Tengah malam, di tepi sungai berbatu di Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Muh. Imam Ramdani mendapati sosok ramping berwarna cokelat kekuningan melata perlahan sekitar sepuluh meter dari aliran air. Ia segera tahu ini bukan ular biasa. “Setahu saya, dokumentasi visual ular ini di internet hampir tidak ada. Hanya tercatat di buku lapangan, itu pun terbit tahun 2005,” ujarnya.
Ular yang ia temukan adalah Lycodon stormi, atau ular cecak sulawesi, reptil endemik yang selama ini hanya tercatat keberadaannya di Sulawesi Utara dan kawasan Lore Lindu. Temuan Imam di Morowali menambah catatan distribusi spesies ini ke wilayah yang sebelumnya tidak pernah terdokumentasi.
Malam berikutnya, satu individu lain terpantau menyeberangi sungai selebar tiga hingga lima meter. Dari dua individu yang ditemui, Imam mencatat perbedaan corak tubuh yang menarik: satu berwarna cokelat polos, satu lagi lebih kontras. Variasi warna ini ternyata bukan hal baru dalam kelompok Lycodon, dan justru menjadi salah satu sumber kerancuan identifikasi ilmiah yang belum sepenuhnya terpecahkan.
Perilaku ular ini juga menarik diamati. Ketika disentuh, ia mencoba menggigit lalu kabur. Jika disentuh lagi, ia mengulangi respons yang sama. Tapi setelah beberapa kali, strateginya berubah: tubuhnya melingkar dan kepala disembunyikan di bawah badan. “Perilaku ini bentuk adaptasi untuk mengurangi risiko serangan predator,” kata Imam. Meski terkesan agresif saat diganggu, ular ini tidak berbisa dan tidak berbahaya bagi manusia. Mangsanya adalah kadal, katak, serangga, dan ular berukuran lebih kecil.
Secara ilmiah, Lycodon stormi adalah teka-teki yang belum selesai. Amir Hamidy, Profesor Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, menyebut informasi ilmiah tentang spesies ini masih sangat terbatas. Ular ini pertama kali dideskripsikan lebih dari seabad lalu, tapi belum pernah ada evaluasi ulang yang menyeluruh. Belum pernah pula dilakukan sekuensing molekular untuk membandingkan populasi di berbagai wilayah.
“Karena nokturnal, yang mempelajari kelompok ini tidak banyak,” kata Amir. Status taksonominya pun masih menggantung. Nama ilmiahnya valid, tapi apakah ia benar-benar spesies tersendiri atau bagian dari kelompok lain, masih menunggu kajian molekuler, ekologi, dan morfologi yang lebih lengkap. “Bisa jadi nanti valid sebagai spesies sendiri, bisa juga disinonimkan dengan spesies lain.”
Sementara pertanyaan ilmiah itu menunggu jawaban, habitatnya sudah menghadapi tekanan nyata. Imam menemukan ular ini di area hutan sekunder yang berbatasan langsung dengan bekas tambang nikel. Ia melihat bekas sedimentasi dari pengerukan tanah di hulu sungai, yang berpotensi mengganggu aliran air tempat ular ini ditemukan. Habitat yang hari ini tampak aman bisa berubah fungsi jika tekanan industri meningkat.
Seekor ular endemik yang hampir tidak ada fotonya di internet, status taksonominya belum tuntas, habitatnya terancam industri, dan peneliti yang fokus padanya bisa dihitung dengan jari. Lycodon stormi adalah gambaran sempurna dari kekayaan biodiversitas Sulawesi yang masih menunggu untuk benar-benar dipahami, sebelum terlambat untuk dilindungi.