Riza Marlon: Minim Karya Ilmiah Populer, Anak Indonesia Lebih Paham Satwa Asing

Riza Marlon dan buku terbarunya, Panduan Visual dan Identifikasi Lapangan: 107+ Ular Indonesia. Foto: Aji Wihardandi
Riza Marlon dan buku terbarunya, Panduan Visual dan Identifikasi Lapangan: 107+ Ular Indonesia. Foto: Aji Wihardandi

Kemajuan fotografi dan pemanfaatannya terhadap ilmu pengetahuan, menjadi sebuah jalinan penting yang tidak bisa dipisahkan. Adanya kekolotan pendekatan dalam ilmu pengetahuan alam, atau ilmu pasti yang mempelajari berbagai spesies, baik flora maupun fauna di Indonesia, masih meyakini bahwa untuk memahami dan mempelajari sebuah spesies tertentu, masih harus bergantung pada spesimen. Kondisi ini, tentu memiliki kerumitan tersendiri mengingat tidak semua flora atau fauna yang menjadi objek penelitian, mudah diambil spesimennya dan mudah ditemui di alam liar.

Fotografi, seharusnya bisa menjadi sebuah medium yang penting dalam melakukan penelitian di alam liar, untuk tujuan pendidikan maupun konservasi alam. Hal ini diungkapkan oleh Karyadi Baskoro, pengajar jurusan Biologi Universitas Diponegoro dalam acara bedah buku terbaru karya fotografer alam liar Riza Marlon berjudul Panduan Visual dan Identifikasi Lapangan: 107+ Ular Indonesia hari Sabtu 22 Februari 2014 di Yogyakarta.

Salah satu varian ular Cryptelytrops insularis berwarna biru. Foto: Riza Marlon
Salah satu varian ular Cryptelytrops insularis berwarna biru. Foto: Riza Marlon

“Sampai detik ini di dunia akademik itu masih kolot. Artinya di dunia taksonomi identifikasi, ilmuwan itu harus membawa benda, atau harus memiliki spesimen. Foto itu nonsense. Nggak bisa pakai foto. Mereka masih menutup mata dan tidak membuka peluang. Kendalanya, jika selalu menggunakan metode kolot ini, maka kita yang kaya akan keragaman hayati justru tidak akan kaya lagi. Karena setiap peneliti harus membawa barang  keluar alam liarnya. Bayangkan jika setiap peneliti membawa babirusa, maka ini akan habis. Sembilanpuluh persen pakar masih menolak menggunakan foto sebagai alat identifikasi,” ungkap Karyadi Baskoro dalam penjelasannya.

Trapidolaemus latincintus. Foto: Riza Marlon
Trapidolaemus latincintus. Foto: Riza Marlon

Rintisan penggunaan foto sebagai medium identifikasi masih harus diperjuangkan hingga saat ini. Karena penggunaan spesimen sendiri, bukan metode yang sepenuhnya sahih, terutama jika spesimen yang digunakan  rusak, tidak lengkap dan mengalami perubahan bentuk dalam proses pemindahannya menuju penelitian. Menggunakan medium foto sebagai alat identifikasi pun, masih memiliki syarat-syarat tertentu, namun hal ini masih memungkinkan dan masih terbuka peluang. Namun tentu hal ini membutuhkan syarat-syarat foto tertentu yang bisa digunakan untuk melakukan identifikasi.

RizaMarlon4

“Yang sering membuka jalur di alam adalah pecinta alam dan peneliti, dan rata-rata tidak becus memotret. Kalaupun bisa memotret, biasanya tidak bisa menyimpan. Nah di zaman digital orang merasa mudah memotret, namun mereka lupa bahwa back up foto harus banyak di era digital. Itu kepedulian saya juga mengapa menggunakan foto untuk identifikasi menjadi penting. Latar belakang saya biologi, saya peneliti, saya bisa memotret dan bisa menyimpannya. Saya bisa membuat buku karena saya bisa menyimpannya dengan benar. Saya menggunakan banyak foto dalam buku ini karena saya ingin agar orang mudah memahami buku ini,” jelas Riza Marlon menjelaskan.

Hal lain yang juga menjadi fokus dalam penulisan buku ini adalah upaya untuk mengisi kekosongan literatur-literatur flora dan fauna yang dibuat oleh orang Indonesia sendiri, dan berisi spesies-spesies asli Indonesia. Dampak dari banyaknya literatur-literatur satwa dalam bahasa asing, atau dibuat oleh oleh orang asing salah satunya adalah anak-anak di Indonesia yang lebih banyak mengenal satwa-satwa yang ada di luar tanah airnya, seperti jerapah, singa, dan sejenisnya.

