Apa Itu Teknologi RAS untuk Perikanan Budidaya?

Beragam inovasi terus dikembangkan Pemerintah Indonesia untuk mengangkat sektor perikanan budidaya sejajar dengan sektor yang sama di level internasional. Yang paling mutakhir, inovasi berhasil dibuat untuk sistem teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS). Di negara perikanan maju seperti Norwegia, teknologi tersebut sudah biasa digunakan.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto di Jakarta belum lama ini menjelaskan, teknologi modern yang berhasil dikembangkan itu, merupakan buah kerja keras dari tim Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Tatelu, Minahasa, Sulawesi Utara.

“Ini adalah teknologi modern yang ada di negara (perikanan) maju. Kita sudah bisa mengadopsinya dengan model dan perangkat prasarana yang lebih murah,” ungkap dia.

 

 

Slamet memaparkan, teknologi RAS adalah teknologi dengan menerapkan sistem budidaya ikan secara intensif dengan menggunakan infrastruktur yang memungkinkan pemanfaatan air secara terus-menerus (resirkulasi air). Dia menyebut, pemanfaatan tersebut seperti fisika filter, biologi filter, ultra violet (UV), generator oksigen yang berfungsi untuk mengontrol dan menstabilkan  kondisi lingkungan ikan.

“Itu untuk mengurangi jumlah penggunaan air dan meningkatkan tingkat kehidupan ikan,” tutur dia.

Dengan keberhasilan mengembangkan teknologi tersebut, Slamet menyimpan harapan, suatu saat nanti sistem tersebut bisa menggenjot produksi benih berkualitas secara signifikan. Dengan demikian, kebutuhan benih secara nasional dapat terpenuhi.

Kepala BPBAT Tatelu Fernando S mengungkapkan, prinsip dasar teknologi RAS diseluruh dunia memiliki kesamaan, yaitu  memanfaatkan air sebagai media pemeliharaan secara berulang-ulang dengan mengendalikan beberapa indikator kualitas air agar tetap pada kondisi prima.

Untuk teknologi tersebut, Fernando mengatakan, pihaknya sudah melakukan modifikasi sesuai kondisi yang ada. Selain itu, untuk menekan biaya menjadi lebih murah, peralatan yang gunakan juga menggunakan produk dalam negeri.

“Tujuannya sudah jelas, produk dalam negeri bisa menekan biaya dari sisi investasi,” jela dia.

Murahnya biaya untuk menggunakan teknologi RAS dalam perikanan budidaya, dipaparkan Fernando lebih detil. Kata dia, dengan biaya sebesar Rp80 juta, pembudidaya sudah bisa membiayai pemasangan teknologi RAS yang dikembangkan.

“Biaya tersebut, meliputi pembelian alat-alat yang digunakan seperti O2 generator, tanki filter, venturi, blower, ultraviolet, dan material lainnya,” ujar dia.

 

Bak budidaya perikanan dengan system Recirculating Aquaculture System (RAS). Sistem yang dikembangkan BPBAT Tatelu, Minahasa, Sulut ini dapat meningkatkan produksi hingga 100 kali lipat dari budidaya ikan konvensional. Foto : DJPB KKP

 

Dengan biaya tersebut, Fernando menuturkan, pembudidaya sudah bisa memiliki peralatan yang bisa digunakan untuk pemakaian selama enam tahun. Nilai tersebut, kata dia, jauh lebih murah dibandingkan dengan sistem serupa yang didatangkan langsung dari negara lain yang bisa mencapai ratusan juta rupiah.

“Saya katakan ini RAS hasil karya anak negeri, dengan hasil yang tidak jauh beda dengan system RAS lain, namun dengan harga yang jauh lebih murah,”sebut dia.

 

Produksi Naik 100 Kali Lipat

Lebih jauh Fernando mengungkapkan, dengan menggunakan teknolog RAS, pembudidaya ikan bukan saja mampu memenuhi kebutuhan benih berkualitas, namun juga bisa meningkatkan produksinya sebanyak mungkin.

Dia menyebut, dibandingkan dengan sistem konvensional yang lebih dulu digunakan para pembudidaya ikan, sistem RAS bisa menaikkan produksinya hingga 100 kali lipat. Dia mencontohkan, dengan menggunakan RAS pada kolam nila, produksi akan mencapai 5.000 ekor per meter kubik. Tapi sebaliknya, jika menggunakan sistem konvensional, produksi hanya mampu mencapai 50 ekor saja.

“Itu berarti, dengan penerapan sistem RAS, produktivitas bisa digenjot hingga 100 kali lipat dibanding dengan sistem konvensional. Kelebihan lainyabudidaya dengan sistem ini sangat menghemat penggunaan air, dan dapat dilakukan pada areal yang terbatas,” papar dia.

