Kala Hutan Terbabat Berganti Sawit, Banjir pun Terjang Manokwari

 Tanaman sawit yang terlihat dekat tepian Sungai Wariori. Foto: Duma Sanda
Tanaman sawit yang terlihat dekat tepian Sungai Wariori. Foto: Duma Sanda

Kini warga was-was terjadi banjir bandang lagi karena hujan masih melanda Manokwari. 

Hari itu, Selasa (4/3/14). Hendrik Awom, bersama tiga warga berkumpul di depan rumah papan di Kampung Mansaburi, Distrik Masni, Manokwari, Papua Barat. Dia duduk di kursi plastik bersama Mariana Mayor, Rosiana Mayor dan Elvina Rumaikewi, dan Jhon Rumansara.

Pada dinding rumah itu tertulis nama-nama korban banjir luapan Sungai Wariori Jumat, 14 Februari 2014. Nama-nama warga ini ditulis pada kertas plano sejak 28 Februari 2014. Ini memudahkan kontrol pembagian bantuan beras dan bahan makanan. Dampak banjir, stok beras dana bahan makanan di daerah ini menipis. Warga sudah kembali ke rumah masing-masing, setelah sempat mengungsi  selama 13 hari.

Hendrik dan rekan adalah relawan Kelompok Siaga Bencana Kampung Mansaburi dan anggota Radio Antar Penduduk Indonesia Manokwari. Mereka pernah dilatih mengantisipasi bencana tsunami karena daerah ini berada dekat laut lepas. 

Saat banjir menerjang, mereka membantu evakuasi 339 warga Mansaburi dan 86 warga Wariori ke balai desa satuan pemukiman 8, berjarak dua kilo meter. Juga membantu warga selama di pengungsian. Kampung Mansaburi berjarak sekitar 65 kilometer dari Manokwari.

Banjir ini ditengarai dampak hutan habis terbabat di sekitar sempadan sungai. Hutan sekitar telah berganti kebun sawit. Kala itu, Jumat malam, 14 Februari 2014, air di Sungai Wariori mulai meninggi setelah hujan menerjang daerah hulu. Saat itu, warga tak terlalu khawatir. Mereka kaget, kala air tiba-tiba setinggi pinggang orang dewasa pada pagi hari. Ternaya, air itu dari Sungai Wariori. Di Kampung Wariori, lebih dekat dengan Sungai Wariori –yang berjarak 30 menit menggunakan motor dari Kampung Mansaburi– air sudah mencapai satu meter. Sekitar 118 rumah rusak.

Hendrik mengatakan, tumpukan material pasir di pinggir sungai yang digunakan  menghadang luapan air, jebol. Tumpukan pasir ini digali PT Medco Papua Hijau Selaras (Medco), perusahaan sawit milik Arifin Panigoro. Sedang hujan masih melanda Manokwari terutama di daerah hulu. Tumpukan pasir terkikis habis. “Sekarang kalau hujan deras, air sungai sewaktu-waktu bisa mengalir ke anak Sungai Mansaburi. Itu berarti seluruh daerah SP 8 terancam,” katanya. “Sekarang kami was-was.”

Setelah banjir, Pemda Manokwari menyatakan, akan menormalisasi sungai. Normalisasi belum dimulai. Alat-alat berat milik pemda  satu unit dan Medco empat unit baru mengeruk sungai. Itupun, belum optimal. Tidak ada tanggul permanen dari beronjong atau sejenisnya.

“Pemda bilang masih tunggu Dinas Pekerjaan Umum. Menurut kami normalisasi Sungai Wariori tidak bisa terlalu lama. Harus cepat hingga kami tidak terancam. Apalagi Manokwari masih musim hujan,” kata Hendrik. Dia mendesak Medco bertanggungjawab. “Kami minta Medco berbicara langsung kepada kami.”

Pemda mengaku membentuk tim guna memastikan normalisasi sungai dan anak sungai di kawasan itu berjalan sesuai rencana. Pemda juga mengkaji korelasi antara banjir dengan keberadaan perkebunan sawit.

Kampung Mansaburi terletak sekitar 30 menit perjalanan menggunakan motor dari Sungai Wariori. Sungai ini memiliki sejumlah anak sungai. Anak sungai yang terhubung ke Kampung Mansaburi ada dua. Banjir menerjang pemukiman Hendrik, dari anak sungai yang lebih dekat dengan Kampung Mansaburi.

Di sekitar sungai maupun anak sungai sudah tak ada lagi pohon penahan tanah, tersisa hanya sawit. “Ini penyebab banjir.”

Banjir tak pernah menerjang daerah ini. Banjir baru melanda sejak Medco membabat habis hutan di sempadan sungai dan mengganti dengan sawit. “Sungai pernah meluap antara 1996–1997, tapi tidak sampai masuk ke kampung,”  kata Marinana Mayor. Mariana pernah tinggal di Kampung Igor, lebih dekat dengan Sungai Wariori.

Markus Rumansara (61), warga kampung mengatakan, banjir tak pernah terjadi. Dia sudah tinggal di sana sejak 2000. Pada 2009, memang ada ancaman tsunami. “Banjir, mulai terjadi sejak sawit ada di sana. “Ladang gagal panen. Singkong dan ubi jalar yang ditanam seluas satu hektar terendam air. Singkong busuk.”

Banjir masih mengenangi badan jalan ke Kampung Mansaburi empat hari setelah banjir pada akhir Februari . Foto: Duma Sanda
Banjir masih mengenangi badan jalan ke Kampung Mansaburi empat hari setelah banjir pada akhir Februari . Foto: Duma Sanda

Pengamatan Mongabay, di lapangan, radius radius 100 meter dari Sungai Wariori, sudah tak ada pohon. Di tepian sungai langsung tanaman sawit dengan beragam ketinggian. Begitu juga di Sungai Mansaburi. Disini, hanya berjarak dua meter dari sungai langsung tanaman sawit. Lebar Sungai Wariori sekitar 100 meter dengan panjang sekitar 13 kilometer, dipenuhi pasir berbatu. Sungai Mansaburi lebar 10 meter.

Medco diberi izin menanam sawit di Distrik Masni seluas 15.000 hektar. Perusahaan ini sebenarnya pernah diberi teguran tertulis dari Dinas Kehutanan Manokwari. Ia terbukti membabat hutan hingga daerah terlarang di pinggiran sungai.

Erens Ngabalin, Kepala Dishut Manokwari, mengatakan, sesuai aturan, kawasan hutan sepanjang daerah aliran sungai (DAS) harus terpelihara mencegah abrasi dan melindungi ekosistem di kawasan itu. Hutan di pinggir sungai tak boleh ditebang minimal 100 meter. Di anak sungai 50 meter.

Medco, memang pernah melanggar dengan membabat hutan di sempadan sungai seperti di Sungai Buaya, Maitefa dan Waramui di Distrik Sidey dan Masni tahun 2011. Erens mengatakan, perusahaan telah menanam kembali pohon di kawasan itu tahun 2012.

Perusahaan ini, katanya,  diduga melanggar pasal 4, 5 dan 6 surat Menteri Kehutanan Nomor 5.168/Menhut-II/2011 tentang Persetujuan Pelepasan Hutan Produksi Konversi untuk Usaha Budidaya Perkebunan Kelapa Sawit tertanggal 31 Maret 2011.

Dalam bukti-bukti gambar yang ditemukan tim Dishut Manokwari tahun 2011 itu, di Sungai Buaya, Medco menebang pohon hingga tepi sungai. Di Sungai Maitefa, Medco sudah menanam sawit, disitu juga terlihat rerumputan dan sejumlah tanaman pertanian, hampir sama dengan keadaan di Sungai Waramui.

Dishut, kata Erens, lambat mengetahui pembabatan hutan di sempadan Sungai Wariori ini, karena keterbatasan personil. “Pada 2012 kami hanya punya satu mobil lapangan. Penerimaan PNS Polhut daerah juga tidak ada.”