RizaMarlon2

Hal ini, menurut Riza Marlon, terjadi akibat kekosongan literatur yang dibuat oleh orang Indonesia asli itu sendiri. Menurutnya, kita tidak bisa menyalahkan mereka karena membuat berbagai literatur dan penelitian tersebut, hal ini terjadi justru karena Indonesia tidak berbuat. “Kita bilang kita kaya, tetapi kita miskin. Kita abaikan saja kekayaan flora fauna kita, kita biarkan saja kekayaan kita karena kita menganggap tanaman dan satwa itu tidak akan kemana-mana. Jadi berdatanganlah peneliti dari luar untuk melihat isi kekayaan alam kita,” tandas Riza Marlon alias Caca lebih lanjut.

Dengan adanya buku berisi foto-foto flora dan fauna asli Indonesia, di satu sisi hal ini juga akan memberi informasi yang jelas tentang spesies tertentu, salah satunya ular. “Semua orang menganggap, bahwa ular yang berbisa itu pasti berbahaya dan menakutkan, hal ini terjadi karena kita tidak mengenal. Lemahnya informasi ini membuat orang langsung membunuh ular saat mereka dianggap mengganggu manusia. Nah, keberadaan buku ini, juga sebagai salah satu bagian dari konservasi, karena konservasi itu bukan hanya pekerjaan peneliti, namun juga membutuhkan dukungan publik. Itu mengapa saya membuat buku ini mudah dipahami. Karena saya pada dasarnya ingin membuat buku ini untuk anak-anak agar mereka mudah memahami,” Jelas Caca.

Salah satu sesi edukasi keragaman hayati yang digelar oleh Riza Marlon untuk anak-anak usia dini. Foto: Aji Wihardandi
Salah satu sesi edukasi keragaman hayati yang digelar oleh Riza Marlon untuk anak-anak usia dini. Foto: Aji Wihardandi

Dalam acara yang diinisiasi oleh Indonesia Dragonfly Society ini Riza Marlon juga menjelaskan bahwa dalam buku ini dirinya menganut pendekatan yang berbeda untuk membuat kategorisasi dan pembedaan jenis spesies yang dijelaskan. Umumnya, beberapa buku ilmiah tentang flora dan fauna di Indonesia dibagi berdasar famili, keluarga atau suku, namun Riza Marlon sendiri mengakui, bahwa buku ini memang berbeda. Dirinya membuat pembedaan atau kategorisasi berdasarkan ada atau tidaknya gigi bisa setiap spesies. “Menurut saya, membedakan ular berbisa dan tidak berbisa itu tergantung dari ada atau tidaknya gigi bisa. Kalau tidak ada ya pasti tidak berbisa. Agar memudahkan pembaca, saya membuat label dengan warna hijau, kuning, oranye dan merah,” jelas Caca lebih lanjut.

Morelia trachiea. Foto: Riza Marlon
Morelia trachiea. Foto: Riza Marlon

Dalam catatan Riza Marlon, buku tentang ular yang pernah diterbitkan oleh penulis Indonesia, sangat sedikit. Pertama adalah karya Prof. Jatna Supriatna, berjudul Ular Berbisa Indonesia yang diterbitkan tahun 1981, dan disusul oleh Budi Suhono yang menerbitkan Ular Berbisa di Jawa tahun 1986. Namun menurutnya, kedua buku ini masih terlalu ilmiah dan menjadi agak sulit dipahami oleh orang awam, karena sifat ilmiahnya yang dominan dan tidak memiliki visualisasi yang menarik untuk menjelaskan berbagai jenis ular tersebut. “Saya bingung, kemana ini lembaga-lembaga atau organisasi-organisasi penelitian yang seharusnya melakukan penelitian soal satwa-satwa di Indonesia, terutama soal ular,” ungkap Riza Marlon.

Memutus jeda tersebut, Riza Marlon atau yang akrab dipanggil Caca merilis buku ini untuk mengatasi keterbatasan informasi yang beredar di masyarakat tentang ular. Buku ini, adalah buku kedua dari Riza Marlon, setelah buku pertamanya Living Treasures of Indonesia yang diterbitkan 2010 silam.