Enggang Gading yang Mendadak Kritis

Enggang gading jantan yang sedang bertengger. Di penghujung 2015 ini, statusnya ditetapkan Kritis. Foto: Yokyok Hadiprakarsa
Enggang gading jantan yang sedang bertengger. Di penghujung 2015 ini, statusnya ditetapkan Kritis. Foto: Yokyok Hadiprakarsa

Nasib enggang gading kian memprihatinkan. Di penghujung 2015, berdasarkan data IUCN Red List, burung bernama latin Rhinoplax vigil ini statusnya ditetapkan Kritis (CR/Critically Endangered) atau satu langkah menuju kepunahan di alam liar. Padahal, jika dilihat tahun sebelumnya, statusnya hanya Near Threatened (NT) atau mendekati terancam punah. Apa yang membuat maskot Kalimantan Barat ini mendadak Kritis?

Yokyok Hadiprakarsa dari Indonesia Hornbill Conservation Society (IHCS) menuturkan, lompatan status dari NT ke CR ini tergolong luar biasa. Karena, langsung melewati status Rentan (VU/Vulnerable), dan Genting (EN/Endangered). “Namun begitu, penetapan status Helmeted Hornbill ini memang telah dilakukan evaluasi sebelumnya oleh BirdLife International sebagai authority atau pihak yang berwenang, terutama akan populasinya di alam yang terus menurun akibat perburuan,” ujar Yokyok kepada Mongabay Indonesia, Selasa (15/12/2015).

Enggang gading yang ukuran tubuhnya mencapai 170 cm memang mudah untuk ditandai. Jenis ini sering bertengger bersama pasangannya di tajuk pepohonan besar yang tak jarang bergabung dengan jenis enggang lainnya. Sang jantan, biasanya paruhnya kuning dan merah dengan leher merah tanpa bulu. Sementara si betina lehernya berwarna putih kebiruan. Populasi dan habitat terbesar burung yang masuk dalam keluarga Bucerotidae, burung berukuran hingga 170 cm dengan paruh kokoh, memang di Indonesia.

Menurut Yokyok, predikat Kritis yang kini disematkan pada enggang gading sudah terlihat gelagatnya. Sejak berita perburuan enggang gading marak, penelitian, pemantauan dan investigasi telah dilakukan sekaligus membandingkan populasi enggang gading yang ada di Indonesia dengan Malaysia, Thailand, dan Myanmar. Hanya di Myanmar, yang ada perburuan skala kecil karena memang populasinya sedikit. Di Malaysia dan Thailand tidak ada. “Awal 2012, perburuan mulai marak di Indonesia dan berlangsung hingga sekarang. Populasi yang menurun drastis terlihat di Sumatera dan Kalimantan.”

Kurun waktu 2012-2015, tercatat 16 kali penangkapan perdagangan gading enggang di Indonesia dengan sitaan lebih dari 1.142 paruh. Sementara di Tiongkok, berhasil diamankan 1.080 paruh enggang gading hasil 19 kali operasi yang diyakini semua itu dari Indonesia.

Dalam tiga tahun terakhir itu, sekitar 2.222 enggang gading dibantai. “Artinya, perburuan enggang gading memang terus terjadi,” ujar Yokyok.

Paruh enggang gading yang disita. Perburuan terus terjadi yang menyebabkan populasinya di alam menurun. Foto: Yokyok Hadiprakarsa
Paruh enggang gading yang disita. Perburuan terus terjadi yang menyebabkan populasinya di alam menurun. Foto: Yokyok Hadiprakarsa

Jaringan internasional

Modus perburuan enggang gading memang semakin rapi dengan melibatkan jaringan internasional. Menurut Yokyok, membongkar jaringan ini sama sulitnya dengan memberantas sindikat pemburu gajah, harimau, dan orangutan. “Setahun ini, saya melakukan evaluasi status populasi dan ancaman. Tahun depan baru dipublikasikan hasilnya.”

Kasus penyelundupan yang dilakukan warga Malaysia yang berhasil diungkap Kepolisian Amerika awal Desember 2015, misalnya, telah dilakukan pengintaian sejak 2013. Berdasarkan pengakuan dua warga Malaysia yang ditangkap Agen Federal di Oregon, AS itu, mereka mendapatkan suplai paruh enggang gading, rangkong badak, serta tulang babirusa, dan orangutan yang berasal dari Kalimantan untuk diselundupkan ke Amerika. Kedua pelaku bernama Eoin Ling Churn Yeng (35) dan Galvin Yeo Siang Ann (33), harus menghadapi ancaman hukuman 20 tahun penjara dan denda 250 ribu Dollar Amerika atas perbuatannya.

