Amanah Puyang: Saat Kearifan Leluhur Mulai Terlanggar di Negeri Sehile

Hutan lindung di sekitar perbukitan di bentang alam Sehile yang mulai dirambah warga menjadi perkebunan kopi dan karet. Foto Ahmad Supardi

Secara budaya masyarakat yang menetap di bentang alam Sehile, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, percaya mereka memiliki amanah dari puyang atau leluhurnya untuk menjaga alam. Selama ratusan tahun, masyarakat di bentang alam Sehile hidup tanpa ada konflik dengan satwa liar, seperti gajah dan harimau.

Tidak heran lalu ada wilayah yang disebut kubangan gajah, dimana setiap beberapa bulan puluhan gajah berkumpul. Harimau pun hidup di wilayah hutan yang disebut “hutan larangan”.

Bentang alam Sehile meliputi Sembilan bukit, Bukit Senubut yang masuk Kecamatan Merapi Barat, Bukit Sehile yang masuk Kecamatan Merapi Barat dan Merapi Selatan, kemudian Bukit Besak, Bukit Lepak Kajang, Bukit Kuning, Bukit Pungguw Lanang, Bukit Pungguw Betino, Bukit Tunjuk di Merapi Selatan, dan terakhir Bukit Abung di Kecamatan Pulau Pinang.

Baca juga: Tambang Batubara di Sumsel, Ancaman Serius untuk Bentang Alam dan Masyarakat Sehile

Pembukaan perkebunan, dipercaya dimulai sejak era kolonial Belanda di akhir abad ke-19. Awalnya perkebunan kopi, lalu berlanjut ke karet. Namun, selama berkebun kopi dan karet, warga tidak pernah merusak “hutan larangan” yang menjadi tempat hidup harimau dan gajah, serta hewan lainnya.

Kepercayaan memegang amanah puyang memang masih melekat bagi para orang-orang tua di wilayah ini.

“Jika ada yang melanggar amanah tersebut, dipastikan bencana besar akan terjadi. Selain itu, kemurkaan puyang berupa bencana longsor, paceklik panjang dan banjir,” jelas Asila (83), seorang tokoh adat, yang ditemui Mongabay Indonesia di rumahnya di Desa Lubuk Betung, pertengahan April lalu.

“Untuk mencari kayu pun kami sangat patuh mengambilnya secara terbatas di hutan adat,” lanjutnya. “Tidak ada pula orang yang memburu harimau. Amat pantang. Kami hanya berburu kijang atau rusa untuk dimakan.”

Ironinya, sejak tahun 1990-an akhir, saat hak konsesi, perkebunan dan pertambangan mulai masuk wilayah ini, keberadaan harimau dan gajah pun mulai sulit ditemukan di sekitar sembilan bukit.

“Sekarang, aturan puyang tampaknya sudah banyak dilanggar. Saya tidak tahu kenapa ini terjadi, apakah memang manusia hari ini sudah pada nafsu dengan kekayaan, sehingga rela merusak apa pun, atau juga karena hidup yang kian sulit sehingga mereka melakukan apa saja untuk dapat makan,” lanjutnya.

Jarang ditemukan lagi harimau dan gajah di Sehile juga dijelaskan Amir (60), seorang warga Desa Tanjung Beringin. “Selama beberapa tahun ini sudah sulit ditemukan harimau apalagi gajah,” kata Amir yang membuka warung makan di shelter satu jalur pendakian Bukit Besak.

Bahkan, keberadaan kijang, rusa, mulai jarang ditemukan. “Yang masih banyak itu babi hutan, beruang madu dan monyet,” katanya.

“Dulu, sekitar lima tahun lalu memang ditemukan harimau tua yang mati di dalam goa di kaki Bukit Besak ini,” jelasnya. Menurutnya, beberapa gua di sekitar perbukitan menjadi lokasi saksi dimana harimau menyambut kematiannya secara tenang.

 

Pembukaan  Kebun Baru yang Marak

Berdasarkan pemantauan Mongabay Indonesia, kecemasan yang disampaikan Asila cukuplah beralasan. Kerusakan bentang alam Sehile, sebenarnya bukan hanya semata akibat masuknya aktifitas pertambangan batubara. Namun juga karena perambahan Hutan Lindung Sehile dan Suaka Margasatwa Isau-Isau Pasemah.

