Surga Bawah Laut Papua Masih Rawan Hujan Bom Ikan

Facebook0Twitter14LinkedIn0Google+0Email

Ikan yang mati akibat pemboman mengalami patah tulang, pecah pembuluh darah dan hilangnya syaraf keseimbangan. Foto: Dwi Aryo/TNC

Berbagai kasus pengambilan ikan dengan menggunakan bahan peledak masih terus terjadi di berbagai wilayah perairan nusantara. Para pelaku, masih tak peduli terhadap dampak ledakan yang menimpa berbagai jenis kekayaan hayati laut di Indonesia. Pun, mereka tak peduli apakah ini wilayah konservasi atau tidak. Kasus terakhir yang berhasil diungkap adalah pemboman ikan di salah satu surga hayati laut Indonesia yang merupakan segitiga terumbu karang dunia, Raja Ampat di Papua.

Patroli gabungan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) dan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Raja Ampat berhasil menangkap tujuh pelaku pengeboman ikan pada hari Jumat 14 September silam di Pulau Batanta, Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat. Penyergapan terhadap pelaku pemboman ikan ini terjadi dalam jarak waktu enam bulan setelah peristiwa yang sama di Pulau Kofiau Februari silam.

Ikan sitaan hasil pemboman di perairan Raja Ampat. Foto: Dwi Aryo/TNC

Melalui media rilis yang disebarkan oleh The Nature Conservancy bersama TNI Angkatan Laut serta Dinas Kelautan dan Perikanan setempat, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Raja Ampat, Manuel Urbinas, S.Pi, M.Si mengatakan, “Penangkapan ikan menggunakan bahan peledak berdampak sangat besar dan merugikan sektor perikanan dan pariwisata, karena tidak hanya menghancurkan ekosistem dan sumberdaya laut  namun juga sumber kehidupan dan ekonomi masyarakat Raja Ampat. Oleh karena itu, kami terus berkoordinasi dengan TNI AL dan pihak terkait lainnya untuk melakukan patroli dan menindak lanjuti informasi dari masyarakat apabila ada kegiatan ilegal di perairan Raja Ampat,” tegasnya.

Ironisnya, hal ini terjadi sebulan sebelum ajang promosi pariwisata Raja Ampat yang akan diselenggarakan pada tanggal 18-21 Oktober 2012 mendatang.

Tim patroli gabungan yang menggunakan dua speed boat memergoki tujuh nelayan asal Pulau Buaya saat tengah menangkap ikan menggunakan bahan peledak di Pulau Fam. Para pelaku dengan kapal yang berisi tangkapan ikan menggunakan bom tersebut sempat melarikan diri namun terkepung di Pulau Batanta bagian timur.

Penangkapan pengeboman ikan di Raja Ampat. Foto: Dwi Aryo/TNC

Ketujuh pelaku kemudian langsung dibawa ke Markas TNI AL di Sorong, masing-masing Kamarudin sebagai nahkoda, Irianto, Fandi, Oktavianus, Fano Fakdawer, Anton Fakdawer, dan Lamutu yang masih dibawah umur.

Selain ketujuh pelaku, tim patroli juga menyita barang bukti berupa 250 kg ikan berbagai jenis, perahu jenis sampan bermesin ganda 40 pk, kompresor, dan sumbu bahan peledak. “Kelompok pelaku memang sudah menjadi target operasi kami cukup lama dan mereka terkenal lihai menghindari patroli, tapi akhirnya mereka berhasil kita tangkap saat melakukan pemboman di perairan Raja Ampat,” ungkap Komandan Pos Angkatan Laut Lettu Laut (P) Joni Haryono, S.Sos yang bertindak sebagai koordinator patroli gabungan tersebut.

Raja Ampat adalah salah satu surga bawah laut dengan kekayaan hayati luar biasa di Indonesia. Kajian ekologis yang dilakukan The Nature Conservancy (TNC) dan Conservation International (CI) Indonesia menunjukkan bahwa Raja Ampat merupakan rumah bagi 75% jenis terumbu karang di dunia dengan 553 jenis terumbu karang dan 1.437 jenis ikan karang.

Peta Segitiga Terumbu Karang Dunia.

Dari Studi Valuasi Ekonomi Sumberdaya Alam di Kepulauan Raja Ampat yang dilakukan oleh CI dan Universitas Negeri Papua (UNIPA) pada tahun 2006 diperoleh angka nilai ekonomi dari pemanfaatan sumberdaya laut di Kepulauan Raja Ampat yang mencapai Rp 126 milyar per tahun. Nilai ini terdiri dari nilai ekonomi perikanan tradisional (Rp 63 milyar/tahun), perikanan tangkap komersial (Rp 20 milyar/tahun), dan budidaya lainnya, serta nilai ekonomi dari sektor pariwisata mencapai angka Rp 14 milyar per tahun.

Sejak tahun 2006, pemerintah daerah Raja Ampat, bersama masyarakat lokal, TNC dan CI, menjadi kabupaten pertama di Indonesia yang mendeklarasikan sebuah Jejaring Kawasan Konservasi Perairan (KKP).

Comments