“Gambut for Beginners”: Tujuh Jawaban Penting untuk Pemula

Kanal di tengah hutan. Dalam ribuan hingga puluhan ribu tahun, serasah organik di atas pasir yang terbentuk di lantai hutan akan membentuk lapisan gambut. Foto: Ridzki R. Sigit

Dalam forum diskusi lingkungan, baik internasional dan nasional, perlindungan terhadap lahan gambut (peatland dalam bahasa Inggris) menjadi pokok pembicaraan yang semakin sering diperbincangkan.  Gambut dan ekosistemnya dianggap penting untuk mencegah pemanasan global dan menjaga keseimbangan iklim dunia.

Meskipun mungkin pernah mendengar, namun masih banyak publik yang belum sepenuhnya paham tentang apa yang dimaksud dengan gambut.  Mongabay-Indonesia pun banyak menerima permintaan dari pembaca untuk menjelaskan fungsi dari lahan gambut. Tulisan ini mengangkat pengertian gambut dan fungsi penting dari ekosistem unik ini.

1.     Apa sih gambut itu?

Lahan gambut terbentuk dari  material organik yang terbentuk dari akumulasi pembusukan bahan-bahan organik yang tertumpuk selama ribuan tahun.  Pembusukan ini bisa saja tidak sempurna.  Penumpukan dapat mencapai hingga kedalam 10-15 meter yang disebut dengan gambut dalam. Gambut biasanya ditemukan di dataran rendah yang dekat dengan pesisir. Biasanya lahan gambut berawa dan berair.

Menurut Oka Karyanto dari Universitas Gajah Mada untuk membentuk kedalaman gambut setebal 4 meter dibutuhkan sekurang-kurangnya 2.000 tahun, namun jika dikeluarkan airnya lewat drainase gambut dapat habis hanya dalam waktu 100 tahun.

Selain itu lahan gambut bersifat seperti spons, sangat penting bagi hidrologi kawasan karena mampu menyerap air hingga 13 kali lipat dari bobotnya.

Karena keunikan ekosistemnya, ratusan spesies unik vegetasi, seperti pohon, anggrek dan tanaman obat hanya ditemui di rawa gambut. Hutan rawa gambut juga menjadi habitat bagi spesies terancam punah seperti harimau, macan dahan, orangutan dan masih banyak lagi.

2. Memangnya banyak, lahan gambut di Indonesia?

Indonesia adalah pemilik kawasan lahan gambut tropis terluas di dunia dengan luasan sekitar 21-22 juta hektar (1,6 kali luas pulau Jawa), kebanyakan tersebar di Kalimantan, Sumatera dan Papua.  Papua adalah yang terluas dengan lebih kurang sepertiga lahan gambut yang ada di Indonesia.

Lahan gambut bagi Indonesia memiliki nilai yang sangat penting karena mampu menyimpan karbon 20 kali lipat lebih banyak dibandingkan hutan hujan tropis biasa atau tanah yang bermineral, dan 90% diantaranya disimpan di dalam tanah.

Luas Lahan Gambut di Indonesia

3. Kalau gambut hilang, terus kenapa?

Ancaman serius yang bakal terjadi adalah hilangnya luas daratan Indonesia hingga 10 juta hektar.  Hilangnya daratan tentunya akan berpengaruh kepada kedaulatan negara.  Gambut bisa hilang karena daratan “kubah” gambut amblas, hal ini terjadi sebab air gambut dikeringkan.

Subsidence atau amblasan yang terus menerus dapat mengakibatkan punahnya lahan gambut. Bila amblasan gambut tetap berlanjut, maka setidaknya ada 10 juta hektar daratan Indonesia yang akan hilang dalam 100-300 tahun mendatang,” papar Oka Karyanto, peneliti gambut dari Universitas Gajah Mada.

Pembuatan kanal di lahan gambut, teknik drainase untuk mengeringkan lahan gambut untuk pertanian dan perkebunan. Foto: Lili Rambe
Ilustrasi drainase kubah lahan gambut. Sumber: RAN

4. Bagaimana kondisi lahan gambut di Indonesia?

Menurut data Wetlands, sekitar 61 persen total lahan gambut di Indonesia adalah hutan yang sebagian besar telah dibuka dan 24 persen adalah semak belukar yang telah terganggu.  Hanya sekitar 5 persen saja yang telah dikelola. Lahan gambut yang berada di tangan pemegang konsesi (perkebunanan sawit dan kayu) sekitar 23 persen dan seringkali area konsesi tersebut berada dalam kondisi rusak.

Salah satu indikator bahwa pengelolaan gambut buruk adalah lahan gambut yang terus terbakar. Kebakaran lahan gambut terbesar yang terjadi di Indonesia adalah kebakaran pada 1996-1997 yang dibarengi dengan el nino.

Setelah itu hampir setiap tahunnya kebakaran lahan dan hutan gambut selalu menjadi event regular tahunan, terjadi setiap kemarau di propinsi Riau dan pesisir Sumatera lainnya serta di Kalimantan yang hutan gambutnya terlanjur dibuka untuk sawit, pertanian, dan tanaman homogen akasia.

Lahan gambut yang berubah menjadi perkebunan sawit. Foto: Lili Rambe

5.  Mengapa kebakaran di lahan gambut sulit dipadamkan?

Menurut Greenpeace, lebih dari 75 persen titik api kebakaran lahan dan hutan di Indonesia, atau tempat di mana kebakaran hutan terbakar yang paling intens, terjadi pada lahan gambut.

Seperti sudah disampaikan sebelumnya, gambut terjadi karena pembusukan tidak sempurna dari bahan organik. Ketika substrat ini mengering, maka bahan organik cenderung akan lebih mudah untuk terbakar.  Lahan gambut yang dikeringkan akan menyebabkan area ini akan sangat rawan bahaya kebakaran.

Jika telah terbakar, maka kebakaran di lahan gambut cenderung sulit dipadamkan karena api merembet di dalam tanah bukan di permukaan. Sulutan api akan sambung-menyambung dan sangat sulit dipadamkan jika telah terlanjur menyebar kemana-mana.

Ketika asap dari kebakaran lahan gambut menjalar kemana-mana, jutaan manusia menjadi korban, baik karena terganggu kesehatannya maupun berdampak kepada kegiatan ekonomi.

6. Bagaimana gambut Indonesia berpengaruh kepada iklim dunia?

Ketika lahan gambut dikeringkan dan pohon-pohon yang ada di atasnya ditebangi, terjadi pelepasan gas rumah kaca karbon dioksida ke atmosfer. Selain itu di atas tanah gambut yang dibuka akan memunculkan pirit, sejenis mineral ber-pH rendah, yang akan meracuni tanaman pertanian.

Menurut Erik Olbrei, peneliti gambut dari Australian National University, lahan gambut Indonesia memiliki nilai penting bagi dunia, karena menyimpan setidaknya 57-60 miliar metrik ton karbon, hanya bisa ditandingi dengan Amazon yang menyimpan sekitar 86 miliar metrik ton karbon di dalam tanahnya. Hilangnya setengah lahan gambut Indonesia, akan melepaskan sekitar 100 Gigaton karbon dioksida atau 150 kali emisi tahunan Australia bisa terlepas ke udara dalam beberapa dekade mendatang.

Sebagai perbandingan jika emisi lahan gambut Indonesia lepas secara keseluruhan ke atmosfer akan setara dengan sepertiga cadangan karbon yang ada di seluruh dunia. Menurut Greenpeace, hal ini akan setara dengan membakar seluruh cadangan minyak bumi yang ada di Arab Saudi, Venezuela, Kanada, Rusia dan Amerika Serikat digabungkan menjadi satu.

Pembukaan lahan gambut oleh warga untuk kebun sawit dengan membakar di Aceh Barat. Asapun tebal. Foto: Chik Rini

7. Kalau begitu, apakah gambut dapat dimanfaatkan?

Lahan gambut dalam sama sekali tidak direkomendasikan untuk dibuka dan dikonversi, namun lahan gambut dangkal masih dapat dimaanfaatkan untuk lahan pertanian.  Umumnya para peneliti menyebutkan bahwa kedalaman gambut yang masih direkomendasikan untuk dibuka adalah gambut berkedalaman maksimal 3 meter atau 10 kaki.

Gambut yang telah dibuka harus diatur muka airnya melalui kanal drainase.  Sekat pintu khusus yang dibuat di kanal akan mengatur tinggi rendahnya muka air.  Sekat pintu air harus diimbangi dengan penanaman kembali vegetasi di lahan gambut.

Salah satu keberhasilan yang dilakukan oleh masyarakat dalam mengelola gambut terdapat di Kalimantan Tengah, dimana mereka mengembangkan tumpangsari antara nenas dengan tanaman pokok karet di lahan gambut eks area Mega Rice Project.