Banyak warga yang membuka perkebunan kopi dan karet di hutan lindung dan suaka margasatwa tersebut. Ini dilakukan sejak 10 tahun terakhir.

“Awalnya dilakukan sejumlah pendatang dari Semendo, tapi sekarang sebagian warga di sini juga melakukannya. Ini terpaksa dilakukan karena kekurangan lahan perkebunan,” kata Mirza Kirullah, seorang warga menjelaskan.

Katanya, pembukaan lahan di dua kawasan tersebut kian banyak, sebab banyak warga yang kehilangan kebunnya setelah dibeli perusahaan batubara.

“Uang yang diterima dari penjualan kebun ternyata tidak mencukupi hidup. Saat tidak ada lagi pendapatan karena tidak ada kebun, terpaksa membuka kebun baru. Wilayah yang mungkin dijadikan kebun ya kawasan hutan lindung dan suaka margasatwa,” jelas Mirza.

Menurutnya, jika dua dekade sebelumnya, masih dapat menjumpai gajah. Maka saat ini gajah hanya dapat dijumpai di Pusat Latihan Gajah (PLG) Bukit Serelo (Sehile). Itupun, gajah-gajah didatangkan dari Suaka Margasatwa Sebokor Sugihan, Banyuasin, Sumsel. Bukan asli Sehile.

“Masyarakat  bukan tidak tahu dan paham soal amanah para puyang tersebut, tapi kemiskinan membuat mereka memilih untuk bertahan hidup untuk hari ini.”

 

Makam puyang Mas Aji di Desa Lubuk Betung. Leluhur yang membuka pemukiman pertama di bentang alam Sehile ini, mengamanahkan seluruh keturunannya dan warga lainnya untuk menjaga alam. Foto Taufik Wijaya

 

Kisah Masyarakat Sehile

Dikisahkan, awal mulanya adanya pemukiman masyarakat di bentang alam Sehile dimulai dari kedatangan seorang pemuda bernama Mas Aji dari Mulak, hulu Sungai Lematang yang kini masuk wilayah Bengkulu.

Dia menyusuri Sungai Lematang sepanjang perbukitan dalam kawasan Bukit Barisan. Dia pun berhenti di wilayah perbukitan akhir Bukit Barisan. Dia menyusuri Sungai Sehile untuk mendekati wilayah perbukitan.

Dari ilham yang diterimanya, wilayah tersebut boleh ditempati asal tidak melanggar sejumlah larangan. Termasuk tidak boleh mengotori air sungai, berupa pelarangan mencuci rebung bambu dan buah nangka. Juga dilarang berbuat maksiat.

“Bukan hanya maksiat kepada sesama manusia, tapi juga dengan alam,” jelas Asile.

Singkat cerita berdatanganlah sejumlah puyang lainnya dari delapan sungai besar lainnya di Sumatera Selatan, dan semuanya memiliki kuasa atas sembilan bukit yang ada di Sehile. Misalnya puyang Kiemas dan Rubiah Sakti.

Bagi masyarakat Sehile, khususnya di Desa Pehangai, air adalah simbol kehidupan yang harus dijaga yang merupakan amanah dari puyang Rubiah Sakti.

Pesan menjaga air ini diyakini warga ketika dari bawah makam Puyang Rubiah Sakti mengalir dua mata air yang deras. Sumber air ini mengalir pula ke lahan persawahan.

“Jadi kami mengartikan aliran air itu merupakan berkah, dan menjadi tugas kami menjaganya,” kata Ismadin, warga Desa Perangai (Pehangai). Konon nama Pehangai berarti pohon durian yang sedang menggugurkan daunnya.

Saat ini, meskipun aliran air tidak pernah berhenti, tapi terlihat mulai berkurang volumenya. “Terutama saat musim kemarau,” lanjut Ismadin.

Sebagian warga percaya, jika mata air di bawah makam puyang Rubiah Sakti berhenti, itu merupakan pertanda yang tidak baik. “Bencana besar akan terjadi,” katanya.

Asila mencoba menangkap fenomena alam yang sedang berubah. Di hari tuanya, dia berharap bencana tidak menimpa desa. Negeri yang dititipkan oleh para puyang, leluhurnya.

Dia pun bergumam pendek. “Gunakan akal dan hatimu dalam memaknai alam.”