Asa Desa Wlahar Wetan Berdaulat Pangan Organik

Petani tengah memisahkan padi hitam organik usai panen. Foto: Tommy Apriando

 

Sore itu, Senin, 10 April 2017. Hujan baru reda berganti terik mentari. Dodit Prasetya, Kepala Desa Wlahar, Wetan, Kalibagor, Banyumas, menyambut saya.

Dia jadi kades sejak 2013. Kala itu, Dodit tak banyak tahu cara membangun desa mandiri pangan. Dia haus ilmu. Belajar dari banyak pakar dan melihat langsung ke daerah lain cara bertani organik yang mensejahterakan warga desa.

Dia bersama warga berupaua menerapkan ilmu serapan dari berbagai pihak itu. “Saya ingin desa ini mandiri pangan organik. Selain ramah lingkungan, sehat dan warga bisa sejahtera,” katanya.

Dodit bercerita soal permasalahan desa, bahwa masyarakat petani tak pernah dapat keuntungan besar dari hasil tanaman mereka. Kendala itu dia petakan dan pecahkan bersama pada rapat desa.

Di Wlahar Wetan, petani sangat beruntung bisa panen dua kali setahun. Lahan pertanian tadah hujan.  Meski begitu, petani sering tak cukup tutupi biaya tanam setiap musim. Jikapun untung, hanya sedikit.

Penyebab lain, ketika panen harga jual tak mendukung, ditambah dukungan pemerintah minim. Melalui kelompok tani, mereka cari solusi wujudkan mimpi desa mandiri pangan organik, termasuk pupuk.

Awalnya, air jadi satu-satunya kendala pertanian di desa karena produktivitas pertanian menurun drastis. Hingga Dodit menerapkan metode pertanian system of rice intensification (SRI).

Metode ini, untuk mengembalikan kesuburan tanah akibat metode penanaman padi konvensional atau berbahan kimia, dengan pola organik. Penumpukan dan obat-obatan kimia berakibat pada penurunan hasil panen dari tahun ke tahun.  Metode SRI mengembalikan ekologi tanah jadi subur, hingga produktivitas pertanian lebih baik.

“Metode SRI bisa untuk pertanian dengan pemanfaatan air terbatas, tak harus berlimpah,” kata Dodit.

Kondisi lahan pertanian di desa pada titik jenuh karena penggunaan pupuk kimia. Ratusan tahun lalu, petani sudah bertani organik, namun program pemerintah, sejak Orde Baru hingga kini, setengah memaksa petani tergantung pupuk kimia.

“Ini tanah kami, jika tak dijaga, belum tentu pemerintah daerah dan pusat menyelesaikan masalah ini. Tak mungkin terwujud mandiri pangan jika sistem tanah rusak. Lebih baik kami selesaikan,” katanya.

Mengubah pola pikir petani yang lama tergantung kimia, tak mudah. Aturan negara, berbeda dengan praktik di lapangan. Awalnya, banyak petani tak tertarik ke tanam organik. “Kami cari pendamping petani, tugasnya mensosialisasikan dan praktik langsung tanam organik.

 

Dodit, Kepala Desa Walhar Wetan, menunjukkan beras Jawa, organik produksi mereka. Foto: Tommy Apriando

 

Sosialisasi Dinas Pertanian terkadang terlalu berat bagi petani, apalagi tak dibarengi praktik lapangan.”

Bagi masyarakat, katanya,  bukan perlu tinggi ilmu, tetapi penerapan yang bisa dicerna sederhana. “Petani itu ahli seahlinya pertanian, mereka tahu kondisi lahan dan sudah lama bertani. Petani harus dibikin bangga secara profesi. Pemerintah desa pasang badan, kami perkuat lembaga kelompok tani dalam wadah musyawarah,” katanya.

Jumlah petani di Desa Wlahar Wetan pada 2013 sekitar 600, kini susut lebih 50%. Mereka,  terbagi petani,  pemilik, dan penggarap. Persoalan lain di desa, katanya, banyak anak petani tak ingin jadi petani.

“Ini sungguh kami takutkan. Petani desa kami lahir sekitar generasi 1975, paling lama bisa bertahan 10 tahun lagi. Kami sekarang pendekatan pada anak muda untuk bangun desa dari potensi, termasuk bertani,” ucap Dodit.

Luas pertanian desa 385 hektar, dengan lahan produktif 90 hektar, tegalan 30 hektar. Tanaman berupa padi, singkong, palawija, dan jagung. Desa juga punya tanah sewa. Tiga tahun ke depan, katanya, semua kebutuhan warga, terutama pangan ada di desa.

 

 

***

Sore hari, di sawah puluhan petani tampak turun ke sawah. Di pertanian milik desa ini menanam beras hitam. Burung-burung berkerumun memakan padi siap panen.

Imam Lutfi, salah satu sosok yang mewujudkan ketahanan pangan organik. Dia datang dari Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, sejak November 2016 mendampingi petani bertanam metode SRI.

“Saya datang temani petani dan membantu mimpi warga, agar desa punya ketahanan pangan organik. Dipilih organik karena berhubungan dengan kelangsungan alam. Kami juga menerapkan integrasi farming system. Alam harus dijaga.”

Dia bilang, bicara organik tak soal hasil, tetapi berusaha mengembalikan ekosistem alam lebih baik. “Kami sudah merasakan imbas kerusakan bahan kimiawi.”

Kala pertama kali melihat lahan di Desa Wlahar Wetan, dia tercengang. Revolusi pupuk kimia tercepat memang di Jawa. Kala itu, dia langsung bicara pada petani muda.

Organik bukan bicara praktik, juga proses pembelajaran, harus sabar. Peran anak muda, katanya, punya tanggung jawab ke masyarakat, mereka membahas persoalan tani organik.

Tak hanya yang dikerjakan di sawah, juga analisa usaha tani, termasuk untung rugi.  Metode SRI tak bisa langsung hasil, desa mandiri pangan, juga perlu proses.

Dia bilang, harus ada pemahaman kalau organik itu cara budidaya, mengolah lahan, pengaman, penyinaran, dan pemupukan. “Butuh waktu sedikit lebih lama. Kami awalnya pendekatan ke semua warga, berdiskusi, dan cari permasalahan. Cari solusi penanganan.”

Mereka membuat kelompok sekolah tani mandiri. Berisi petani dengan pemikiran terbuka, lahan disediakan dan pupuk juga organik.

Dulu, katanya,  petani Desa Wlahar Wetan, pagi hari menebarkan pupuk kandang ke lahan pertanian. Petani, katanya, bisa siapkan sendiri pupuk organik dari peternakan.

Ada lebih 60 keluarga beternak sapi. Dalam memenuhi kebutuhan pupuk kandang,  desa sudah cukup, termasuk untuk perkarangan.

“Tahun ini terapkan pertanian organik, desa akan buat regulasi mendorong pemanfaatan lahan konservasi organik. Bertanam organik penting untuk masa depan anak-anak kita,” ucap Dodit.

Sumarno, 52 tahun, petani di Desa Wlahar Wetan. Sejak kecil dia  menanam padi, ketela, ubi rambat, jagung, kacang tanah dan kacang panjang.

 

Suyati, membuat keripik singkong hasil produksi warga. Foto: Tommy Apriando

 

Dia punya lahan pertanian luas tak sampai seperempat hektar. Sejak November 2016, dia mulai bertanam organik. Sejak sebelumnya bertani pakai pupuk kimia.

Ketika tanam organik, tak bingung cari pupuk. Cukup pupuk kandang, dan tanah lebih subur. Jika menghitung biaya, pupuk organik lebih murah. Pupuk cair dan kandang bisa cari sendiri, tak harus beli.

“Kimia harus beli.”

Dia menanam padi jenis IPB 3S dan Inpari 30. Hasil 800 kilogram sekali panen. Jumlah ini, katanya, menurun dari panen sebelumnya, yakni 1.000 kilogram.

Menurut Sumarno, penyebabnya lahan rusak karena kimia, saya yakin kelanjutan akan lebih bagus dan hasil lebih banyak.

Dia memilih pertanian organik karena  harga jualnya lebih mahal dibanding harga beras non organik. Ia akan terus menanam organik, sebab berasnya menyehatkan dan lahan lebih baik.

Data Badan Pusat Statistik Banyumas 2013, luas pertanian 1.097 hektar, dengan produksi 5.818 ton beras, dan rata-rata produksi 5,3 ton.

Tetangga Sumarno, Ibu Suyati, asli warga Wlahar Wetan, setiap hari membuat kripik singkong, geropak dan mangling. Dia anggota Kelompok Wanita Tani di desa.

Serupa Sumarno, sejak November 2016, menanam beras organik. Dia juga berternak sapi. Kohe atau kotoran sapi, untuk pupuk. Panen pertama dia dapat 600 kg di lahan tak sampai seperempat hektar.

“Beras enak, hasil bagus. Kami ingin tanam terus organik. Hargan jual  beras organik lebih mahal,” katanya

Iksan, Kepala Urusan Perencanaan Desa menjelaskan, organik karena permintaan pasar tinggi, apalagi beras jenis lokal.  Petani menanam padi mentik susu, beras hitam dan merah, ke depan sebanyak-banyaknya.

“Kami juga persiapkan benih.  Untuk percontohan organik, lahan sekitar  8.000 meter, dikelola kelompok petani. Panen kemarin dapat 2,6 ton. Tiga tahun kami bisa lebih baik.

Ke depan, mereka akan bentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang bisa mencukupi pangan warga. Masyarakat harus berani membeli harga special beras organik untuk mengangkat petani.

Pada 2017, mereka akan intervensi penguatan kesehatan masyarakat dengan obat herbal.  Target organik secara menyeluruh 2018, sekaligus target kemandirian pangan.

“Kami berharap semua desa bisa mandiri pangan, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat desanya,” katanya.

Tahun ini,  mereka mempersiapkan kebutuhan energi biogas untuk komunal. Selama ini,  peluang pasar hanya tertangkap pemodal besar.

Dia ingin petani punya daya tawar tinggi, terhadap produk pertanian seperti “Beras Jawa Organik” hingga kedepan mampu mencukupi kebutuhan pangan bahkan meningkatkan kesejahteraan petani organik.