Pesut Mahakam, Semakin Menyusut Akibat Hilangnya Sumber Pangan

Pesut Mahakam di kawasan perairan Muara Kaman. Foto: Hendar

Upaya pelestarian pesut Mahakam (Irrawady dolphin) terus dilakukan oleh berbagai pihak. Salah satunya adalah Yayasan Konservasi RASI (Rare Aquatic Species of Indonesia). Lewat sebuah pelatihan yang diikuti oleh 20  peserta dari berbagai lembaga terkait di akhir Mei silam, yayasan ini mencoba untuk menggalakkan ekowisata pesut Mahakam dan memberikan dampak bagi pelestariannya di masa mendatang.

“Bila kami melakukan pelestarian terhadap Pesut Mahakam tanpa tidak ada kaitannya dengan wisata serta upaya peningkatan ekonomi masyarakat, tentu tidak berjalan, begitu pula sebaliknya. Untuk itu setelah semua infatruktur dan upaya penyadaran masyarakat tentang pelestarian Pesut Mahakam telah dilakukan, langkah selanjutnya yaitu memberikan input bagi masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan yakni dengan mengelar  Pesut Mahakam Eco-Tourism Training, yang ditujukan bagi para pemandu wisata yang ingin menyaksikan wisata pesut Mahakam,” kata Budiono.Giorno Direktur Yayasan RASI.

Sebagian besar peserta pelatihan ini adalah pamandu wisata yang sudah berpengalaman membawa wisatawan ke pedalaman Kalimantan Timur. Para peserta diajak mengamati kehadiran pesut Mahakam di dua lokasi, yaitu di Danau Semayang, Melintang dan Pela. Lokasi lainnya adalah Muara Kaman.

Para peserta menyusuri Sungai Mahakam dengan perahu untuk menelusuri keberadaan pesut Mahakam. Foto: Hendar

Dari data terakhir RASI, di Sungai Mahakam terdapat sekitar 92 ekor Pesut Mahakam, dimana saat ini lebih banyak di temukan di kawasan perairan sungai Kabupaten Kutai Kartanegara. Perubahan ini terjadi karena kerusakan alam yang terjadi saat ini di kawasan Sungai Mahakam bagian hulu. Sehingga banyak pesut melakukan migrasi ke daerah perairan sungai di kawasan Kutai Kartanegara.

“Area Pesut Mahakam banyak ditemui di kawasan Danau Melintang, Pela dan Sangkulima, namun Pesut ini lebih banyak di temukan saat air surut, namun tetap dalam kondisi air besar, juga masih dapat ditemukan pesut,” kata Danielle Kreb, Peneliti Pesut Mahakam asal Belanda, yang telah melakukan penelitian selama 14 tahun di Kaltim.

Namun, dalam pelatihan ini para peserta pelatihan mengalami kesulitan dalam menemukan pesut Mahakam, apalagi mengingat jumlahnya yang semakin menyusut. “Dahulu pesut ini sering dijumpai masyarakat di pinggiran sungai Mahakam, hingga bisa berenang berbarengan di sungai, namun lama-kelamaan karena perubahan alam, akibat perusakan hutan yang berimbas pada kelangkaan makanan pesut dan mulai pesut dianggap hama, sehingga banyak terjadi pembantaian, sehingga terjadi migrasi pesut di daerah yang lebih banyak makanannya. Dahulu banyak di temukan di kawasan Muara Pahu, namun saat ini pesut tersebut bermigrasi ke kawasan Kukar, di sekitar Muara Kaman hingga danau Semayang,” sambung Daniella.

Para peserta baru berhasil melihat pesut Mahakam pada hari kedua pelatihan ini. Tiga rombongan pesut bermain di persimpangan sungai di kawasan Muara Kaman. Rombogan pesut yang diperkirakan satu keluarga itu, membuat decak kagum, perahu yang digunakan peserta pun mengikti ke arah pesut tersebut melintas.

Keberadaan pesut Mahakam (irrawaddy dolphin) hingga kini masih terancam. Ancaman utama yakni pemanfaatan lahan di daerah pinggiran sungai, baik itu untuk konversi lahan sawit maupun pertambangan, hal ini berpengaruh pada sumber makanan bagi pesut. Hal ini yang menyebabkan Pesut Mahakam di Muara Pahu di Kutai Barat berpindah ke kawasan Kota Bangun dan Muara Kaman. Hal ini dikatakan Danielle Krab Peneliti Pesut Mahakam asal Belanda, yang telah melakukan penelitian selama 14 tahun di Kaltim.

Pesut masuk dalam kategori lumba-lumba atau paus bergigi. Pesut hamil lama 8-14 bulan, mehirkan 1 selama 1-3 tahun sekali, menyusui. Pesut menggunakan sonar untuk mencari makan, lokasi makan. mencari mangsa, dan berkomunikasi. untuk mendekati pesut, diperlukan jarak sekitar 30 meter di sisi binatang tersebut.