Makassar Berkebun, dari Anak TK sampai Kalangan Profesional

Facebook0Twitter18LinkedIn0Google+1Email
Lahan berkebun ini pinjaman dari Yayasan Kesehatan PT Telkom Makassar, seluas 30 are, terletak di tengah kota, tepat bersebelahan dengan Hotel Clarion. Rencananya mereka  menambah luas lahan tanam, dengan sasaran  daerah-daerah padat. Foto: Wahyu Chandra

Lahan berkebun ini pinjaman dari Yayasan Kesehatan PT Telkom Makassar, seluas 30 are, terletak di tengah kota, tepat bersebelahan dengan Hotel Clarion. Rencananya mereka menambah luas lahan tanam, dengan sasaran daerah-daerah padat. Foto: Wahyu Chandra

Pada akhir September 2013, tampak puluhan anak dari SD Cendekia School, sibuk menanam dan panen bersama. Mereka belajar cara bertani, sekaligus menjaga lingkungan. Lahan tanam pun berada di tengah Kota Makassar, di samping sebuah hotel. Ini merupakan salah satu kegiatan komunitas Makassar Berkebun.

“Anak-anak ini berasal dari orang tua kalangan menengah ke atas. Kami berusaha mengajarkan hidup hemat, sehat dan peduli lingkungan sekitar,” kata Ananda, guru pembimbing. Dia juga mengajarkan betapa sulit tanaman tumbuh sampai bisa dikonsumsi. “Jadi mereka bisa lebih menghargai apa yang mereka makan setiap hari.”

Wahyuddin Mas’ud, Koordinator Makassar Berkebun, mengatakan, kebanyakan anggota komunitas bergerak melalui jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter. Tujuan mereka menyebarkan semangat positif lebih peduli lingkungan dan perkotaan dengan urban farming. Yakni, memanfaatkan lahan tidur di kawasan perkotaan menjadi lahan pertanian dan kebun produktif.

Komunitas ini berawal dari gerakan nasional Indonesia Berkebun pada 2011, dengan anggota sebagian besar mahasiswa. Keanggotaan pun meluas. Jika dulu, mayoritas mahasiswa, kini banyak kelompok masyarakat, mulai dari mahasiswa, dokter, PNS, aktivis lingkungan hingga ibu-ibu rumah tangga. “Dari sekitar 80 anggota, hanya sebagian kecil berlatar belakang pertanian. Lainnya tak paham pertanian sama sekali. Mereka bergabung setelah melihat aktivitas kami di Facebook dan Twitter.”

Karena banyak dari kalangan profesional, Makassar Berkebun pun dilakukan hanya pada hari libur, khusus Sabtu dan Minggu. Kegiatan pun beragam, mulai pembelajaran bertani, hingga sosialisasi ke sekolah-sekolah.Mereka juga memberi pelatihan bertani kepada kelompok-kelompok swasta, pensiunan, ibu rumah tangga dan siswa sekolah, mulai dari TK hingga SMA. Jenis tanaman yang digunakan kebanyakan sayuran berumur pendek, seperti selada, ketimun, sawi, tomat, dan cabai. Tanaman tanpa pestisida.

Aktivitas Makassar Berkebun sejak Agustus 2013 didukung Yayasan Kesehatan Telkom Makassar. Yayasan ini menyediakan lahan, dan menyiapkan bibit tanaman. Mereka juga mengumpulkan dana dengan menjual aksesori-aksesori komunitas ini. Hasil penjualann untuk pembiayaan kegiatan dan pembelian peralatan serta bahan-bahan tanam.

Mardiana dari Yayasan Kesehatan Telkom Makassar, sangat senang dengan keberadaan komunitas ini. “Kita berharap kerjasama ini selamanya. Kami punya banyak rencana ke depan. Termasuk penambahan lahan demplot. Kami berupaya mengajarkan cara berkebun kepada karyawan dan pensiunan Telkom untuk mengisi waktu luang mereja,” ucap Mardiana.

Kini mereka mempersiapkan program Akademi Berkebun, yaitu sekolah berkebun peserta 20 orang. Fokusnya, cara bertanam melalui teknik vertikultur, menggunakan medium pipa dan bambu.“Siapa pun bisa ikut dan tanpa bayaran. Pembelajaran tiap Sabtu dan Minggu.”

Anak-anak dari SD Cendekia School sedang belajar menanam dan memanen  sayuran. Mereka juga diajarkan pentingnya makan sayuran dan menjaga  lingkungan sekitar. Termasuk mengajak mereka peduli pada makanan yang mereka konsumsi. Foto: Wahyu Chandra

Anak-anak dari SD Cendekia School sedang belajar menanam dan memanen sayuran. Mereka juga diajarkan pentingnya makan sayuran dan menjaga lingkungan sekitar. Termasuk mengajak mereka peduli pada makanan yang mereka konsumsi. Foto: Wahyu Chandra

Comments