Dengan pertimbangan untuk pembudidaya lokal, Fernando menyebut, pihaknya sengaja mengembangkan teknologi RAS dengan rancangan mampu melakukan produksi minimal 1 juta ekor benih ikan nila ukuran 2-3 cm dengan masa pemeliharaan maksimal 1 bulan per siklus.

“Adapun, unit RAS yang tersedia saat ini adalah sebanyak 20 bak fiber berbentuk bulat dengan diameter masing-masing bak 100 cm,” ungkap dia.

Secara ekonomi, Fernando mengatakan, dengan biaya instalasi sistem RAS senilai lebih kurang Rp80 juta dengan biaya penyusutan mencapai Rp13,3 juta pertahun dan biaya operasional berkisar Rp1,5 juta per bulan, maka setidaknya akan diraup pendapatan kotor hingga 100 juta per tahun atau lebih dari Rp8 juta rupiah per bulan.

Tak hanya meningkatkan daya saing secara ekonomi, Fernando menambahkan, penggunaan teknologi RAS akan membantu para pembudidaya untuk senantiasa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, serumit apapun tantangan di masa depan, itu akan bisa diatasi melalui RAS.

“Teknologi ini dinilai akan mampu mengatasi fenomena alam yang tak menentu seperti perubahan iklim dan kualitas lingkungan,” tandas dia.

Dengan segala keuntungan tersebut, baik Fernando maupun Slamet Soebjakto mengharapkan teknologi RAS bisa berkembang lebih besar lagi dan digunakan oleh para pembudidaya ikan di seluruh Indonesia. Untuk saat ini, teknologi tersebut sudah diadopsi oleh Balai Perikanan KKP dan diharapkan produksi di masing-masing Balai tersebut bisa meningkat.

Untuk diketahui, selama kurun waktu tahun 2011 – 2015 produksi benih ikan air tawar secara nasional mengalami kenaikan rerata pertahun mencapai 20,26 persen. Tahun 2015 produksi benih ikan air tawar mencapai 72,3 miliar ekor. Sedangkan untuk semua jenis ikan (tawar, payau dan laut) diproyeksikan pada Tahun 2019 mencapai 141,1 miliar ekor.

 

Budidaya Perikanan Berbasis Ekosistem

Berkaitan dengan misi Pemerintah untuk mewujudkan perikanan budidaya berkelanjutan,telah dirancang sebua pedoman tentang pendekatan pengelolaan perikanan budidaya berbasis ekosistem (Ecosystem Approach to Aquaculture/EAA). Penyusunan pedoman itu, dilakukan dengan menggandeng World Wildlife Fund (WWF) Indonesia.

“Ini menjadi upaya dari implementasi pola pengelolaan budidaya yang bertanggungjawab sebagaimana mandat dalam FAO- Code of Conduct for Responsible Fisheries atau CCRF,” ungkap Slamet Soebjakto.

Menurut Slamet, dengan dibuatnya pedoman EAA, itu akan memberikan acuan bagi para pelaku usaha di sektor perikanan budidaya untuk bisa melakukan pengelolaan usaha budidaya yang mempertimbangkan keseimbangan antara aspek ekologi, sosial, dan ekonomi.

Direktur Coral Triangle Initiative (CTI) WWF Indonesia Wawan Ridwan memaparkan, pedoman EAA dibuat sebagai bentuk perhatian bersama antara Pemerintah dan publik dalam menjamin keberlanjutan SDA dan lingkungan. Menurut dia, keberadaan perikanan budidaya tidak bisa dilepaskan dari daya dukung kapasitas ekosistem secara keseluruhan.

Wawan mengatakan, mengingat sektor perikanan budidaya memiliki peran sentral dalam mencukupi kebutuhan pangan global, penting untuk dilakukan bagaimana menjamin keberlanjutan aktivitas perikanan budidaya termasuk jaminan ketelurusan produk.

Menurut Wawan, mengingat pentingnya keberadaan pedoman EAA tersebut, maka ke depan produk tersebut diharapkan bisa menjadi bagian dari produk hukum KKP. Dengan demikian, ke depannya seluruh pelaku usaha perikanan budidaya memiliki acuan formal dalam melakukan pengelolaan budidaya secara bertanggungjawab.

Sebagai gambaran, Wawan menjelaskan, pedoman EAA berisi sejumlah indikator penilaian yang mengakomodasi berbagai aspek utama yaitu ekologi, sosial dan ekonomi. Kata dia, suatu kawasan pengembangan budidaya dikatakan baik jika telah memenuhi kriteria dalam indikator EAA.

“Bulan September tahun lalu telah dilakukan uji lapang penerapan penilaian indikator yaitu di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat dan Provinsi Lampung,” sebut dia.

 

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , ,