Green Valentine: Saat Penghijauan Dilakukan di Jantung Flores

 

Kawasan hutan sekitar Gunung Egon. Hutan ini sebagian gundul akibat aktifitas penebangan pohon secara ilegal. Foto: Ebed de Rosary

Hari Kasih Sayang atau yang biasa disebut dengan Valentine Day, umumnya bersubyek dari manusia kepada manusia. Bagaimana jika kasih sayang diberikan kepada alam dan lingkungan?

Bertempat di kawasan Egon Ilimedo, yang terletak di Kabupaten Sikka, perayaan Hari Kasih Sayang dilakukan dengan penghijauan dengan penanaman bibit pohon di empat titik mata air di Kecamatan Mapitara yang termasuk dalam kawasan Hutan Egon Ilimedo, yang sering disebut sebagai paru-paru Kabupaten Sikka.

“Gerakan ini hendaknya mampu menularkan gerakan cinta lingkungan kepada masyarakat Mapitara dan menjadikan konservasi sumber mata air dan lingkungan sebagai bagian dari kehidupan mereka,” sebut Hery Naif, Manager Program Wahana Tani Mandiri (WTM). Dia pun lalu menyebut kegiatan ini sebagai “Green Valentine”.

Adapun gagasan ini dilakukan oleh WTM bekerjasama dengan Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) pada tanggal 22 Februari 2017 yang lalu.

Gerakan penyelamatan Sumber Mata Air ini diikuti Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kesatuan Kehutanan, Dinas Lingkungan Hidup, Koramil, Aparat Kecamatan Mapitara dan Desa, serta pemuda Katolik Paroki Hebing.

Menurutnya tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan tersebut lanjutnya, diantaranya  memotivasi masyarakat Mapitara untuk memperhatikan konservasi tanah dan air bagi kehidupan warga, dan membangun kesadaran ekologis akan penyelamatan ekologi kawasan Egon Ilimedo.

Kawasan Hutan Lindung  Egon Ilimedo sendiri merupakan kawasan hutan di Kabupaten Sikka yang memiliki luas 19.456,80 hektar  atau 78,6 persen dari total luas kawasan hutan Kabupaten Sikka yang seluas 24.738 hektar.

 

Memohon restu leluhur. Ritual yang dilakukan sebelum menanam bibit pohon di dekat mata air. Foto: Hery Naif/Wahana Tani Mandiri

 

Perambahan Marak di Jantung Flores

Berdasarkan informasi yang dihimpun Mongabay Indonesia permasalahan utama di kawasan Egon adalah perambahan hutan atau pembukaan lahan kebun dalam kawasan hutan. Baik yang dilakukan oleh masyarakat, oknum aparat maupun penebang liar yang diupah para penjual kayu.

 

Baca juga: Jurus Saling Tuding di Balik Pembukaan Jalan di Kawasan Hutan Lindung Egon Ilimedo

 

Data UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan Wilayah Sikka, aktifitas perambahan ini dilakukan hampir setiap saat dan berdampak luas pada rusaknya 280 hektar hutan di Kecamatan Mapitara. Akibatnya debit di delapan mata air, termasuk Wair Oridar, Napun Ewa, Rejo Gajot, Napun Dagar, Wair Heni dan Wari Boto mengalami penurunan drastis.

“Pada kawasan Egon Ilimedo ini sering terjadi erosi, dan menurunnya debit air di beberapa sumber mata air.  Selain itu, iklim mikro di wilayah ini pun terganggu. Padahal iklim mikro dibutuhkan untuk perkembangan tanaman yang lebih baik pada wilayah yang terbatas,” Direktur WTM, Carolus Winfridus, menjelaskan.

Bupati Sikka Yoseph Ansar Rera mengapreseasi kegiatan ini, karena kawasan ini adalah jantung kabupaten Sikka. Malah Maumere dikenal sebagai “The Heart of Flores” sehingga kawasan ini penting untuk dilestarikan.

“Saya mengajak semua pihak agar gerakan seperti ini terus dilakukan dalam upaya melestarikan lingkungan dan ini menjadi kewajiban bagi kita semua bukan hanya lembaga WTM saja,” jelas Rera.

“Di Mapitara sebetulnya banyak mata air, tetapi faktanya banyak pipa yang ada itu tanpa air. “Gerakan ini adalah gerakan nurani, cinta kasih kepada anak-cucu kita. Kita menanam untuk kebutuhan mereka ke depan,” tutur Theresia Donata, Camat Mapitara.

Sebuah inspirasi menarik dari gerakan hijau Green Valentine.