Mengungkap Keragaman Hayati Gunung Merapi Melalui Fotografi

Belajar di alam dan berdiskusi, mempraktekkan ilmu di dalam kelas untuk menghasilkan foto alam liar yang bermanfaat. Foto: Aji Wihardandi

Fotografi adalah sebuah medium yang mampu memberikan impresi khas terhadap setiap orang melalui sajian visual yang terpapar di dalamnya. Lewat gambar yang tertata baik, berbagai pesan dan ungkapan bisa tersampaikan kepada berbagai kelompok dan manusia yang mau memahaminya. Pentingnya menyampaikan pesan lewat foto yang  baik inilah kemudian menjadi penting dalam konteks konservasi alam, perlindungan satwa dan penelitian ilmiah terkait alam sekitar kita.

Fotografi sebagai sebuah aktivitas, menjadi bagian penting dalam melengkapi berjalannya upaya manusia melindungi alam dan planet bumi lewat berbagai cara. Terkait hal ini, maka sebuah pelatihan fotografi alam liar yang digagas oleh rekan-rekan fotografi alam liar di Indonesia bersama Yayasan Kanopi Indonesia digelar di kaki Gunung Merapi, Yogyakarta di akhir pekan tanggal 24 hingga 25 November 2012.

Tak hanya teknik dasar fotografi alam liar, yang menjadi dasar penciptaan sebuah foto yang baik yang dibahas oleh para pemateri, namun juga bagaimana membuat foto berfungsi menjadi sebuah senjata untuk berkomunikasi dan membuat orang lain paham akan pesan yang disampaikan. Baik untuk tujuan kampanye perlindungan satwa, hutan, laut, dan berbagai pesan lingkungan sejenis, namun juga bagaimana sisi jurnalistik dari sebuah fotografi alam liar.

Willy Ekariyono dari Indonesia Wildlife Photography (tengah) dan Akbar Aryo Digdo dari Wildlife Conservation Society (kiri), memberikan pengantar dalam acara diskusi dan berbagi pengalaman di acara Merapi Wildlife Photography Event, tanggal 24 hingga 25 November 2012 silam. Foto: Aji Wihardandi

Menurut Ma’ruf Erawan dari Kanopi Indonesia, foto bisa menjadi sebuah alat kampanye kegiatan konservasi yang sangat penting,dan bisa berperan di bidang konservasi. Salah satu caranya, masuk lewat komunitas fotografi alam liar.  Dengan cara ini, upaya mengangkat fungsi fotografi sebagai sebuah senjata konservasi bisa optimal, terutama lewat pelatihan teknis untuk menghasilkan foto yang baik. Dan hal ini juga membawa kemajuan bagi fotografi alam liar itu sendiri.

“Kemarin usai acara sudah dibentuk Jogja Wildlife Photography, dan diharapkan bisa memicu komunitas di kota lain juga, yang biasanya hunting sendiri-sendiri bisa diarahkan dan ada kegiatan rutin, dengan tema tertentu. Disisipi dengan muatan konservasi dan cara publikasi foto ke depan. Harapannya, rekan-rekan fotografer alam liar bisa berbicara lewat fotonya,” ungkap Ma’ruf kepada Mongabay Indonesia.

Cikrak Daun / Mountain Leaf Warbler/ Phylloscopus trivirgatus. Foto: Aji Wihardandi

Dalam acara dua hari ini, beberapa materi penting disajikan oleh para pemateri, seperti misalnya teknis fotografi alam liar yang disampaikan oleh Willy Ekariyono dan Budi Hermawan dari Indonesia Wildlife Photograhy dan Banten Wildlife Photography. Lalu, dua jurnalis foto, Himawan dan Dwi Oblo mengupas sudut pandang jurnalistik dalam fotografi alam liar, dan Akbar Aryo Digdo dari Wildlife Conservation Society membahas berbagai penggunaan foto dalam aktvitas kampanye konservasi di Indonesia dan dunia.

Cabai gunung / Blood-breasted Flowerpecker (Dicaeum sanguinolentum). Foto: Aji Wihardandi

Akbar Aryo Digdo dari Wildlife Conservation Society menyatakan bahwa seberapa jauh isu konservasi bisa menjadi mudah dipahami di konteks lokal, dan itu adalah tantangan bersama. Selama ini, agenda konservasi selalu maju di depan, tapi bagaimana dengan orang lain di luar ranah konservasi, yang belum tentu mudah memahami kondisi ini jika hanya dipaparkan dengan tulisan belaka.

“Lewat foto sebagai bahasa universal, upaya menyebarkan gambar ini diharapkan  bisa menimbulkan empati dengan melihat yang indah-indah, yang baik-baik, misalnya lewat pemaparan foto perbandingan. Jika orang melihat foto hutan yang hancur dan hutan yang  masih hijau, tentu orang akan memilih hutan yang masih hijau. Nah hal ini diharapkan akan mampu menggugah orang untuk terus menjaga keberadaannya.  Seperti kita tahu, foto itu memiliki kekuatan yang luar biasa, sesuai dengan ungkapan foto mewakili seribu bahasa,” ungkap Akbar kepada Mongabay Indonesia.

Di Yogyakarta sendiri hasil foto alam liar diharapkan bisa menjadi referensi penting bagi para akademisi, pehobi. Lebih jauh kegiatan ini bersama-sama bisa mewarnai komunikasi dan pembicaraan di ranah publik.

Untuk mewujudkan upaya ini, usai acara ini secara resmi dibentuk Jogja Wildlife Photography yang dibentuk sebagai sebuah wadah bersama untuk berbagi dan belajar fotografi alam liar, utamanya berbagai spesies flora dan fauna di Yogyakarta dan sekitarnya. Komunitas ini mengawali dengan membentuk sebuah grup di media sosial Facebook bernama Jogja Wildlife Photography sebagai sarana berkomunikasi dan berbagi informasi.

Jamur yang menghinggapi pepohonan di kaki Gunung Merapi. Foto: Aji Wihardandi
Tak hanya primata dan berbagai jenis burung, dibalik kerimbunan Merapi juga tersimpan keragaman seperti mahluk kecil ini. Foto: Aji Wihardandi
Monyet ekor panjang/ Long-tailed Macaques/ Macaca fascicularis. Foto: Aji Wihardandi