,

Pengamat Burung Indonesia Peringati Hari Burung Pantai 6 September

Ratusan pengamat burung di Indonesia bersiaga secara serempak di berbagai titik pengamatan burung pantai di berbagai tempat di Indonesia pada Sabtu (06/09/2014) kemarin. Mereka memperingati World Shorebirds Day atau Hari Burung Pantai Sedunia. Dalam kegiatan ini, mereka mencatat jenis apa saja yang melintas dan jumlahnya.

Di Indonesia, tercatat 10 lokasi penting jalur migrasi burung pantai menjadi pusat kegiatan besar ini. Tempat itu antara lain di Wonorejo Surabaya, Pantai Trisik Yogyakarta, Muara Gembong Bekasi, Bagan Percut Medan, Pulau Serangan Bali, Teluk Kupang Nusa Tenggara Timur, Ketapang Kalimantan Barat, Pohowatu, Gorontalo dan Taman Nasional Bogani Nani di Sulawesi.

Iwan Febrianto, aktifis Burung Pantai Indonesia (BPI) menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya burung pantai sebagai indikator ekosistem. Lebih dari 200 jenis burung pantai di seluruh dunia, sebagian di antaranya bermigrasi ke Indonesia melalui jalur pantai. Burung-burung tersebut mengembara ribuan kilometer menghindari musim dingin di daerah sub-tropis.Sayangnya, selama dasawarsa terakhir populasi burung tersebut cenderung menurun akibat rusaknya kawasan pesisir akibat pembangunan.

“Banyak jalur migrasi burung pantai yang belum dilindungi dan telah berubah menjadi pusat-pusat aktifitas manusia. Sehingga burung pantai tersebut tidak dapat menggunakan jalurnya lagi. Kami berharap ada perhatian lebih dari pemerintah untuk melestarikan kawasan pantai agar migrasi burung tidak terganggu,” jelas Iwan kepada Mongabay.

Jalur migrasi burung pantai di Pulau Jawa menjadi perhatian khusus bagi peneliti burung asal Surabaya ini. Menurutnya, banyak kawasan yang dahulunya menjadi jalur migrasi burung pantai sekarang telah berubah menjadi kawasan pemukiman padat dan kawasan industri. Terlebih lagi pantai utara Jawa yang merupakan jalur utama migrasi burung pantai karena karakteristiknya banyak yang berpasir dan berlumpur.

Burung Pantai di Ujung Pangkah. Foto : Mohammad Asyief
Burung Pantai di Ujung Pangkah. Foto : Mohammad Asyief

Terkait minimnya perlindungan jalur migrasi burung pantai, hal senada diungkapkan oleh Mohammad Asyief, pengamat burung dari Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA) Fakultas Kehutanan IPB yang melakukan pemantauan di Ujung Pangkah, Gresik. Menurut pantauan Asyief, lokasi yang dia amati rentan terhadap ekspansi tambak yang digarap oleh masyarakat. Padahal, kawasan tersebut menjadi tempat singgah favorit burung pantai.

“Kawasan hutan mangrove di Ujung Pangkah ini memiliki beting lumpur yang luas, sehingga menarik burung pantai untuk singgah. Sayangnya, perlindungan kawasan ini belum menjadi perhatian pemerintah, sehingga rawan terhadap perubahan fungsi lahan terutama tambak. Belum ada sentuhan program pemerintah terkait perlindungan jalur migrasi burung di kawasan ini,” kata Asyief yang juga menyukai aktifitas fotografi satwaliar ini.

Pertama Kali Diperingati

Hari Burung Pantai Sedunia adalah pengamatan dan perhitungan serempak burung pantai di seluruh dunia yang dilakukan pada 6 September dan tahun 2014 adalah tahun pertama diperingati. Kegiatan besar ini diinisiasi oleh György Szimuly, seorang pemerhari konservasi dari Hungaria. Menurut informasi dari blog resmi kegiatan ini di http://worldshorebirdsday.wordpress.com/, hingga tanggal 7 September 2014, tercatat 756 lokasi yang tersebar di lebih dari 40 negara di seluruh dunia yang didaftarkan sebagai lokasi pengamatan atau lokasi penghitungan.

Kegiatan ini bersifat sukarela dan bisa di ikuti siapa saja baik individu atau organisasi. World Shorebirds Day saat ini bekerjasama dangan Swarovski optic, Manomet, eBird, Cornell, Wader Quest, WHSRN/Western Hemisphere Shorebird Reserve Network dan Burung Pantai Indonesia.

Mengapa kegiatan ini sangat penting dikenalkan di Indonesia, lebih lanjut Iwan menjelaskan bahwa untuk melakukan pelestarian dan perlindungan terhadap burung pantai dan habitatnya, kita harus mengetahui jenis, jumlah individu dan lokasi migrasi yang ada di dunia. Diperlukan data yang pasti tanpa harus menebak jumlah burung yang ada dunia. Hasil dari perhitungan ini dapat melihat jumlah individu yang ada di dunia serta menentukan kategori jenis yang terancam atau tidak.

“Program ini juga ingin menggambarkan kekuatan para relawan yang bergabung dalam peringatan hari burung pantai sedunia, serta meningkatkan kapasitas para pengamat burung untuk mampu mengidentifikasi dan menghitung burung pantai yang melintas,” jelas Iwan lebih lanjut.

Pengembara Lintas Benua

Burung pantaimerupakan kelompok burung air yang mencari makan dan berkembang biak di kawasan pantai. Mereka biasanya memakan ikan, kerang, kepiting dan cacing. Selain di pantai, mereka juga biasanya mencari makan di lahan berlumpur seperti di tambak, sawah dan hutan bakau.

Persebaran burung pantai sangat luas, dari mulai daerah tropis hingga subtropis, baik di belahan bumi bagian utara maupun selatan. Setiap tahun, burung-burung yang berada di daerah subtropis bermigrasi mencari tempat yang lebih hangat di daerah tropis. Perjalanan tersebut hingga mencapai ribuan kilometer. Seringkali pula perjalanan mereka hingga melintasi benua.

“Pengembaraan burung lintas benua tersebut memang terjadi. Kami mengamati dari tanda yang biasa kami sebut bendera yang diikatkan di kaki burung. Tiap wilayah mempunyai warna berbeda dan setiap ada temuan burung bertanda bendera tersebut, seluruh pengamat burung pantai dapat mengetahui kemana saja burung tersebut berpindah,” jelas Iwan yang secara khusus belajar penandaan burung di Inggris tersebut.

Jalur migrasi burung pantai global.
Jalur migrasi burung pantai global.

Di seluruh dunia, secara keseluruhan terdapat 9 jalur migrasi burung pantai yaitu jalur Atlantik Timur, jalur Laut Hitam-Mediterania, jalur Asia Timur-Australia, jalur Pasific Barat, jalur Pasific-Amerika, jalur Missisipi-Amerika dan dan jalur Atlantic-Amerika. Indonesia sendiri terbagi dalam dua jalur yaitu jalur Asia Timur-Australia dan jalur Pasific Barat.

Indonesia termasuk negara yang memiliki habitat ideal bagi burung-burung pantai baik lokal maupun migran. Dengan panjang garis mencapai lebih dari 81.000 kilometer, Indonesia menjadi tujuan utama migrasi burung baik dari benua Asia maupun Australia. Sejauh ini telah banyak lokasi-lokasi yang teridentifikasi sebagai tempat singgah burung pantai saat melakukan migrasi.

Asyief mencatat beberapa jenis yang dijumpai pada pengamatan di Ujung Pangkah, 6 September lalu. Diantaranya adalah jenis pelikan, cerek pantai, kedidi dan juga gajahan besar. “Jenis-jenis burung migrasi itu bercampur dengan jenis-jenis lokal seperti kuntul kecil,” jelasnya lebih lanjut.

Untuk memperkuat database burung pantai di Indonesia, Iwan Londo mendirikan jaringan Monitoring Burung Pantai Indonesia (Mobupi) sejak 2008. Tujuan didirikannya Mobupi ini adalah untuk menyatukan para pengamat burung pantai di Indonesia, serta menjadi pusat informasi tentang burung pantai.

“Di dalam Mobupi, kami selalu berbagi informasi setiap kali selesai melakukan pengamatan. Dengan berjaringan, informasi tentang burung pantai baik jenis maupun jumlah yang dijumpai pada saat pengamatan dapat diketahui oleh para pengamat yang lain,” tutupnya.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , ,