,

Mengajak Cinta Bahari dan Perikanan Berkelanjutan di Festival Laut

Tangan Chef Adrian,  begitu cekatan meramu beragam bumbu dan bahan-bahan menjadi hidangan menggoda selera. Dia unjuk kebolehan meracik menu seafood ini di Taman Kridaloka, Gelora Bung Karno Jakarta, Sabtu (19/9/15). Para pengunjung tampak antusias menyaksikan.

“Hari ini saya akan memasak sup sirip ikan hiu!” kata Andrian. Wah! Ternyata, yang dimaksud sirip hiu itu terbuat dari daging ayam. Dia tak memakai sirip hiu karena hiu predator utama laut yang langka.

“Sirip hiu tak ada rasanya. Hanya menang tekstur. Saya mengolah daging ayam agar tekstur menyerupai sirip hiu. Mencampur daging ayam dengan kalsium, pewarna alami dan bumbu-bumbu lain. Jadi ini sop hiu bohongan.”  Selain sop “sirip hiu,” Adrian juga memasak cumi.

Juru kampanye laut Greenpeace Indonesia, Arifsyah M. Nasution mengatakan, inovasi ini bisa jadi solusi. Restoran penyedia menu sirip hiu bisa mencontoh Adrian.

“Kami berupaya mendekati beberapa restoran agar tidak menjual menu sirip hiu lagi. Pendekatan ini terus dilakukan. Kami berharap ada kesadaran masyarakat, juga produsen untuk menyediakan menu perikanan berkelanjutan,” katanya.

Aksi memasak Adrian, salah satu dari sekian acara yang digelar Greenpeace Indonesia bertajuk “Festival Laut”.

Ada pertunjukan musik dari sederet band indie, seperti White Shoes and The Couples Company, Stars &Rabbit, Abdul &The Coffee Theory serta Brianna Simorangkir.

Kampanye selamatkan mangrova di stan Yayasan Mangrove Indonesia Salina (Satu Laut Indonesia),  pada Festival Laut di Senayan, Sabtu (19/9/15). Foto: Sapariah Saturi
Kampanye selamatkan mangrova di stan Yayasan Mangrove Indonesia Salina (Satu Laut Indonesia), pada Festival Laut di Senayan, Sabtu (19/9/15). Foto: Sapariah Saturi

Pendongeng kondang Kak Seto juga hadir. Dia membawakan dongeng pentingnya menjaga laut kepada anak-anak. Dia juga mengajak orangtua mulai mengenalkan potensi laut kepada anak-anak sejak dini.

Orangtua yang membawa anak bisa berkunjung ke stan permainan di salah satu ujung taman, mengajak anak-anak bermain bersama. Pesan-pesan tentang pentingnya menjaga laut diselipkan yang dikemas dengan menyenangkan tanpa terkesan menggurui.

“Festival ini untuk membawa isu-isu kelautan ke tengah masyarakat urban. Mencoba meningkatkan kesadaran bahwa laut bagian penting kehidupan,” kata penanggung jawab acara, Afif Saputra.

Afif mengatakan, Jakarta dengan populasi lebih 10 juta jiwa berpotensi menjadi salah satu basis konsumen makanan laut terbesar di Indonesia. Karena itu, penting edukasi agar bisa memilih sumber pangan laut berhati-hati dan mengedepankan keberlanjutan.

Di Indonesia, nelayan menerapkan perikanan berkelanjutan, misal di Sulawesi Utara, Papua Barat dan NTT. Nelayan memakai konsep huhate, atau pole and line, terdiri dari bambu sebagai joran atau tongkat dilengkapi rangkaian tali pancing dan kali.

ForBALI, Forum Bali Tolak Reklamasi di Teluk Benoa, Bali, juga tak ketinggalan meramaikan Festival Laut. Mereka menjual pernak pernik perlawanan, seperti kaos. Foto: Sapariah Saturi
ForBALI, Forum Bali Tolak Reklamasi di Teluk Benoa, Bali, juga tak ketinggalan meramaikan Festival Laut. Mereka menjual pernak pernik perlawanan, seperti kaos. Foto: Sapariah Saturi

Berbeda dengan perikanan sistem rumpon atau fish agregating devices (FADs), obyek terapung menarik berbagai jenis ikan. Cara ini menyebabkan penangkapan merusak dan mengangkut segala jenis bahkan yang kecil sekalipun. Akibatnya, stok ikan laut terganggu.

Di festival itu juga berdiri berbagai stand komunitas. Ada Bali Tolak Reklamasi (ForBali),  Savesharks, Sea Soldiers,  Yayasan Mangrove Indonesia Salina (Satu Laut Indonesia), Diet Kantong Plastik (IDKP), Miss Scuba Indonesia Kemangteer dan Save Bangka Island, 4C LSPR serta Hilo Green. Total 37 komunitas peduli lingkungan, fokus isu laut sekitar 15 komunitas.

Arifsyah mengatakan, Indonesia dua pertiga lautan dengan kondisi kini terancam beragam kegiatan pengelolaan tak berkelanjutan. “Sekitar 70% terumbu karang rusak. Mangrove 40% hilang. Ini menandakan ada yang salah.”

Ada upaya Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan konservasi laut sampai 20 juta hektar 2020. Kini, terealisasi 16,4 juta hektar dari 31- juta hektar laut Indonesia. Namun, ada kegiatan kontradiktif dilakukan pemerintah seperti reklamasi pantai dan PLTU.

Panggung di Festival Laut. Foto: Sapariah Saturi
Panggung di Festival Laut. Foto: Sapariah Saturi

Puteri Indonesia Lingkungan 2015, Chintya Fabiola mengatakan, Indonesia mempunyai potensi laut sangat besar. “Acara ini penting menyadartahukan masyarakat agar menjaga apa yang ada. Kebersihan (laut), juga ikan.”

Menurut dia, yang diambil dari alam harus kembali ke alam. Dunia terus berputar. “Sungai harus dijaga jangan sampai tercemar. Air sungai bermuara ke laut. Saya berharap dari hal kecil dulu, misal jangan buang sampah sembarangan.”

Pernak pernik soal laut di Festival Laut. Foto: Sapariah Saturi
Pernak pernik soal laut di Festival Laut. Foto: Sapariah Saturi
Pengunjung antri memasuki area Festival Laut. Foto: Sapariah Saturi
Pengunjung antri memasuki area Festival Laut. Foto: Sapariah Saturi
Dari Festival Laut. Foto: Sapariah Saturi
Dari Festival Laut. Foto: Sapariah Saturi
DI Festival Laut juga ada pameran foto soal laut. Foto: Sapariah Saturi
DI Festival Laut juga ada pameran foto soal laut. Foto: Sapariah Saturi
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , , , , , , , ,