Mongabay Indonesia Genap 5 Tahun: Terimakasih atas Dukungan Para Pembaca

Apresiasi Mongabay untuk para pejuang lingkungan Indonesia. Dari kiri ke kanan: Tuan Guru Hasanain Junaini, Prof Tukirin Partomihardjo, Anthony Sinaga bersama pendiri Mongabay Rhett A Butler. Foto: Donny Iqbal.

Tidak terasa Mongabay Indonesia telah berusia lima tahun. Sejak mulai beroperasi per tanggal 30 April 2012, di usianya yang masih muda, Mongabay saat ini telah dikenal publik sebagai rujukan berita lingkungan di Indonesia. Mongabay dibaca dari para pejabat negeri, anggota legislatif, pemda, akademisi, guru, pelajar dan mahasiswa, NGO, bahkan hingga kalangan rakyat biasa kebanyakan yang ingin tahu tentang berbagai persoalan lingkungan di Indonesia.

Dari empat staf dan sekitar 15 kontributor berita di tahun 2012, Mongabay saat ini diawaki oleh 5 orang staf dengan 45 orang kontributor berita yang tersebar di 23 provinsi. Membentang dari Aceh hingga Papua.

“Mongabay Indonesia mencoba mengisi kekosongan segmen media yang fokus dalam isu lingkungan di Indonesia. Tujuan pendiriannya adalah non profit. Untuk mengajak masyarakat paham dan mengerti berbagai aspek permasalahan lingkungan,” jelas Ridzki R Sigit, Program Manajer Mongabay Indonesia saat perayaan hari ulang tahun Mongabay Indonesia pada Kamis (18/05) di @america, gedung Pacific Place, Jakarta.

“Kami independen. Murni memang tentang persoalan lingkungan, termasuk penyelamatan hutan tropis dan isinya. Tidak ada manuver politis,” lanjutnya.

Dalam perkembangannya, Mongabay Indonesia telah dikunjungi (page viewer) lebih dari 31 juta kunjungan. Dengan jumlah unique visitor sebanyak 14,3 juta orang. Selama lima tahun lebih dari 5 ribu artikel telah diproduksi, termasuk berbagai persoalan kehutanan, perkebunan, pertambangan, spesies unik, masyarakat urban, keadilan sosial dalam pengelolaan sumberdaya alam hingga berbagai isu kelautan.

Menariknya, Mongabay Indonesia pun telah menjadi bahan kajian akademis, diantaranya satu kajian doktoral, 1 kajian magister, dan sekitar 3 skripsi. Tak terhitung kutipan artikel Mongabay Indonesia yang menjadi bahan kutipan akademis maupun media massa lain di Indonesia.

“Saya juga tidak pernah membayangkan Mongabay Indonesia berkembang seperti ini,” jelas Rhett A. Butler, pendiri dan CEO Mongabay yang hadir dalam perayaan HUT ini.

“Mongabay Indonesia menginspirasi berdirinya cabang Mongabay lain yaitu Mongabay Latin America (Latam). Situs Mongabay berbahasa Spanyol pada tahun 2016. Kontribusi berita di Mongabay Indonesia pun diadopsi untuk model pemberitaan global Mongabay berbahasa Inggris,” jelasnya.

 

Rhett A Butler, pendiri dan CEO Mongabay di HUT Mongabay Indonesia ke-5. Foto: Ridzki R Sigit

 

Bermula dari Kecintaan Terhadap Lingkungan

Rhett A Butler, mantan pekerja IT di Silicon Valley, menceritakan awalnya dia mendirikan Mongabay karena sedari kecil sering berkunjung ke berbagai belahan dunia. Berbekal profesi ibunya yang bekerja sebagai travel agen, dia begitu terkesan ketika saat remaja mengunjungi hutan tropis Amazon. Di waktu liburnya itu, ia bergaul dengan anak-anak Indian lokal.

Perihal nama Mongabay, menurut Rhett dia terinsipirasi dari nama sebuah pulau di Madagaskar, Nosy Mangabe. Nama website yang kemudian dia gunakan sejak tahun 1999.

Karena dedikasinya terhadap media lingkungan, Rhett Butler mendapat penghargaan The Parker/Gentry Award pada tahun 2014. Sebelumnya, pada tahun 2008, Mongabay dinobatkan oleh majalah Time, sebagai satu dari limabelas situs berita lingkungan berpengaruh di dunia. Artikel Mongabay pun sering dikutip dan menjadi rujukan oleh berbagai media internasional.

Menurut Butler, untuk rencana masa depan, Mongabay telah digandeng oleh industri film Hollywood untuk membuat film tentang lingkungan hidup. Menurutnya ini peluang baru, dimana news content video lingkungan yang ada di Mongabay dapat semakin banyak diakses oleh publik.

Dalam kesempatan ulangtahunnya yang kelima (18/05), Mongabay Indonesia pun memberikan penganugerahan kepada tokoh-tokoh yang berbakti kepada lingkungan di Indonesia yang dengan upaya luar biasanya telah berbakti menjaga lingkungan dari kerusakan sampai dengan usaha untuk mengembalikan kondisi alam yang telah rusak.

Empat tokoh tersebut yaitu Profesor Tukirin Partomihardjo untuk bidang sains, Tuan Guru Hasanain Juaini untuk bidang sosial budaya, Anthony Sinaga sebagai aktivis digital dan Gede Robi Navicula (kebetulan berhalangan hadir) dalam bidang seni.

 

Tukirin Partomihardjo: Upaya Eksplorasi Lingkungan Indonesia

Profesor Tukirin Partomihardjo merupakan ahli biologi dan peneliti LIPI yang selama lebih dari 37 tahun meneliti ekosistem kepulauan Krakatau. Karena keluasan pengetahuan tentang ekosistem kepulauan Krakatau, dia pun dijuluki King of Krakatau oleh peneliti-peneliti dunia.

Baca juga: Tukirin “King of Krakatoa” Partomihardjo yang Membanggakan Indonesia

Dalam acara perayaan HUT ke-5 Mongabay Indonesia, Tukirin mengatakan kawasan pulau Krakatau menjadi tempat satu-satunya di dunia untuk melihat suksesi ekosistem terbentuknya hutan hujan atau hutan tropis dari awal kehancuran pasca letusan maha dahsyat sampai menjadi hutan yang rimbun saat ini.

Harapan terbesar Tukirin saat ini adalah, ada sosok peneliti Indonesia yang menggantikan dirinya, mengingat peneliti asing dari berbagai negara berlomba meneliti Krakatau.”Krakatau adalah penelitian science for science yang tidak begitu mendapat perhatian penuh pemerintah. Ini yang membuat peneliti muda kita jarang melirik,” tambahnya.

 

Hasanain Juaini: Mimpi Reboisasi Berbuah Berkah

Tuan Guru Hasanain Juaini, merupakan pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Haramain di Desa Lembuak, Lombok Barat, NTB. Di pesantren yang mengasuh 2500 santri inilah motivasi dan energi besarnya muncul untuk menjadikan pesantrennya sebagai aktor penggerak dalam upaya penghijauan kembali Pulau Lombok. Tiap tahun mereka menanam sekitar tiga juta pohon.

Sejak 9 tahun terakhir, Hasanain beserta ribuan santrinya dan didukung oleh masyarakat berhasil menghijaukan kembali 56 hektar lahan gundul di Pulau Lombok dan Sumbawa, termasuk 36 hektar lahan gundul dan gersang yang dia beli pada 2003 yang dia sulap menjadi kawasan konservasi hutan yang dinamai Desa Madani.

Baca juga: Tuan Guru Hasanain Juaini, Bung Karno dari Timur

Selain itu, di pesantrennya dikembangkan pembibitan pohon dengan jumlah yang fantastis setiap tahunnya, yakni sekitar 1 juta hingga 1,5 juta bibit pohon yang semuanya dikerjakan sendiri oleh para santrinya. Seluruh bibit pohon tersebut dibagikan secara gratis kepada siapapun yang ingin menanamnya. Bahkan bibit-bibit pohonnya sudah tertanam di berbagai pulau di Indonesia, bahkan hingga Thailand, Malaysia, China dan India.

Bagi Hasanain, menanam pohon adalah salah satu kewajiban dan tanggung jawab manusia. Apalagi kearifan terhadap lingkungan sudah diatur dalam Quran. “Kita sudah mendapatkan begitu banyak dari alam ini, maka kita harus tanya pada diri seberapa banyak yang kita berikan kepada alam,” ungkapnya.

 

Anthony Sinaga: Lewat Sosial Media Membantu Korban Asap

Mongabay Indonesia memberikan penghargaan kepada Anthony Sinaga sebagai aktivis digital. Anthony pegiat media sosial yang mempunyai akun twitter @InfoPLK, yang saat ini telah memiliki 18 ribu follower dan 3 ribu pengikut di Instagram .

Lewat media sosialnya tersebut, dia memberikan penyadaran dan edukasi tentang isu lingkungan. Salah satu yang berkesan baginya adalah ketika marak terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada tahun 2015 dan 2016.

Karhutla yang terjadi di Kalimantan itu juga tidak luput membuat kota Palangkaraya, tempat tinggal Anthony, tertutup oleh kabut tebal yang mengganggu kesehatan dan aktivitas banyak orang.

Dia bercerita ketika karhutla itu terjadi, indeks udara di kota Palangkaraya mencapai 3.000 ppm, dari normalnya 300 ppm. Awalnya dia merasa heran, Kalteng yg indek udara (PM) sampai 3.000-an ppm tapi sepi-sepi saja. Sedang kota Pekanbaru, Riau dengan indeks udara mencapai 800 ppm sudah merebut dan mendapat perhatian ramai dari warganya.

Dari situ dia berpikir bagaimana mengggunakan sosmed untuk menyebarkan informasi kebakaran dan asap Kalteng. Dia posting foto-foto kebakaran, asap, hinmgga orang luar Kalteng, bahkan luar negeri, tahu kondisi di Kalteng. Informasi yang disebarnya tersebut membuat semua orang bertindak dan bergerak untuk membantu.

 

Gede Roby: Berjuang Lewat Musik

Penghargaan Mongabay Indonesia selanjutnya diberikan kepada Gede Roby Supriyanto, vokalis sekaligus gitaris Navicula. Navicula adalah band grunge asal Bali yang berada di jalur indie yang bahkan ngotot ingin hidup idealis di jalur non populer, yakni kritik sosial dan lingkungan. Di antara lagu mereka adalah Orangutan, Harimau-harimau, Over konsumsi dan Metro Pollutant.

Baca juga: Suara Bergelora Robi “Navicula” di Bumi Hijau Indonesia

Bagi Robi, lingkungan adalah permasalahan semua. Bukan hanya pemerintah, swasta, perusahaan, LSM, atau segelintir orang. “Lingkungan adalah kita,” ujar Robi. Oleh karena itu, Navicula menyuarakan keprihatinan tentang kondisi lingkungan melalui musik mereka.

Lagu-lagu Navicula memang dikenal bercorak lingkungan. Ada tentang hutan hujan, pencemaran, satwa, dan lainnya. Menurut Robi, semua itu merupakan sebuah sudut pandang yang bila disatukan, semuanya akan menyentil pada keseimbangan ekosistem yang patut dijaga.