Pengendali Hama dari Tanaman dan Gulma yang Ramah Lingkungan

Facebook38Twitter9LinkedIn0Google+0Email
Ada  sekitar 1.000 spesies tanaman yang mengandung bahan insektisida, yakni sekitar 380 spesies sebagai pencegah makan (antifeedent), 270 spesies sebagai penolak (repelent), 35 spesies sebagai akarisida dan 30 spesies yang memiliki zat pengambat pertumbuhan, berfungsi sebagai fungisida, bakterisida dan nematisida. Foto: Wahyu Chandra

Ada sekitar 1.000 spesies tanaman yang mengandung bahan insektisida, yakni sekitar 380 spesies sebagai pencegah makan (antifeedent), 270 spesies sebagai penolak (repelent), 35 spesies sebagai akarisida dan 30 spesies yang memiliki zat pengambat pertumbuhan, berfungsi sebagai fungisida, bakterisida dan nematisida. Foto: Wahyu Chandra

Tergantung pada pestisida kimia? Jangan. Mengapa? Sebab, banyak tanaman dan gulma berpotensi menjadi pestisida nabati yang efektif mengusir hama dan penyakit. Ia bisa lebih murah, bersifat selektif, atau hanya berfungsi pada hama sasaran  dan ramah lingkungan.

Begitulah saran Sylvia Sjam, Guru Besar Perlindungan Tanaman Universitas Hasanuddin, Makassar. Dia mengatakan, tanaman sebenarnya mengandung berbagai senyawa sekunder seperti alkaloid, terpenoid dan plavanoid. Ia berperan dalam interaksi antara tanaman dengan hama. Secara alami, senyawa kimiawi ini bisa menjadi sistem pertanahan tanaman terhadap organisme pengganggu tanaman.

Dengan memanipulasi senyawa-senyawa yang dihasilkan tanaman, katanya, dapat dihasilkan suatu teknologi berwawasan lingkungan efektif yang mampu menurunkan populasi hama. “Baik menghambat kehadiran hama maupun mematikan dan menghambat perkembangannya. Mungkin tak seefektif pestisida kimiawi, namun hasil bisalah diharapkan,” katanya akhir Agustus 2013.

Saat ini, ada sekitar 1.000 spesies tanaman yang mengandung bahan insektisida. Sekitar 380 spesies sebagai pencegah makan (antifeedent), 270 spesies penolak (repelent), 35 spesies sebagai akarisida dan 30 spesies memiliki zat pengambat pertumbuhan, berfungsi sebagai fungisida, bakterisida dan nematisida.

Sayangnya, kata Sylvia, informasi itu bukan dari Indonesia. Padahal, Indonesia dikenal dengan kekayaan dan keragaman flora. “Saya saat ini berusaha mencari dan menggali potensi sumber daya alam di Indonesia, khusus di Sulawesi Selatan, supaya petani dapat mengenali dan memanfaatkannya.”

Dia mencontohkan, tanaman paitan (Tithonia sp), bisa sebagai racun kontak. Ekstrak tanaman ini dapat untuk mengendalikan hama pada beberapa tanaman dan sumber bahan baku pupuk organik. Jenis tumbuhan ini banyak ditemukan di sekitar tanaman petani dan di pinggir-pinggir jalan.

Tanaman lain kenikir (Tagetes erectabe), bersifat racun kontak pada beberapa hama tanaman seperti Aphis craccivora dan Plutella xylostella. Tanaman ini anti nematoda. Kenikir ini rasa pekat dan mengandung senyawa saponin dan flavonoid.

Cara efektif penanggulangan hama bisa melalui penanaman atau penempatan tanaman sebagai tanaman sela. Ia berfungsi sebagai penghalang yang  menolak kehadiran hama. Foto: Wahyu Chandra

Cara efektif penanggulangan hama bisa melalui penanaman atau penempatan tanaman sebagai tanaman sela. Ia berfungsi sebagai penghalang yang menolak kehadiran hama. Foto: Wahyu Chandra

Berdasarkan hasil penelitian Sylvia dalam 10 tahun terakhir ini, sejumlah tanaman lokal lain yang dinilai berpotensi sebagai pengendali hama, antara lain tembelekan (Lantana camara), tekelan (Chromalaena odorata), cocok botol (Tagetes erecta), bandotan (Ageratum conyzoides), legundi (Vitex trifolia), galenggang kecil (Cassia tora). Lalu, maja (Crescentia cujete), kaliandara, gamal, sereh wangi (Andropogon nardus), dan kemangi (Occimum sanctum).

Sejumlah tanaman ini harus diekstrak dulu sebelum digunakan sebagai pestisida pengusir hama.     Selain menggunakan esktrak tanaman, cara efektif penanggulangan hama bisa melalui penanaman atau penempatan tanaman sebagai tanaman sela. Ia berfungsi sebagai penghalang yang bersifat repelent atau menolak kehadiran hama. Melalui metode ini, disarankan mengatur pola tanam, dengan mengkombinasikan tanaman utama atau sistem pola tumpang sari dan tanaman perangkap.

Sistem tumpang sari, katanya, mampu menurunkan kepadatan populasi hama dibanding sistem monokultur. “Ini karena peran senyawa kimia mudah menguap dan ada gangguan visual oleh tanaman bukan inang, yang mempengaruhi tingkah laku dan kecepatan kolonisasi serangga pada tanaman inang,” ucap Sylvia.

Bawang putih, misal, ditanam di antara kubis, dapat menurunkan populasi hama Plutella xylostella yang menyerang tanaman itu. Bawang putih melepas senyawa alil sulfida yang dapat mengurangi daya rangsang senyawa atsiri, yang dilepas kubis bahkan bisa mengusir hama itu.

Penanaman tanaman perangkap di antara tanaman utama mulai diterapkan untuk mengendalikan populasi hama. “Salah satu tanaman yang mampu menarik serangga dan musuh alaminya adalah jagung. Jagung sebagai perangkap berhasil diterapkan mengendalikan Helicoverpa armigera pada kapas.”

Tidak hanya di lapangan, Sylvia juga punya jurus penanggulangan hama pada pascapanen atau di gudang penyimpanan. Contoh, bait attractan trap dari A.colomus dan ekstrak biji coklat dalam bentuk pellet digunakan di gudang atau tempat penyimpanan agar mengurangi hama A.fasciculatus.

“Dengan teknologi pemanfaatan bahan alami bioaktif tanaman untuk pascapanen dapat mengurangi penggunaan fumigan, seperti metil bromida, yang dilarang kecuali untuk tujuan karantina, karena dapat merusak lapisan ozon.”

Sejumlah tanaman juga berpotensi untuk menjauhkan dari penyakit-penyakit tertentu. Beberapa penelitian Sylvia menunjukkan, selain senyawa metabolit sekunder tanaman juga mengandung beberapa mikroba yang bermanfaat untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman.

Uji laboratorium, kata Sylvia, menunjukkan mikroba ini bisa bersifat antagonis terhadap tanaman. Beberapa ekstrak bahan alami bioaktif tanaman bisa merangsang pertumbuhan tanaman, hingga bisa diformulasi sebagai pupuk hayati cair. “Ini bisa diterapkan pada sayuran organik.”

Pemanfaatan bahan alami bioaktif tanaman sebagai pengendali hama dan penyakit yang aman bagi organisme sebenarnya lebih mudah karena bahan baku banyak tersedia di lingkungan petani.  Bahkan, seringkali terabaikan dan dianggap gulma atau tamanan penganggu.

“Sangat dianjurkan kepada petani tidak membabat habis tanaman yang tumbuh liar di sekeliling tanaman. Bisa jadi tanaman itu justru memiliki manfaat melindungi dari serangan hama.”

Memang, katanya tidak semua bahan alami bioaktif tanaman ini dapat keluar hanya menggunakan air. Untuk itu, perlu ada sosialisasi dan pembelajaran kepada petani, sebelum mereka bisa mengaplikasikan di lapangan. “Di sinilah peran pemerintah.”

Penerapan teknologi pertanian berwawasan lingkungan melalui penggunaan petstisda nabati ini,  seharusnya mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah.  Pemerintah diharapkan memfasilitasi transfer teknologi kepada petani secara bertahap melalui pendampingan berkesinambungan sampai petani bisa mandiri.

Pemanfaatan bahan alami bioaktif tanaman sebagai pengendali hama dan penyakit yang aman bagi organisme yang bukan sasaran sebenarnya lebih mudah. Sebab bahan baku banyak tersedia di sekeliling lingkungan petani. Foto: Wahyu Chandra

Pemanfaatan bahan alami bioaktif tanaman sebagai pengendali hama dan penyakit yang aman bagi organisme yang bukan sasaran sebenarnya lebih mudah. Sebab bahan baku banyak tersedia di sekeliling lingkungan petani. Foto: Wahyu Chandra

 

Comments