Kebakaran Lahan di Papua, Kabut Asap Pekat, Penerbangan Terkendala

Kepulan asap terlihat di sekitar kawasan hutan Gunung Wondiboy, Teluk Wondama, Papua Barat, pada Senin, 12 Oktober 2015. Foto: Duma Sanda

Kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan asap pekat, tak hanya di Kalimantan dan Sumatera juga di Papua dan Papua Barat. Pada Minggu (18/10/15), pukul 05.00, pantauan dari satelit Terra dan Aqua di Pulau Cendrawasih itu titik api mencapai 165, dengan rincian Papua 133 dan Papua Barat 32. Kebakaran yang menimbulkan kabut asap cukup pekat ini sudah menghambat penerbangan. 

Pada Minggu itu, Garuda Indonesia menutup penerbangan keluar dan masuk Bandara Rendani, Manokwari, Papua Barat, dan bandara di Timika, Papua, karena jarak pandang pendek.

General Manager Garuda Indonesia Cabang Manokwari, Gunar Angkasa, mengatakan, penerbangan tutup karena jarak pandang Bandara Rendani tidak memungkinan lepas landas maupun mendarat. Dia belum memastikan penutupan penerbangan hingga kapan.

Peringatan jarak pandang terbatas telah dikeluarkan ATC Bandara Rendani melalui notice to airmen (notem) sejak Sabtu (18/10/15) hingga Senin (19/10/15). Dalam catatan itu, jarak pandang telah menurun di bawah 3.000 meter.

Benny Butarbutar, Humas Garuda Indonesia kepada Mongabay Minggu, (18/10/15) mengatakan, penerbangan Garuda dari dan menuju Manokwari dan Timika batal terbang karena jarak pandang minim hingga mengancam penerbangan. “Kita masih menunggu terus sampai situasi layak terbang.”

Dia mengatakan, jarak pandang hanya 150-200 meter. “Kami memberikan opsi bagi penumpang untuk penjadwalan ulang atau pindah rute. Belum ada kepastian sampai kapan penerbangan ditunda. Kami terus memantau berdasarkan data BMKG tiap pagi, siang dan sore. Kami berharap besok pagi kembali normal.”

Petugas ATC Bandara Rendani Manokwari Jefri, mengatakan, jika Senin jarak pandang masih sama, ATC akan memperpanjang notem.

Dia mengatakan, tak hanya Garuda yang membatalkan penerbangan Sriwijaya Air juga menutup penerbangan sejak Minggu. Dampak penutupan, sejumlah penumpang Sriwijaya di Bandara Sentani mengamuk. Mereka meminta Sriwijaya Air menyediakan penginapan, namun ditolak.

“Peraturan pemerintah tentang moda angkutan udara menyatakan, badan usaha angkutan udara dibebaskan dari tanggungjawab dan ganti rugi akibat faktor cuaca. Kita diikat peraturan pemerintah,” kata petugas Sriwijaya Air di Bandara Sentani.

Meski Garuda dan Sriwijaya Air menutup penerbangan, kata Jefri, maskapai lain seperti Wings Air, Express Air dan penerbangan lokal Susi Air, masih beroperasi.

Asap kiriman Merauke

Sementara jarak pandang di Manokwari, terbatas akibat kiriman asap dari Merauke, Papua. Meski berjarak ratusan kilometer, kiriman asap kebakaran hutan dari ujung timur tanah Papua itu, berpengaruh 80% terhadap kondisi udara Manokwari.

“Hampir 80% kabut asap Manokwari dari kebakaran hutan di Merauke,” kata Staf Observer Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Manokwari, Yulson Sinery kepada Mongabay.

Sinery mengatakan, sebelumnya kabut asap dari sejumlah kebakaran di Papua Barat telah menyelimuti Manokwari. Namun, asap hanya berpengaruh 20% terhadap udara di sana.

Pengamatan pilot penerbangan lokal, katanya, ada tujuh titik api di sekitar hutan Pegunungan Arfak, gunung tertinggi di Pegunungan Arfak, tak jauh dari Manokwari. “Kabut asap Merauke juga menutupi Selatan Papua, seperti Kaimana dan Fakfak.”

Hutan yang terbakar di Distrik Walelagama, Wamena, pada Agustus 2015. Foto: Asrida Elisabeth

Data Minggu sore, Papua 400 dikepung 400 titik panas. Di Papua Barat terdapat 20 titik api. “Satu titik api mewakili dua hektar lahan di lapangan. Hanya berukuran dua hektar yang terpantau data BMKG. Ada juga aktivitas warga, bisa saja membakar lahan kurang dua hektar yang tidak terpantau. Kalau jumlah banyak, pengaruh cukup menambah parah kabut,” katanya.

Warga Manokwari sebenarnya sudah mulai merasakan kehadiran kabut asap sejak sebulan lalu. Pegunungan Arfak juga tidak terlihat baik pagi hingga sore. Di Dataran Masni, berjarak sekitar 90 km dari Manokwari, kabut asap sampai membuat mata perih.

KHLK turunkan tim

Senin (19/10/15), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan mengirimkan tim ke Papua untuk membahas teknis penanganan kebakaran hutan dan lahan ini. “Minggu kami rapat bahan kebakaran Papua dan Kalimantan Timur, Senin ini, eselon I KLHK akan turun ke Papua dan Kaltim untuk koordinasi dengan gubernur, dinas dan UPT,” katanya di Jakarta, Minggu (18/10/15) kepada Mongabay.

Dia mengatakan, sejak Minggu pagi terus berkoordinasi dengan daerah-daerah di Papua. “Yang di Kota Sorong, menurut walikota api sudah dimatikan,” katanya.

Di Sorong, katanya, selama ini tak pernah mengalami kebakaran. “Itu sebabnya tak ada UPT kebakaran LHK atau tak ada Manggala Agni disana.”

Dia juga memantau kebakaran di Merauke, yang terindikasi di satu perusahaan dan di Kabupaten Mappi, ada di dua perusahaan. “Pemadaman di Merauke dilakukan Pemda. Gubernur Papua juga sudah kami komunikasikan. Mereka terus lakukan pemadaman.”

Selain di wilayah perusahaan, di Kabupaten Merauke, kebakaran juga terjadi di ladang-ladang, dan alang-alang pada hutan lindung. “Armada pemda terus bekerja. Menurut bupati sudah dapat diatasi. Saya terus ikuti perkembangan.”

Siti juga mengikuti perkembangan kebakaran di Mimika dan sudah berkomunikasi dengan Sekda Mimika. “Infonya, kemarin penerbangan terganggu juga transportasi sungai terganggu. Pagi ini lebih berkabut kiriman. Masker dibagikan kemarin 3.000 buat. Unit-unit pelayanan kesehatan dipersiapkan.”

Siti mengatakan, data UPT BKSDA Papua menyebutkan, dari pemantauan satelit Terra dan Aqua pada Jumat (16/10/15), titik api di Merauke (93), Mappi (34), Boven Digul (8). “Beberapa titik di Kabupaten Dogiayai.”

Kepala BMKG Andi Eka Sakya mengatakan, kebakaran di Papua, menyebabkan asap cukup parah karena angin bergerak ke barat laut hingga jarak pandang minim dan sejumlah penerbangan batal terbang.

Andi mengatakan, musim hujan di timur Indonesia mengalami perlambatan. Jika biasa hujan mulai turun September-Oktober, prediksi BMKG hujan baru turun akhir November.