,

Menumbuhkan Kesadaran Pangan dan Ekologi Di Pesantren Ath-thaariq Garut

Pagi itu, dingin masih menyelimuti udara di di Kelurahan Sukagalih, Tarogong Kidul, Garut, Jawa Barat. Suasana pagi yang dingin masih cocok untuk berdiam diri dibalik selimut. Tetapi tidak terjadi di Pesantren Ath-thaariq. Santri-santrinya sudah bergiat di kebun dan sawah di kompleks pesantren yang adem itu. Mereka terlihat bergembira dan tidak canggung untuk berkotor-kotor di sawah dan kebun yang dipenuhi tanaman itu.

Itulah keseharian yang terjadi di Pesantren Ath-thaariq yang didirikan oleh seorang perempuan bernama Nissa Wargadipura. Berawal  dari keresahannya terhadap ketahanan pangan yang terjadi di daerahnya, Nissa Wargadipura, mendirikan pesantren berbasis ekologi yang bernama Ath-thaariq.

Model pembelajaran yang diterapkan Ath-thaariq sengaja berbeda dengan pesantren pada umunya. Selain menerapkan kurikulum akademik dan pendalaman agama Islam, pesantren Ath-thaariq dengan motto “Peduli Bumi, Peduli Sesama, Peduli Masa Depan” itu juga menerapkan konsep pendidikan ekologis yang jarang dimasukan dalam kurikulum belajar pesantren.

Teh Nissa,begitu ibu tiga orang anak itu disapa dengan pengalamannya sebagai pendiri sebuah forum yang peduli di bidang lingkungan sekaligus pencetus Serikat Petani Pasundan (SPP)  yang mengadvokasi permasalahan lingkungan dan konflik agraria di daerah Garut, Tasikmalaya dan Ciamis.

Nissa menuturkan di daerah Sagara Garut banyak terjadi alih kepemilikan tanah milik petani yang dijual kepada Perhutani karena alasan klasik yakni ekonomi. Dia melihat fenomena ini merupakan sebuah keterancaman bagi sektror agraria khususnya bagi para petani.

Seorang santri pesantren Ath Thaariq, Tarogong Kidul, Garut, Jabar, asyik memanen caisim dil ahan pesantren. Foto : Nissa Wargadipura
Seorang santri pesantren Ath Thaariq, Tarogong Kidul, Garut, Jabar, asyik memanen caisim dil ahan pesantren. Foto : Nissa Wargadipura

Nissa menduga bahwa ada faktor yang mengakibatkan petani tidak diuntungkan dalam fenomena ini. Dia menyebutkan banyak permasalahan yang muncul antara lain, masalah ketersediaan pangan, rendahnya hasil panen, sangat ketergantungan  pada pestisida dan tidak meliliki benih yang dikembangkan secara mandiri.

“Ditambah lagi sistem yang dipakai petani adalah sistem bertani yang monokultur. Jika ada yang menanam kentang, semua ikut menaman kentang. Ini juga berimbas pada harga jual panen yang menurun. Belum lagi penggunaan pestisida yang melebihi batas. Bukannya menyuburkan tanah malam merusak tanah,” katanya.

Bukan hanya itu saja, dia juga mengatakan adanya pihak ketiga yang memonopoli fenonema tersebut. “Di desa, para petani tergantung pada pemilik modal. Semuanya dari pemodal, mulai dari benih, pupuk, pestisida dan modalnya berasal pemodal,” jelasnya. Dia menambahkan kondisi seperti ini mengakibatkan lepasnya kepemilikan tanah petani karena tidak bisa menutupi modalnya saat panen anjlok dan pemodal membanting harga beli dengan sangat murah.

Beralih Ke Dunia Pendidikan

Pada akhir bulan di tahun 2009 dia memutuskan untuk memberikan pendidikan yang berbasis ekologi yang berlokasi desa Sukagalih, Tarogong Kidul yang berdekatan dengan pusat perkantoran Kabupaten Garut.

Keputusannya mendirikan pesantren berbasis ekologi ini, ketika dia merasa cukup merasakan asam garam dan ingin beristirahat dari kegiatan selama ini dalam bidang advokasi lingkungan dan agraria. Dia memutuskan untuk istirahat dari kegiatan selama ini.“ Saya pikir saya harus rehat dan menarik diri dari pergulatan mengurusi urusan agraria,” terangnya saat ditemui Mongabay di rumahnya pada pertengahan Juli 2015.

Nissa menjelaskan pesantrennya ini selain belajar mengaji, para santri juga diajarkan belajar bagaimana mengolah pertanian ataupun perkebunan dengan menggunakan pollinated organic Seed (pembenihan benih), yakni mengembangkan benih lokal. Kemudian santri pun dibekali pemahaman tentang membuat pupuk kompos sendiri yang terbuat dari bahan organik dan limbah ternak.

Dengan memanfaatkan lahan seluas 7500 meter persegi yang di bagi menjadi persawahan, kebun, peternakan dan pembenihan. Sedikitnya ada 52 jenis tanaman yang tersebar di sekitaran lingkungan pesantren .

Santri diarahkan menyukai terlebih dulu kegiatan bertani lewat  metode belajar bebas aktif. Sehingga santri bebas mengeksplorasi kemampuan bertani mereka dari mulai pembenihan, penanaman sampai tahap panen mereka melakukan sendiri.

Berbagai produk organik pesantren Ath Thaariq, Tarogong Kidul, Garut, Jabar. Foto : Nissa Wargadipura
Berbagai produk organik pesantren Ath Thaariq, Tarogong Kidul, Garut, Jabar. Foto : Nissa Wargadipura

Mulai dari jenjang pendidikan PAUD, SD, SMP, SMA dan mahasiswa yang menimba ilmu di pesantren. Dia menyebutkan bahwa tidak hanya santri dari pesantrennya saja yang mendapatkan pendidikan ekologi kadang ada juga siswa SD yang ikut belajar bersama.

“Setiap minggu anak – anak diajak bertani di sekitaran pesantren, mereka berinteraksi langsung dengan sesama santri dan juga alam,” lanjutnya

Penganekaragaman Pangan

Pola makan santri di pesantren di Ath-thaariq begitu bervariasi dan tidak hanya mengkonsumsi nasi saja. Dia mengemukan bahwa potensi alam Indonesia sangat luar biasa hebat, dianugerahi tanah yang subur dan kenakaragaman hayati yang melimpah.

“ Banyak kok tanaman yang bisa dimakan sebagai pengganti karbohidrat tidak hanya dari beras saja, sorgum pun bisa jadi alternatif beras sebagai asupan karbohidrat. Why not kita bisa makan tanpa nasi, why not kita masih bisa makan ubi – ubian dan lain sebagainya. Ini yang kita sebut sebagai keanekaragaman hayati pangan,” jelasnya.

Selaras dengan program pemerintah tentang penganekaragaman pangan, hematnya jika pemerintah serius mencanangkan program tersebut harusnya ada tindak lanjut yang nyata.

Ketika hasil panen tiba, tak lantas lekas dijual ke pasar tetapi kata nissa hasil panen tersebut di simpan untuk persediaan pangan di pesantren sehingga tak harus mendatangkan dari luar. “Yang peting dari gerakan kami, gerakan mempunyai benih, mengebangkan benih sendiri dan dikonsumsi oleh warga di pesantren Ath-thaariq,” kata Nissa.

Nissa Wargadipura, pendiri pesantren Ath-thaariq, Tarogong Kidul, Garut, Jabar. Foto : Nissa Wargadipura
Nissa Wargadipura, pendiri pesantren Ath-thaariq, Tarogong Kidul, Garut, Jabar. Foto : Nissa Wargadipura

Tak hanya untuk dikonsumsi semua sebagian ada yang dijual seperti bunga rosela. “Antanan, pejagan dan bunga rose memiliki nilai ekonomis yang cukup lumayan, di jadikan parsel dan ini yang kita jual. Biasanya pembelinya baru dikalangan teman-teman. Tetapi banyak juga masyarakat yang tahu tentang khasiat tanaman herbal ini mereka pesan dan datang kepada kita,” tuturnya

Di lain tempat Udin (43) warga sekitar mengaku kehadiran pesantren Ath-thaariq yang menerapkan ekologi sambut baik dan dia tertarik menyekolahkan anaknya disana.

Udin menyayangkan belum adanya perhatian khusus dari Pemkab Garut terkait adanya pesantren ekologi ketika dikonfirmasi kepada Nissa. Dan dia juga mengatakan bahwa tujuan utamanya  mendirikan pesantren Ath-thaariq agar anak yang memiliki potensi yang berasal dari desa tidak pergi ke kota dan mau membangun desa.

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , , , ,