Aksi Bersih Pantai Kuta, Kerja Keras Tanpa Kesadaran Wisatawan

Kemajuan sektor pariwisata di Bali, di satu sisi memang membawa dampak ekonomi bagi pulau dewata tersebut. Berbagai sektor pendukung bisnis pelepas lelah ini terus berkembang sepanjang tahun. Mulai dari penyediaan akomodasi, toko cinderamata, tempat hiburan malam, transportasi hingga sektor perdagangan yang mendukung keberadaan para wisatawan.

Namun di satu sisi, maraknya perkembangan pariwisata pun membawa berbagai dampak lingkungan. Salah satu yang terbesar saat ini, tentu adanya wacana reklamasi untuk memperluas area bagi wisatawan yang datang dari penjuru dunia. Namun hal lain yang tak kalah penting dan menjadi masalah dalam keseharian, tentu saja adalah sampah. Setiap hari, pulau Bali menghasilkan sampah tak kurang dari 10 ribu meter kubik, menurut data dari Badan Lingkungan Hidup Bali. Sebagian besar, atau sekitar 57% adalah sampah di wilayah perkotaan, termasuk wilayah pariwisata.

Masalah sampah semakin menjadi persoalan, saat para wisatawan yang datang dari berbagai wilayah tidak memiliki kesadaran untuk membuang sampah di tempat yang semestinya. Alhasil, pulau dewata yang seharusnya nyaman, menjadi semakin kehilangan pesonanya karena serakan sampah di berbagai wilayah, terutama di kawasan wisata utama yang selama ini menjadi andalan seperti Pantai Kuta.

Kuta, sebagai salah satu daya tarik utama Bali, bisa dikunjungi oleh 5.000 hingga 6.000 orang per hari saat musim liburan tiba. Bayangkan berapa banyak volume sampah yang dihasilkan dari jumlah pengunjung yang sebegitu membludak.

Menikmati kebersamaan sebelum memulai aksi bersih pantai. Foto: Amelia Tagaroi/Komunitas Bali Bersih
Menikmati kebersamaan sebelum memulai aksi bersih pantai. Foto: Amelia Tagaroi/Komunitas Bali Bersih

Demi menekan jumlah sampah yang diproduksi setiap hari, Komunitas Bali Bersih dan sejumlah musisi asal Bali, seperti Superman is Dead dan The Bullhead, serta sejumlah komunitas menggelar Kuta Beach Cleanup, pada hari Minggu 9 Februari 2014 silam. Tak kurang dari 200 relawan bergabung dalam pembersihan Pantai Kuta. Rute pembersihan ini dimulai dari gerbang utara Pantai Kuta hingga ke gerbang selatan pintu masuk Pantai Kuta. Aksi ini sendiri dimulai tepat pukul 5 sore waktu setempat hingga pukul 6.30 sore.

Dengan bersenjatakan ratusan kantong sampah dan sarung tangan yang disediakan oleh Eco Bali Recycling, Band The Bullhead dan Komunitas Bali Bersih, para relawan menyasar setiap jengkal pantai dan memunguti semua jenis sampah yang berserakan di sepanjang pasir putih pantai ini.

Dari hasil operasi pembersihan ini, sampah plastik (non-organik) adalah yang paling banyak ditemukan di tepian pantai. Berbagai bungkus kemasan makanan, minuman dan sejenisnya tersebar di pantai yang terkenal dengan keindahan matahari terbenamnya ini.

Kendati para peserta sangat bersemangat dalam melakukan aktivitas ini, namun Komunitas Bali Bersih menyadari bahwa butuh lebih dari sekedar aksi sehari untuk menyelesaikan masalah sampah di sejumlah lokasi wisata di Bali. “Kegiatan bersih-bersih yang kami lakukan bertujuan membantu mengurangi banyaknya sampah yang belum tertanggulangi di Pantai Kuta. Namun demikian, kami tahu bahwa kegiatan ini hanya menyelesaikan masalah sampah hari ini saja,” ungkap Pendiri Komunitas BaliBersih, Dani Aristya dalam media rilis kepada Mongabay-Indonesia.

Sampah plastik, masih mendominasi. Foto: Amelia Tagaroi/Komunitas Bali Bersih
Sampah plastik, masih mendominasi. Foto: Amelia Tagaroi/Komunitas Bali Bersih

Hal senada juga diungkapkan oleh salah satu musisi pendukung kegiatan ini, yaitu Ajiq Bullhead, dari grup musik The Bullhead,”Aksi Kuta Beach Cleanup ini mungkin memang salah satu dari keguatan serupa terbesar dari yang pernah ada di Bali dengan setidaknya 200 relawan yang turut berpartisipasi. Kegiatan ini bisa dibilang sukses, dengan massa yang banyak kami berupaya agar benar-benar bisa total membersihkan dan paling tidak mengurangi sampah di Pantai Kuta,” ungkap Ajiq.

Hasil operasi pengumpulan sampah ini sendiri akan ditampung oleh Eco Bali Recycling untuk didaur ulang menjadi barang-barang yang bermanfaat.

Kesadaran warga dan para wisatawan memang menjadi kunci utama dalam menjaga keindahan dan kelestarian objek-obje wisata alam di Indonesia. Sama halnya dengan yang terjadi di Pantai Kuta, yang tak lama setelah operasi bersih-bersih ini kembali kotor oleh tangan-tangan wisatawan yang berkesadaran rendah dan membuang sejumlah sampah plastik dan kemasan makanan di pasir pantai.

“Terbukti, saat saya akan pulang dan melintasi rute aksi, saya masih melihat sampah-sampah seperti gelas/botol air mineral, bungkus snack, kembali ditinggalkan, berserakan begitu saja di atas pasir. Paling tidakkami sudah melakukan sesuatu dan itu untuk yang terbaik,” ungkap Ajiq lebih lanjut.

Kawasan wisata Kuta di Bali bagian selatan, yang semakin padat akibat penumpukan investasi dan tidak mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Foto: Aji Wihardandi
Kuta, masih menjadi primadona. Tanpa perawatan yang terus berjalan, wisata alam tak akan lagi bisa menjadi sandaran bagi Bali. Foto: Aji Wihardandi

Bali memang indah, namun tanpa kesadaran dari para pelancong yang setiap saat menikmati keunikan pulau dewata ini, keindahan Bali mungkin tak akan bertahan lama. Memulai dari hal sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya, akan sangat signifikan melestarikan salah satu kekayaan alam dan budaya Indonesia yang masih ada sampai saat ini.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , ,