Film Dokumenter Masyarakat Adat Pulau-Pulau Kecil Diputar di Forum Internasional

protectindosavesmallislands

Film tentang kehidupan masyarakat adat yang tinggal di kepulauan kecil di Indonesia yaitu Mentawai, di pesisir Sumatera Barat dan Aru di tenggara Maluku direncanakan diputar di Oslo, Norwegia (05/05),  sebagai bagian dari forum dialog perlindungan hak atas tanah bagi masyarakat, perlindungan hutan dan strategi mitigasi iklim. Kedua kepulauan tersebut bernilai strategis karena merupakan bagian dari gugus kepulauan terluar yang membatasi nusantara Indonesia.

Namun meski dinilai penting, sebaliknya seperti yang tampak di kepulauan Aru dalam film dokumenter ini, persoalan hak atas tanah bagi masyarakat adat masih jauh dari rasa aman. Baru saja bernafas lega karena berhasil “menggagalkan” alih fungsi lahan untuk perkebunan tebu yang dilakukan oleh Konsorsium Menara Group, investor asal Malaysia. Masyarakat diperhadapkan dengan rencana lain perusahaan kayu PT Waha Sejahtera Abadi yang berniat untuk melakukan aktivitas logging kayu.

Perubahan kawasan hutan di kepulauan kecil seperti Aru, dikuatirkan selain akan membuat hancur pranata sosial masyarakat setempat, maka akan menimbulkan dampak ekologis dengan hilangnya sumber-sumber mata air, musnahnya keanekaragaman hayati endemik yang unik, bahkan akan menenggalamkan pulau-pulau kecil itu.

Sementara itu, di Kepulauan Mentawai yang terdiri dari beberapa gugus pulau-pulau kecil, masyarakat setempat saat ini telah tersadarkan bahwa tidak selamanya investasi berbasis ekstraksi sumberdaya alam akan membuat masyarakat bertambah sejahtera. Belajar dari beroperasinya HPH di tahun 1970-an yang menghilangkan hutan-hutan pusak dan menghilangkan tradisi lokal, saat ini masyarakat menentang masuk dan beroperasinya kembali perusahaan penebangan dan perkebunan sawit yang berniat mengkonversi lahan. Saat ini pun masyarakat Mentawai telah memiliki media lokal yang berfungsi untuk menyebarkan pesan penyelamatan hutan dan tradisi lokal.

shaman eng

Musnah dan hilangnya pulau-pulau kecil di Indonesia akan mengancam dan berdampak bagi kehidupan sekitar sepuluh juta masyarakat dan komunitas adat yang bermukim di situ.

“Apa yang diangkat di dalam film ini, merupakan potret dan respon masyarakat Aru dan Mentawai terhadap masuknya investasi di wilayahnya. Mereka membangun sikap untuk melindungi warisan alamnya. Pesan seperti ini perlu dibagikan ke dunia,” jelas Paul Redman, Direktur Handcrafted Film sekaligus produser seri film dokumenter ini.

Selain mendokumentasikan kehidupan masyarakat lokal di Indonesia, Redman dan timnya, mendokumentasikan kehidupan masyarakat yang tinggal di hutan-hutan pedalaman di Amerika Latin dan juga di Asia. Film dan suara masyarakat dalam film ini kemudian diputar di berbagai forum di berbagai belahan dunia, termasuk New York, Lima, Berlin, Jakarta, hingga puncaknya nanti pada pertemuan para pihak tentang perubahan iklim Desember 2015 (COP 21) di Paris.

Adapun pemutaran film ini merupakan bagian kampanye untuk menarik perhatian publik dunia serta mendukung agenda internasional tentang strategi hutan dan iklim global yang telah dimulai sejak medio medio tahun lalu.

Para pemimpin dunia dalam berbagai resolusinya mempercayai bahwa pengakuan keberadaan masyarakat adat dan masyarakat lokal serta lahan yang dimilikinya, merupakan bagian jaminan dari pembangunan keberlanjutan masa depan dunia. Dukungan serupa datang dari janji perusahaan-perusahaan skala global dalam Deklarasi New York 2014 yang berjanji untuk menghormati hak kolektif masyarakat adat dan sistem hidupnya yang melingkupi hutan dan sumber kehidupan lain.

Film dokumenter tentang masyarakat Aru dan Mentawai dapat dilihat pada tautan di bawah ini.

Film Aru (Penjaga Hutan Bumi Jargaria)

Film Mentawai (Pulau yang Terbebas dari Kelapa Sawit)