hitam dengan garis-garis putih menyerupai zebra membuat lalat penghisap darah hinggap 50 persen lebih sedikit.

Ide ini bermula dari pertanyaan lama dalam biologi: untuk apa garis zebra? Berbagai hipotesis sudah diajukan, dari kamuflase terhadap predator hingga pengenalan sesama. Tapi semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa pola hitam putih yang kontras menciptakan ilusi visual yang membingungkan mata serangga, membuat mereka kesulitan menentukan tempat mendarat.

Kojima mulai serius menguji hipotesis ini setelah seorang peternak Wagyu berkonsultasi kepadanya tentang masalah lalat yang sulit diatasi tanpa insektisida. Eksperimennya sederhana: satu sapi dicat garis putih menyerupai zebra, satu dicat garis hitam sebagai kontrol, satu dibiarkan polos. Proses pengecatan hanya memakan waktu sekitar lima menit per ekor. Selama beberapa hari, tim mengamati jumlah lalat yang hinggap dan perilaku sapi dalam mengusir serangga.

Hasilnya konsisten. Sapi bergaris zebra menarik separuh lebih sedikit lalat dibanding sapi polos maupun sapi bercat hitam. Lebih dari itu, sapi bergaris terlihat lebih tenang, jarang mengibas ekor atau menghentak kaki, tanda berkurangnya stres akibat gigitan serangga. Penelitian ini dipublikasikan pada 2019 di jurnal PLOS ONE, tapi baru mendapat perhatian luas setelah masuk Ig Nobel.

Konteks ekonominya tidak bisa diabaikan. Di Amerika Serikat saja, kerugian industri sapi akibat serangan lalat diperkirakan lebih dari 2,2 miliar dolar AS per tahun. Lalat penghisap darah bukan hanya mengganggu, mereka menjadi vektor penyakit, menurunkan produktivitas, mengurangi produksi susu, dan melemahkan daya tahan tubuh ternak jika stres berlangsung lama. Insektisida selama ini menjadi solusi utama, tapi menimbulkan masalah tersendiri: resistensi serangga, residu kimia di tanah dan air, serta risiko kesehatan bagi hewan dan manusia.

Tantangan praktisnya tetap ada. Mengecat sapi satu per satu tidak realistis di peternakan berskala besar. Kojima dan beberapa peternak di Prefektur Yamagata sudah mencoba alternatif dengan memutihkan bulu sapi agar pola bertahan lebih lama. Hasilnya mengejutkan bahkan peternak yang awalnya skeptis.

Di negara tropis seperti Indonesia, di mana populasi lalat tinggi dan kerugian akibat penyakit ternak signifikan, pendekatan ini layak dieksplorasi lebih jauh. Cat berbasis air atau pemutihan bulu relatif murah, aman, dan tidak meninggalkan residu kimia. Kadang solusi terbaik memang datang dari tempat yang paling tidak terduga, dalam hal ini, dari savana Afrika dan seekor kuda bergaris yang sudah lama menjawab pertanyaan yang belum pernah kita tanyakan dengan benar.

Seekor sapi hitam dicat dengan pola garis putih menyerupai zebra dalam eksperimen yang dilakukan peneliti Jepang. Pola ini terbukti mengurangi jumlah lalat penghisap darah yang hinggap | Sumber: Aichi Agricultural Research Center.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.