Kini mobil double gardan ada dua unit, namun Polhut hanya 10 orang, sedang banyak titik yang harus diawasi. Selain itu, hutan di Manokwari cukup las, mencapai 1,2 juta hektar. “Areal (hutan izin konsesi) tanggungjawab pemegang izin. Pemerintah daerah tidak lagi bertanggungjawab penuh. Kita harap dia siap tanggung risiko jika ada pelanggaran.”

Kamis 6 Maret 2014, katanya, Dishut Manokwari terakhir memantau kondisi tiga sungai itu.  Sesuai dokumen Dinas Kehutanan Manokwari, pada Sungai Maitefa dan Buaya merupakan kawasan Areal Penggunaan Lain milik PTPN II Prafi yang diambil alih Medco.

Untuk pembabatan hutan di sekitar Sungai Wariori, Erens belum bisa menuding Medco. Menurut dia, Dishut masih bekerja sampai pekan depan guna memastikan apakah Medco bersalah atau tidak.

“Sempadan sungai di sepanjang Kali Wariori itu kan memang dibabat habis, tidak ada pohon lagi disana, hanya sawit. Benar, ini masuk kajian kita dalam fakta. Apakah areal itu sudah terbuka sebelum Medco masuk, ataukah sebaliknya?” kata Erens, Rabu 5 Februari 2014.

Dia mengatakan, aktivitas galian C di daerah  itu bisa saja menjadi penyebab banjir, ditambah karakter sungai.

Erens mengatakan, izin untuk Medco tahap pertama seluas 13.000 hektar, ditambah 6.000 hektar diatas hutan produksi konversi. Seluruh areal ini berada di Distrik Masni hingga Prafi.

Tahun lalu, General Manager PT Medco Hijau Selaras, Zakaria menyatakan, Medco diberikan hak konsesi 20.000 hektar sesuai SK Bupati No 2019 Tahun 2011. Meski begitu perusahaan yang pernah ‘lumpuh’ akhir 2012 karena persoalan tenaga kerja ini menanam sejak 2007 di Distrik Sidey dan Masni. Perusahaan ini juga sedang mendirikan pabrik crude palm oil dan akan membangun pelabuhan angkut di Kampung Kaironi, Distrik Sidey.

Kepala Suku Kampung Mansaburi, Septinus Mansaburi, salah satu pemilik ulayat di Masni, mengatakan, sudah ada perjanjian dengan warga agar Medco tak menebang pohon hingga sempadan sungai. “Dulu saya minta (hutan) 500 meter (dari pinggir kali Wariori tidak ditebang), ternyata ditebang semua. Maka, saya minta Pemda panggil perusahaan bertanggungjawab perbaiki tempat-tempat yang rusak,” kata Septinus.

Zainal Abidin Bay, Wakil Ketua Majelis Rakyat Papua Barat mengatakan, banjir menandakan Tata Ruang Wilayah Kabupaten Manokwari di distrik Masni tak peka lingkungan. Daerah ini dikepung sungai besar dan berada di tanah landai. Jika pemda tak mengelola daerah ini dengan hati-hati, 10 tahun ke depan banjir dasyat bisa terjadi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua Barat Derek Ampnir menyarankan, Pemda Manokwari lebih hati-hati mengelola daerah di sekitar hutan sawit itu.

DPRD Manokwari juga tak mau cepat-cepat ambil kesimpulan. “Mungkin perlu ada tim investigasi dari DPRD. DPRD tidak mengusik investasi. Kita berharap, kalau benar ada batas yang dilanggar, sudah menjadi kewajiban perusahaan tanam kembali areal di sempadan sungai,“  kata Imam Muslih, anggota DPRD Manokwari.

Penunjuk arah jalur evakuasi tsunami di Kampung Mansaburi. Selain berada dalam ancaman banjir dari  sungai besar, kampung ini juga  daerah rawan tsunami karena berada di tepian laut. Foto: Duma Sanda
Penunjuk arah jalur evakuasi tsunami di Kampung Mansaburi. Selain berada dalam ancaman banjir dari sungai besar, kampung ini juga daerah rawan tsunami karena berada di tepian laut. Foto: Duma Sanda