Di Indonesia, perburuan enggang gading atau yang juga dikenal dengan sebutan rangkong gading, memang begitu nyata. Berdasarkan survei, masyarakat di Sumatera dan Kalimantan yang sering masuk hutan menuturkan, sebelum maraknya perburuan, suara enggang gading akan terdengar satu hingga dua kali dalam sehari.

Sekarang, di lokasi yang sama, satu hingga dua minggu belum tentu terdengar kicaunya. “Di Kalimantan Barat, tingkat perburuannya lebih tinggi ketimbang Sumatera. Informasi terakhir, para pemburu juga sudah merambah ke Kalimantan Timur yang kebanyakan modusnya mereka “dimodalin” dulu, baik senjata maupun logistik.”

Tidak mudah mengungkap sindikat perburuan enggang gading ini, butuh kerja keras untuk membongkarnya. Foto: Yokyok Hadiprakarsa
Tidak mudah mengungkap sindikat perburuan enggang gading ini, butuh kerja keras untuk membongkarnya. Foto: Yokyok Hadiprakarsa

Bagaimana agar angka perburuan di Indonesia dapat ditekan? Menurut Yokyok, pertama, penegakan hukum harus dilakukan sebagai efek jera. Terlebih enggang gading merupakan jenis yang dilindungi UU Nomor 5/1990 tentang Konservasi dan Sumber Daya Alam dan PP Nomor 7/1999 Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Enggang gading juga terdaftar dalam Appendiks 1 CITES.

Di Kalimantan Barat, terindikasi penyelundupannya menggunakan kapal laut atau bermain di perbatasan negara yang pergerakannya menggunakan jalan tikus. ”Indikasi ini diperkuat temuan investigasi Special Agent US Fish & Wildlife Services (USFWS), Oregon, Amerika, akan paruh enggang gading yang dikirim dari Sarawak, Malaysia ke Amerika yang asalnya dari Kalimantan. Paket tersebut ditulis barang kerajinan.”

Kedua, pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat terutama yang berada di pinggiran hutan harus dilakukan. Bila ekonomi masyarakat telah tercukupi dan mendapatkan manfaat langsung dari hutan, mereka tidak akan melakukan hal negatif. “Konservasi enggang gading bisa dimotori masyarakat adat seperti masyarakat Dayak, dengan memanfaatkannya sebagai kegiatan ekowisata, penguat ekonomi, sekaligus menjadi True Hornbills Guardian.”

Ketiga, kampanye pentingnya kelestarian enggang gading harus terus dilakukan, terutama di Kalimantan Barat. “Ironis memang, maskot Kalimantan Barat ini justru banyak diburu di rumahnya sendiri. Karena itu, kebanggaan daerah harus dibangkitkan.”

Sebagai petani hutan tropis, enggang gading dan jenis enggang lainnya memiliki peran penting sebagai pemencar biji. Di hutan, secara alami memang kerap terjadi forest gap yang akibat pohon roboh, longsor dan lainnya. Enggang yang terbangnya acak akan menebar biji di daerah yang rusak itu. Siklus alami yang menciptakan keseimbangan ekologis.

Margaret F. Kinnaird dan Timothy G. O’Brien, peneliti rangkong dan hutan tropis, menjuluki rangkong sebagai petani hutan tangguh karena kehebatannya menebar biji. Ada hubungan tak terpisahkan antara rangkong dengan hutan yang sehat karena rangkong, termasuk enggang gading, memang memerlukan pohon yang besar untuk sarangnya. Hadirnya jenis rangkong secara pasti menunjukkan bahwa pohon dengan kayu ukuran besar masih tumbuh di hutan.

Di Sumatera dan Kalimantan, anggota keluarga Bucerotidae yang tersebar adalah enggang klihingan, enggang jambul, julang jambul-hitam, julang emas, kangkareng hitam, kangkareng perut-putih, rangkong badak, rangkong gading, dan rangkong papan. Khusus rangkong papan, jenis ini tidak ada di Kalimantan.